
Malam ini Alisha memutuskan untuk menginap di hotel itu saja, dari pada menyusul teman-temannya. Sebelumnya ia sudah memberi kabar pada dosen pembimbing, jika dirinya sudah berada di Yogyakarta dan akan bergabung dengan mereka esok hari. Omelan pun ia dapatkan dari sang dosen, meskipun Adnan sudah lebih dahulu memberitahu tentang keberangkatan Alisha dan meminta maaf, tapu tetap saja dosen tersebut tetap menegur Alisha supaya tidak mengulangi kejadian yang sama, dan Alisha hanya mengiyakan.
Hampir tengah malam, sang suami belum juga memberi kabar, padahal ia sudah memberitahukan jika dirinya sudah sampai dan sekarang berada di hotel keluarga, tapi pesannya hanya di baca oleh Adnan tanpa di balas, membuatnya berfikir yang tidak-tidak tentang suaminya. Ia menghembuskan nafas berkali-kali saat akan menghubungi Adnan, tapi ia urungkan dan akhirnya memilih untuk menelfon Bik Ana, terlalu gengsi untuk menelfon Adnan lebih dahulu.
"Den Adnan baik-baik aja Non, udah sembuh juga. Tadi dia sudah mau makan malam di bawah, mungkin sekarang sudah tidur," ucap Bik Aman ketika ia menanyakan bagaimana keadaan Adnan. Hatinya sedikit lega mengetahui kabar sang suami, meskipun ia tahu Adnan sengaja tidak menghubunginya karena masih marah.
Pagi-pagi buta, Alisha sudah meninggalkan hotel. Ia tidak mau terlambat datang ke kampus tujuan, karena letaknya yang lumayan jauh. Ia juga tidak mau mendapatkan kultum pagi dari sang dosen jika terlambat. Alhasil ia memanfaatkan fasilitas hotel, meminta di antar oleh pegawai hotel ke kampus tersebut, tidak masalah merepotkan mereka di pagi buta seperti ini dan mereka juga tidak menolak atau tepatnya tidak berani menolak.
"Terimakasih Mas sudah mau mengantar saya sapi sini, tolong ini di terima sebagai tanda terimakasih saya karena telah merepotkan." Alisha memberikan sebuah amplop pada petugas hotel tersebut. Sudah bisa di tebak isinya pasti sejumlah rupiah.
Awalnya petugas hotel itu menolak dengan alasan ini sudah menjadi tugasnya dan akan mendapatkan teguran jika menerima uang dari Alisha, tapi karena Alisha terus memaksa akhirnya petugas itu pun menerimanya.
Masuk ke dalam area kampus, menuju fakultas yang sama dengan fakultasnya, ia menunggu kedatangan rekan-rekannya yang masih dalam perjalanan dari penginapan, sambil menunggu ia kembali membuka ponsel tapi nihil tidak ada chat atau telfon dari orang yang ia nantikan, justru kebanyakan dari teman-teman kampusnya terutama dari grup kelasnya. Entah membahas apa, sampai-sampai isi chatnya ribuan.
"Kenapa enggak telfon sih? Apa masih marah?" gumamnya bertanya-tanya. Jika sampai nanti malam tidak mendapatkan kabar dari Adnan, Alisha berencana akan menelfon duluan, jika saat ini tidak memungkinkan karena sebentar lagi teman-temannya datang.
Malam hari, Alisha baru saja menyelesaikan tugas bersama teman-temannya. Seharian ia sibuk, bahkan tak sempat membuka ponselnya dan ia lupa di mana terahir kali meletakkan ponsel miliknya. Setelah di cari ternyata ia memasukkan ponsel itu ke dalam koper.
"Yah, batrenya habis," ucap Alisha setelah melihat ponselnya mati, ia pun segera mengisi baterai. Meninggalkan ponsel dan memilih untuk merebahkan diri di kasur, tak terasa ia pun terlelap.
__ADS_1
Tengah malam ia terbangun, dan langsung mencari ponselnya. Entah kenapa ia ingin sekali menghubungi sang suami, perasaanya tidak enak, bahkan tidur tadi ia juga memimpikan Adnan.
Setelah menyalakan ponsel, ternyata tidak ada pesan tau pun panggilan yang masuk, ia berkali-kali menghembuskan nafas kasar, tanpa berfikir panjang ia pun menghubungi Adnan. Sambungan pertama terhubung, tapi tidak di jawab oleh Adnan. Bahkan sampai sambunganHusband ke lima tetap sama, ia melirik jam ternyata sudah larut malam, mungkin suaminya itu sudah tertidur. Ia kembali merebahkan diri bersiap untuk tidur lagi, tapi sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya, dengan gerakan cepat ia meraih ponsel itu.
My Husband
"Udah larut malam, tidurlah. Besok kamu masih banyak kegiatan, aku baik-baik saja di sini, tidak usah khawatir. Miss you,"
Alisha tersenyum membaca pesan dari Adnan, ia pun membalas pesan itu lalu mematikan ponsel dan kembali memejamkan mata.
🌻
Dan benar saja, di hari ke dua ini sama seperti hari kemarin, mereka baru pulang ke penginapan setelah sore hari dan malamnya harus mengerjakan tugas yang tadi di berikan. Sungguh menyiksa, dari pada seperti ini mungkin lebih baik lama di sini dari pada harus bekerja rodi tiap hari.
Selama empat hari di sini Alisha sama sekali tidak pernah menghubungi Adnan, karena kesibukannya. Ia hanya mengirim pesan dan Adnan pun membalasnya meskipun terkadang lama sekali balasan itu. Dan malam ini mereka semua kembali ke ibu kota dengan keadaan capek luar biasa, terbukti semua penghuni bis terlelap kecuali sang sopir.
Pukul delapan pagi Alisha baru saja memasuki rumah, tanpa menaci Bik Ana atau Adnan, ia pun segera naik ke atas, masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di sana.
Siang hari ia terbangun, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu ia berencana untuk ke kantor Adnan, memberi surpise pada suaminya.
__ADS_1
"Eh Non, pulang kapan? Kok Bibik baru liat, terus ini mau ke mana?" Bik Ana melihat Alisha baru saja turun dari kamar dan langsung di hujani berbagai macam pertanyaan.
"Tadi pagi Bik, aku langsung tidur. Sekarang mau ke kantor Mas Adnan, mau kasih surpise buat dia," ucap Alisha penuh antusias.
Bik Ana terlihat gelisah, saat Alisha mengatakan hal itu, "Anu Non, em gimana ya," ucapnya dengan gugup.
"Ada apa Bik? Kenapa Bibik terlihat resah seperti itu, apa Bibik mau ijin pulang?" tanya Alisha, seperti biasa Bik Ana jika ingin ijin pulang wajahnya terlihat gugup saat akan meminta ijin, terutama pada jika dengan Mama.
Bik Ana menggeleng, "Bukan itu Non, sebelumnya Bibik minta maaf ya Non, Bibik enggak ngasih tahu, tapi itu karena Den Adnan melarang, takut ganggu Non Alisha belajar di sana katanya," ucapnya sambil menunduk.
"Apa sih Bik, aku makin bingung?" Alisha benar-benar tak mengerti apa yang dikatakan oleh Bik Ana.
"Maaf Non, Den Adnan...Em..." Bik Ana tidak meneruskan ucapannya, ia sedikit ragu.
"Mas Adnan kenapa?"
"Den Adnan, em masuk rumah sakit Non," ucap Bibik gugup.
Alisha membelalakkan matanya, ia terkejut tidak percaya dengan ucapan Bik Ana, "Pasti Bibik ngeprank aku, kan?" Alisha tidak percaya jika Adnan benar-benar masuk rumah sakit.
__ADS_1