
"Emang aku bau apa?" tanya Alisha sambil mengendus seluruh tubuhnya, tapi nihil tak merasakan bau apa pun. Ah iya, baru sadar jika dirinya tidak mandi sejak kemarin sore, tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu menghampiri Adnan yang masih berada di kamar mandi.
"Kamu sakit, Mas?" tanya Alisha saat melihat Adnan mengeluarkan isi perutnya. Panik, tentu saja karen baru kali ini ia melihat Adnan sakit seperti itu, bahkan saat di rumah sakit suaminya itu tidak pernah memuntahkan isi perutnya.
Adnan menggeleng, "Kamu mandi sana," titahnya pada Alisha setelah membasuh wajahnya. Keluar kamar mandi dengan tangan masih setia menutup hidungnya.
Dengan keheran-heranan, Alisha melangkah memasuki kamar mandi setelah memastikan Adnan baik-baik saja setelah mengeluarkan isi perutnya.
Selesai mandi, Alisha mendapati Adnan masih setia menatap laptopnya, sepertinya rasa mual yang tadi hadir sudah hilang tanpa jejak, terlihat Adnan baik-baik saja, seperti tidak dalam keadaan sakit.
"Mama!" tiba-tiba Cantika masuk ke dalam kamar, berlari menghampiri Alisha lalu memeluk tubuh perempuan itu dengan erat.
"Mama kemana aja semalam? Aku kangen sama Mama," celetuk gadis cilik itu, membuat Alisha mengangkat tubuh Cantika lalu duduk di tepi ranjang dengan Cantika berada dalam pangkuannya.
"Mama juga kangen sama Cantika." Alisha mengecup kedua pipi gadis kecil itu, berakhir mengecup keningnya
"Papa enggak asik kalau cerita, kurang seru. Aku sampai enggak tidur-tidur nungguin Mama pulang," kebiasaan Cantika setelah berada di rumah ini, sebelum tidur selalu di bacakan dongeng oleh Alisha.
"Ceritanya ngadu sama Mama nich?" ucap Adnan sambil tersenyum, lalu membelai rambut panjang Cantika yang masih berada dalam pangkuan Alisha. Entah sejak kapan Adnan sudah duduk di samping Alisha, karena perempuan itu tidak menyadarinya.
Cantika mengerucutkan bibirnya, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Alisha.
"Karena Cantika udah pulang, sekarang kita makan siang ya, Mama laper banget, Cantika lapar enggak?" tanya Alisha, ia menggendong Cantika ke luar kamar, di ikuti oleh Adnan di belakang mereka.
Baru saja memasuki ruang makan, Adnan langsung masuk ke kamar mandi, membuat Alisha menurunkan Cantika di kursi lalu menyusul suaminya yang sedang memuntahkan isi perut, tapi yang ia lihat hanya cairan kuning saja yang ke luar karena sepertinya tadi sudah memuntahkan semua isi perutnya.
"Kamu beneran sakit Mas, apa mungkin penyakit typus nya kambuh lagi?" Alisha memijit tengkuk Adnan yang masih mencoba mengeluarkan isi perutnya.
__ADS_1
"Bukan itu sepertinya, tapi bau makanan. Bau sup buntut, iya aku apal banget, tapi kenapa tiba-tiba jadi mual gini ya? Bik Ana nambahin apa sih di supnya?" tanya Adnan setelah membasuh wajahnya.
"Aneh banget sih, enggak biasanya kami gini? Padahal itu makanan kesukaan kamu, tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?" Alisha juga bingung dengan keadaan yang terjadi pada suaminya itu.
"Entahlah," ucap Adnan lalu ke luar kamar mandi sambil menutup hidung, berjalan ke arah ruang keluarga karena ia tidak tahan dengan bau sup buntut itu.
"Kamu mau makan apa? Biar aku buatin, supnya biar di makan Bibik sama Embak Anita aja nanti," ucap Alisha yang juga mengikutinya ke ruang keluarga.
"Apa aja yang penting jangan berbau daging, kalau udah ada selain sup itu, enggak usah masak lagi aku makan itu aja, yang penting simpan supnya. Kasian kamu kalau masak lagi," jawab Adnan.
Alisha tersenyum saat Adnan mengucapkan kalimat terahirnya, membuat ia benar-benar merasa di cinagi oleh suaminya.
"Ada ayam goreng Mas, sup nya juga udah aku simpan. Ayo sekarang makan siang, perut kamu harus di isi," ucap Alisha saat kembali ke ruang keluarga setelah memastikan ada lauk apa lagi selain sup.
Adnan pun beranjak dari duduknya, berjalan beriringan menuju ruang makan dengan Alisha.
Adzan subuh berkumandang memenuhi kamar Alisha dan Adnan. Adzan yang berasal dari sebuah ponsel itu berhasil membangunkan dia sejoli yang masih terlelap dengan tenang, entah pukul berapa mereka tertidur karena sepertinya baru saja memejamkan mata, setelah semalam Alisha tiba-tiba menggoda suaminya dengan pakaian kekurangan bahan yang belum pernah di pakainya. Padahal malam telah larut, tapi suaminya itu masih bekerja, setelah melihat Alisha menggunakan pakaian dinasnya, Adnan pun menghentikan pekerjaannya dan mulai menyerang sang istri.
"Udah subuh aja, padahal masih ngantuk," keluh Alisha, membenarkan letak selimutnya yang sedikit terbuka, menampakkan bagaian tubuhnya yang polos.
Adnan tak menghiraukan keluahan sang istri, karena tiba-tiba mual kembali menyerangnya.
Hoek Hoek Hoek
Suara Adnan yang terdengar di telinga Alisha, membuat perempuan itu membuka matanya. Tiba-tiba kantuknya lenyap begitu saja, saat mendapati sang suami kembali mengeluarkan isi perutnya.
"Kita harus ke dokter hari ini, enggak boleh nolak. Aku enggak mau terjadi apa-apa sama kamu, Mas," ucap Alisha sambil membantu Adnan dengan cara memijat tengkuk suaminya secara perlahan.
__ADS_1
"Aku cuma masuk angin biasa," ucap Adnan, ia tidak mau ke dokter karena memang tidak merasa sakit, hanya mual-mual saja tapi tidak tahu penyebab pastinya.
"Nanti...." Adnan tidak melanjutkan ucapannya, ia justru tersenyum penuh arti sambil memperhatikan Alisha yang berada di hadapannya. Ia baru sadar sejak tadi ternyata...
"Kenapa senyum-senyum gitu sih Mas? Orang sakit malah senyum-senyum enggak jelas, aneh banget," protes Alisha. Tapi Adnan tidak memperdulikan protesnya, justru terus memandangi Alisha dengan senyum tertahan. Alisha pun mengikuti arah pandang Adnan, ia memekik tertahan saat mendapati dirinya tidak mengenakan apapun.
Bugh Bugh Bugh
Alisha memukul dada Adnan berkali-kali, "Dasar mesum!" ucapnya, masih terus memukul dada suaminya yang justru terkekeh tidak merasakan sakit sedikit pun.
"Aku itu panik, gara-gara kamu, tau enggak sih," sungutnya, karena Adnan belum juga menghentikan kekehannya. Malu sekali sebenarnya meskipun ia tahu suaminya itu sudah melihat keseluruhan tubuhnya, tapi ini berbeda karena dalam keadaan sadar, tidak seperti biasa saat dalam keadaan mabuk kepayang.
"Usah sana kamu keluar, aku mau mandi." Alisha mendorong tubuh Adnan, ia tidak mau menatap wajah suaminya karena malu telah melakukan hal konyol seperti itu.
Adnan tidak membiarkan Alisha terlepas dari dekapannya, "Malu ya?" tanyanya justru menggoda Alisha, ia tahu jika istrinya itu malu sekali apalagi saat tidak mau menatap matanya.
"Aku sudah hafal semuanya, jadi kenapa harus malu? Mungkin kamu saja tidak hafal semuanya," bisik Adnan di telinga Alisha. Entah kenapa mual-mual yang tadi menyerangnya tiba-tiba saja sirna setelah melihat kecerobohan istrinya yang tidak mengenakan sehelai benang pun dihadapannya.
Alisha makin tersipu malu, ia menenggelamkan wajahnya di dada suaminya yang terekspos bebas tanpa penutup, beda nya Adnan mengenakan celana pendek, sedangkan sirinya? Ceroboh sekali.
"Ayo katanya mau mandi, keburu waktu subuhnya habis. Eh, malah betah di sini, nanti bisa kita ulang lagi setelah sholat subuh," Adnan terkekeh saat mengatakan itu. Membuat Alisha mendengus, lalu melepaskan diri dari dekapan Adnan, masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan Adnan yang masih saja tertawa.
________________________
Yuk kasih semangat teman kita, dengan baca karyanya..
__ADS_1
Terimakasih buat yg udah mampir...