
Angkasa terlihat bersiul sambil menuruni anak tangga, sepertinya pemuda itu sedang bahagia, entah karena apa. Coba lihat apa yang membuat Angkasa terlihat bahagia di pagi ini.
"Tumben anak Bunda jam segini udah rapi, terus senyam-senyum gitu, lagi bahagia pasti," tebak Bunda Ayu saat mendapati Angkasa masuk ke ruang makan dengan senyum terkembang.
"Banget," jawabnya lalu duduk di kursi sebelah sang Bunda, "Tadi pagi dosen pembimbingku ngasih tahu, kalau hari ini mau liat hasil skripsiku lagi Bun, padahal jadwalnya Minggu depan," tambahnya.
"Syukurlah,semoga kali ini enggak di suruh revisi lagi," Bunda terlihat bahagia.
"Aamiinn. Aku udah pusing mikirin skripsi Bun, makanya pas dapet pesan dari dosen pembimbing seneng banget, beliau bilang besok sampe sepuluh hari ke depan ada acara di Singapur, entah acara apa, makanya jadwalku di ajukan," ucap Angkasa panjang lebar.
"Yaudah, sekarang sarapan dulu, nanti kamu telat lagi," Bunda mengisi piring kosong di hadapan Angkasa dengan nasi serta lauk yang tersedia.
"Abang mana Bun?" tanyanya karena di meja makan hanya ada mereka berdua, sedangkan sang Ayah sedang berada di luar kota.
"Udah berangkat pagi banget, katanya mau mampir kantor dulu terus jadwal ngajar di kampus jam delapan pagi," jawab Bunda.
Angkasa hanya mengangguk, lalu mereka berdua mulai sarapan dengan khidmat.
Setelah menyelesaikan sarapan, Angkasa langsung meluncur ke kampus. Karena dia sudah janjian dengan sang dosen pukul delapan pagi, jadi dia tidak boleh terlambat karena jika terlambat maka kesempatan di hari ini akan menguap begitu saja.
Di tengah-tengah perjalanan, dia harus menghentikan motornya, saat mendapati sebuah mobil berwarna merah yang sangat dia hafal, bahkan nomor polisi di mobil tersebut dia hafal di luar kepala. Hal yang sangat tidak masuk akal, saat orang lain tidak begitu hafal plat nomor mobil sendiri, dia justru hafal plat nomor mobil orang lain.
Angkasa menghentikan motornya tepat di sebelah mobil orang itu. Dia melihat seorang gadis yang sangat dia kenali bahkan dari jarak lima ratus meter dia bisa mengenalinya, mungkin karena sering kali mereka bertemu atau ada hal lain, entahlah. Gadis itu terlihat panik, sambil sesekali menggerutu dan menendang ban mobil itu.
"Kenapa mobilnya Dek?" tanya Angkasa setelah berada di samping gadis itu.
Gadis itu tampak terkejut, sepertinya dia tidak menyadari jika ada motor yang berhenti di dekatnya, "Eh, Kak Angkasa. Ini Kak, ban mobilku tiba-tiba kempes, padahal ada ujian jam delapan, dua puluh menit lagi," jawabnya.
"Yaudah Kaka antar aja ya, mobil kamu biar di sini, nanti urusanku. Ayo berangkat sekarang, sebelum terlambat," Angkasa mengajak gadis itu supaya mau ikut dengannya. Bukan karena modus, tapi dia merasa kasihan dengan gadis itu.
__ADS_1
"Tapi, Kakak juga harus kuliah, kan? Nanti Kakak telat lagi, kampus kita jaraknya jauh lho kak, beda arah lagi," gadis itu merasa tidak enak hati, takut merepotkan apalagi menyusahkan, dia juga tak ingin Angkasa mendapatkan masalah karena mengantarnya.
"Ah enggak, santai aja, aku ke kampus juga cuma mau nyerahin skripsi doang, ayo cepetan nanti kamu terlambat lagi," Angkasa memaksa, dia bahkan tidak memikirkan masalahnya sendiri, lebih memilih mengantar gadis pujaannya itu.
"Aku naik taksi aja Kak, tu ada taksi di depan," gadis itu melihat ada sebuah taksi berwarna biru melaju ke arahnya.
"Mana sempet naik taksi Dek, enggak bakalan keburu, ayo aku anterin aja," Angkasa memaksa suapaya gadis itu ikut dengannya.
"Kunci mobilnya, nanti aku panggilin bengkel," titahnya. "Ayo buruan, Dek. Nanti enggak keburu lagi," tambahnya.
Gadis itu menghela nafas, akhirnya dia menyetujui di antar oleh Angkasa ke kampus.
"Enggak pakai helm emang enggak apa-apa Kak?" tanya gadis itu, dia takut terkena razia, nanti bukannya ke kampus malah masuk kantor polisi, pikirnya.
"Santai aja, jalanan ke kampus kamu bisa lewat jalan yang tikus," jawabnya. "Harusnya aku yang tanya, kamu kalo enggak pake helm gak apa-apa kan? Nanti rambutnya kusut lagi," tanya Angkasa.
Benar saja, Angkasa melewati jalanan yang belum pernah gadis itu lewati, dan ternyata lewat jalan itu lebih dekat ke kampusnya dari pada melewati jalan raya. Bahkan hanya dalam sepuluh menit mereka sudah sampai di kampus gadis itu. Jika lewat jalan raya akan memakan waktu hampir dua puluh menit lamanya.
Selama perjalanan senyum di bibir Angkasa tak pernah pudar, karena bisa berdekatan dengan gadis pujaan hatinya, apalagi coba hal yang membahagiakan selain bisa berdua dengan seorang yang kita cintai. Dia bahkan melupakan janjinya dengan sang dosen yang justru akan membuat dia menyesal nantinya.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga, masih lima menit sebelum jam delapan," seloroh gadis itu setelah Angkasa menghentikan laju motornya.
"Makasih ya Kak, aku masuk dulu kalau gitu," ucap gadis itu, tapi Angkasa mencegahnya
"Mana kunci mobil kamu, nanti aku antar ke sini kalau bannya udah di ganti," Angkasa menyodorkan tangannya ke hadapan gadis itu
"Tapi Kak, nan...." ucapan gadis itu terpotong karena Angkasa lebih dulu menyela.
"Enggak apa-apa, santai aja, kaya sama siapa aja sih Dek,"
__ADS_1
Akhirnya gadis itu menyerahkan kunci mobil kesayangannya pada Angkasa.
"Makasih Kak," ucapnya
"Iya sama-sama," timpal Angkasa, tanpa sengaja dia merapikan rambut yang berantakan milik gadis pujaan hatinya itu, yang membuat sang empunya tersenyum malu, bahkan wajahnya sudah memerah. Tapi perlu di garis bawahi, jika gadis itu selalu menganggap Angkasa seperti Kakaknya, Nevan dan tidak lebih.
"Berantakan, maaf ya," seloroh Angkasa.
"Makasih Kak, aku masuk ya," timpal gadis itu malu-malu, lalu dia berlari meninggalkan Angkasa yang masih tersenyum melihat tingkah gadis itu.
Gadis yang empat tahun terahir menjadi alasannya untuk terus tersenyum. Ya, Angkasa menyukai gadis itu sejak pertama mereka berjumpa, saat gadis itu masih duduk di bangku SMA dan Angkasa baru masuk kuliah dan mengenal Nevan, Kakak sepupu dari gadis tersebut.
Angkasa buru-buru melajukan motornya ke arah kampus. Dia baru teringat akan janjinya dengan sang dosen.
Setelah sampai di kampus, dia melihat jam sudah jam delapan lewat, itu artinya dia telat, semoga saja sang Dosen masih memberi toleransi padanya.
"Cari Pak Anwar ya?" tanya seorang dosen yang melihat Angkasa mengetuk pintu ruangan Pak Anwar, dosen pembimbingnya.
"Iya Pak," jawabnya.
"Pak Anwar baru aja pergi lima menit yang lalu, kamu terlambat sih, beliau berpesan kamu datang lagi nanti kalau Pak Anwar sudah kembali dari Singapur," ucap Dosen itu
Angkasa menghembuskan nafas, berarti dia harus menunggu sepuluh hari lagi. Menyesal, ah tidak dia tidak menyesal sama sekali, karena bisa berduaan dengan gadis pujaan hatinya.
"Aku tidak menyesal, karena alasanku terlambat karena kamu Ayesha," batinnya. Lalu dia meninggalkan kampus masih dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.
_______________
Tuh kan, tebakan kalian bener lagi, karena gadis yang di sukai Angkasa ternyata Ayesha.
__ADS_1