Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Berikan Aku Tumpangan


__ADS_3

Cantika baru saja terlelap, setelah berbagai cara Adnan lakukan supaya putri kecilnya itu tertidur dan tidak merengek untuk menyusul Alisha. Adnan bisa bernafas lega, meninggalkan kamar Cantika lalu meminta Anita untuk menemani Cantika di kamar dan tidur dengan gadis kecil itu. Ia ingin menyegarkan tubuhnya, setelah seharian beraktifitas, setelah itu ia memutuskan untuk kembali mencari Alisha, mengingat ini sudah malam dan istrinya itu belum juga kembali. Tentu saja ia merasa khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya itu.


Ia sudah bersiap untuk kembali mencari Alisha, baru saja akan ke luar kamar, ponselnya lebih dahulu bergetar, menandakan jika ada panggilan masuk. Ia mengernyit heran, saat mendapati nomor baru yang menelfonnya, tak urung Adnan pun menerima panggilan itu.


"Assalamualaikum, halo siapa ya?" sapaya sopan dengan orang di seberang sana.


"Adnan, kan? Saya tantenya Alisha. Alisha ada di sini, jadi kamu enggak usah khawatir, biarkan dia menginap di sini saja semalam. Mungkin dia butuh ketenangan,"


Adnan menghembuskan nafas lega, "Makasih Tan, tolong jaga Alisha ya, terimakasih sebelumnya," setelah itu mereka sama-sama mengahiri panggilan tersebut.


Adnan sudah tahu siapa yang di maksud Tante tadi, karena istrinya itu sering bercerita jika dulu waktu kabur dari rumah pasti ke rumah Tante dan entah kenapa sekarang juga seperti itu, sepertinya kebiasaan Alisha tidak berubah.


Lega rasanya setelah mendapat kabar tentang keberadaan Alisha, lalu ia pun ke luar kamar menuju kamar Cantika. Malam ini ia akan tidur bersama gadis kecil itu dan sebelum tidur ia akan memeriksa pekerjaannya terlebih dahulu, tentu saja tetap di kamar Cantika. Dan esok ia akan menjemput Alisha untuk pulang ke rumah, ia tidak akan membiarkan kesalahpahaman ini berlarut-larut.


"Embak boleh ke luar, biar saya yang temani Cantika tidur," ucapnya pada Anita saat sudah memasuki kamar Cantika.


Sesuai perintah, Anita pun meninggalkan kamar Cantika, membiarkan Papanya yang tidur menemani gadis kecil itu.


🌻🌻🌻


"Masih ingat rumah Tante ternyata, Tante kira lupa," celetuk Tante Nayla saat Alisha menyambutnya dengan senyuman setelah ia turun dari mobil.


"Enggak bakalan lupa lah, Tan. Aku lagi sibuk kuliah aja sih, jadi enggak sempet ke sini," timpalnya, "Tante dari mana?" tanyanya kemudian.


"Tante baru aja nganterin Om kamu, dia pergi ke luar negeri sama Papa Mama kamu," jawab Tante sambil berjalan memasuki rumahnya, di susul oleh Alisha.

__ADS_1


Alisha bernafas lega saat mengetahui jika Om Farhan tidak ada di rumah, itu artinya ia bisa menginap di sini tanpa introgasi dari Om tercintanya. Karena ia tahu betul jika Tante Nayla paling muda untuk di ajak kerja sama.


"Kok sendiri? Suami kamu mana? Dan iya anak angkat kamu mana? Mama kamu bilang kalau kamu mengangkat anak, serius itu?" tanya Tante, mereka sudah berada di ruang keluarga.


Alisha tersenyum kaku, tanpa sengaja menggaruk tengkuknya tang tiba-tiba gatal dan kelakuannya itu membuat Tante sadar jika terjadi sesuatu dengan Alisha.


Tante Nayla menghela nafas setelah menebak apa yang terjadi pada Alisha, dan kenapa keponakannya itu sampai di rumahnya. "Kalau ada masalah selesaikan dengan baik, jangan di tinggal kabur gini. Bukannya Tante ikut campur, Tante berkata seperti itu karena Tante sayang sama kamu Sha," ucap Tante menasehati.


Alisha menunduk, ia tidak berani menatap mata Tante karena ternyata sang Tante mengetahui apa yang ia sembunyikan.


"Kalau butuh teman curhat, Tante siap mendengarkan," ujar Tante kemudian.


Alisha menggeleng, ia tidak mungkin menceritakan kejadian tadi yang ia lihat, karena menyangkut masalah anak Tante juga. Jika ia menceritakannya justru masalah akan menjadi makin bertambah, pikirnya.


Tante menghela nafas panjang, "Iya, Tante tidak akan bilang, tapi selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin, dan jangan seperti ini lagi, kamu sekarang bukan lagi remaja yang sukanya kabur-kaburan kalau ada masalah,"


"Iya Tan, tapi malam ini biarkan aku tidur di sini, jangan kasih tahu suamiku kalau aku di sini,"


"Hanya malam ini saja, Tante tidak masalah dan besok pagi kamu harus pulang," Tante menyetujui permintaan Alisha, mungkin keponakannya itu butuh waktu untuk sendiri.


"Tante mau menyiapkan makan malam dulu, kamu boleh ke kamar Yesha, mau tidur di sana juga tidak apa-apa, kamarnya bersih kok,"


Alisha menggeleng, "Aku mau ke kamar Dinda aja, biar ada temennya," Alisha menolak, ia tidak mau berada di kamar seseorang yang ia cemburui saat ini, bukannya hilang amarahnya nanti justru bertambah, apalagi saat mengingat kenangannya bersama Yesha dulu. Saat Yesha tersenyum bahagia ketika berbalas pesan dengan Adnan dan itu pasti akan menjadikan hatinya makin perih tersayat sembilu.


Malam harinya setelah makan malam, Tante Nayla merasa harus memberitahu suami Alisha, jika Alisha berada di sini, ia takut jika Adnan mencari keberadaan Alisha dan tidak mungkin Adnan mencari Alisha sampai ke rumahnya. Karena tidak memiliki nomor Adnan, ia pun berinisiatif meminta nomor Adnan pada putrinya, mungkin saja nomor ponsel Adnan belum di ganti, mengingat Adnan orang penting, tidak sembarangan mengganti nomor ponselnya karena sudah pasti banyak menyimpan nomor relasi bisnis atau teman dosennya. Tapi ternyata putrinya itu sudah tidak menyimpan nomor Adnan, ia sempat kecewa sebelum Yesha mengatakan akan meminta nomor tersebut pada Yasmin, dan benar sja setelah menunggu cukup lama ia pun mendapatkan nomor Adnan.

__ADS_1


Setelah mendapatkan nomor itu, Tante Nayla pun menghubungi Adnan, dan ia bernafas lega ketika yang ia hubungi benar-benar nomor Adnan.


🌻🌻🌻


Pagi hari, Alisha baru saja akan berpamitan untuk pulang. Setelah menyelesaikan sarapannya bersama Tante Nayla dan kedua anaknya. Tapi ia terkejut saat mendapati seseorang yang sangat ia kenali sudah duduk di ruang tamu, entah sejak kapan orang itu berada di rumah ini? Karena sewaktu sarapan tadi ia tidak mendengar ada orang yang datang.


"Tante sengaja menyuruh suami kamu datang, Tante takut kamu tidak pulang ke rumah, tapi malah kabur lagi," ucapan Tante Nayla membuyarkan lamunannya, bersamaan dengan Adnan yang beranjak dari sofa.


"Sayang, ayo pulang. Cantika nyariin kamu dari semalem, dia tadi juga tidak mau sekolah mau nungguin kamu pulang katanya, tapi setelah di bujuk akhirnya mau berangkat sekolah, pulang ya," ucap Adnan setelah berada di hadapan Alisha.


Alisha menghembuskan nafas, ia berjalan ke luar lebih dahulu tanpa memperdulikan ucapan Adnan karena masih kesal dengan suaminya itu.


Tante menepuk pundak Adnan, "Selesaikan masalah kalian, tapi ingat jangan pakai emosi, Tante tahu kamu pasti bisa menghadapi istrimu itu," ucapnya.


Adnan mengangguk, "Makasih Tan, aku pamit ya, dan maaf udah merepotkan Tante," setelah itu Adnan pun menyusul Alisha yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


Adnan ikut masuk ke dalam mobil Alisha, karena ia tadi ke sini sengaja menaiki taksi, supaya bisa pulang bareng Alisha.


"Kenapa masuk ke sini?" tanya Alisha sewot.


"Aku enggak bawa mobil, jadi berikan aku tumpangan," jawab Adnan sambil tersenyum menatap wajah istrinya yang sedang merajuk.


"Enggak usah senyam-senyum," protes Alisha, lalu ia ke luar dari mobil, "Kamu yang nyetir," ucapnya.


Adnan pun bergegas ke luar dari mobil, mengernyitkan dahi saat Alisha justru masuk lewat pintu belakang, tapu biarlah yang penting istrinya itu mau pulang.

__ADS_1


__ADS_2