
Sejak keluar dari mall Alisha tak sekali pun tersenyum, bahkan selalu mengabaikan ucapan Adnan. Wanita itu masih terbakar api cemburu, entah kenapa ia merasa suaminya juga menaruh hati dengan wanita yang tadi mereka temui. Ia juga tidak mau masuk ke mobil Adnan lebih memilih masuk mobil yang biasanya di bawa sopir untuk mengantar Cantika sekolah, membuat Adnan mengalah. Lebih baik mengalah bukan daripada memperpanjang masalah. Dan semua barang belanjaan Alisha di pindahkan ke mobil Adnan.
Sepanjang perjalanan, Alisha hanya diam membisu apalagi Cantika tertidur sejak tadi membuatnya tidak ada teman berbicara, ya meskipun ada Anita dan sang sopir tapi Alisha tampak enggan membuka suara, pikirannya masih berkelana entah ke mana, melayang jauh hingga tak menyadari jika mobil telah berhenti di halaman rumahnya.
"Embak Anita, bisa kan gendong Cantika sampai kamarnya?" tanyanya sekaligus perintah yang harus di lakukan oleh Anita.
"Iya Non,"
Belum juga Anita keluar dari mobil, tapi pintu mobil belakang telah di buka dari luar dan nampaklah Adnan dari balik pintu tersebut.
"Biar aku yang gendong Cantika, Embak Anita sama Pak Totok tolong bawa masuk semua belanjaan yang ada di mobil saya," ucap Adnan, lalu meraih Cantika yang tertidur pulas di pangkuan Alisha. Saat Adnan mengangkat Cantika, Alisha justru memalingkan wajah sengaja tidak mau menatap wajah Adnan.
Setelah Adnan ke luar dari mobil, Alisha juga ke luar langsung menuju kamar, mengunci pintu kamar dari dalam. Sengaja melakukan itu karena saat ini sedang tidak ingin di ganggu oleh siapa pun bahkan oleh suaminya sendiri. Entah kenapa rasanya begitu sakit saat melihat keakraban Adnan dengan Angel tadi, apa mungkin ini termasuk perubahan hormon kehamilan? Jika iya berarti dirinya benar-benar hamil, karena seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Alisha menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, menenggelamkan wajahnya di atas bantal sambil terisak. Akhirnya air mata yang ia tahan sejak tadi runtuh juga, apalagi ia hanya sendiri di kamar dan bisa menangis sepuasnya tanpa ada gangguan dari orang lain. Bahkan ia tak menghiraukan ketukan pintu bertubi-tubi yang berasal dari arah luar kamar, ia sudah tahu siapa yang mengetuk dan memanggil namanya di luar sana, tapi ia tak mau membukakan pintu untuk saat ini.
Tentu saja Adnan panik, ia takut terjadi sesuatu pada Alisha, ia juga menyesal kenapa tadi harus bertemu dengan Angel dan membuat Alisha cemburu seperti ini, ia tidak pernah menyangka sama sekali jika Alisha bisa bersikap berlebihan tidak sesuai ekspetasinya.
"Bik, tau kunci cadangan kamar saya enggak? Kemarin di simpan di sini tapi kenapa sekarang enggak ada ya?" tanya Adnan pada Bik Ana, ia mencari kunci cadangan kamarnya di sebuah laci di ruang keluarga.
"Bibik enggak mindahin Den, coba Bibik bantu cari," Bik Ana mendekat, mulai mencari di seluruh laci yang ada di ruang keluarga.
__ADS_1
"Ini Den,"
"Padahal tadi di situ udah aku cari, tapi kenapa enggak ketemu?" Adnan bingung sendiri karena saat ia yang mencarinya seakan kunci itu tidak ada. Mungkin karena saking paniknya ia pun tidak melihat bentuk kunci yang sesungguhnya, alias samar-samar.
Setelah mengucapkan terimakasih, Adnan segera naik ke atas, membuka kamarnya dengan kunci cadangan tersebut.
Cklek
Pintu terbuka, ia langsung menghampiri Alisha yang sedang berbaring di atas ranjang dengan menenggelamkan wajahnya, masih terdengar suara tangisan Alisha.
"Sayang, maaf," hanya itu yang bisa Adnan ucapkan, ia merasa bersalah sekali apalagi saat melihat keadaan Alisha yang seperti ini.
"Aku minta maaf, aku benar-benar tidak ada maksud apa-apa, karena dia yang menyapaku duluan," ucap Adnan menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Alisha masih saja membisu, tapi ia bisa mendengar jika istrinya itu sudah menghentikan tangisnya.
"Kalau menurut kamu aku salah, kamu boleh hukum aku saat ini juga, aku akan terima dengan senang hati asalkan kamu udah maafin aku," ucapnya kembali.
Adnan merubah posisi Alisha yang tadi ya tengkurap kini menghadap ke arah dirinya. Menghapus sisa air mata yang masih menempel di pipi dengan kedua ibu jarinya, lalu mengecup kening sang istri dan memeluknya dengan erat.
Lagi-lagi Alisha hanya diam, tapi juga tidak menolak justru menenggelamkan wajahnya di dada Adnan, dan tanpa terasa ia tertidur. Mungkin karena saking lelahnya menangis, karena kata orang jika ingin mudah terlelap maka menangislah dan itu terbukti buat Alisha.
__ADS_1
Adnan membiarkan Alisha tertidur meskipun waktu sudah menjelang sore hari. Ia berharap Alisha akan memaafkannya setelah terbangun nanti. Melihat Alisha tertidur dengan nyenyak, Adnan pun beranjak dari tempat tidur, ia ingin menyegarkan tubuhnya dengan cara mandi air dingin.
🌻🌻🌻
Baru saja Adnan keluar dari kamar mandi, tapi ia terkejut saat mendapati Alisha sudah duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Lho enggak jadi tidur?" tanyanya, tapi tak mendapati jawaban dari Alisha. Ia hanya bisa menghela nafas, berarti istrinya itu masih marah, pikirnya.
Malam hari setelah makan malam, seperti biasanya Alisha akan menidurkan Cantika dengan cara membacakan cerita seru sebelum Cantika tertidur. Tapi kali ini ia lebih dulu menyuruh Cantika masuk ke kamar di temani Anita, untuk gosok gigi dulu sebelum dirinya masuk ke kamar Cantika dan gadis kecil itu pun menurut.
Alisha masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil satu bantal dan selimut, membawanya ke luar kamar. Ketika ia membuka pintu untuk ke luar, saat itu juga Adnan akan masuk ke dalam kamar.
"Kamu mau tidur di mana, sayang?" tanya Adnan, ia terkejut saat mendapati Alisha membawa bantal dan selimut ke luar kamar.
"Bukan aku, tapi kamu. Nich, untuk malam ini kamu tidur di luar, awas kalau sampai tidur di kamar Cantika atau kamar tamu bawah, akan aku tambah hukuman lagi." Alisha menyerahkan selimut dan bantal tersebut pada sang suami dan di terima oleh Adnan dengan kondisi tercengang. Karena baru kali ini Alisha mengusirnya dari kamar, tapi tak apalah yang penting istrinya itu memaafkan kesalahannya. Toh dia tadi juga sudah bilang siap di hukum apa pun oleh Alisha.
"Baiklah, tapi kamu udah maafin aku kan?" tanyanya
"Tergantung," jawab Alisha ambigu, setelah mengucapkan itu ia meninggalkan Adnan dan masuk ke dalam kamar Cantika dengan senyum penuh kemenangan, ia ingin menguji Adnan, apakah suaminya itu bisa tidur di luar kamar atau tidak? Jika tidak, makan ia akan kembali menghukum Adnan esok hari.
"Enggak apa-apalah tidur semalam tanpa memeluk istri tercinta, yang penting dia mau maafin aku," gumam Adnan lalu membawa bantal dan selimut tersebut ke sofa yang berada di depan kamar mereka, ia berencana akan tidur di sofa itu nanti malam.
__ADS_1