
Kandungan Alisha sudah memasuki bulan ke sembilan, dan perkiraan ia akan melahirkan seminggu lagi, semua sudah ia persiapkan mulai dari keperluan melahirkan sampai semua perlengkapan bayi. Bahkan sejak sebulan yang lalu Alisha sudah pindah kamar ke lantai satu, supaya memudahkan segalanya dan Alisha tidak perlu naik turun tangga jika membutuhkan sesuatu.
Pagi ini setelah mengantar sang suami berangkat bekerja, Alisha menghampiri Bik Ana yang sedang membereskan meja makan, ia duduk di salah satu kursi di ruang makan tersebut.
"Perlu apa Non? Biar Bibik siapkan?" tanya Bik Ana saat melihat Alisha duduk.
"Buatin puding ya Bik, biasa," titah Alisha.
"Siap Non,"
Alisha hanya memperhatikan Bibik yang sedang membuat puding kesukaannya tanpa berniat membantu, entah kenapa sejak semalam badannya terasa pegal-pegal, terutama di bagian pinggang.
"Bik kenapa ya, aku kok rasanya pegel-pegel gini, padahal kemaren enggak ngapa-ngapain, semalam juga udah di pijit sama Mas Adnan, bukannya sembuh malah tambah pegel," keluh Alisha, ia memang sering curhat dengan Bik Ana, karena sudah menganggap Bik Ana seperti orang tuanya sendiri.
"Mau lahiran itu Non, apa perutnya juga sakit?" tanya Bik Ana, menoleh sebentar ke arah Alisha lalu kembali melakukan aktifitasnya.
"Perkiraan masih lama Bik, seminggu lagi. Sakit sih enggak Bik, cuma tadi pagi mules dikit," jawab Alisha sambil mengelus pinggangnya yang tiba-tiba nyeri.
"Kalo menurut Bibik sih sebentar lagi lahiran Non, perut Non Alisha aja udah turun gitu," ucap Bik Ana, tadi ia sempat memperhatikan posisi perut Alisha yang terlihat sudah berubah posisi lebih turun dari biasanya.
"Kok aku takut ya Bik," keluh Alisha saat membayangkan ia akan melahirkan, karena beberapa cerita ada ibu yang melahirkan anaknya sampai meninggal dunia, membuat Alisha ngeri sendiri.
"Enggak usah takut Non, berdoa sama Allah semoga di mudahkan segalanya. Semua wanita mengalami hal yang sama," Bik Ana menasehati Alisha.
"Iya bener juga sih apa yang bibik katakan, tapi tetep aja ada rasa ngeri gitu," Alisha menggelengkan kepalanya saat membayangkan dirinya melahirkan.
__ADS_1
"Bik aku tunggu di kamar ya, nanti kalo udah jadi bawa ke ruang tengah aja, aku mau makan di sana." Alisha beranjak dari duduknya.
"Iy... Eh Non, kok bajunya basah gitu, kenapa?" tanya Bik Ana saat menyadari pakaian Alisha bagian belakang terlihat basah, tapi entah kenapa Alisha tak merasakan jika pakaiannya basah.
"Eh, iya Bik. Kok bisa sih? Masak aku ngompol? Tapi kenapa enggak terasa ya?" Alisha meraih dress bagian belakang yang basah, lalu mencium dress-nya itu, tapi tidak ada bau yang ia rasakan.
"Non itu pasti air ketuban, Non duduk aja, Bibik panggil Pak supir dulu, kita ke rumah sakit sekarang." Bik Ana sedikit berlari ke arah belakang untuk memanggil sopir pribadi Alisha yang sengaja Adnan siapkan.
🌻🌻🌻
Setelah mendapatkan telfon dari Bik Ana, Adnan yang tadi sedang bertemu klien langsung undur diri, menyerahkan semuanya pada Agil. Tentu saja kliennya sangat mengerti, ketika Adnan meminta ijin undur diri dengan alasan isterinya mau melahirkan, apalagi ini adalah pengalaman pertama buat Adnan dan sang istri.
Ia berlari menyusuri koridor rumah sakit, saking paniknya ia sampai beberapa kali hampir menabrak seseorang dan beberapa kali pula meminta maaf atas keteledorannya. Dan sampailah ia di depan ruang persalinan, ia melihat sudah ada Bunda dan Mama mertuanya, sedangkan Ayah dan Papa mertua belum terlihat, mungkin masih sibuk dengan urusan kantor.
"Kamu langsung masuk aja, dari tadi Alisha nyariin kamu, sekarang sedang di periksa sama Dokter," jawab Bunda.
Setelah itu Adnan berpamitan pada kedua wanita paruh baya tersebut, langsung masuk ke dalam ruang persalinan di mana istrinya berada tanpa mengetuk pintu.
"Mas," ucap Alisha saat melihat kedatangan suami tercinta yang sejak tadi ia tunggu-tunggu.
Adnan pun mendekat, lalu memeluk tubuh Alisha dan mencium puncak kepala sang istri berkali-kali tanpa memperdulikan keberadaan dokter dan suster di sana.
"Maaf Pak, saya baru saja menyelesaikan pemeriksaan, dan ternyata ibu masih pembukaan tujuh jadi masih menunggu beberapa saat lagi untuk siap melahirkan, meskipun tadi ketubannya sempat merembes tapi masih aman untuk nunggu sampai pembukaan sepulu, jadi tidak perlu khawatir. Ibu juga jangan tegang ya, rileks aja," ucap dokter wanita yang usianya mungkin setara dengan Mama Icha.
"Iya terimakasih Dok, maaf Dok, apa dokter Hanny enggak masuk hari ini?" tanya Adnan pada dokter tersebut, pasalnya mereka selama periksa kandungan selalu bersama dokter Hanny, dan sang Dokter pun sudah berjanji akan menangani saat Alisha melahirkan.
__ADS_1
"Beliau masih dalam perjalanan, tunggu saja sebentar lagi pasti sampai," jawab Dokter itu. Setelah itu dokter dan suster tersebut pun pamit karena masih ada beberapa pasien yang harus di periksa.
"Sakit banget ya, sayang?" tanya Adnan saat mendengar rintihan dari mulut Alisha.
Alisha tak kuasa menjawab pertanyaan sang suami, ia sedang menikmati kontraksi yang baru saja datang, rasanya begitu luar biasa, Ternyata seperti inilah perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya, tanpa terasa air matanya menetes, ketika mengingat sang Mama yang berjuang melahirkan dua anak sekaligus, pasti rasanya lebih menyakitkan.
"Mama, Mas," ucapnya terbata sambil mengusap air mata yang terus mengalir.
"Bentar aku panggilin Mama, udah ya jangan nangis gitu, aku jadi pengen nangis. Coba aja aku bisa gantiin posisi kamu saat ini," lirih Adnan, lalu ia beranjak dari duduknya untuk memanggil Mama mertua.
"Ma, aku minta maaf selama ini banyak salah sama Mama, selalu bohongin Mama, buat Mama kesel dan masih banyak lagi, aku minta maaf Ma," Alisha menangis dalam pelukan sang Mama.
"Mama sudah memaafkan semuanya sebelum kamu minta maaf, sudah tidak usah pikirkan Mama, dan jangan menangis lagi, sebentar lagi jadi ibu kok masih cengeng sih, malu dong sama anaknya," Mama mencoba menghibur Alisha, supaya putrinya itu rileks saat melahirkan nanti dan tidak banyak beban pikiran.
"Ih Mama, masih bisa becanda, issh, huhf," Alisha kembali mendesah merasakan kontraksi yang baru saja datang.
"Kamu pasti kuat sayang, kami semua mendoakan kamu di sini," ucap Mama lalu melepaskan pelukannya, karena pintu terbuka dan menampakkan sosok wanita paruh baya yang ternyata adalah dokter Hanny.
"Wah kayaknya saya ganggu ya, udah lanjutin aja," ucap dokter Hanny, merasa tak enak karen kehadiran dirinya mengganggu momen Alisha dan sang ibu.
Mama Icha tersenyum ke arah dokter Hanny, "Selamat siang Dok, terimakasih mau datang jauh-jauh saat sedang cuti," ucap Mama Icha, karena dokter Hanny memang sedang cuti tiga hari dan hari ini sebenarnya hari terahir beliau cuti, tapi harus tetap ke rumah sakit saat tahu Alisha yang akan melahirkan.
"Hey kaya sama siapa aja sich? Aku bukan orang lain, " dokter Hanny berbicara non formal karena memang mereka masih dalam satu keluarga dan di dalam ruangan juga hanya ada mereka bertiga.
"Kontraksi ya, tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan, tapi jangan mengejan dulu ya, pembukaan belum sempurna," ucap Dokter Hanny ketika melihat Alisha kembali kontraksi.
__ADS_1