
Setelah beberapa hari yang lalu harus menelan kekecewaan, kini Alisha sudah tidak lagi memikirkan tentang pemuda itu yang ia yakini sebagai Bintang. Ia percaya dengan ucapan Yesha sepupunya jika suatu saat mereka pasti akan berjumpa.
Hari ini entah mendapat angin dari mana, Alisha mengemudikan mobilnya menuju mall. Setelah pulang kuliah, ia mengabaikan ajakan Dani dsn kawan-kawan untuk nongkrong, lebih memilih ke mall, ingin membeli sesuatu.
Seminggu yang lalu, sang Papa telah mengalihkan kunci mobilnya tapi tidak dengan kunci motor sportnya, karena menurut sang Papa, kunci motor tidak terlalu penting justru akan membuat Alisha kembali melakukan hobi berbahayanya itu dan sejak saat itu pula Alisha sudah jarang datang ke arena, karena biasanya gadis itu akan melakukan berbagai cara supaya bisa datang ke arena.
Alisha melangkah memasuki sebuah toko pakaian wanita. Bisa di bilang ini kali pertama dia mendatangi toko pakaian khusus wanita karena biasanya ia memilih untuk memasuki toko pakaian yang tidak di khususkan untuk wanita atau pria alias umum. Karena bingung memilih pakaian yang menurutnya pas untuk dirinya, akhirnya Alisha meminta bantuan pada penjaga toko untuk memilihkan beberapa dress yang cocok untuk dirinya.
"Jangan yang pink Mbak, yang warnanya tidak terlalu mencolok gitu," protes Alisha saat melihat pegawai toko tersebut membawa beberapa dress berwarna pink.
"Apalagi itu Mbak, entar aku dikira Spongebob yang jalan di daratan lagi," gadis itu kembali protes saat pegawai wanita yang terlihat seumuran dengannya membawa dress berwarna kuning cerah.
Pegawai itu terlihat sebal dengan Alisha, karena dia menyerahkan tugasnya pada teman yang terlihat menganggur. "Kamu aja yang urus," ucap pegawai itu pada temannya. Temannya pun mengangguk setuju.
"Eh, ada Alisha. Tumben sekali masuk ke sini Sha? Sama siapa?" seorang wanita paruh baya baru saja masuk ke dalam toko tersebut, langsung menyapa Alisha yang terlihat memegang beberapa dress.
"Eh Tante Martha, sendirian aja Tan," jawab Alisha sedikit kikuk.
"Wah, Tante bahagia kalau kamu mau pake dress kaya gitu, sini, sini Tante bantuin cari," Tante Marta menarik Alisha.
Sedangkan dua karyawan yang tadi sempat melayani Alisha hanya bisa bengong, ternyata gadis yang sejak tadi merepotkan keduanya, mengenal baik sang bos.
"Untung aja kamu enggak marah-marah di depan gadis tomboy itu, kalo iya bisa kena omel Ibu," ucap salah satu karyawan.
Tante Martha adalah teman sekolah Mama dan Papa, meskipun dulu pernah berselisih kini hubungan mereka sudah membaik, apalagi Tante Martha menikah dengan sahabat Papa Al, yaitu Om Alvian. Bahkan keluarga keduanya sering mengadakan pertemuan atau kumpul-kumpul saat libur bekerja.
"Santi, tolong ambilkan dress yang kemaren baru datang, bawa ke ruangan saya ya," Tante Martha ternyata membawa Alisha masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Nah ini, kamu coba Sha, warnanya cantik tidak terlalu mencolok," Tante Martha menyerahkan sebuah dress berwarna peach pada Alisha.
__ADS_1
"Tuh kan, beneran cantik," ucap Tante Martha setelah melihat Alisha keluar dari ruang ganti.
"Tapi aku enggak pede Tan,"
"Lama-lama pasti pede, udah pakai aja ya, nanti sampai rumah Mama kamu pasti seneng liat kamu pake baju kaya gini," mencoba meyakinkan Alisha, "Ini coba sepatunya, yang flat dulu aja, Tante yakin kamu belum bisa pake high heels," Tante Martha menyerahkan sepatu berwarna putih pada Alisha.
"Tapi Tan,"
"Sudah, pakai saja. Itu bonus buat kamu, sama satu lagi ini Tante yang pilihin, enggak usah bayar. Anggap saja hadiah dari Tante untuk perubahan kamu," Tante Martha menyerahkan sebuah dress berwarna hitam, masih terlipat dan Alisha tidak tahu seperti apa bentuk dress tersebut.
"Jangan menolak! Tante lihat kamu pakai dress gini aja seneng banget, terlihat lebih cantik, coba aja anak Tante seumuran sama kamu, pasti kalian akan Tante jodohin," entah kenapa Tante Martha justru terlihat antusias saat melihat perubahan Alisha.
"Tante bisa aja deh," Alisha tersenyum kikuk.
Setelah perdebatan antara Alisha dan Tante Martha, akhirnya Alisha menyetujui untuk tidak membayar dua dress dan satu flat shoes pilihan Tante Martha. Padahal dia awalnya masuk toko Tante Martha bukan ingin minta gratisan tapi karena dia pernah datang ke toko itu bersama Mama dan Yesha. Dia juga tidak tahu jika Tante Martha tiba-tiba datang, karena wanita itu jarang sekali datang ke toko tersebut, beliau sering di butik miliknya yang berada jauh dari mall itu.
Dengan pakaian berbeda, Alisha memasuki sebuah kafe, meskipun tidak terlalu percaya diri, dia tetap melangkah masuk ke dalam kafe tersebut. Niatnya tadi ingin mengganti pakaian di toilet, tapi sayang seribu sayang pakaian yang dia pakai di awal tadi tertinggal di tempat Tante Martha dan dia enggan untuk mengambilnya lagi.
Alisha duduk sendiri, dia menikmati segelas jus alpukat sambil memainkan ponsel, membalas beberapa chat yang masuk. Ya, dia menyukai jus alpukat seperti Papanya.
Beberapa saat berlalu, dirinya baru saja ingin beranjak dari duduknya, karena sudah terlalu lama duduk di dalam kafe tersebut, namun matanya menangkap sosok bayangan seseorang yang selalu ia harapkan kehadirannya. Dia menajamkan penglihatan, memastikan jika orang yang dia lihat adalah orang yang sama saat di panti asuhan, ingin sekali dia mendekat, tapi sepertinya pemuda itu sedang bertemu dengan klien, terbukti dia terlihat serius dengan orang yang ada di hadapannya.
Alisha memilih untuk menunggu pemuda itu menyelesaikan pekerjaannya. Tak butuh waktu lama, orang yang tadi duduk dengan pemuda itu pun berlalu lebih dulu, berjabat tangan sebelum meninggalkan pemuda itu sendirian. Tepat setelah orang itu pergi, Alisha buru-buru mendekati pemuda itu tanpa rasa canggung.
"Maaf, permisi," ucapnya saat berada di hadapan pemuda itu.
Pemuda berkemeja warna dan jas hitam melekat di tubuhnya itu mendongak, menatap wajah Alisha dengan alis mengkerut, merasa tidak mengenal atau mungkin pemuda itu merasa tidak asing dengan gadis di hadapannya.
"Iya, ada apa ya?" jawab pemuda itu dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Boleh duduk?" tanya Alisha.
"Boleh, silakan. Tapi ada apa ya? Apa kita saling mengenal sebelumnya?" tanya pemuda itu sedikit penasaran pasalnya gadis di hadapannya ini terlihat sok akrab.
"Mungkin Mas lupa dengan saya, tapi saya tidak pernah lupa dengan kebaikan Mas," jawab Alisha ambigu.
"Maksudnya apa ya?"
"Em, Mas pernah menolong saya waktu di jalan, pas saya di omelin sama bapak-bapak, di suruh tanggung jawab karena saya tidak sengaja menabrak mobilnya," terang Alisha.
Pemuda itu berfikir sejenak, sepertinya dia hampir melupakan kejadian itu, "Oh iya, kamu cewek itu ya," pemuda itu melihat sekilas penampilan Alisha yang sangat berbeda dari saat itu. Tentu saja Alisha menyadari jika pemuda di hadapannya sedang menilai penampilannya kali ini.
"Terus ada perlu apa?" tanya pemuda itu.
"Saya mau berterimakasih, sekaligus mau ngembaliin uang yang dulu itu," ucap Alisha sedikit ragu.
"Tidak perlu, saya sudah melupakannya,"
"Tapi saya tidak enak, merasa berhutang dengan Masnya," Alisha bersikukuh untuk mengembalikan uang itu.
"Tidak masalah, jangan di fikirkan," ucap pemuda itu, "Ada lagi? Kalau tidak saya harus pergi, masih ada urusan," tambahnya.
"Boleh kita kenalan? Siapa tahu bisa jadi teman," Alisha tanpa ragu menyodorkan tangannya di hadapan pemuda itu. "Aku Alisha," ucapnya
Pemuda itu pun menerima uluran tangan Alisha, lalu menyebut namanya.
__________
Maaf baru bisa nongol lagi, karena kesibukan di dunia nyata. Semoga kedepannya bisa up tiap hari.
__ADS_1