Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Kamu Mengenalnya?


__ADS_3

Terimakasih banyak buat yang udah doain, semoga kalian semua di beri kesehatan dan kelancaran rejekinya. Aamiinnn.


.


.


.


.


.


.


.


"Alis," Adnan memanggil Alisha, karena tidak tahan dengan keheningan.


Alisha mengernyitkan dahinya, mendengar Adnan memanggilnya dengan sebutan 'Alis'.


"Kok Alis sih?" protesnya.


"Emang kamu mau di panggil siapa? Alis termasuk nama kamu juga, kan?" tanya Adnan, ia menoleh sebentar ke arah Alisha.


Alisha menghembuskan nafas, "Iya sih. Terserah deh mau panggil apa. Tapi biasanya aku di panggil Shaha," jawabnya.


Adnan terdiam, ia tidak mungkin memanggil Alisha dengan sebutan Shasa, karena ia sudah memanggil Yesha dengan nama itu. Ia tidak mau terus terlarut dalam kubangan masa lalu bersama Yesha. Sekarang hidupnya adalah tentang Alisha, Alisha dan Alisha.


"Aku mau berbeda dari yang lain, jadi boleh kan aku panggil kamu Alis?" ucap Adnan.


Alisha mengangguk, ia tidak berani menatap Adnan karena wajahnya terasa memanas. "Boleh kok," jawabnya.


Mereka kembali hening, entah kenapa? Padahal biasanya saat di rumah, Adnan selalu bertanya banyak hal, apa mungkin karena saat ini pemuda itu sedang nyetir atau ada hal lain yang membuat Adnan lebih memilih diam.


Drrrt Drrrt Drrrt

__ADS_1


Ponsel Alisha berbunyi begitu nyaring, ia pun menerima panggilan itu.


"Kenapa Dan?"


"Bilang gue enggak bisa, bilang gue udah pensiun,"


"Apa sih maunya? Udahlah bilang aja gue enggak bisa, terserah dia mau bilang apa gue enggak peduli," Alisha terlihat emosi, ia pun memutuskan sambungan telfonya.


"Siapa? Kenapa?" tanya Adnan karena menyadari kekesalan Alisha saat berbicara di telfon tadi.


"Dani, temen di club' motor. Ada yang ngajakin duel tapi aku tolak, lagian motor juga di sita sama Papa," jawab Alisha, ia sudah bisa mengontrol emosinya.


Adnan mengangguk, ia baru tahu ternyata apa yang di katakan Angkasa tempo hari itu benar. Jika Alisha suka sekali dengan balapan motor, mungkin gadis itu akan menerima tawaran temannya jika dalam waktu dekat ini tidak akan menikah. Atau mungkin akan menerima tawaran itu jika dia tidak sedang bersama Adnan.


"Sejak kapan kamu suka balapan motor?" pertanyaan yang meluncur begitu saja dari bibir Adnan, padahal awalnya pemuda itu tak berminat untuk bertanya.


"Sejak masuk SMA, kebetulan juga ada temen yang punya hobi sama, dan sampai sekarang," jawabnya.


"Kalau motor enggak di sita Papa, mungkin masih sering balapan, tapi semenjak di sita sama Papa enggak pernah ikutan lagi," Alisha menatap ke arah jalan raya, ia sebenarnya masih berat untuk meninggalkan hobinya itu, tapi apa mau di kata? Ia saat ini lebih memilih menuruti permintaan kedua orang tuanya.


Alisha tersenyum.


"Kalo kita balapan pasti aku yang kalah," celetuk Adnan. Sebenarnya dia tidak begitu suka saat tahu Alisha memiliki hobi ekstrem itu. Ia menoleh ke arah Alisha sebentar, "Karena aku enggak pernah ikutan kaya gitu," ucapnya, karena melihat Alisha yang sepertinya tak mau menanggapi ucapannya.


"Mungkin bagia sebagian orang yang belum pernah merasakannya, hal itu terlihat mengerikan, tapi bagi seseorang yang sudah biasa melakukannya apalagi mereka yang memiliki hobi seperti itu, balapan motor menjadi kebahagiaan tersendiri, bahkan ketika ada masalah, dan pikiran lagi enggak singkron, aku biasanya lebih suka berada di arena berjam-jam meskipun tidak sedang bertanding," Alisha mencoba membela diri, ia seakan tahu apa yang di katakan Adnan sebuah sindiran halus.


"Tapi kan bisa dengan cara lain, enggak harus balapan juga, kan?"


"Ya emang, tapi tergantung dari setiap individu, karena hobiku itu, mungkin kalau kamu bisa dengan cara lain, tapi tidak denganku," Alisha masih kekeh mempertahankan pendapatnya.


Suasana dalam mobil menjadi sedikit tegang, karena mereka belum ada yang mau mengalah. Tapi akhirnya Adnan menghela nafas, ia harus mengalah di sini. "Iya sih, bener juga apa yang kamu katakan," Adnan lebih memilih menyetujui ucapan Alisha dari pada urusannya akan bertambah panjang.


Setelah perdebatan kecil tadi, mereka kembali hening. Terlarut dalam pikiran masing-masing, hingga mobil sampai di sebuah kafe tempat janjian Adnan dengan temannya pemilik WO, karena hari libur jadi mereka bertemu di luar kantor akan lebih santai juga.


Keduanya masuk ke dalam kafe tersebut, ternyata teman Adnan sudah berada di sana, dia tidak sendiri sepertinya bersama seorang pegawainya. Setelah memilih beberapa undangan akhirnya mereka menyepakati undangan seperti apa yang mereka pilih, meskipun di antara keduanya tidak begitu antusias saat memilih undangan, jika Alisha merasa tidak memiliki selera tertentu maka Adnan juga sama, jadi yang mereka pilih atas dasar rekomendasi dari teman Adnan itu.

__ADS_1


Setelah itu akhirnya mereka pun pergi dari kafe, Adnan ingin mengajak Alisha ke rumahnya bertemu dengan Bunda, karena selama ini Alisha belum pernah sekali pun ke rumahnya. Baru saja akan ke luar dari kafe, mereka berdua bertemu dengan seseorang yang sangat Alisha kenali, sebenarnya paling malas buat Alisha untuk bertemu dengan orang itu.


"Ini beneran Lo? Gue enggak percaya kalo Lo bisa berpenampilan gini," orang itu memperhatikan penampilan Alisha dengan remeh, "ternyata Lo suka sama cowok juga ya, gue kira Lo suka sesama jenis," celetuk orang itu, menyakitkan bahkan Adnan pun ikut geram mendengar ucapan orang tersebut.


"Udah jadi perempuan ternyata, pantesan nolak tawaran gue," baru saja Alisha akan bicara tapi orang itu lebih dahulu mengeluarkan suara.


"Percuma orang tua kamu masukin ke universitas mahal di luar negeri, kalau omongan kamu tidak berkualitas sedikit pun," timpal Adnan sinis.


Alisha mengernyit saat mendengar ucapan Adnan, ia berfikir apakah Adnan mengenal pemuda di hadapannya ini? Tapi kenal di mana? Bukannya memikirkan ucapan orang tadi, Alisha justru memikirkan di mana mereka bisa saling mengenal?


Orang tersebut tampak geram, wajahnya merah padam bahkan ia juga mengepalkan tangannya ingin menghantam wajah Adnan, tapi urung karena Alisha bisa mencegahnya.


"Urusan Lo sama gue, bukan sama dia," ucapnya lalu menghempas tangan orang itu dengan kasar.


Jangan lupakan Alisha yang jago bela diri, jadi ia bisa mengantisipasi serangan seperti itu.


"Sudah ayo pergi Mas, dia emang suka ngasal kalo ngomong," Alisha menarik paksa tangan Adnan.


"Awal Lo ya anak pungut!" mereka berdua masih bisa mendengar orang itu berbicara.


Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Alisha yang begitu penasaran ia langsung bertanya pada Adnan.


"Kamu kenal sama Maxim?" tanyanya. Ya orang tadi adalah Maxim, orang yang pernah Alisha kalahkan beberapa waktu lalu di arena, sepertinya pemuda itu belum bisa menerima kekalahannya apalagi dengan kekalahan itu, ia tidak bisa mendekati Yesha, ya meskipun ia selalu mencoba untuk mendekati Yesha.


Adnan mengangguk, "Dia adik kelas waktu SMA," jawabnya.


"Ooh pantesan kalian saling mengenal, berarti kamu udah tahu seperti apa dia?" tanya Alisha lagi.


Adnan kembali mengangguk, "Iya, dia memang seperti itu sejak masih SMA, jadi sudah tidak kaget lagi kalo denger dia ngomong seperti itu,"


"Tapi sepertinya dia punya dendam sama kamu deh Mas?" Alisha bisa melihat jika Max memiliki dendam tersendiri dengan Adnan.


"Mungkin karena dulu aku yang sering menghukum dia waktu buat onar di sekolah,"


Alisha mengerti sekarang, ia berfikir mungkin Adnan dulunya anggota OSIS, jadi bisa dengan mudah menghukum Max waktu SMA.

__ADS_1


_____________


__ADS_2