
Beberapa bulan berlalu Adnan dan Alisha menjalani kehidupan berumah tangga, banyak hal yang mereka lewati dan keduanya bisa melewati semuanya dengan mudah, namun belum juga ada tanda-tanda jika Alisha hamil. Mungkin Tuhan belum mengizinkan mereka untuk memiliki seorang anak. Mereka berdua percaya jika suatu saat pasti akan di beri keturunan, saat ini lebih baik seperti itu dulu karena Alisha masih harus kuliah. Mungkin nanti jika Alisha sudah menyelesaikan kuliahnya, barulah akan melakukan program kehamilan.
Pagi menjelang siang, Alisha telah kembali dari kampus. Hari ini ujian akhir semester di hari terahir, jadi ia bisa pulang lebih awal. Seperti biasa, ia mampir ke kantor sang suami sebelum pulang ke rumah.
"Mas Adnan kemana?" tanyanya pada Agil, sekretaris Adnan karena tidak mendapati suaminya itu di dalam ruangan.
"Di rooftop," jawab Agil singkat.
Alisha mengernyitkan dahi, tidak biasanya suaminya itu berada di atas sana. Apa mungkin ada masalah? Ia jadi penasaran. Tanpa mengucapkan terimakasih atau kata apa pun pada Agil, ia pun langsung menaiki tangga menuju lantai tertinggi di gedung ini.
Menghampiri Adnan yang sedang berdiri di pembatas rooftop membelakangi dirinya. Sepertinya suaminya itu tak menyadari kehadirannya, terbukti Adnan tak tetap bergeming di tempatnya. Ia pun berinisiatif memeluk tubuh sang sumi dari belakang, lalu menyandarkan kepalanya di punggung Adnan.
Adnan terkejut mendapat pelukan secara tiba-tiba, tapi saat merasakan wangi parfum yang amat ia kenali, ia pun tersenyum. Menyentuh kedua tangan Alisha yang memeluk erat tubuhnya.
"Tumben enggak minta jemput," ucapnya tanpa merubah posisi mereka.
Alisha menggeleng, "Kamu lagi mikirin apa sih, Mas?" Alisha tidak menjawab pertanyaan Adnan, ia justru bertanya karena tak biasanya Adnan berdiri mematung di tempat itu bahkan tak menyadari kehadirannya. Ia bisa merasakan dan mendengar jika Adnan menghela nafas panjang, sudah bisa di tebak pasti suaminya itu memiliki masalah yang serius.
Adnan tidak langsung menjawab pertanyaannya, justru meraih tubuh Alisha supaya berdiri di sisi sebelah kanannya dengan tangan kanannya berada di pundak Alisha. Mengecup singkat pipi kiri Alisha sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Baru aja aku dapat kabar buruk," ucapnya tanpa menatap Alisha.
__ADS_1
"Kabar buruk apa?" tanya Alisha panik.
Adnan menatap netra Alisha, meletakkan kedua tangannya di pundak Alisha, menghembuskan nafas panjang sebelum mengutarakan kabar buruk yang baru saja ia terima. "Aku tadi dapat telfon dari panti asuhan, kalau Cantika ada yang mau mengadopsi, kita diberi waktu satu kali dua puluh empat jam, jika tidak datang ke panti dan mengadopsinya, maka Cantika akan di serahkan pada orang yang mau adopsi itu," jelas Adnan panjang lebar.
Alisha terkejut mendengar penjelasan Adnan, ia teringat jika beberapa Minggu ini jarang datang ke panti karena tugas kuliah yang menumpuk, selain itu juga ia masih menghadapi ujian akhir semester.
"Terus gimana Mas? Aku enggak mau kalau Cantika di adopsi oleh orang lain," Alisha membayangkan jika dirinya jauh dari gadis kecil itu. Tapi tunggu, apakah Cantika mau di adopsi oleh orang lain selain Alisha?
"Apa kamu yakin mau mengadopsi Cantika sekarang? Kalau kamu yakin, kita datang langsung ke panti hari ini, bagaimana?" tanya Adnan. Tentu saja Alisha menyetujui usulan Adnan, ia juga rindu dengan gadis kecil itu.
Tanpa menunggu lama, mereka pun langsung meluncur ke panti, tapi mereka harus merendam kekecewaan karena Cantika sedang ke luar bersama calon orang tua asuhnya. Akhirnya mereka memilih untuk menunggu sambil berbincang-bincang dengan Ibu panti.
Adnan menerima selembar kertas itu, lalu membacanya, Alisha pun ikut membaca syarat-syarat yang tertulis di sana.
"Saya minta maaf sebelumnya, karena tidak bisa menahan Cantika untuk tetap di sini sampai kalian mengadopsinya, karena yang merekomendasikan Cantika untuk jadi anak asuh orang itu adalah pemilik panti ini. Tadinya pemilik panti keberatan untuk memberi waktu pada kalian, tapi setelah saya memohon akhirnya memberi kesempatan pada kalian hanya sehari saja, jika kalian tidak datang hari ini makan Cantika akan di bawa orang itu, mereka akan tinggal di luar Jawa," Ibu panti menjelaskan panjang lebar tentang alasan mereka berdua di beri waktu hanya sehari.
"Makasih banyak Buk, kami pasti bawa Cantika hari ini juga," ucap Alisha.
"Iya, saya juga seneng akhirnya kalian datang. Tadinya saya pikir kalian berdua tidak datang, karena Cantika sendiri sebenarnya tidak mau di bawa orang itu, dia mintanya cuma sama kalian berdua,"
"Tapi kenapa sekarang mau di ajak ke luar Buk?" tanya Alisha yang sejak tadi penasaran.
__ADS_1
"Ibuk yang bujuk, karena orang itu terus memaksa, katanya sudah jatuh cinta dengan Cantika,"
Alisha menghembuskan nafas panjang, ia mengakui pesona gadis cilik itu memang sangat kuat. Apalagi saat dia sedang ceria, tertawa bersama teman-temannya, tentu saja setelah bertemu dengan Alisha untuk pertama kalinya.
"Kakak!" seru seseorang, terdengar langkah kaki tergesa memasuki ruangan tersebut. Alisha bis menebak suara siapa itu, tentu saja suara Alisha, gadis kecil yang sangat ia sayangi.
Benar saja, Cantika berlari masuk ke dalam ruangan itu langsung menubruk tubuh Alisha, menyembunyikan wajahnya di perut Alisha.
"Aku mau ikut Kakak," rengeknya.
Alisha mengusap puncak kepala Cantika, tersenyum penuh haru. Ternyata Cantika sudah menunggu kehadirannya di sana. "Iya, Cantika nanti ikut Kakak ya," ucapnya.
Tak berselang lama, masuklah dua orang, mereka sepertinya sepasang suami istri. Alisha menebak jika mereka hampir sebaya dengan Mama dan Papanya. Mereka pun saling menyapa satu sama lain, lalu kedua orang itu ikut duduk di ruangan tersebut. Si ibu terlihat terus memperhatikan Cantika yang masih menenggelamkan wajahnya di perut Alisha.
Ibu panti menjelaskan pada sepasang suami istri itu, jika Alisha dan Adnanlah yang ingin mengadopsi Cantika sebelumnya.
"Tidak masalah, kami akan cari satu anak lagi, sepertinya Cantika juga tidak mau berpisah dengan Embaknya, saya dan istri tidak akan memaksa, karena jika kami paksakan nanti akhirnya tidak akan baik,"
Alisha bernafas lega, ternyata mereka mau melepaskan Cantika dengan tulus. Tapi baru saja ia bernafas lega, istri dari laki-laki itu angkat bicara.
"Jangan gitu dong Pa, aku udah jatuh cinta sama dia. Papa kan tahu, kalau Mama susah banget cari anak asuh, karena enggak sreg terus, yang ini Mama suka banget tapi malah Papa lepas gitu aja, gimana sih, Pa? Lagian kita yang kesini duluan, kan?" ternyata si ibu tidak terima jika Cantika di serahkan pada Adnan dan Alisha.
__ADS_1