
Alisha mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, setelah mendapatkan kabar dari Bik Ana ia langsung meluncur ke rumah sakit dimana Adnan di rawat.
Tin Tin Tin
Berkali-kali membunyikan klakson mobilnya, namun mobil di depannya tak kunjung bergerak, entah kenapa bisa macet sampai sepadat itu. Ia menghembuskan nafas berkali-kali, ketika melihat lokasi rumah sakit masih jauh dan tidak mungkin ia lari dark tempatnya berada saat ini. Akhirnya ia menyerah di tengah kemacetan itu, lebih baik menunggu dari pada tergesa-gesa, toh Adnan di sana tidak sendirian melainkan bersama Bunda.
"Setelah kepergian Non waktu itu, panas Aden enggak turun-turun, Bibik mau telfon dokter selalu di larang sama Den Adnan, tapi Bibik tidak kehabisan akal, akhirnya menelfon Ibu, Bibik cerita semua sama Ibu dan hari itu juga Ibu datang sama Bu Ayu, dan Den Adnan langsung di bawa ke rumah sakit," jelas Bibik tadi sebelum ia ke luar rumah.
Alisha tak habis pikir, bisa-bisanya suaminya itu tidak jujur justru menyembunyikan keadaannya. Pantas saja selama di Yogyakarta, ia merasa seperti ada sesuatu yang terjadi, tapi ia tak bisa menebaknya. Adnan juga tak pernah menjawab panggilannya, ternyata suaminya itu di rumah sakit dan dia tidak mau jika Alisha tahu.
Mama juga kenapa tidak memberi tahu jika suaminya sakit, ah kenapa mereka semua kerja sama untuk tidak memberi tahu dirinya. Kesal tentu saja Alisha merasa kesal dengan semua itu.
Tin Tin Tin
Bunyi klakson mobil membuyarkan lamunannya, ternyata mobil di depannya sudah bergerak sekitar satu meter, artinya ia melamun cukup lama. Kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ternyata di depan sana ada kecelakaan yang membuat jalanan macet.
Beberapa waktu berlalu, Alisha sudah sampai di rumah sakit dimana Adnan dirawat, ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir lalu menuju ruangan Adnan di rawat.
Brak
Alisha membuka pintu ruang rawat Adnan dengan kasar, berlari menuju brangkar, ia langsung memeluk tubuh suaminya tanpa memperdulikan adanya orang lain di sana, bahkan Alisha sepertinya tak menyadari adanya orang lain di ruangan itu.
"Kok udah pulang?" tanya Adnan, membalas pelukan Alisha. Ia bisa merasakan jika Alisha menangis dalam pelukannya. "Cengeng banget sih! Kemana Alisha yang tak gentar dengan siapa pun?" tambahnya sedikit mengejek Alisha.
Alisha melepaskan pelukannya dengan paksa.
Bugh
__ADS_1
Ia memukul dada Adnan, wajahnya sembab, "Kamu sakit masih aja bisa ngejek, aku tu khawatir tau enggak sih?" ucapnya manja.
Adnan terkekeh mendengar ucapan Alisha, ia menghapus air mata Alisha dan menyingkirkan anak rambut yang berantakan menutup sebagian wajah Alisha.
"Udah enggak usah nangis lagi," ucapnya lalu memeluk tubuh Alisha kembali. "Aku yang sakit kenapa kamu yang nangis? Aku baik-baik aja sayang," tambahnya sambil mengelus punggung Alisha. Ia bisa merasakan jika Alisha mempererat pelukannya.
"Tapi aku khawatir Mas," ucapnya lalu menatap wajah Adnan yang tersenyum, seperti buka orang yang sedang sakit saja.
Mereka terlihat saling menatap untuk beberapa saat, hingga suara seseorang membuat mereka tersadar jika di ruangan itu tidak hanya mereka berdua.
"Bapak beruntung banget ya, punya istri yang sayang banget gitu sama suaminya," celetuk teman dosen Adnan, seorang ibu-ibu berusia setengah baya.
Mendengar ucapan itu, Alisha segera melepaskan pelukannya, lalu melihat sekeliling. Ternyata di sofa ada beberapa orang yang tidak ia kenali, tersenyum canggung ke arah mereka di sambut dengan senyuman ketulusan oleh mereka. Malu sekali Alisha, kenapa bisa ia tidak sadar jika di tempat itu ada teman-teman dosen Adnan, dan kenapa juga Adnan tidak bilang sejak tadi? Ia menatap Adnan yang justru tersenyum membuat ia makin kesal, tapi tak urung menghampiri para dosen itu lalu menyalami satu persatu.
🌻🌻🌻
Adnan menghela nafas, menyapa istrinya yang sedang mengupas buah di sisinya, "Aku cuma enggak mau ganggu kamu di sana, lagian kata dokter besok juga boleh pulang, aku cuma butuh istirahat sebentar," jawab Adnan.
"Butuh istirahat karena sering begadang," celetuk seseorang yang baru saja masuk tanpa kedua orang itu sadari.
"Eh, Bunda," ucap Alisha saat mengetahui siapa yang datang.
"Kamu udah pulang?" tanya Bunda.
"Iya Bun, tadi pagi," jawab Alisha, "Mas Adnan sakit apa sih Bun? Sejak tadi aku tanyai dia enggak mau jawab," tanyanya.
"Dia itu kecapean, pasti sering begadang. Di kantor kerja di rumah juga masih kerja, terus waktu istirahat kapan coba?"
__ADS_1
"Maaf Bun," bukan Adnan yang mengucapkan itu, tetapi Alisha, ia merasa tidak pecus mengurus suaminya.
"Bukan salah kamu, sayang. Suami kamu itu kebiasaan seperti itu," ucap Bunda.
Adnan hanya tersenyum, ia tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kok nasinya belum di makan?" tanya Bunda saat melihat makanan masih utuh belum di sentuh sama sekali.
"Katanya mau makan buah dulu, Bun," jawab Alisha lalu menyerahkan piring berisi potongan buah apel kehadapan Adnan. Setelah menyantap buahnya, Adnan pun memakan makanannya dengan di suapi Alisha. Bunda baru saja pergi, ia tadi datang bermaksud menemani Adnan, tapi ternyata ada Alisha di sana. Karena ada urusan mendadak Bunda pun pergi.
"Kamu pasti capek ya, baru aja pulang langsung ke sini," ucap Adnan setelah menyelesaikan makannya.
"Kata siapa? Aku udah pulang dari pagi, tapi langsung tidur, enggak tahu kamu di rumah sakit sih, kalau tahu udah datang dari pagi," jawab Alisha.
"Sini aku pijitin," Adnan tidak menggubris ucapan Alisha, ia tahu istrinya itu masih kelelahan setelah menaiki kendaraan beberapa jam lamanya.
Alisha mendekat, "Harusnya itu aku yang mijitin kamu, Mas, kamu yang sakit," ucapnya.
"Enggak usah, aku udah istirahat berhari-hari di sini, biar kamu aja yang aku pijitin," Adnan memaksa, ia mulai memijit pundak Alisha perlahan. Dan istrinya itu menurut, tidak protes seperti tadi.
"Kangen banget sama kamu, enggak ada kamu sepi karena enggak ada yang protes dengan ucapanku," ucap Adnan di tengah-tengah acara memijitnya. "Kamu kangen sama aku enggak?" tanyanya.
"Kangen tapi kesel, buat aku khawatir aja. Pantes selama di sana perasaanku selalu tidak enak, tenyata suamiku masuk rumah sakit. Pas dikasih tahu sama Bibik kalau kamu masuk rumah sakit, aku langsung ke sini, khawatir sama keadaan kamu, pikiranku usah jelek-jelek semua, eh sampai sini, orangnya keliatan bugar banget,"
Adnan masih memijat Alisha, "Jadi kamu mau suamimu ini sakit lebih parah, gitu?" tanya Adnan.
"Bukan begitu, istri mana sih yang akan tenang jika tahu suaminya masuk rumah sakit," protesnya.
__ADS_1
"Iya deh, maaf ya sayang, dan terimakasih udah khawatir sama aku," ucap Adnan lalu mengecup pipi Alisha dari samping membuat Alisha geli karena kecupan Adnan sedikit menyentuh telingannya.