Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Bulan Madu 2


__ADS_3

Sebuah mobil berwarna putih melaju dengan kecepatan sedang, beriringan dengan kendaraan lainnya. Di dalam mobil itu, ada sepasang suami istri yang tampak membisu sejak pertama masuk ke dalam mobil, sang istri yang terlihat cuek sambil memainkan gawainya, namun sesekali melirik lelaki yang duduk di sampingnya, tentu saja tanpa sepengetahuan si empunya. Hal yang sama pun terjadi pada sang lelaki, melirik gadis yang beberapa hari lalu resmi menjadi istrinya yang sedang sibuk dengan gawai di tangannya, entah sedang melakukan apa ia pun tak mengerti.


Sebuah kebetulan yang nyata, saat Adnan melirik Alisha sekilas, tepat saat itu juga Alisha melirik Adnan, membuat pemuda itu mengembangkan senyumnya, tapi Alisha langsung memalingkan wajah, ia bisa merasakan jika seluruh wajahnya memanas, mungkin malu karena terpergok melirik Adnan.


"Ngapain lirik-lirik? Iya, aku aneh, tapi setidaknya aku nyaman dengan pakaian seperti ini, ini diriku ini jiwaku," ucap Alisha masih memalingkan wajahnya. Ia merasa jika Adnan tak nyaman melihat penampilannya.


"Bukan begitu, aku cuma penasaran aja, apa sih yang menarik dalam ponselmu, sampai-sampai lupa kalau kamu di mobil ini tidak sendiri,"


Alisha menoleh, ia mengernyitkan dahi, "Oh iya, aku baru sadar, aku kira tadi sendirian di mobil," ucapnya santai.


Adnan menggeleng, ia tahu jika Alisha hanya bercanda, "Lalu, kenapa kamu melirikku tadi, kalau merasa hanya sendiri di dalam mobil?" tanyanya.


"Udahlah enggak usah di bahas, kamu fokus nyetir aja," ucap Alisha karena ia tidak memiliki alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Adnan, tidak mungkin kan jika ia harus jujur, oh no! Mau di taruh di mana mukanya nanti.


Adnan pun diam, ia sebenarnya menyadari jika sejak tadi Alisha meliriknya, entah alasan apa gadis itu curi-curi pandang terhadap dirinya, ia jadi penasaran, mungkin Alisha ingin mengatakan sesuatu tapi malu? Entahlah.


🌻🌻🌻


Mereka berdua sampai di sebuah villa yang letaknya lumayan jauh dari hotel mereka berdua. Villa itu tak tampak seperti bangunan di kota Bali pada umumnya, justru terlihat seperti bangunan ala Eropa. Mungkin pemiliknya menyukai desain Eropa. Villa mewah, yang memiliki halaman luas dan di kelilingi oleh tanaman berbagai macam bunga dan tanaman lainnya.


"Ini Villa siapa?" tanya Adnan.


"Villa keluarga temenku," jawab Alisha seadanya.


Adnan mengikuti langkah Alisha masuk ke dalam villa tersebut, kedatangan keduanya di sambut oleh teman-teman Alisha yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang, dengan pakaian yang hampir sama dengan Alisha, mengenakan jaket denim berwarna hitam dan memiliki logo di bagian dada sebelah kiri. Alisha terlihat menyalami mereka semua, ada sekitar lima gadis di dalam ruangan itu dan sisanya para lelaki.

__ADS_1


Adnan menghela nafas, saat tahu jika itu semua pasti teman-teman Alisha, ia bingung harus berbuat apa? Apa mungkin dirinya harus berbaur dengan para anak muda itu, bahkan salah satu dari mereka ia mengenalinya, ya, anak didiknya di kampus.


"Wah, ternyata Bapak yang jadi suaminya Shasa? Bapak kok mau sama cewek jadi-jadian kaya Alisha?" pertanyaan yang mengejek terlontar dari salah satu anak didiknya.


"Jangan-jangan Lo pake pelet ya Sha? Sampai Pak Adnan mau nikah sama Lo?" Alisha mendelik mendengar pertanyaan tak bermoral dari salah satu teman laki-lakinya itu.


Sedangkan Adnan, memilih diam, malas meladeni anak didiknya yang bandel itu. Ia justru menghela nafas, tak habis fikir jika dia salah satu teman Alisha.


"Maaf Mas, kalau di sini tidak nyaman, Mas bisa pindah ke dalam. Biasa Mas, teman-teman saya seperti itu, maaf ya sekali lagi," salah satu pemuda mendekat ke arah Adnan yang duduk di sofa, karena semua teman Alisha duduk lesehan beralaskan karpet bulu.


"Enggak apa-apa, saya di sini aja. Nikmati kebersamaan kalian, anggap saja saya tidak ada," ucap Adnan, ia akan menunggu Alisha di tempat itu tanpa mau berpindah.


"Oh yaudah, enggak apa-apa kalau Mas mau di sini, mau gabung juga boleh," tawar pemuda itu yang tak lain adalah Dani.


"Terima kasih, tapi saya di sini saja,"


Dari arah sofa, Adnan bisa melihat jika teman-teman Alisha berbisik tentang dirinya, terutama karena Alisha membiarkan Adnan duduk menyendiri dan ia tidak menemaninya.


"Biarin aja, dianya yang mau ikut," celetuk Alisha saat teman-temannya menyuruh untuk mengajak Adnan bergabung.


Adnan hanya bisa mendesah, ia memilih untuk memainkan gawainya dari pada memperhatikan mereka yang entah sedang membahas apa. Ia mengira saat di Bali akan hanya berdua saja dengan Alisha, dan bisa bicara baik-baik dengan gadis itu, supaya hubungan mereka lebih baik dari sekarang, tapi pernyataan fakta tak seindah ekspektasi karena dirinya kini harus terdampar di tempat asing, bahkan hanya bisa memandangi istrinya yang sedang bercanda dengan teman-temannya.


Ingin ke luar dari tempat itu, namun ia tak mau jika Alisha berfikir yang tidak-tidak, akhirnya ia pun pasrah memilih untuk duduk manis di sana, sambil mencari kesibukan.


Dani kembali mendekatinya, mungkin pemuda itu merasa tak enak hati, melihat Adnan di cuekin karena dia adalah tua rumah, maka harus berbaik hati.

__ADS_1


"Maaf Mas, aku jadi enggak enak sama sama kamu, di anggurin sendirian di sini," ucap Dani setelah ikut duduk di sofa.


"Biasa aja,"


"Sebenarnya, ini permintaan Alisha, supaya kita semua ke Bali, padahal saya sudah menolak, tapi dia maksa, yaudah akhirnya kita semua rombongan ke sini," terang Dani, membuat Adnan menyadari satu hal, ternyata Alisha masih enggan untuk berdua dengan dirinya.


"Tidak masalah, saya tau kok," Adnan bersikap biasa saja, ia pura-pura mengetahui semuanya.


Sebenarnya Alisha merasa kasihan juga melihat Adnan seperti orang hilang, tapi demi misinya ia harus melakukan itu, ia mau lihat seberapa seriuskah Adnan terhadap dirinya? Ia ingin tahu itu. Alisha memperhatikan Adnan yang sedang berbicara dengan Dani, lalu ia melihat jam di pergelangan tangannya, ternyata sudah hampir menjelang malam, ia pun beranjak dari duduknya, menghampiri Adnan yang sedang berbicara dengan Dani, entah mereka membahas apa.


"Mas, ayo pulang," ajak Alisha, baru kali ini gadis itu berbicara lembut setelah mereka berstatus suami istri, mungkin karena ada Dani.


Adnan mengangguk, lalu ia berdiri dan berpamitan dengan Dani.


"Gue duluan ya," ucap Alisha lalu ia melangkah meninggalkan villa milik Dani.


🌻🌻🌻


"Sekalian mampir cari makan malam," ucapan pertama Alisha setelah sekian menit mereka hanya membisu di dalam mobil.


"Baiklah, mau makan apa?" tanya Adnan, sepertinya pemuda itu sudah berpengalaman di daerah sana.


"Apa aja," jawab Alisha.


Adnan mengangguk, lalu ia fokus melihat jalanan, mencari tempat yang enak untuk menikmati santapan malam bersama istrinya itu. Ya, meskipun Adnan belum memiliki rasa cinta terhadap Alisha, tapi ia harus bertanggung jawab untuk membuat istrinya itu bahagia. Ia sebenarnya tahu betul jika Alisha menyukainya karena sebelum menikah ia bisa melihat dari sorot mata gadis itu saat menatapnya, tapi kini Alisha masih kecewa terhadap dirinya, ia sadar akan hal itu.

__ADS_1


Dia yakin, lambat laun hatinya akan terpaut dengan hati Alisha, meski butuh waktu dan proses. Karena saat ini, ia masih dalam proses move on belum sempurna, dan harus di paksa untuk menerima kehadiran Alisha.


__ADS_2