Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Amplop


__ADS_3

Dua insan yang baru saja di persatukan dalam ikatan suci itu masih saja membisu, meski mereka sudah berada di dalam rumah. Setelah dari rumah Tantenya tadi mereka pun kembali tanpa mampir ke mana pun. Alisha memilih untuk mengelilingi rumah barunya, melihat-lihat hal menarik apa yang ada di area rumah itu. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk di sebuah gazebo dekat kolam renang. Sedangkan Adnan, memilih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang seharusnya tak ia kerjakan, karena masih dalam keadaan cuti.


Alisha sengaja menghindar dari Adnan, ia masih ingin sendiri tanpa ada gangguan pemuda itu. Saat sudah bosan duduk di gazebo, Alisha memilih untuk masuk menemui art nya di dapur.


"Non, katanya Den Adnan, Non belum sarapan ya, ini Bibik buatkan makanan kesukaan Non Sasha," ucap Bik Ana, ia art yang di bawa oleh Mama Icha dari kediamannya untuk membantu Alisha di rumah baru.


"Peduli juga ternyata," gumamnya yang samar-samar masih di dengar oleh Bik Ana. Alisha memang sejak tadi pagi belum makan apa pun, bahkan saat sampai rumah pun ia sepertinya tak berminat untuk makan.


"Non ngomong apa? Bibik enggak denger?"


"Bukan apa-apa Bik, aku enggak males makan Bik, buatkan jus seperti biasa aja ya, bawa ke ruang tengah," ucap Alisha, lalu gadis itu meninggalkan Bik Aman menuju ruang keluarga.


Tak lama Bik Ana datang membawakan pesanan Alisha. Saat kembali ke dapur, ia mendapati Adnan berada di sana, sepertinya majikannya itu sedang mencari minuman.


"Alisha sudah makan Bik?" tanya Adnan, ia melihat makanan di atas meja makan masih utuh belum tersentuh.


Bik Ana menggeleng, "Non Alisha lagi ada masalah sepertinya Den, dia dari dulu selalu seperti itu, mogok makan kalau pas lagi ada masalah, paling ya cuma minta di buatkan jus alpukat, kadang sampe berhari-hari enggak makan nasi, ya cuma mau jus alpukat aja," Bik Ana memang lebih tahu banyak tentang kebiasaan Alisha, karena beliau mengasuh Alisha sejak masih kecil.


Adnan mengangguk, ia baru tahu satu informasi tentang Alisha yang belum pernah ia ketahui, "Makasih atas infonya Bik, yaudah aku naik ke tas lagi," Adnan kembali ke kamar, sebelumnya ia lebih dulu melihat Alisha yang sedang duduk di ruang keluarga sambil memindah-mindahkan chanel televisi.


Siang harinya pun saat makan siang, Alisha tak mau di ajak makan. Saat Adnan mengajaknya, gadis itu bahkan tak menghiraukan ajakan Adnan. Tapi Adnan melihat di meja depan Alisha ada dua gelas kosong, sepertinya bekas jus yang dia minum, ada beberapa cemilan juga, berarti ucapan Bik Ana tadi memang benar adanya.


"Assalamu'alaikum," terdengar seseorang dari luar mengucapkan salam, dan Alisha hafal betul itu suara siapa. Ia segera menyambut kedatangan orang tersebut.


"Wa'alaikumussalam, Mama, Papa, kalian datang?" Alisha menyalami kedua orang tuanya yang sudah masuk ke dalam rumah, karena pintu utama tidak tertutup, jadi mereka langsung masuk.


"Iya yang pengantin baru, enggak mau di ganggu," celetuk Mama sambil tersenyum ke arah Alisha, sedangkan gadis itu justru tersenyum kikuk.


"Mama sama Papa tida ganggu kalian, kan? Tapi santai aja kami cuma sebentar," Mama kembali berucap.


"Enggak Ma, santai aja. Mau lama juga boleh," Alisha menggandeng tangan Mama menuju ruang keluarga.

__ADS_1


"Suami kamu mana Kak?" tanya Papa yang sejak tadi diam.


"Bentar aku panggilin,"Alisha pun beranjak dari duduknya, ia melangkah memasuki kamar.


"Ada Papa sama Mama di bawah," ucap Alisha datar.


Adnan yang sedang sibuk dengan laptopnya pun menoleh ke arah sumber suara. Lalu ia mengangguk, menutup laptopnya lalu menghampiri Alisha.


Alisha sengaja menunggu Adnan, supaya mereka menemui kedua orang tua Alisha bersama, ia tak mau kedua orang tuanya tahu jika mereka sedang tidak baik-baik saja.


Adnan menyalami ke dua mertuanya secara bergantian, lalu ikut duduk di sisi Alisha.


"Ada yang ingin Papa bicarakan," ucap Papa Al ketika Adnan sudah duduk.


"Tentang apa Pa?" tanya Alisha.


Mama mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya, lalu meletakkan amplop itu di atas meja. "Buka aja, itu hadiah dari kedua Om kamu," ucapnya.


Alisha mengernyitkan dahi, lalu ia menatap Adnan yang juga terlihat sama bingungnya. "Kenapa enggak Om aja yang ngasih sendiri?" tanyanya, lalu meraih amplop itu.


Mendengar ucapan Mama, Alisha mengurungkan niatnya membuka amplop tersebut, "Kak Yesha mau pindah kuliah di luar? Kenapa bisa? Kok dia enggak ngasih tau? Kapan Ma? Terus mau pindah kemana?" banyak pertanyaan yang di lontarkan Alisha.


"Mama kurang tau, ke Jerman mungkin, karena Om kamu enggak ngomong, pindahannya mendadak, katanya lusa berangkat," jawab Mama.


Mendengar jawaban Mama, Alisha justru berdiri dan meletakkan kembali amplop itu di atas meja.


"Mau kemana?" tanya Adnan, lalu meraih tangan Alisha.


"Mau ke rumah Kak Yesha," jawabnya.


"Eits, buka dulu amplopnya. Masih bisa nanti ke sana," ucap Papa.

__ADS_1


"Iya deh," Alisha kembali duduk, dengan malas ia meraih amplop itu, lalu menyerahkan ke pada Adnan. Wajah Alisha terlihat murung setelah mendengar ucapan Mama tadi, ia seperti tak rela jika Yesha harus kuliah di luar negeri. Menghembuskan nafas kasar, lalu melihat ekspresi Adnan yang tersenyum setelah melihat isi amplop itu.


Alisha menjadi tertarik setelah melihat ekspresi Adnan, ia pun meraih amplop itu, setelah tahu isinya, bukannya tersenyum ia malah kembali cemberut.


"Kok kaya enggak seneng gitu," celetuk Mama.


"Yah, ini kan besok Ma, aku enggak bisa liat Kak Yesha berangkat ke luar dong," jawabnya beralasan, padahal bukan itu yang menjadi alasan Alisha.


"Adnan cutinya cuma satu Minggu, kalau enggak besok kapan lagi? Bukannya kamu ingin sekali ke Bali ya? Nah sekarang saatnya, tadinya Om kamu mau ngasih tiket ke luar, tapi Mama melarang, karena kamu katanya pengen ke Bali," jelas Mama panjang lebar.


"Makasih Ma, Pa," ucap Adnan, sedangkan Alisha hanya diam, enggan untuk berbicara.


Ya, isi dalam amplop itu tiket bulan madu selama tiga hari di Bali. Alasan Alisha tidak bahagia, karena kalau di Bali mereka hanya akan berdua, dan itu membuat Alisha malas, ia masih kesal dengan Adnan. Apalagi saat menerima kenyataan jika Yesha akan ke luar negeri, membuat gadis itu bertambah tidak semangat.


"Terimakasih sama Om Farhan dan Om Raffa, mereka sudah mempersiapkan semuanya, kalian di tinggal menikmatinya," ucap Papa.


Setelah itu, Mama dan Papa pun berpamitan. Tidak mau mengganggu pengantin baru tersebut, padahal Alisha ingin jika Mama dan Papanya lebih lama lagi di sana.


Setelah kepergian Papa dan Mama, Alisha bergegas masuk ke dalam kamar.


"Mau kemana?" tanya Adnan yang baru saja masuk kamar dan mendapati Alisha akan ke luar kamar dengan membawa tas, seperti akan pergi ke suatu tempat.


"Bukan urusan kamu," jawab Alisha, ketus.


Adnan menghela nafas, lalu ia menarik tangan Alisha, "Biar aku antar," ucapnya.


"Enggak usah, aku mau sendiri, kamu di rumah aja," tolak Alisha, ia tidak mau jika Adnan ikut dengannya ke rumah Yesha.


"Tapi mau kemana?" tanya Adnan lagi.


"Ke rumah Tante, nemuin Kak Yesha. Lepas, aku mau pergi sendiri," Alisha mencoba melepaskan tangannya yang di genggam oleh Adnan.

__ADS_1


"Yaudah, hati-hati. Pulangnya jangan malam-malam," Adnan menyerah, ia memilih untuk membiarkan Alisha pergi sendiri, karena ia juga tidak ingin bertemu dengan Yesha.


Setelah itu, Alisha pun pergi ke rumah Yesha.


__ADS_2