Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Di Jerman


__ADS_3

Seorang gadis tengah duduk di sebuah gazebo, sambil menikmati makan siangnya, istirahat sejenak sebelum melakukan aktifitas padatnya. Sudah satu bulan lebih ia berada di negara orang, hidup sendiri tanpa handai taulan, ia tetap kuat dan bisa menjalankan semua tugas dan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa. Untung saja ia memiliki teman dari negara asalnya yang satu fakultas, jika tidak ia pasti susah untuk beradaptasi.


Tak banyak orang yang tahu di mana dirinya sekarang, bahkan keluarga besarnya pun tak tahu, hanya kedua orang tuanya saja yang mengetahui keberadaannya, dan satu teman yang selalu kepo di mana pun dia berada. Ia jadi teringat saat akan berangkat ke negara ini, teringat akan Mami yang berat hati melepas kepergiannya.


"Kamu serius mau kuliah di luar negeri? Mami kok enggak tega, apa Mami temani aja ya," ucap Mami kala itu.


Ia terkekeh mendengar ucapan Mami, "Mami lebay deh, aku akan baik-baik saja Mi, Mami tenang aja," ia mencoba menenangkan sang Mami, meski dirinya sebenarnya juga sedikit ragu.


"Jerman itu jauh lho, di sana kamu juga belum kenal siapa-siapa, Mami takut kamu enggak bisa beradaptasi dengan baik,"


"Mami tenang aja, Papi kan akan tinggal di sana seminggu, jadi selama Papi di sana aku akan belajar menyesuaikan diri," ia tersenyum lalu memeluk sang Mami yang terlihat jelas menghawatirkan dirinya.


Ia tersenyum ketika mengingat semua itu, karena semua ke khawatiran sang Mami tidaklah terjadi, ia bisa langsung beradaptasi apalagi saat memiliki beberapa teman dari negaranya. Tidak hanya di kampus saja, karena tetangga apartemennya ternyata juga orang Indonesia.


"Kia, udah lama nunggunya?" ucapan seseorang membuyarkan lamunan gadis itu. Ya, gadis itu adalah Ayesha Sakhiya. Entah kenapa teman-temannya suka memanggil dirinya dengan sebutan baru yaitu 'Kia'.


"Enggak baru aja, gimana urusannya?" tanya Yesha balik.


"Beres," ucap gadis itu


"Laura mana?"


"Biasa sama gebetannya," gadis itu meneguk air minum yang sudah di pesankan oleh Yesha, "Gue itu seneng ada Lo di sini, dulu waktu Lo belum ke sini gue sendiri mulu, kadang jadi obat nyamuk, sebel enggak? Sebel banget lah, mana gue jomblo lagi," gadis itu terus menggerutukan nasibnya sebelum kehadiran Yesha.


"Lo enggak pengen kaya Laura? Punya cowok bule?" tanya Yesha.


Gadis dihadapannya itu menggeleng, "Gue enggak tertarik," ucapnya.


Yesha mengangguk, ia juga bersyukur menemukan teman yang hampir mirip dengan Yasmin. Ah, ingat Yasmin jadi rindu sama gadis itu, sedang apakah Yasmin saat ini?


"Ki, hunting jilbab yuk? Gue pengen kaya Lo, pake jilbab gitu, kayaknya nyaman deh," celetuk gadis itu.

__ADS_1


Ayesha memang memutuskan untuk berhijab sebelum berangkat ke Jerman, itu sudah menjadi keputusannya, apalagi Papi yang selalu mendesaknya untuk mengenakan hijab.


Yesha tersenyum, tanpa menunggu lama ia pun langsung mengangguk, "Boleh banget, kebetulan sore ini kita free, kan? Yuklah, setelah makan kita langsung cari," ucapnya.


Mereka kembali mengobrol sambil menikmati makan siang. Tapi di tengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba ponsel Yesha berbunyi. Gadis itu pun menerima panggilan telfon tersebut.


"Ayesha... Rindu, peluk dari jauh dong," celetuk orang di seberang sana setelah melihat wajah Yesha di layar ponsel.


"Salam dulu dong, kebiasaan banget," protesnya.


Orang di seberang sana terlihat menyengir.


"Hay Yasmin, apa kabar? Ke sini dong, kuliah di sini sekalian," celetuk teman Yesha.


"Gue enggak ada duit buat kuliah di sana El, kalo Lo mau gratisin gue mau banget,"


Yesha hanya geleng-geleng kepala tiap kali melihat kedua gadis itu, padahal mereka belum pernah bertemu tapi selalu saja berdebat bahkan tak jarang mereka mendebatkan hal-hal yang sepele. Ia memilih untuk melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda dari pada meladeni kedua gadis itu.


"Info apaan? Jangan yang aneh-aneh ya, apalagi kalau info soal Kak Naga, gue udah tau karena Lo udah ngomong lebih dari seratus kali,"


Yasmin terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu, ia jadi teringat saat Yesha kesal karena ia selalu menceritakan tentang Naga berulang kali.


"Kali ini bukan Kak Naga, serius." Yasmin bahkan menunjukkan dua jarinya, yaitu jari manis dan jari tengah.


"Terus apa?" tanya Yesha malas.


"Tadi siang gue liat Pak Dosen Kang pehape sama sepupu Lo, mereka makan siang di kafe, keliatan bahagia banget, mereka juga keliatan mesra," lagi-lagi Yasmin memberikan info yang tidak bermanfaat menurutnya.


"Siapa Pak Dosen Kang Pehape?" tanya Elsa, penasaran pasalnya Yasmin tak pernah membahas tentang Pak dosen.


"Alhamdulillah, kalo gitu, gue seneng jadinya. Gue bakalan bahagia kalau mereka bahagia, entar kalo ketemu salamin buat mereka ya," ucap Yesha mengabaikan pertanyaan Elsa

__ADS_1


"Gue kira Lo belom move on," terdengar kekehan dari seberang sana.


"Di sini banyak cowok ganteng, bule lagi. Kia mau cari cowok selusin dalam waktu sehari aja bisa, ngapain masih inget yang di sana?" celetuk Elsa padahal ia tidak mengetahui seperti apa ceritanya, lagi-lagi membuat mereka kembali berdebat.


"Kalian ini, gue rasa kalian berdua itu saudara yang terpisah sejak bayi deh," celetuk Yesha di tengah perdebatan kedua gadis itu.


"Enggak mungkin banget deh, ogah gue sodaraan sama dia," Yasmin lebih dulu berkomentar.


"Apalagi gue, gue juga ogah," kini giliran Elsa yang berkomentar.


"Udah deh, gue tutup ya Yas, di sana pasti udah maghrib, kan? Sana Lo sholat dulu, gue mau belanja," ucap Yesha, ia tidak mau lagi melihat dua gadis itu berdebat.


Setelah menutup telfon dari Yasmin, Yesha dan Elsa pun pergi ke tempat yang tadi sudah mereka bicarakan, ingin mencari jilbab seperti permintaan Elsa tadi.


Ingat tentang ucapan Yasmin tadi, ia jadi rindu dengan sepupunya. Tapi ia sudah berjanji tidak akan menghubungi siapa pun keluarganya kecuali Mami, Papi dan Yasmin. Ia juga tidak mau mengganggu kebahagiaan saudara sepupunya itu.


"Alhamdulillah, semoga kalian bisa saling menerima satu sama lain, semoga bahagia sellau menyertai kalian berdua," gumam Yesha.


"Lo ngomong apa? Gue enggak denger, Ki," ucap Elsa, sepertinya gadis itu mendengar gumamannya.


Yesha tersenyum ke arah Elsa, lalu ia menggeleng.


"Enggak ngomong apa-apa," kilahnya.


Elsa pun mempercayai ucapan gadis itu, iya kembali fokus ke arah jalan, karena dirinya sedang mengemudikan mobil milik Laura yang selalu ia bawa, karena si empunya sibuk berpacaran dengan sang kekasih.


Elsa sama halnya dengan Yesha, gadis dari Indonesia yang menempuh pendidikan di Jerman, mereka sama-sama tinggal di sebuah apartemen. Sedangkan Laura, teman mereka itu juga sama dari Indonesia, tapi ia masih keturunan Jerman, karena Ibunya orang sana. Dan dia tinggal di rumah Neneknya di Jerman.


_______________________


Melipir ke negara tetangga dulu ya,😁

__ADS_1


Besok lanjut kisah Adnan sama Alisha...


__ADS_2