Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Apakah Kamu Sudah Siap?


__ADS_3

Alisha terkejut ketika melihat tempat tidur, di penuhi dengan kelopak bunga mawar merah berbentuk hati, seperti tempat tidur buat pengantin baru saja. Tapi yang ia pikirkan, kapan Adnan membuat semua itu, padahal mereka selalu bersama. Entahlah, soal itu bisa di tanyakan nanti, yang penting ia bahagia sekali malam ini.


Bruk


Adnan meletakkan tubuh Alisha ke tempat tidur, membuat kelopak bunga berbentuk love itu berserakan kemana-mana. Ia pun ikut naik ke tepat tidur setelah melepas sepatu dirinya dan Alisha. Ia memposisikan dirinya di atas tubuh Alisha yang terlentang, menopang tubuhnya dengan lutut dan kedua tangan, ia tersenyum saat mendapati wajah Alisha memerah, serta jantung gadis itu yang berpacu lebih cepat. Tak ayal dirinya pun sama, detak jantungnya berpacu dengan kecepatan tinggi, hingga ia tak bisa mengontrolnya dengan baik.


Tak ingin menunggu lama, ia langsung meraup benda kenyal berwarna pink milik Alisha, mereka larut dalam kenikmatan, saling bertukar saliva dan mencecap satu sama lain. Cukup lama mereka melakukan hal itu, bahkan ketika merasa kehabisan nafas, mereka menghirup udara secukupnya dan kembali melakukan itu lagi, hingga,


Tok Tok Tok


"Sebentar ya, aku lupa tadi memanggil pelayan untuk membereskan bekas makan kita," celetuk Adnan saat menyadari jika dirinya sempat memanggil pelayan.


Alisha mengangguk, tanpa menimpali ucapan Adnan, karena pemuda itu sudah ke luar kamar yang sebelumnya mengecup singkat bibir Alisha. Gadis itu memegang dadanya yang masih terus berdebar-debar tak karuan, bahkan jantungnya seperti akan terlepas dari tempatnya. Ia menyandarkan tubuhnya di atas kepala ranjang, mencoba menetralkan degub jantungnya, tangan yang satunya menyentuh kelopak bunga mawar merah yang berserakan di atas ranjang, tapi tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu.


"Aaakh! Ular!" teriknya lalu melompat turun dari tempat tidur, bersamaan dengan itu Adnan masuk ke dalam kamar sambil tergesa-gesa. Alisha menubruk tubuh Adnan, lalu memeluk suaminya itu dengan erat.


"Kenapa teriak? Ada apa?" tanya Adnan panik.


"Ada ular Mas, di sana." Alisha menunjuk tempat tidur.


Adnan mengernyitkan dahi, ia tidak percaya di hotel mewah ada ular, apalagi kamar itu yang biasa di huni oleh keluarga pemilik hotel, ia berpikir pasti ada sesuatu, jika memang yang di sana benar-benar ular, atau jangan-jangan... Adnan mendekat ke arah tempat tidur tanpa melepas pelukan Alisha, ia meraih sesuatu yang di kira ular oleh Alisha. Dan dugaanya benar, jika itu bukan ular sungguhan melainkan ular mainan.


"Awas saja kamu Gil," celetuknya. Ia sudah bisa menebak siapa yang menaruh ular mainan tersebut, kalau bukan Agil. Karena yang menyiapkan semua itu Agil di bantu oleh manager hotel.


"Ini bukan ular, sayang. Cuma mainan, pasti ini kerjaan si Agil," ucapnya lalu melepas pelukannya. Memperlihatkan ulat mainan itu pada Alisha.


Alisha menghela nafas lega, ketika mengetahui jika itu benar-benar ular mainan. Ia tadi benar-benar merasa ketakutan.


"Kita simpan saja ular ini, besok kerjain balik si Agil," Adnan menemukan ide untuk membalas perbuatan Agil, Alisha pun menyetujuinya. "Sekarang kita lanjutkan yang tadi," tambahnya sambil tersenyum penuh arti.


Jantung Alisha kembali berdetak di atas normal,tapi ia mencoba menerapkannya, "Aku ke kamar mandi sebentar ya," ucapnya, karena jujur ia sudah tidak tahan ingin membuang air kecil.


Adnan membiarkan Alisha masuk ke dalam kamar mandi, tapi beberapa detik kemudian ia menghentikan langkah Alisha yang baru akan menutup pintu kamar mandi, karena melupakan sesuatu.


"Bentar, jangan masuk dulu. Ganti bajunya dengan ini, supaya lebih santai, harus di pakai ya," celetuknya.

__ADS_1


Alisha menerima paperbag dari tangan Adnan tanpa curiga sedikit pun. Setelah menuntaskan hajatnya, Alisha membuka paperbag yang tadi di berikan oleh Adnan, ia membuka isinya. Betapa terkejutnya Alisha saat mendapati pakaian yang di berikan oleh Adnan, baju minim bahan, jika di pakai hanya bisa menutupi bagian tertentu di tubuhnya. Meski begitu, ia tetap memakai pakaian tersebut. Saat akan ke luar kamar mandi, ia tampak ragu, malu sekali jika Adnan melihat tubuhnya yang hampir polos itu, melihat sekeliling kamar mandi dan menemukan bathrobe dan memakainya.


Keluar dari kamar mandi, ia mendapati Adnan sudah duduk di tempat tidur dengan meluruskan kedua kakinya dan bersandar di kepala ranjang, sambil memperhatikan dirinya lekat. Pemuda itu sudah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Adnan tersenyum saat Alisha mendekat ke arah tempat tidur sambil sedikit menunduk.


"Kemarilah, duduk di sini." Adnan menepuk pahanya supaya Alisha duduk di atas pahanya.


Alisha menurut, dengan sedikit ragu ia mendudukkan dirinya di atas paha Adnan. Lalu tersenyum menatap pemuda itu yang juga menatapnya. Adnan menyingkirkan anak rambut yang menutup wajah Alisha, "Sayang, apa kamu benar-benar siap? Jika belum siap, aku tidak akan memaksa, jawab jujur ya," ucapnya sambil menatap lekat netra gadis itu.


Alisha mengangguk dengan mantap, ia memang sudah siap jika Adnan akan meminta haknya saat ini juga. Ia tidak mau membuat suaminya itu kecewa.


"Tapi nanti akan sakit, karena pertama buat kita," ucap Adnan, ia masih ingin memastikan jika Alisha benar-benar sudah siap.


Alisha kembali mengangguk, membuat Adnan tersenyum bahagia. Adnan meraih gelas yang ada di atas nakas, menyodorkan gelas berisi jus alpukat itu ke hadapan Alisha.


"Minum dulu," ucapnya.


Alisha pun meminum beberapa teguk jus tersebut, setelah itu Adnan melakukan hal yang sama, lalu meletakkan kembali gelas tersebut di atas nakas.


"Aku bukan ya," Adnan menyentuh bathrobe yang di kenakan Alisha.


Gadi itu mengangguk, sejak tadi Alisha hanya bisa mengangguk tanpa bersuara.


Adnan memegang ke dua sisi wajah Alisha, mengecup cukup lama kening Alisha, sepertinya pemuda itu membacakan sesuatu, mungkin doa sebelum mereka melakukan kegiatan menyenangkan itu. Bergantian mengecup kedua pipi, hidung dan kedua kelopak mata. Berakhir di bibir Alisha, di sana ia tidak hanya mengecup sekilas tapi juga melum matanya dengan lembut.


Kedua tangannya dengan lihai melepas tali pengait di punggung Alisha, hingga gadis itu tak menyadari jika dirinya sudah polos di bagian atas.


Adnan merapatkan tubuh Alisha ke tubuhnya, ia melepaskan tautan mereka, berpindah tempat ke leher gadis itu, di sana ia merasa terusik dengan sesuatu.


"Aku lepas ya, dia sangat mengganggu konsentrasi ku," ucapnya dan mendapat cubitan di perut dari Alisha.


"Aku tidak mau ada benda yang menghalangi tubuhmu, meskipun itu benda kecil," bisiknya tepat di telinga Alisha.


Gadis itu bergidik karena merasa kegelian.


Adnan kembali melancarkan aksinya, mengabsen seluruh tubuh Alisha bagian atas tanpa terkecuali. Sedangkan Alisha hanya pasrah, sambil sesekali mendesah karena merasakan sensasi berbeda yang baru saja ia rasakan. Adnan menuntun Alisha supaya berbaring, ia melepaskan kaos yang ia kenakan, dan melempar kaos itu ke lantai. Kembali melakukan tugas mulianya, ia melepas kain yang menutup bagian inti Alisha, dan kembali mengabsen setiap inci tubuh Alisha. Ia menikmati bagian inti Alisha, membuat gadis itu menggelinjang, kegelian. Bukannya menghentikan aksinya, ia justru semakin menggila di bawah sana, membuat Alisha mendesah pasrah. Setelah puas di sana, ia memposisikan dirinya di tas tubuh Alisha. Tersenyum saat melihat Alisha memejamkan mata, mungkin gadis itu menikmati setiap sentuhan suaminya.

__ADS_1


Sepertinya Adnan belum puas bermain-main, karena kini ia kembali meraup dua bagian tubuh Alisha yang menonjol, sangat rakus bahkan melebihi bayi yang sedang kelaparan. Bahkan ia semakin menjadi kala mendengar rintihan dan desahan yang Alisha ke luar kan dari bibirnya. Setelah puas bermain-main dan mengabsen seluruh tubuh Alisha, ia melepaskan kain yang menutup bagian intinya. Kini kedua insan itu sudah tak terbalut sehelai benang pun.


"Sayang, kamu sudah siap, kan?" tanya Adnan sambil menatap Alisha.


Alisha merinding mendengar suara Adnan, karena begitu lembut dan penuh gairah, sama halnya dengan dirinya yang sudah tidak sabar ingin kembali di sentuh oleh suaminya. Ia pun tersenyum lalu mengangguk.


Adnan memposisikan dirinya, ia berusaha selembut mungkin supaya tidak menyakiti istrinya.


"Siap ya sayang, aku akan mulai. Jika sakit, kamu boleh berpegangan pundak ku, mau teriak juga tidak masalah," ucap Adnan mengintruksi Alisha.


Gadis itu mengangguk, menuruti semua ucapan Adnan.


"Jangan tegang ya, aku akan selembut mungkin melakukannya,"


Dengan perlahan ia berusaha menembus dinding yang selama ini dijaga oleh Alisha, ia cukup kesulitan apalagi saat Alisha menancapkan kuku-kukunya di bahu, dan sempurna, pusakanya berhasil menembus dinding kokoh itu. Dengan perlahan ia mulai menggerakkan pusakanya.


"Sakit, perih Mas, aku enggak tahan," bisik Alisha, ia sudah menahan rasa sakit sejak tadi, tapi ia berusaha untuk tidak mengeluh, tapi akhirnya ia tidak kuasa menahan rasa sakit itu.


Adnan sebenarnya tidak tega melihat Alisha kesakitan, apalagi gadis itu sempat menitikkan air mata, meski sedikit, tapi tidak mungkin jika harus berhenti di tengah jalan, ia tetap melaju meski dengan perlahan-lahan. Semakin lama Alisha pun kembali terdiam, tapi masih terlihat jelas jika menahan rasa sakit.


"Mas, pengen pipis, uh," Alisha melengkuh berkali-kali, ia juga mengeluh ingin membuang air kecil. Bukannya berhenti Adnan justru mempercepat laju permainannya. Hingga Alisha berteriak menyebut namanya.


Adnan tahu jika istrinya itu sudah mencapai puncak, tapi sepertinya Alisha masih belum memahami akan hal itu, ia terus melaju hingga dirinya merasakan kenikmatan yang tiada tara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Nafas keduanya memburu karena karena telah bekerja keras malam itu. Adnan mengecup singkat kening Alisha sebelum melepaskan penyatuan mereka. Setelah itu ia pun turun dari atas tubuh istrinya yang tampak jelas jika kelelahan. Merengkuh tubuh polos Alisha, membawa ke dalam dekapannya.


"Terimakasih sayang," ucapnya. Terlihat Alisha mengangguk dalam dekapannya.


"Apa masih sakit?" tanyanya lagi.


"Masih perih sedikit," jawab Alisha.


"Maaf ya, coba aku lihat," Adnan melepaskan pelukannya, ia ingin robekan di bagian inti Alisha.


"Ish, enggak usah. Malu tau," Alisha menahan Adnan supaya tidak melihat daerah intimnya, ia malu jika Adnan melakukan itu, padahal tadi ia biasa saja saat Adnan menjelajahi daerah intinya.


"Malu? Kenapa malu, bukannya aku sudah melihat semuanya," ucap Adnan tersenyum saat mengingat betapa ganasnya dirinya tadi.

__ADS_1


Wajah Alisha bersemu merah, ia menenggelamkan wajahnya di dada Adnan.


"Yaudah sekarang tidur," ucap Adnan, ia meraih selimut lalu menyelimuti tubuh polos mereka berdua. Sebenarnya ia masih ingin melakukannya lagi, tapi ia menahannya karena Alisha masih merasakan sakit, ia tidak mau egois, masih ada hari esok dan selanjutnya. Mereka tertidur saling memeluk satu sama lain, dengan Alisha berbantalan lengan suaminya.


__ADS_2