
Sore hari mereka baru ke luar dari hotel, setelah menunggu Agil yang terlalu lama datang. Sekretaris Adnan itu mengatakan akan datang siang hari sebelum dhuhur, tapi kenyataanya ia baru datang pukul dua siang, membuat Alisha sempat uring-uringan karena tak memiliki baju ganti. Untung saja, setelah sarapan kesiangan yang mereka lakukan, Adnan berinisiatif ke luar hotel untuk membeli baju ganti buat Alisha.
"Kayaknya udah berhasil nyetak gol ini," celetuk Agil saat berhenti di lampu merah.
Mereka bertiga sudah berada di jalan menuju ibu kota, Agil memperhatikan sepasang suami istri yang duduk di belakang. Jika kemarin malam ia melihat Adnan memeluk tubuh Alisha saat istrinya itu tertidur, kini berbalik, Alisha yang terus memeluk lengan Adnan dan menyandarkan kepalanya di bahunya saat tertidur seperti sekarang ini. Sedangkan Adnan memperhatikan sopir di depan yang sesekali mengajaknya mengobrol, mulai dari pekerjaan dan saat ini menyerempet ranah pribadinya.
"Pastinya dong, semalem jagoan gue berhasil nyetak dua gol," timpal Adnan, ia sebenarnya tahu apa yang di maksud oleh Agil, tapi lebih memilih membahas pertandingan sepak bola dunia yang sedang berlangsung saat ini. Ia tadi sempat melihat hasil pertandingan semalam di media sosial.
"Cuma dua gol? Ck, ck, ck, kalo gue bakalan ngegolin sampai pagi," ternyata si Agil mengira Adnan merespon ucapannya.
"Mana bisa? Ngaco Lo," celetuk Adnan.
"Lo itu yang ngaco, ya bisalah. Baru pertama kali harusnya buat sejarah yang tak terlupakan, ini malah cuma ngegolin dua kali aja udah K.O, payah Lo," Agil masih saja membahas malam panjang Adnan bersama Alisha.
"Tunggu gue bingung ini, kenapa jadi gue yang payah? Apa hubungannya sama jagoan gue?" tanya Adnan heran.
"Ya, jagoan Lo payah, payah banget malahan. Baru pertama kali di gunakan tapi cuma bisa nyetak gol dua kali doang," protes Agil.
Entah apa yang mereka bahas, tapi ternyata pembahasan itu terus berlanjut.
"Lo bilang jagoan gue payah? Jagoan Lo itu yang payah, belum apa-apa udah kebobolan," Adnan tidak terima jika jagoannya di sepak bola di bilang payah, pasalnya klub yang dijagokan Agil berkali-kali gawangnya di bobol oleh lawan.
"Sembarangan, jagoan gue masih aman tersegel, belum pernah di gunain," Agil terlihat kesal.
"Terserah Lo aja, yang penting Lo bahagia," celetuk Adnan malas karena Agil sepertinya enggan mengakhiri pembahasan tentang gol-golan.
"Bagaimana rasanya? Cerita dikitlah," celetuk Agil, ia masih penasaran.
"Rasanya apa?"
"Rasanya udah berhasil ngebobol gawang lawan,"
Adnan mengernyitkan dahi, lalu menghela nafas, "Dari pada tanya melulu, Lo nonton sendiri aja, males gue," ucapnya dengan malas.
"Emang Lo rekam?" percakapan mereka benar-benar tidak singkron sama sekali.
__ADS_1
"Ngapain juga gue rekam kurang kerjaan, di medsos banyak,"
"Gila Lo, gue enggak nyangka. Hal kaya gitu Lo masukin medsos? Malu-maluin Nan,"
Adnan mengernyitkan dahi, bingung, "Sebenarnya Lo bahas apa sih? Pertandingan sepak bola emang sering di tayangin live di medsos, kan? Kok bisa malu-maluin?'" tanyanya.
Agil berdecak berkali-kali, "Bukan pertandingan sepak bola maksud gue, tapi pertempuran kalian berdua," ucapnya.
Bugh
Adnan melempar bantal leher ke arah kepala Agil, "Perlu di cuci otak Lo," celetuknya.
Agil hanya menyengir, merasa tak berdosa.
"Kenapa Mas?" tanya Alisha yang mendengar keributan Adnan dengan Agil.
"Enggak apa-apa sayang, kamu tidur lagi aja kalo masih ngantuk," ucap Adnan sambil mengelus puncak kepala Alisha.
"Lapar Mas, cari makan dulu lah," Alisha memang benar-benar lapar karena mereka berdua sejak tadi hanya sarapan kesiangan dan belum makan siang yang sesungguhnya.
"Yaudah kita makan dulu kalo gitu," ucap Adnan menyetujui permintaan Alisha, "Belok di restoran biasa," perintahnya pada Agil dan di angguki oleh sekretaris yang sekarang menjabat jadi sopir itu.
🌻🌻🌻
"Capek banget," keluh Alisha, sambil merenggangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku, bukan hanya tangan tapi seluruh tubuhnya. Lalu ia menjatuhkan diri di atas tempat tidur.
"Mandi dulu sayang, kalau mau tidur," celetuk Adnan saat melihat Alisha sudah terbaring di tempat tidur.
Keduanya baru saja sampai di rumah mereka, bahkan saat malam sudah menjelang.
"Males ah, mager banget, mau tidur aja," Alisha benar-benar malas sekali untuk bangun dari posisinya nyamannya saat ini.
Adnan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Alisha, ia memilih untuk masuk kamar mandi. Tapi ia kembali mendekati ranjang ketika terfikirkan sesuatu.
"Ah Mas, ngapain?" tanya Alisha, ia hampir saja terjatuh karena Adnan tiba-tiba mengangkat tubuhnya di bawa ke kamar mandi.
__ADS_1
"Katanya mager, biar aku yang mandiin," ucap Adnan sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
"Iya aku mandi, tapi turunin dulu," pinta Alisha sambil berusaha melepaskan diri dari gendongan Adnan.
"Bentar lagi nyampe, kamu diem aja nanti jatoh," ucap Adnan.
Alisha menurut, hingga Adnan meletakkan dirinya ke dalam bathtub yang belum di isi air. Bukannya meninggalkan Alisha, Adnan justru berusaha membuka pakaian yang di kenakan Alisha.
"Stop, aku bisa mandi sendiri," ucap Alisha sambil berusaha menyingkirkan tangan Adnan, tapi pemuda itu tetap berusaha melepas pakaian yang masih menempel di tubuh Alisha.
"Adnan! Dasar mesum!" teriak Alisha karena suaminya itu tetap kekeh untuk melepaskan pakaian Alisha hingga pakaian atas Alisha kini telah terbuka.
Alisha akan melayangkan tangannya ke lengan Adnan, tapi suaminya itu keburu menghindar. Setelah lepas dari Alisha Adnan tertawa terbahak-bahak bahkan sampai menahan perutnya. Ia sebenarnya hanya ingin menjaili Alisha, supaya istrinya itu mau mandi dan ia berhasil.
"Kamu ke luar sana, aku mau mandi," ucap Alisha sambil berusaha menutup tubuh bagian atasnya.
"Mandi aja, aku juga mau mandi, kita kan bisa mandi bareng,"
Adnan mulai melepas pakaiannya di hadapan Alisha, membuat Alisha menutup matanya. "Dasar mesum," celetuknya. Padahal Adnan hanya membuka kaos saja, dan masih menyisakan celananya.
Adnan tak menanggapi ucapan Alisha, ia justru mendekat ke arah bathtub lalu mengisinya dengan air. Lalu ikut masuk ke dalam bathtub tersebut, tak menghiraukan ucapan protes dari Alisha.
"Mau mandi sendiri apa di mandikan?" tanyanya.
"Mandi sendiri," jawab Alisha. "Kamu itu keliatan aslinya, mesum," tambahnya.
"Aku mesum juga karena kamu sayang," Adnan tersenyum, lalu merubah posisi duduknya menjadi membelakangi Alisha.
"Tolong gosokin punggungku dong, nanti gantian," pintanya.
Alisha menurut, ia mulai menggosok punggung Adnan.
"Udah, sekarang kamu hadap sana, biar aku gosok punggungnya," ucap Adnan setelah kembali ke posisi semula.
Alisha menurut tanpa curiga sedikit pun, ia menikmati gosokan tangan Adnan di punggungnya, tapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu menyentuh area dadanya.
__ADS_1
"Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan," celetuknya.
"Siapa yang ambil kesempatan dalam kesempitan? Aku bantu gosokin biar bersih," ucap Adnan tanpa dosa.