
Hari ini terasa begitu berat untuk Adnan, entah kenapa tubuhnya tak bertenaga sedikitpun. Alhasil ia hanya mampu termenung di dalam kantor, untung saja ia tidak ada jadwal di kampus hari ini, jika ada sudah dipastikan ia akan ijin. Sebenarnya ia menyesal karena tidak menyetujui permintaan Alisha untuk ke dokter dan istirahat di rumah, karena tadi merasa baik-baik saja, tapi anehnya saat sampai di kantor tubuhnya lemah lunglai tak bertenaga sedikit pun. Apa sebenarnya yang terjadi padanya saat ini? Aneh sekali, karena tak pernah ia merasakan hal seperti ini bahkan saat dirinya sedang sakit.
Cklek
Pintu ruangannya terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu, ia sudah bisa menebak siapa yang datang tanpa permisi seperti itu. Siapa lagi jika bukan Alisha, hanya istrinya itulah yang main masuk ruangannya tanpa permisi, bahkan Ayah saja selalu mengetuk pintu saat masuk ruangannya.
Baru saja ia akan berdiri menyambut kedatangan pujaan hatinya, tapi seorang gadis kecil berhasil masuk dan berlari ke arahnya hanya seorang diri tak terlihat istrinya di sana.
"Papa!" teriak gadis kecil itu yang tak lain adalah Cantika, ia berlari ke arah Adnan, lalu melompat ke pangkuan Adnan dan memeluk tubuh Papanya dengan erat.
"Lho, kamu sendirian ke sini? Mama mana?" tanya Adnan, membalas pelukan Cantika.
"Mama ada di luar, katanya mau ngasih makanan Om-Om dan Tante-Tante di sini," jawab Cantika jujur.
Adnan mengernyitkan dahinya, tidak biasanya Alisha bagi-bagi makanan seperti ini di kantor, pikrinya.
"Terus Cantika ke sini diantar siapa kalau Mama ada di bawah?" tanyanya lagi, karena di lantai paling atas ini hanya ada ruangannya, ruangan sekretarisnya dan juga ruangan Ayah beserta sekretarisnya.
"Diantar Om yang sering bareng Papa, itu dia yang ada di depan," jawab Cantika, yang di maksud gadis kecil itu adalah Agil karena tadi mereka sempat bertemu Agil di lobby dan Alisha menitipkan Cantika ada Agil untuk mengantar ke ruangan Adnan.
Adnan mengangguk, "Cantikan udah makan apa belum?" tanyanya setelah beberapa detik memikirkan kejanggalan yang terjadi pada istrinya.
"Belum Pa, kata Mama mau makan di sini bareng Papa. Mama bawa makanan juga buat kita kok, tunggu aja," jawab gadis kecil itu dengan polosnya, membuat Adnan gemas, lalu mencium kedua pipi Cantika dengan gemas.
Pintu ruangannya terbuka kembali, kali ini pasti Alisha yang datang, pikirnya. Dan benar saja istrinya itu yang masuk, tapi ada yang aneh dengan penampilan Alisha.
__ADS_1
"Istrinya dateng malah bengong," celetukan Alisha menyadarkan Adnan dari alam mimpi, eh bukan mimpi tapi nyata.
Adnan menurunkan Cantika dari pangkuannya, mendekati sang istri yang sangat berbeda dari biasanya. Ia bahkan menatap wajah Alisha hingga beberapa detik, memastikan jika yang ada di hadapannya benar-benar Alisha bukan orang lain. Kedua tangannya ia letakkan di atas bahu Alisha, memperhatikan penampilan istrinya dari atas sampai bawah, bahkan hingga detail terkecil sekali pun, sesekali memutar tubuh Alisha.
Si empunya justru tersenyum saat sang suami menatapnya dengan heran, ia tahu apa yang membuat Adnan menatapnya penuh keheranan itu, apalagi jika bukan penampilannya yang baru.
"Aku cantik kan?" celetuknya.
"Iya cantik, tapi aneh. Tumben banget penampilan kamu kaya gini, aku sih lebih suka yang biasa aja," ucap Adnan, membuat Alisha mencibir tapi ia tak merasa kesal saat Adnan berkata seperti itu karena memang dirinya tak pernah berpenampilan seperti ini, selain waktu acara pernikahan mereka. Mungkin nanti Adnan akan terbiasa dan menyukainya.
Make up full yang ia hasilkan dari tangannya sendiri, tentu saja hasilnya sangat memuaskan, bahkan beberapa kali harus mengulang karena tidak pas saat membuat alis, padahal ia sudah menonton tutorialnya sejak tadi pagi. Ya, dirinya berusaha ber-make up sejak pagi tadi setelah sang suami pergi ke kantor, karena ia tidak kuliah tentunya, masih dalam masa libur. Alisha juga sebenarnya sempat heran dengan perubahannya yang tiba-tiba menjadi seperti ini, entahlah padahal sejak dulu ia tak pernah berminat untuk merias wajahnya menjadi seperti saat ini.
"Kamu aneh banget hari ini, pertama bagi-bagi makanan ke dua, pake makeup kaya gitu, terus pake high heels, kaya bukan kamu aja," ucap Adnan sambil mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Itu karena kamu belum makan, sekarang makan siang yuk ah, aku juga laper banget," Alisha ikut duduk di samping Adnan sedangkan Cantika duduk di sebelah kanan Adnan.
Adnan kembali tercengang saat melihat Alisha makan, tak seperti biasanya gadis itu makan dengan sambal yang terlalu banyak menurutnya. Ia mengahalau tangan Alisha saat istrinya itu akan menyendok sambal lagi untuk kesekian kalinya.
"Jangan kebanyakan makan sambal, kamu enggak biasa makan pedas nanti sakit perut," ucapnya.
Alisha cemberut, entah kenapa selera makannya menjadi hilang setelah mendapat peringatan dari sang suami. Ia meletakkan piring yang masih berisi nasi meskipun tinggal beberapa suap saja. Membuat Adnan menghela nafas, tapi biarkan saja dari pada Alisha harus makan pedas dengan level berlebih, padahal biasanya istrinya itu tak menyukai makanan pedas.
Setelah membereskan semua sisa makanan dan bekas makanan yang baru saja mereka makan, Adnan mendekati Alisha yang sejak tadi terdiam, duduk di sofa yang berseberangan dengannya. Bahkan tadi Cantika sempat berbisik menanyakan kenapa Mamanya seperti itu, dan ia hanya menjawab dengan ucapan tidak tahu. Dan gadis kecil itu kini berada di luar ruangannya setelah tadi ia menyuruh Agil mengajak Cantika keliling.
"Kamu marah?" tanya Adnan setelah duduk di sisi Alisha.
__ADS_1
Bukannya menjawab istrinya itu justru terisak, membuatnya merasa makin bersalah tapi juga bingung padahal cuma masalah sesepele itu tapi Alisha sampai menangis seperti ini. Ia pun meraih tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Aku minta maaf ya, itu semua aku lakukan demi kebaikan kamu, sayang," ucapnya.
Alisha menggeleng, "Entah kenapa aku rasanya kesel banget, pengen nangis dari tadi tapi malu ada Cantika. Aku aja bingung cuma enggak boleh makan pedas aja sampai sekesel ini," ucap Alisha sambil terisak, ia sendiri tidak tahu dengan keadaannya saat ini.
Adnan terkekeh mendengar ucapan jujur sang istri, "Yaudah karena Cantika enggak di sini, kamu boleh nangis sampai puas," ucapnya.
Alisha melepaskan diri dari pelukan Adnan, "Kok gitu? Bukannya suruh diem malah suruh nangis, aneh. Yaudahlah udah engga minat nangis lagi," ucap Alisha, sambil mengusap pipinya yang basah karen air mata.
Adnan kembali terkekeh, lucu sekali istrinya itu. Melihat Adnan terkekeh, Alisha menatap tajam suaminya itu, seakan tidak terima jika Adnan menertawakan sikapnya saat ini.
"Ampun, ampun tuan putri, jangan melo tot gitu dong, aku takut," Adnan berpura-pura takut saat Alisha menatapnya tajam.
"Aterin aku ke mall," Alisha tidak memperdulikan ucapan Adnan, ia justru mengalihkan topik pembicaraan.
"Tumben?" tanya Adnan dengan heran, karena tak seperti biasanya Alisha ke mall. Bahkan tak pernah sekali pun ia mengantar Alisha ke mall.
"Mau enggak? Kalau enggak mau biar aku ajak Agil,"
"Iya deh mau, sekarang? Tapi aku harus kerja dulu," Adnan merasa tidak enak jika harus pulang sebelum saatnya jam pulang kantor.
"Yaudah, aku ajak Agil aja,"
"Iya, aku antar sekarang," Adnan menyerah, ia tentu tidak mau istrinya ke luar dengan laki-laki lain.
__ADS_1