Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Bukan Wanita Idaman


__ADS_3

"Mas, aku pinjam laptop kamu ya, mau buat tugas, tapi laptopku tiba-tiba mati sendiri," ucap Alisha, gadis itu masuk ke dapur dan mendapati Adnan sedang membuat kopi seperti biasa. Ia juga ingin membuat minuman hangat untuk menyegarkan pikirannya yang tiba-tiba pusing.


Setelah makan malam tadi, Alisha langsung mengerjakan tugasnya. Saking sibuknya, ia bahkan tadi tidak menyadari jika Adnan turun ke bawah, karena yang ia tahu suaminya itu sedang memeriksa tugas para mahasiswanya. Tapi sayang beribu sayang laptop miliknya justru tidak bisa di ajak kompromi dan mati di tengah jalan.


"Iya, kamu pake yang putih, jangan yang hitam," ucap Adnan, karena ia akan menggunakan laptop kerjanya sebentar lagi.


Alisha mengangguk, "Yaudah aku duluan," Alisha meninggalkan Adnan yang sepertinya masih ingin duduk di meja makan sambil menikmati kopi yang baru saja ia buat.


Seminggu setelah menginap di rumah Mama, membuat hubungan mereka menjadi lebih baik, meskipun keduanya belum ada yang menyatakan perasaan masing-masing. Perhatian kecil selalu Adnan berikan untuk Alisha, dan sebaliknya Alisha pun melakukan hal yang sama. Bahkan selama seminggu ini Alisha terus menemani suaminya ke kantor, meskipun ia sering merasa bosan.


Alisha mencari keberadaan laptop milik suaminya, ia tadi ingat jika Adnan menyuruhnya untuk memakai laptop berwarna putih dan melarang memakai warna hitam. Bukan Alisha namanya jika tidak penasaran apalagi kalau sudah ada larangan membuat penasarannya semakin akut, ia membawa dua laptop tersebut, menyalakan keduanya. Ia penasaran kenapa Adnan melarang memakai laptop berwarna hitam, ada apakah di dalam sana?


Bukannya langsung mengerjakan tugas, Alisha justru mencari tahu isi laptop hitam milik Adnan, entah kenapa penasarannya semakin menjadi ketika membuka satu persatu file. Setelah membuka semua file ternyata isinya hanya kerjaan dan kerjaan, juga beberapa ada data-data siswa yang sudah dan belum mengerjakan tugas.


"Pantes, enggak boleh ternyata isinya kerjaan dia semua, sedangkan yang putih kosong, hanya ada beberapa lagu dan foto-foto aja," gumam Alisha.


"Ah jadi penasaran waktu dia masih kuliah," celetuk Alisha saat melihat banyak sekali foto di laptop putih. Foto-foto saat Adnan masih di London, terlihat tak jauh beda dari sekarang, hanya saja tubuhnya lebih kurus.


Alisha senyum-senyum sendiri saat melihat foto-foto itu, ia mengirim beberapa foto yang di sukai ke ponselnya. Setelah banyaknya foto yang ia lihat, ia jadi penasaran apakah di laptop yang satunya juga ada foto Adnan. Kembali membuka laptop berwarna hitam, membuka file foto dan melihat beberapa foto milik Adnan. Sepertinya foto itu belum lama di ambil, ia tersenyum saat melihat ada fotonya di sana, foto resepsi pernikahan mereka juga ada.


"Padahal gue aja enggak punya," gumamnya saat melihat foto resepsi pernikahan mereka.

__ADS_1


Selain di album foto, Adnan sengaja menyimpan foto-foto pentingnya di laptop, untuk di lihat-lihat saat rindu dengan suasana tersebut.


Alisha terus melihat gambar suaminya di dalam laptop tersebut, sampai di urutan paling bawah ia melihat sebuah foto dua orang yang sangat ia kenali, sedang tersenyum penuh kebahagiaan.


"Pantes aja enggak boleh pake laptop ini, ternyata ada foto itu," Alisha terlihat kesal setelah melihat foto tersebut, ia menutup laptop dengan kasar tanpa mematikannya lebih dulu, kini moodnya menjadi buruk, dan malas untuk mengerjakan tugas.


Beranjak dari sofa, membiarkan kedua laptop itu tergeletak di atas meja tanpa mematikannya terlebih dahulu, ia ke luar kamar menuju balkon. Pikirannya tiba-tiba kacau, ia tidak menyangka jika suaminya masih menyimpan foto masa lalu bersama Yesha. Ya, Alisha melihat foto Adnan berdua dengan Yesha, meskipun foto itu tidak terlihat mesra, tapi mereka berdua terlihat sangat bahagia.


Tak terasa kristal bening menetes dari pelupuk mata gadis itu, ia tidak menyangka jika ucapan Adnan seminggu yang lalu hanya bualan, menyuruh dirinya melupakan masa lalu, nyatanya Adnan sendiri yang masih tenggelam di masa lalu. Memikirkan itu, air mata Alisha makin tak terbendung, entah kenapa ia bisa secengeng itu padahal sebelumnya ia jarang sekali menangis.


"Katanya mau buat tugas? Kok malah di sini?" Adnan baru saja masuk ke dalam kamar, tapi tak mendapati Alisha di sana, tapi ia melihat pintu balkon terbuka, ia bisa menebak jika Alisha berada di sana dan tebakannya benar.


Alisha menyeka air matanya, ia tidak mau Adnan tahu jika ia sedang menangis. "Udah selesai," ucapnya berbohong.


Alisha menggeleng, "Aku enggak nangis, tadi kelilipan," kilahnya.


Tapi Adnan tidak langsung percaya begitu saja, ia kembali meneliti wajah Alisha, masih terdapat air mata di pipi gadis itu. "Ada masalah? Kalau ada masalah cerita aja, aku akan dengerin," ucapnya, sambil menghapus sisa air mata di pipi Alisha.


Alisha kembali menggeleng, tapi kali ini ia sepertinya enggan untuk membuka suara kembali.


"Yaudah kalau kamu belum siap untuk cerita, enggak apa-apa, aku siap dengerin cerita kamu kapan pun kamu mau," ucap Adnan setelah melihat Alisha terdiam cukup lama.

__ADS_1


"Ayo masuk, angin malam tidak baik untuk kesehatan," Adnan mengajak Alisha untuk masuk kamar, karena cuaca malam ini terasa dingin.


"Aku mau di sini dulu," timpal Alisha tanpa menatap wajah Adnan.


Adnan mengangguk, "Aku masuk ya," setelah mengucapkan itu, Adnan pun masuk ke dalam kamar tanpa menunggu Alisha berbicara, ia tahu Alisha sedang tak ingin di ganggu.


Beberapa menit kemudian, Adnan kembali ke ke luar menuju balkon, ia memeluk tubuh Alisha dari belakang karena gadis itu berdiri membelakanginya sambil bersandar di pembatas balkon. Alisha diam saja saat Adnan memeluknya, bahkan ia tidak menolah ke belakang, karena sudah tahu siapa orang yang memeluknya.


"Kamu salah paham, aku juga enggak tahu kenapa foto itu masih ada, seingatku udah aku hapus semua foto itu," ucap Adnan, ia sudah tahu alasan Alisha menangis, karena tadi saat membuka laptop yang di tutup secara paksa oleh Alisha, langsung memperlihatkan foto dirinya dengan Yesha.


"Aku melarang kamu memakai laptop warna hitam bukan itu alasannya, tapi karena data-data mahasiswaku ada di sana semua, beneran aku enggak tahu kalau foto itu masih ada," Adnan kembali menjelaskan, ia tidak mau Alisha menjadi salah faham hanya karena sebuah foto.


"Karena foto itu juga enggak apa-apa, aku ngerti kok. Aku tidak ada apa-apanya di bandingkan dia, dia bahkan wanita idaman para lelaki, sedangkan aku apa? Mungkin tidak ada yang mau dengan ku jika bukan karena terpaksa, seperti kamu," air mata Alisha kembali banjir. Wanita seringkali seperti itu saat ada wanita lain lebih dari dirinya, apalagi di saat sedang down seperti Alisha saat ini.


Ada sedikit rasa iri yang Alisha rasakan pada sepupunya itu. Tapi ia juga sadar jika dirinya masih banyak kekurangan.


Adnan merubah posisi Alisha hingga gadis itu menghadap dirinya, ia memandang wajah gadisnya itu, terlihat jelas jika matanya memancarkan kesedihan. Ia membawa tubuh Alisha ke dalam dekapannya.


"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, kamu itu wanita luar biasa, aku bangga sama kamu, aku bangga memiliki kamu, kamu beda dari wanita-wanita lain, dari segi apa pun dan itu adalah nilai plus dari diri kamu, jangan insecure seperti itu. Aku menerima kamu apa adanya, aku sayang sama kamu," ucap Adnan panjang lebar, ia mengutarakan isi hatinya pada Alisha.


Alisha makin terisak dalam dekapan Adnan, apalagi saat mendengar ucapan sayang Adnan.

__ADS_1


"Kamu masih ingatkan ucapanku waktu di rumah Mama? Itu serius, aku tidak main-main, karena aku benar-benar sayang sama kamu. Percayalah aku tidak pernah berniat menyimpan foto itu lagi," Adnan masih setia mendekap tubuh Alisha yang masih saja menangis.


__ADS_2