
"Maaf, di dalam sudah tidak ada siapa-siapa," ucapan pegawai cafe tersebut membuat Arga dan yang lainnya melongo. Arga tidak percaya dengan ucapan pegawai cafe tersebut, lalu ia menerobos masuk ke dalam cafe, memastikan apakah ada sang Kakak di sana atau tidak? Tapi hasilnya memang tidak ada Yesha di sana.
"Boleh liat CCTV cafe ini enggak Mbak?" tanya teman Aufa yang bernama Aldi.
Pegawai cafe tersebut sempat terdiam sejenak, lalu ia permisi masuk untuk memanggil manager kafe tersebut, akan menanyakan apakah mereka. diijinkan untuk melihat CCTV kafe tersebut atau tidak, dan hasilnya mereka boleh melihat hasil rekaman CCTV tapi di batasi hanya tiga orang saja tidak boleh ikut semua ke dalam ruangan.
Akhirnya yang masuk ke dalam ruang CCTV hanya Aufa, Arga dan Nevan karena mereka bertiga yang masih ada hubungan saudara dengan Yesha.
Nevan mengamati dengan saksama layar monitor yang menayangkan seseorang ke luar dari mobil Yesha, tapi Yesha tidak keluar dari mobil itu. Dia mengamati seperti mengenal orang tersebut.
"Pak, boleh putar sebelum mobil itu datang," ucapnya.
Manager kafe tersebut pun mengiyakan, memutar rekaman CCTV beberapa menit sebelum mobil Yesha masuk ke dalam kafe. Betapa terkejutnya dia saat mendapati Yesha keluar dari mobil seseorang yang amat ia kenali, Nevan bisa menebak sekarang di mana Yesha berada.
"Stop Pak, saya sudah tau jawabannya," ucap Nevan.
Arga dan Aufa hanya melongo, mereka berdua tidak mengenal sama sekali dengan orang yang datang bersama Yesha.
"Lo kenal dia Bang?" tanya Aufa dan Arga bersamaan.
"Banget, ayo sebelum terlambat," Nevan mengajak ke duanya untuk ke luar. Mereka pun meninggalkan kafe setelah berterimakasih ke pada manager kafe tersebut.
🌻🌻🌻
Di sisi lain, seorang gadis mengerjakan mata, ia terkejut saat mendapati dirinya di tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sebuah kamar asing, kamar tersebut terlihat luas bahkan hampir sama dengan kamar miliknya di rumah. Ia melihat sekeliling, ada banyak sekali poster penyanyi rok, satu foto yang terletak di atas meja menjadi pusat perhatiannya. Foto seorang gadis berambut hitam lebat, sedang duduk di sebuah kursi. Foto itu sepertinya di ambil secara sembunyi-sembunyi, karena ia tidak merasa pernah berdiri di tempat seperti itu. Ya, foto itu adalah foto dirinya. Saat akan turun dari ranjang, ingin menggapai foto tersebut, kakinya seperti terikat sesuatu hingga ia tak bisa turun dari tempat tidur.
"Kenapa kaki ku di tali? Pake rante segala lagi, apa maksudnya ini?" gumam gadis itu, ia belum mengerti kenapa dirinya ada di sana dan terantai.
Cklek
Bunyi kunci di putar dari luar, kemudian pintu terbuka dan terlihat seseorang yang amat ia kenali.
"Oh, sudah bangun rupanya kamu, sayang," ucap orang tersebut, menyeringai.
"Apa maksud Lo ngerantai kaki gue Max?!" tanya gadis itu. Ya, gadis itu adalah Yesha, sedangkan seseorang yang baru saja masuk adalah Maxim.
"Makan dulu ya, nih aku udah bawain makanan buat kamu," Max tak memperdulikan ucapan Yesha, ia mendekati gadis itu dan duduk di sisi Yesha.
__ADS_1
"Biar aku suapi ya," Max menyendok makanan tersebut, lalu menyodorkan ke arah mulut Yesha, tapi gadis itu menepisnya dengan kasar, hingga makanan tersebut mengenai wajah Max.
"Kalau gue enggak sayang, udah gue habisin, tapi gue terlalu sayang sama Lo Yes, jadi gue maafin," Max berusaha untuk tidak emosi berhadapan dengan Yesha.
"Gue mau pulang!" seru Yesha tidak perduli dengan kekesalan Max.
"Boleh pulang, tapi makan dulu ya," Max masih merayu Yesha untuk makan, tapi gadis itu menolak.
"Ayo makan, sesuap aja," Max memaksa, tapi lagi-lagi penolakan yang ia dapatkan. Nasi dalam sendok kembali melayang ke wajahnya.
Max meletakkan piring tersebut di atas nakas dengan kasar, ia sudah tidak sabar menghadapi kelakuan Yesha. Setelah itu ia mendekat ke arah tempat duduk gadis itu. Ayesha menggeser tubuhnya saat Max semakin mendekat.
"Kamu tidak akan bisa lari dari sini Yes." Max menunjuk kaki Yesha yang terantai.
"Jangan mendekat Max!" seru Yesha. "Lo mau ngapain?" tambahnya.
Max menyeringai, "Kalau gue enggak bisa dapetin Lo secara baik-baik, maka gue akan melakukan apapun, untuk dapetin Lo, termasuk dengan cara keji," ucapnya.
Yesha semakin takut di buatnya, ia mencoba untuk turun dari ranjang tapi tidak bisa, karena kakinya terikat. Bahkan kakinya terasa sakit saat ia berusaha melepaskan diri.
"Tenang aja sayang, aku enggak akan main kasar, kalau kamu nurut, oke,"
Ucapan Max terdengar menjijikan menurut Yesha.
Plak
Yesha masih sempat menampar wajah Max yang sudah berada beberapa centi dari wajahnya
"Gue enggak sudi, lebih baik gue mati!" Yesha kembali berteriak, membuat Max naik pitam. Bahkan tamparan yang Yesha layangkan begitu menyakitkan di wajahnya.
Max dengan tidak sabaran menarik dress yang Yesha kenakan, bahkan di bagian bahu sudah robek karena ulah pemuda itu. Yesha masih tetep memberontak, kini kakinya yang tidak terikat menendang area sensitif Max.
"Au, sialan!" Max memegangi benda pusaka ya yang terkena tendangan maut dari kaki Yesha.
"Oke, kamu maunya main kasar, maka aku akan main kasar juga," ucap Max setelah area sensitifnya sudah tidak ngilu lagi.
Yesha semakin terisak, ia tidak bisa kabur dari tempat itu. Ia berdoa semoga ini bukan akhir dari segalanya, ia berharap mendapat pertolongan dari Allah. Melafadkan dzikir di dalam hati, memohon pertolongan dari Sang Maha Kuasa.
__ADS_1
Max kembali mendekat, kali ini ia mengunci kaki Yesha dengan kakinya. Kedua tangan gadis itu pun ia kunci ke belakang, mendorong tubuh Yesha supaya duduk bersandar di kepala ranjang. Baru saja ia akan mendaratkan bibirnya di bibir Yesha, tapi urung karena Yesha meludah tepat mengenai wajahnya.
Cuih
"Sialan!" lagi-lagi Max mengumpat, ia mengusap bekas air ludah Yesha, tanpa melepaskan kedua tangan Yesha. Berkali-kali Yesha meludah, bahkan raut wajah Max sudah memerah menahan amarah.
Pemuda itu menghempaskan tubuh Yesha secara paksa ke tengah ranjang, hingga kini Yesha berada di bawah Kungkungan pemuda itu. Mencoba melepaskan tapi nihil, kekuatan Max begitu besar, ia hanya bisa berdoa semoga mendapatkan pertolongan sebelum Max melakukan hal yang tidak ia inginkan.
"Gue enggak peduli, Lo mau meludah sampai air ludah Lo habis, gue tetep akan melakukan apa yang udah gue rencanakan, jadi bersiap-siaplah," Max kembali menyeringai, ia seakan yakin jika rencananya akan berhasil. Apalagi saat melihat Yesha sudah berada di dalam kekuasaannya.
Tapi baru saja Max akan melakukan aksinya, seseorang lebih dulu menarik bajunya dari belakang, membuat pemuda itu menoleh, terkejut saat mendapati ada beberapa orang di dalam ruangan itu, ia tidak tahu kapan mereka masuk ke dalam kamar tersebut. Dan kenapa mereka bisa masuk? Bukankan anak buahnya menjaga mereka di luar?
Yesha berucap syukur, ia lega saat mengetahui di ruangan itu ada beberapa orang yang ia kenal. Ia sangat-sangat bersyukur, ternyata Tuhan mengabulkan doanya. Aufa berusaha melepaskan rantai yang mengikat kaki Yesha. Tapi nihil, rantai itu memiliki kunci dan harus di buka dengan kunci supaya tidak menyakiti kaki Yesha.
Arga dan Angkasa yang paling terlihat marah di sini, buktinya kedua pemuda itu sudah bergantian memukuli Max tanpa ampun, bahkan Max sudah terkapar tidak berdaya di lantai. Yang masuk ke dalam ruangan itu hanya Aufa, Angkasa dan Arga. Sedangkan yang lain masih menghadapi anak buah Max di luar.
"Cukup Ga! Dia bisa mati!" teriak Aufa, membuat dua pemuda itu menghentikan tindakannya.
Giliran Aufa yang mendekat ke arah Max yang sudah tak berdaya, wajahnya sudah tidak berbentuk. "Di mana Lo simpan kunci itu?" Aufa menunjuk rantai di kaki Yesha.
Max diam, sepertinya pemuda itu tidak kuasa untuk menjawabnya. Tapi Aufa tidak kehilangan ide, ia mencari kunci tersebut di dalam kantong celana Max, karena ia yakin Max pasti menyimpannya. Dan benar saja, kunci itu ada di salah satu kantong celana Max.
Aufa bergegas mendekati Yesha, melepas rantai dari kakinya. Sedangkan Yesha sudah berada dalam pelukan Arga, gadis itu menangis bahkan tangisnya pecah saat berada dalam pelukan Arga.
"Tenang Kak, Kakak udah aman, ayo sekarang kita pulang, polisi akan menuju ke sini sebentar lagi," ucap Arga. Yesha mengangguk dalam pelukan Arga.
Pemuda itu memberikan jaketnya pada sang Kakak, karena baju Yesha sudah rusak di bagian atas, sehingga memperlihatkan sebagian tubuhnya.
Baru saja mereka akan ke luar dari kamar tersebut, polisi masuk bersama Nevan, Aldi, Naga dan Rian karena tadi sebelum ke tempat ini, mereka sempat menghubungi Naga dan Rian lebih dahulu, untuk ikut mencari Yesha.
"Kamu tidak apa-apa Dek?" tanya Nevan, lalu pemuda itu memeluk Yesha.
"Ayo sekarang kita pulang, mereka biar polisi yang mengurus," Nevan menuntun Yesha untuk ke luar dari ruangan tersebut, lalu membawa Yesha pulang ke rumah. Mereka bahkan tidak memberi tahu orang tua Yesha tentang masalah ini.
........
*Aku masih akan bahas Yesha ya, besok flashback kenapa Yesha bisa bersama Max dan mobilnya bisa di kafe.
__ADS_1