
Adnan terlihat tak bersemangat, entah apa yang membuat pemuda itu menjadi pendiam, bahkan ketika Alisha bertanya hanya di jawab dengan kata-kata singkat, membuat Alisha bingung, tapi gadis itu memilih tidak perduli, mungkin Adnan sedang sariawan, pikirnya.
"Ini kita mau makan di mana sih? Sejak tadi muter-muter enggak jelas," tanya Alisha, gadis itu menggerutu saat melihat jalan yang ternyata telah mereka lewati sebelumnya.
"Di depan," jawab Adnan tidak jelas.
Alisha hanya berdecak, ia memilih menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, melipat ke dua tangannya di dada lalu memejamkan mata. Lebih baik tidur dari pada mendengar jawaban Adnan yang hanya sepatah dua patah kata saat ia tanyai.
Beberapa menit berlalu, Adnan membelokkan mobilnya ke sebuah kafe, memarkirkan mobil tersebut di halaman kafe yang tampak ramai, bahkan parkiran di sana juga hampir penuh. Mereka berdua pun turun dari mobil, lalu masuk ke dalam kafe tersebut.
Alisha kembali berdecak saat mengetahui jika kafe tersebut sempat mereka lewati tadi, kenapa juga Adnan harus memutari kota dahulu sebelum masuk kafe, kalau mereka sejak dari rumah langsung ke kafe pasti akan dapat tempat duduk yang nyaman, tapi lihatlah saat ini, tempat duduknya saja hampir semuanya penuh karena saking banyaknya pengunjung.
"Mau kemana?" tanya Adnan saat melihat Alisha berjalan lebih dahulu, sepertinya gadis itu akan menuju sebuah meja yang baru saja di tinggal pemiliknya.
"Cari tempat duduk," jawab Alisha, baru saja akan melangkah kembali, tangannya lebih dulu di tarik oleh Adnan.
Alisha menaikkan satu alisnya, ia bertanya dengan bahasa isyarat.
"Aku sudah pesen tempat, di atas," jawab Adnan, seakan tahu apa yang di tanyakan Alisha.
Kafe tersebut memang memiliki dua lantai, di lantai bawah untuk pengunjung umum dan di lantai dua di sediakan bagi pengunjung yang ingin menikmati makanan mereka tanpa gangguan dari pengunjung lain, alias private.
Alisha mengangguk, lalu mengikuti langkah panjang Adnan yang terus menggandeng tangannya.
"Ngapain pesen tempat private segala?" tanya Alisha setelah mereka sampai di ruangan tersebut.
"Enggak apa-apa pengen aja, aku udah duga sebelumnya kalo di sini bakalan rame," jawab Adnan, entah kenapa jawaban yang keluar dari mulutnya tidak sesuai dengan hatinya. Karena hatinya mengatakan jika ia hanya ingin makan berdua saja dengan Alisha tanpa gangguan siapa pun.
__ADS_1
Tak lama pelayan datang, mereka pun memesan makanan sesuai selera masing-masing. Jika Alisha memesan makanan yang sedikit kandungan cabainya, berbeda dengan Adnan, pemuda itu memesan makanan yang memiliki sambal di tiap menunya tak lupa minuman yang selalu tanpa gula. Sungguh selera yang berbanding terbalik, sama halnya seperti sifat mereka.
"Besok kamu kelas pagi apa siang?" tanya Adnan setelah kepergian pelayan dari ruangan itu.
Alisha menoleh ke arah Adnan, ia mengira Adnan akan diam seperti tadi saat di mobil, tapi ternyata ia salah karena Adnan bertanya lebih dahulu.
"Biasa, pagi. Cuma hari Sabtu aja yang siang," jawab Alisha.
"Kalo gitu habis subuh kita balik ke rumah berarti, kalau mau menginap di rumah Mama,"
"Iya,"
Mereka larut dalam obrolan hingga dua orang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Setelah itu mereka pun menikmati makan malam itu dalam keadaan hening, menikmati setiap makanan yang mereka pesan.
Tidak ada kesan di balik makan malam tersebut, karena hanya makan malam biasa tak ada yang spesial. Tidak ada acara saling menyuapi makanan atau pun hal manis lainnya layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Padahal jika di lihat dari pengalaman Adnan sudah berpengalaman tentang memanjakan seorang gadis, tapi entah kenapa pada Alisha ia merasa kesulitan, mungkin karena respon Alisha yang selalu bersikap biasa saja saat ia melakukan hal manis terhadap gadis itu.
"Ke rumah Mama aja, emang mau ke mana lagi?" nah, kan? Alisha menjawab seperti itu, padahal Adnan menginginkan jawaban lain, misalnya jalan-jalan atau menikmati malam di tempat yang indah, mungkin.
Jika gadis lain yang di tanya pasti jawabannya berbeda dengan Alisha.
"Biasanya perempuan itu suka kalau di ajak ke luar rumah dan jalan-jalan, aku kira kamu mau ke mana lagi gitu, nonton mungkin,"
"Males, aku enggak suka nonton," celetuk Alisha. Ia memang jarang sekali nonton film di bioskop, dulu jika tidak di ajak oleh Yesha ia tidak akan menonton, karena ia lebih memilih kumpul bareng teman-temannya. Menonton drama di rumah jika karena menemani sepupunya itu, sebenarnya ia malas jika harus menonton drama yang akhirnya ada adegan menangis dan itu paling dia tidak suka.
"Yaudah pulang ke rumah Mama aja,"
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Alisha. Mereka di sambut suka cita oleh Mama, karena Mama yang rindu dengan putri satu-satunya itu. Saling bertukar kabar satu sama lain, tak lupa Alisha memeluk tubuh Mama dengan sayang. Sedangkan Adnan menyalami ke dua mertuanya dengan takdzim.
__ADS_1
"Mama lama banget di London," celetuk Alisha saat mereka sudah duduk di sofa ruang keluarga.
Ya, Mama Icha baru beberapa hari yang lalu pulang dari London dan Alisha mengira selama sebulan lebih Mama berada di London.
"Mama cuma dua Minggu di sana, karena Papa ada kerjaan di Singapura," ucap Mama menyangkal Alisha.
"Kenapa Mama enggak pulang aja? Terus Arsyad sama siapa di rumah?" Alisha melihat sekeliling, tidak menemukan adik bungsunya itu.
"Arsyad liburan di rumah Om Raffa, dia belum pulang, katanya masih betah di sana. Kalo Mama pulang di rumah sendirian dong, yaudah Mama ikut ke Singapur," jawab Mama.
Alisha mengangguk, ia paham sudah jadi kebiasaan Arsyad jika libur sekolah pasti ke rumah Om Raffa yang ada di Singapura, karena di sana ada anak Om Raffa yang seumuran dengan Arsyad, tepatnya anak pertama Om Raffa.
"Ma, Pa, aku mau bicara," ucap Alisha, ia teringat tujuan utamanya datang ke rumah Mama.
"Mau bicara apa? Bicara saja," timpal Mama.
"Ma, Pa, gimana kalau aku adopsi Cantika, Mama inget kan sama Cantika? Gadis kecil di panti itu," ucap Alisha tanpa basa basi.
"Apa kalian sudah memikirkannya matang-matang? Kalian baru aja nikah sebulan lebih," bukan Mama yang mengatakan itu, melainkan Papa.
"Mas Adnan setuju kok," Alisha berusaha meyakinkan Papa dan Mama.
"Pikirkan dulu baik-baik, kamu masih kuliah, Adnan kerja, terus nanti Cantika di rumah sama siapa? Kasian dia malah tidak terurus, dia juga akan kesepian di rumah. Bukannya Mama tidak setuju, tapi Mama khawatir kalian justru akan membuat dia sedih karena kegiatan kalian yang jarang di rumah, saran Mama nanti aja kalau kamu sudah lulus kuliah dan bisa fokus urusin dia," Mama sepertinya tidak menyetujui Alisha untuk mengadopsi Cantika saat ini.
"Mama rasa pihak panti juga belum mengijinkan kalian untuk mengadopsi Cantika, ya salah satunya karena kamu masih kuliah dan lagi Cantika di panti belum ada dua tahun, kan?"
Alisha terlihat tak bersemangat setelah mendengar ucapan Mama, ia tadinya mengira Mama akan mendukung penuh keputusannya, tapi nyatanya ia salah. Ternyata Mama memiliki pendapat yang sama dengan Adnan.
__ADS_1