Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Gagal Sebelum Bertindak


__ADS_3

Azan subuh baru saja berkumandang, tak seperti biasanya Alisha bangun terlebih dahulu. Ia segera turun dari ranjang menuju kamar mandi tanpa membangunkan suaminya. Tubuhnya terasa lengket karena sisa keringat semalam yang masih melekat di tubuh. Di area intinya juga merasakan tidak nyaman, sepertinya ia tahu alasan tidak nyaman tersebut.


"Tuh kan bener, aku datang bulan," ucapnya lalu menghela nafas kasar, ia mengira akan segera hamil tapi nyatanya ia datang bulan sekarang.


Setelah mengetahui jika dirinya kedatangan tamu bulanan, ia pun segera menyelesaikan acara mandinya, bergegas mencari penampung cairan merah yang ke luar dari area dalam intinya, takut-takut nanti bertambah banyak. Selesai berganti pakaian, ia melihat ke arah tempat tidur, suaminya masih terlelap dengan tenang di sana, ia berfikir mungkin semalam Adnan tidur terlaku larut hingga tak mendengar suara Azan.


"Mas, bangun udah subuh." Alisha mengguncang tubuh Adnan, ia duduk di sisi ranjang berdekatan dengan suaminya.


Adnan menggeliat, pelan-pelan ia membuka mata, bibirnya menyunggingkan senyuman di balas oleh Alisha, tatapan matanya bertemu dengan mata Alisha. Istrinya itu tampak lebih segar bahkan pakaian yang di kenakan nya pun sudah berubah tidak sama seperti malam tadi. Harum lavender menyeruak di indera penciumannya, ia pun menghirup dalam-dalam aroma khas sabun tersebut dari tubuh Alisha.


"Kamu sudah mandi?" tanyanya dengan suara parau khas bangun tidur, ia bangkit dari duduknya lalu mengecup puncak kepala Alisha sekilas.


"Udah, sana kamu mandi, subuh udah lewat dari tadi," jawab Alisha, bangkit meninggalkan Adnan menuju ke arah lemari pakaian, mempersiapkan baju sholat suaminya. Meletakkan pakaian itu di atas tempat tidur


"Aku ke bawah dulu ya, mau bantu Bik Ana," ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan kamar.


Setelah kepergian Alisha, Adnan pun masuk ke dalam kamar mandi.


🌻🌻🌻


Waktu berlalu Alisha kembali ke kamar, ia ingin bersiap dahulu sebelum sarapan, meskipun masih terlalu pagi sebenarnya, tapi ia juga ingin melihat Adnan yang tak kunjung turun karena biasanya suaminya itu akan turun ke bawah meminum kopi di depan taman sebelum berangkat bekerja, terkadang sambil memeriksa pekerjaannya.


"Lho Mas, kamu kenapa? Sakit?" tanya Alisha terkejut saat mendapati Adnan masih bersembunyi di bawah selimut. Mendekat ke arah tempat tidur, menempelkan punggung tangannya di kening Adnan, tapi tidak terasa panas sedikit pun. Baru saja ia akan beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba tangannya di tarik oleh Adnan dan ia terjatuh di atas tubuh suaminya.


"Ish, jail banget sih. Sengaja pasti," gerutu Alisha, ia mencoba melepaskan diri tapi tak bisa karena Adnan memeluk tubuhnya dengan erat.


"Emang sengaja," celetuk Adnan sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Ck, udah ah lepasin, aku mau ganti siap-siap," Alisha masih berusaha melepaskan diri dari dekapan Adnan.


"Ini masih terlalu pagi sayang, lagian di luar juga hujan, mager banget. Rasanya pengen tidur lagi," celetuk Adnan, membuat dahi Alisha mengkerut, tidak biasanya suaminya itu bersikap seperti itu, apa katanya mager? Memang di luar saja hujan sejak subuh tadi. Dan Adnan kembali menarik selimut setelah melaksanakan kewajibannya, masih malas untuk beraktifitas karena hawa dingin yang jarang menghampiri pagi harinya.


"Emang kamu enggak ke kampus?" tanya Alisha.


Adnan menggeleng, "Kamu masuk jam sembilan, kan?" tanyanya. Ia sudah hafal sekali jadwal kuliah Alisha.


Belum juga Alisha mengangguk, Adnan sudah merubah posisinya, kini Alisha yang berada di bawah tubuhnya.


"Mau ngapain sih Mas? Jangan macam-macam ya, ini udah siang," ucap Alisha karena melihat Adnan tersenyum menggoda.


"Olahraga sebentar biar enggak dingin," ucap Adnan, ia tidak memberi kesempatan pada Alisha untuk berbicara karena sudah mendaratkan bibirnya di bibir Alisha. Salah satu tangannya mulai nakal menyentuh area yang ia sukai. Tautan mereka hanya terlepas sebentar lalu Adnan kembali menautkan bibirnya, hingga tak memberi kesempatan pada Alisha untuk berbicara akhirnya Alisha hanya pasrah, biarkan suaminya itu menelan kekecewaan saat mengetahui jika ia sedang kedatangan tamu bulanan. Salah sendiri tidak memberinya kesempatan untuk berbicara.


Benar saja, Adnan tampak menghentikan tangannya yang sudah berada di area inti Alisha, mungkin menyadari ada sesuatu yang mengganjal tidak seperti biasanya.


Alisha tersenyum, lalu mengangguk, "Siapa suruh tidak tanya dulu," celetuknya.


Adnan merebahkan tubuhnya di samping Alisha, lalu menghela nafas panjang, keinginannya tak mungkin terpenuhi saat ini. Bahkan saat ini hasratnya sudah tak terbendung, entah apa yang harus ia lakukan, tapi ia lebih memilih memejamkan mata berharap bisa terlelap kembali.


Alisha merasa iba melihat Adnan yang terlihat begitu frustasi tak bisa menyalurkan hasratnya, ia lebih memilih membiarkan suaminya itu untuk kembali tertidur, baru saja ia akan turun dari ranjang suara Adnan mengurungkan niatnya.


"Mau kemana sayang? Sini aja temani aku tidur," ucap Adnan tanpa membuka mata.


Alisha pun kembali ke posisi semula, tapi kini ia tidur miring memeluk tubuh suaminya yang terlentang, ia bisa merasakan detak jantung Adnan yang masih tak beraturan, "Maaf," tuturnya lembut.


Mendengar ucapan permohonan maaf dari sang istri, Adnan pun membuka mata, menoleh ke arah Alisha, "Enggak usah minta maaf, bukan salah kamu," ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Adnan kembali menghela nafas panjang, ketika mengingat suatu hal, "Dua Minggu puasa dong," celetuknya.


Alisha mengerutkan dahi tak mengerti dengan ucapan Adnan, "Maksudnya?" tanyanya.


"Kamu datang bulan biasanya berapa hari?" bukannya menjawab pertanyaan Alisha, Adnan justru balik bertanya.


Alisha tampak berfikir sejenak, "Em, lima sampai enam hari, emang kenapa sih Mas?" Alisha masih belum mengerti.


Adnan terlihat memikirkan sesuatu, "Kayaknya beneran puasa dua Minggu," celetuknya.


"Kenapa puasa dua minggu?" Alisha masih saja bertanya karena belum mendapatkan jawaban dari pertanyaanya itu.


Adnan terlihat gemas dengan kepolosan Alisha, ia mencubit hidung Alisha dengan gemas hingga membuat si empunya mengaduh.


"Aku enggak bakalan dapet servis dari kamu selama dua minggu, itu artinya aku harus puasa selama itu," jawab Adnan belum melepaskan cubitan di hidung Alisha.


Alisha tergelak mendengar jawaban dari Adnan, "Rencana Tuhan lebih baik dari rencana hambanya," ucapnya masih dengan kekehan. Ia teringat akan ucapan Adnan semalam, jika suaminya minta servis full selama satu minggu sebelum ia pergi ke Yogyakarta, tapi ternyata rencana suaminya itu gagal total karena ia mendapatkan jatah tamu bulanan.


"Kok ketawa?" tanya Adnan, "Terus maksud ucapan kamu apa?" tanyanya lagi.


Alisha menghentikan tawanya, ia menatap lekat wajah sang suami sambil tersenyum, lalu menerangkan alasan kenapa ia mengucapkan kata-kata itu dan reaksi Adnan hanya bisa menghela nafas panjang.


"Yang sabar Mas, masih banyak waktu," ucapnya mencoba menenangkan sang suami.


"Setelah kamu pulang dari sana, kita harus atur jadwal untuk bulan madu ulang," celetuk Adnan entah mendapatkan ide dari mana.


Kali ini Alisha yang menghembuskan nafas panjang, "Terserah kamu, aku ikut aja," ucapnya.

__ADS_1


Mereka berdua masih bermalas-malasan hingga beberapa jam ke depan saat Alisha terus merengek minta di antar ke kampus karena hampir terlambat, meskipun hujan di luar sana masih enggan untuk berhenti. Akhirnya mereka benar-benar meninggalkan rumah meski hujan masih saja turun.


__ADS_2