
"Lho kamu di sini?" tanya Alisha terkejut mendapati Adnan berdiri di sisi Alisha, "Sejak kapan?" tanya Alisha lagi.
"Udah lama, sepuluh menit yang lalu, mungkin," jawab Adnan santai.
"Kamu tau aku di sini? Pasti ngikutin ya?" tebak Alisha, ia menuduh Adnan mengikutinya.
"Enggaklah, cuma mau main aja,"
"Iya aku paham," Alisha bisa menebak jika dulu Adnan pernah tinggal di panti ini, karena cerita Adnan dan Bu panti waktu itu sama.
"Paham apa?" Adnan tidak mengerti apa yang di maksud Alisha.
"Kamu dulunya pernah di panti ini, kan? Bu panti pernah cerita sama aku, ceritanya sama seperti yang kamu ceritakan itu, aku juga pernah liat kamu di sini, tapi enggak sempet nyapa," jelas Alisha.
"Ya, meskipun Bu panti tidak bilang itu kamu, tapi pas denger cerita dari kamu waktu itu aku kaya pernah denger cerita yang sama, dan aku ingat ternyata Bu panti yang cerita," tambahnya.
"Iya bener, di aku pernah hidup di sini selama beberapa tahun, dan tempat ini menjadi saksi bisu kehidupan ku," ucap Adnan membenarkan, matanya menatap seluruh bangunan panti, mengingat masa kecilnya dulu.
Alisha melihat ada kesedihan yang terpancar di netra suaminya itu, tapi ia tidak tahu kesedihan apa yang di sembunyikan oleh Adnan.
"Kapan kamu ketemu aku di sini? Terus kenapa enggak nyapa?" Adnan mengalihkan tatapan matanya, ia tidak mau terlarut dalam masa lalu yang selalu membuatnya bersedih.
"Waktu kita belum kenal, tapi aku tahu kamu, kamu kan yang pernah nolongin aku dulu, waktu di jalan, inget kan?" tanya Alisha.
Adnan mengangguk, "Iya inget banget, waktu itu aku buru-buru, eh malah ada halangan di jalan, kesel sebenarnya, tapi saat tau yang buat masalah seorang perempuan, aku jadi enggak tega, dan sekarang perempuan itu justru jadi bagian dalam hidupku, lucu ya," Adnan terkekeh saat mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Tantu saja ia masih ingat betul kejadian itu, apalagi Alisha pernah menanyakan sebelumnya.
Alisha juga ikut tersenyum, apalagi saat mengingat kejadian kala itu.
"Kakak! Ayo kita main petak umpet," di tengah-tengah obrolan suami istri itu, tiba-tiba Cantika datang dan menarik tangan Alisha.
"Eh ada Om ganteng, Om kenal sama Kak Alisha?" tanya Cantika saat menyadari jika ada Adnan di sisi Alisha.
__ADS_1
Adnan mengangguk, berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Cantika, mengusap rambut panjang gadis kecil itu, "Kak Alisha kan istri Om sekarang," ucapnya.
"Istri itu apa Kak? Aku enggak tau," Cantika bertanya pada Alisha, Alisha pun tersenyum saat mendapati pertanyaan polos dari gadis kecil itu.
Alisha ikut jongkok, ia menangkup wajah polos Cantika dengan ke dua tangannya, "Istri itu Mama, kalau suami itu Papa, Cantika paham maksud Kakak?" Alisha menjelaskan.
Gadis kecil itu pun mengangguk, "Ngerti Kak, jadi Cantika sekarang punya Mama dan Papa dong? Asyik!" gadis kecil itu terlihat bahagia, lalu memeluk tubuh Alisha dengan erat. "Aku boleh panggil Kakak Mama, kan? Dan panggil Om ganteng Papa," celetuk Cantika.
Alisha tidak bisa membendung air matanya, ia terharu sekaligus bahagia, apalagi saat melihat Cantika begitu bahagia, "Boleh dong sayang," ucapnya.
"Boleh kan Om?" tanya Cantika, gadis itu melepas pelukan Alisha lalu menatap Adnan.
Adnan tersenyum lalu mengangguk, "Boleh dong, sini peluk Papa," ucapnya.
Cantika pun bergantian memeluk tubuh kekar Adnan.
Alisha kembali meneteskan air mata, saat Adnan menyetujui permintaan Cantika, ia tidak menyangkan jika Adnan menyetujuinya, apalagi saat menyebut dirinya Papa. Alisha mengusap air matanya, lalu tersenyum menatap dua insan di hadapannya.
Plak
Alisha menepuk lengan Adnan, "Ih ngeselin," ucapnya.
"Kak, eh Mama nangis?" tanya Cantika. Alisha tersenyum lalu menggeleng.
"Enggak sayang, cuma kelilipan," kilah Alisha. Tentu saja Cantika percaya dengan ucapan Alisha.
Setelah puas bermain dengan anak-anak, mereka semua memutuskan untuk pulang. Adnan meminta Alisha untuk pulang bersama dirinya, sedangkan mobil Alisha di bawa oleh temannya.
"Mas, gimana kalau kita adopsi Cantika? Aku sebenarnya dari dulu pengen adopsi dia, tapi sama pihak panti belum di perbolehkan," ucap Alisha, mereka kini berada di dalam mobil.
"Apa kamu yakin? Aku sih oke aja, kalau kamu yakin. Tapi kalau kamu kuliah gimana? Kasian dia di rumah cuma sama Bik Ana," Adnan sebenarnya takut jika Cantika akan kesepian di rumahnya, karena di rumah hanya ada Bik Ana yang menemani.
__ADS_1
"Iya juga ya," Alisha membenarkan ucapan Adnan, "Gimana kalau pas aku kuliah, Cantika di titipkan di rumah Mama aja, pasti Mama seneng," Alisha menemukan sebuah ide.
"Coba kita konsultasikan dulu sama Mama, kalau Mama setuju ya boleh aja, tapi kalau enggak setuju ya terpaksa nunggu kamu lulus kuliah. Kita juga harus kasih tau Bunda sama Ayah, jangan ambil keputusan sendiri" Adnan tidak mau memutuskan sendiri, ia juga butuh pendapat para tetua.
"Iya deh, aku setuju sama kamu, kita harus konsultasi sama mereka semua," Alisha menyetujui usulan Adnan. "Yaudah kalo gitu besok aku pulang ke rumah Mama deh, kangen juga sama Mama," tambahnya.
"Kita ke sana bareng, kalau mau menginap nanti malam aja setelah kita makan malam langsung ke sana," Adnan memberi usulan.
"Boleh deh, aku juga kangen pengen tidur di kamarku," timpal Alisha, menyetujui usulan Adnan.
Tak lama mereka pun sampai di kediaman keduanya.
🌻🌻🌻
Malam hari seperti kesepakatan mereka pagi tadi, mereka pun makan malam di luar dan setelah itu langsung menuju rumah Mama.
"Tumben pake kayak gitu?" lagi-lagi Adnan mengomentari penampilan Alisha yang saat ini mengenakan rok plisket berwarna peach yang panjangnya di bawah lutut dan kaos putih yang di lapisi oleh jaket levis berwarna biru. Sepatu sneakers berwarna putih, rambut yang di biarkan jatuh tanpa penyangga.
Alisha memperhatikan tampilannya, tidak ada yang salah bukan? Oh iya, dia memakai rok bukan celana karena biasanya ia selalu memakai celana.
"Oh pake rok maksudnya?" tanya balik Alisha.
Adnan mengangguk.
"Biar enggak di omelin Mama, kalau aku pake celana pasti Mama marah, apalagi pergi sama kamu," jelas Alisha. Alasan sebenarnya bukan itu, ia ingin tampil lebih baik saja saat bersama Adnan, supaya pemuda itu tidak malu, tapi ia terlalu malu untuk mengakuinya.
Sebenarnya gadis itu tadinya akan memakai gaun, tapi ia urungkan, karena jika memakai gaun tidak mungkin memakai sepatu sneakers, paling tidak harus pakai high heels dan dia tidak bisa memakai sandal berhak tinggi itu, belum terbiasa takut nanti malah celaka di jalan.
"Oh, cuma karena Mama ya," timpal Adnan, dengan nada kecewa.
Alisha mengangguk, ia tahu jika Adnan sedikit kecewa dengan jawabannya tadi, tapi biarlah ia tidak mau Adnan tahu alasan yang sebenarnya, terlalu memalukan menurutnya. Ia juga tidak mau terlalu memperlihatkan rasa sukanya pada Adnan jika suaminya itu belum memiliki rasa yang sama, menyakitkan memang jika mengingat cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, tapi ia yakin Adnan akan mencintainya suatu saat nanti.
__ADS_1
"Yaudah, ayo, nanti kita ke rumah Mama kemalaman lagi," Alisha lebih dulu beranjak ke luar kamar karena sepertinya Adnan masih enggan untuk berdiri dari duduknya. Tak urung Adnan pun mengikuti Alisha yang sudah lebih dahulu ke luar kamar.