Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Cantika


__ADS_3

Setelah kepergian sang Mama, Alisha memutuskan untuk bertemu dengan Dani dan kawan-kawan. Ia sengaja menghindari ajakan sang Mama karena dia mempunyai acara sendiri dengan teman se-gengnya. Kesempatan, karena sang Papa sedang ada pertemuan dengan klien, padahal ini tanggal merah, masih saja Papanya itu bekerja. Seperti tidak ada hari lain saja, kadang Alisha merasa heran sendiri.


Karena tidak bisa membawa mobil sendiri, Alisha pun memutuskan untuk memesan ojek online saja, hanya sampai perempatan depan komplek, di sana Dani sudah menunggu, karena dia tidak mau Dani datang ke rumah, sudah di pastikan akan membuat masalah ini semakin rumit.


"Kemana dulu Sha?" tanya Dani saat mereka sudah berada di dalam mobil. Ya, Alisha menyuruh Dani untuk membawa mobil, sedangkan yang lain memakai motor meraka masing-masing. Karena Alisha dan Dani akan belanja terlebih dahulu sebelum ke suatu tempat yang mereka tuju.


"Kita beli alat tulis dulu aja, ya seperti biasalah, Lo tau sendiri, kan?"


Akhirnya mereka berdua terlebih dahulu membeli perlengkapan alat tulis, lalu membeli beberapa makanan ringan, pakaian dan beberapa mainan. Uang sepuluh juta itu mereka belanjakan sebagian dan sebagian lagi akan mereka berikan secara cash untuk kebutuhan anak-anak.


Tepat pukul sepuluh mereka sampai di sebuah perkampungan penduduk, mereka menuju suatu tempat yang letaknya paling ujung di kampung tersebut. Sebuah bangunan sederhana tapi menyejukkan apalagi keceriaan anak-anak yang jelas terlihat sejak masuk ke area tersebut. Bangunan bertulisan "Panti Asuhan Bunda" itu terlihat bersih, menyegarkan mata yang memandang.


Seorang gadis kecil berlari ke arah Alisha, ketika mengetahui dia datang. Alisha mensejajarkan dirinya dengan gadis kecil yang kira-kira berusia lima tahun itu.


"Kakak, aku kangen," ucap gadis itu yang sudah berada dalam pelukan Alisha.


"Kakak juga kangen sama kamu, maaf ya Kakak jarang ke sini," ucap Alisha penuh penyesalan.


Sedangkan beberapa teman Alisha termasuk Dani lebih memilih melanjutkan perjalanan, masuk ke dalam bangunan tersebut.


"Kakak cantik kok enggak ikut Kak?" tanya bocah kecil itu, yang kini sudah Alisha gendong.


"Kakak cantik sibuk sayang, kapan-kapan pasti ke sini kalau sudah enggak sibuk," jawab Alisha. "Kakak punya boneka baru buat kamu," tambahnya.


Alisha memberikan paper bag pada gadis kecil itu setelah mereka duduk di sebuah kursi panjang depan bangunan panti. Gadis kecil itu pun membuka paper bag pemberian Alisha dengan suka cita, dan setelah membuka isinya membuat dia lebih bergembira lagi karena mendapatkan boneka yang dia inginkan sejak dulu. Boneka berwarna hijau muda, imut menggambarkan karakter katak yang lucu, apalagi jika bukan boneka kerropi.


"Makasih Kakak," gadis itu kembali memeluk Alisha, kini lebih erat di banding pelukan pertama tadi.

__ADS_1


"Iya sama-sama sayang," Alisha membalas pelukan gadis kecil itu. "Sekarang kita temui teman-teman yang lain ya, Kakak juga bawa banyak mainan lainnya," tambahnya, lalu kembali menggendong gadis itu masuk ke dalam ruangan panti.


Alisha teringat saat pertama kali bertemu dengan gadis kecil ini, setahun yang lalu, saat dia datang ke panti asuhan tersebut bersama keluarga untuk membagikan makanan perayaan ulang tahunnya. Saat itu gadis kecil yang ada dalam gendongannya ini sedang duduk termenung di sebuah ayunan sambil memeluk boneka Teddy bear bertulisan 'Love Cantika' di perutnya, sepertinya memang sengaja di desain khusus untuknya, Alisha bisa melihat gurat kesedihan dalam mata kelam gadis kecil itu, dia seperti memikul beban berat, tapi entah apa dia tidak tahu. Gadis itu memilih menyendiri bahkan saat teman-teman yang lain sedang menikmati makanan, dia hanya membisu dan tidak mau masuk ke dalam panti.


Alisha mendekati gadis kecil tersebut, "Halo Adek cantik, siapa namanya?" tanyanya sambil berjongkok di depan gadis itu.


Dia bergeming, bahkan tak menghiraukan kehadiran Alisha, membuat Alisha berinisiatif mengelus rambut panjang si gadis kecil.


"Adek cantik, kenapa diam? Cerita dong sama Kakak, Kakak orang baik kok,"


Masih saja bergeming


"Oke, gimana kalau mulai hari ini kita berteman? Mau kan jadi teman Kakak?" Alisha masih mencoba berbicara dengan gadis kecil itu.


"Cantika, ada Kakak yang mau berteman sama Cantika tu," suara dari arah belakang Alisha.


Alisha menoleh, ternyata seorang wanita paruh baya dengan pakaian tertutup serta kepala yang tertutup hijab, membawa mangkok yang Alisha tebak isinya makanan untuk gadis kecil di hadapannya.


"Lho kok nangis, kenapa Dek?" tanya Alisha lalu ia memangku gadis itu dan memeluknya, gadis itu terus bergumam dan menangis menyebut nama Mama dan Papanya.


"Dia kenapa Buk?" tanya Alisha pada ibu pengasuh yang tadi datang.


"Kasihan sekali Dia Mbak, dia baru tiga hari di sini, kedua orang tua dan Kakak-Kakaknya meninggal karena rumah mereka kebakaran, sepertinya dia tidak punya keluarga lagi dan akhirnya petugas membawa Cantika ke sini,"


"Kata petugas, waktu kebakaran terjadi Cantikan menginap di rumah temannya, jadi dia tidak menjadi korban, tapi saya kasihan, sudah tiga hari pula dia tidak mau makan, kadang mau tapi dengan bujuk rayu,"


Tanpa terasa buliran bening menetes di pelupuk mata Alisha, dia merasa iba dengan nasib gadis kecil ini. Bahkan di usia yang masih balita dia harus hidup sendiri tanpa adanya orang tua mau pun saudara. Alisha makin mendekap erat tubuh Cantika, ia ikut menangis merasakan apa yang di rasakan oleh Cantika.

__ADS_1


"Kakak kenapa ikut nangis?" tanya Cantika, membuat Alisha semakin mendekapnya.


"Kakak sayang sama Cantika, mau ya kita berteman, anggap saja Kakak ini kakaknya Cantika," ucap Alisha.


"Tapi semua Kakakku laki-laki Kak," jawab polos Cantika


"Oke, karena semua Kakak Cantika laki-laki, jadikan Kak Shasa Kakak perempuan cantikan, bagaimana?" Alisha masih membujuk Cantika.


Cantika mengangguk, dia kembali memeluk Alisha.


Pengurus panti itu tersenyum melihat interaksi Alisha dan Cantika, akhirnya Cantika mau di ajak bicara oleh orang lain. Bahkan setelah itu, mereka berdua semakin akrab, Cantika menampakkan senyum cerianya.


Alisha sempat memohon sama Papa dan Mamanya untuk membawa Cantika, tapi pihak panti tidak mengijinkan.


"Maaf Pak, Buk, Mbak Alisha, sesuai prosedur Cantika belum boleh di adopsi sampai dua tahun lamanya, karena siapa tahu dia di cari oleh saudaranya, jadi untuk saat ini belum bisa, kalian bisa mengadopsi setelah dua tahun kemudian," ucap pengasuh panti kala itu, membuat Alisha sedikit berat meninggalkan Cantika.


Saat kedua orang tua serta adik dan saudara kembarnya akan pulang, Alisha lebih memilih tinggal sejenak di panti, membujuk Cantika supaya mau di tinggal pulang.


"Kakak janji besok akan ke sini lagi, Cantika mau apa? Nanti kakak belikan, bagaimana?" Alisha membujuk Cantika supaya mau di tinggal pulang, karena gadis kecil itu masih menangis dalam gendongannya. Padahal waktu sudah malam, tapi Cantika belum mau di tinggal pergi.


"Tapi Kakak janji ya, besok ke sini,"


"Iya sayang, Kakak janji. Mau di bawakan apa?" tanya Alisha.


"Aku mau coklat Kak, mau inder Joy yang banyak," sepertinya gadis kecil itu sering membeli coklat yang biasa terpampang di dekat kasir mini market.


"Oke, besok Kakak bawakan yang banyak," timpal Alisha.

__ADS_1


Sejak saat itu dia tiap hari datang ke panti, kadang sendirian kadang bersama sepupunya Yesha, tak jarang juga mengajak teman-teman gengnya untuk menghibur Cantika dan berhasil, gadis kecil itu sudah melupakan kejadian naas yang menimpa kedua orang tuanya serta kedua Kakaknya.


Tapi sejak sudah dua Minggu ini Alisha tidak mengunjungi Cantika karena sibuk kuliah. Dan permintaan terahir Cantika, minta di bawakan boneka keroppi yang tadi di bawa oleh Alisha.


__ADS_2