
Yang terjadi selanjutnya kembali membuat Adnan tercengang.
"Ah, kenyang banget rasanya," ucap Alisha tanpa dosa sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Adnan yang tadinya fokus dengan pekerjaannya, menoleh ke arah sang istri. Melihat meja yang ada di hadapan Alisha masih di penuhi oleh makanan tersebut bahkan seperti belum ada yang tersentuh sedikitpun.
"Makanannya masih utuh gitu, kok udah kenyang?" tanya Adnan, ia menjadi was-was, takut jika sang istri menyuruhnya untuk menghabiskan makanan tersebut.
"Udah aku cicipi semua, tapi semuanya kurang pas, tiba-tiba perutku udah kenyang aja," jawab Alisha tanpa dosa.
"Terus semua makanan ini mau di kemanain, sayang? Di kasih orang tidak mungkin, kan? Udah kamu cicipi semua, di buang juga tidak mungkin," tanya Adnan, ia tidak mau membuang makanan tersebut, jika di berikan pada orang lain juga tidak mungkin karena makanan itu bekas Alisha, tentu saja tidak patut menurutnya jika di berikan orang lain.
"Kan aku tadi udah bilang, kamu yang harus menghabiskannya," jawab Alisha tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Adnan membulatkan matanya, ia mengelus perutnya yang masih kenyang, lalu menggelengkan kepala. Tidak mungkin bisa ia menghabiskan makanan itu semuanya, rasanya tidak sanggup, entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa mual saat membayangkan menghabiskan makanan sebegitu banyaknya. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya menuju kamar mandi.
"Lho kenapa Mas? Belum juga makan udah muntah duluan," Alisha mengikuti langkah Adnan menuju kamar mandi, ia terkejut mendapati sang suami mengeluarkan isi perutnya. Lalu ia memberikan segelas air minum hangat ke hadapan Adnan yang telah mencuci wajah dan mulutnya.
"Aku enggak sanggup makan sebanyak itu, ngebayangin aja udah mual apa lagi makan, apa kamu tega sama suamimu ini?" tanya Adnan setelah meneguk habis air dalam gelas.
Alisha menghembuskan nafas, "Yaudah bawa pulang aja, kasih Bik Ana and friend," usul Alisha. "Tadi aku mencicipi nya pake sendok kok, jadi enggak kotor," tambahnya.
Adnan mengangguk, ia bersyukur telah lolos dari musibah yang sudah berada di depan mata. Entah kenapa ia merasakan sebaliknya, tidak ***** makan seperti biasanya, bahkan makanan yang ia makan tidak boleh sembarangan. Apa mungkin dirinya juga ngidam? Ah, tapi rasanya tidak mungkin sekali, pikirnya.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Sore ini mereka berdua menuju rumah sakit dokter Hanny, dokter itu tadi membalas pesan Alisha dan memberi tahu jika ia ada waktu luang setelah sholat asar hari ini. Adnan bisa bernafas lega setelah mengetahui kabar tersebut, rasanya ia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan perut Alisha.
"Wah, keponakan Tante, gimana kabarnya?" dokter Hanny memeluk Alisha saat mereka bertemu di loby rumah sakit. Kebetulan dokter Hanny baru saja dari masjid untuk melaksanakan sholat asar.
"Alhamdulillah, baik Tan," jawab Alisha membalas pelukan dokter Hanny.
"Yuk langsung masuk ruangan Tante aja," dokter Hanny menggandeng Alisha menuju ruangannya. Sedangkan Adnan terus mengikuti dua wanita berbeda generasi itu. Entah apa yang mereka obrolkan sepertinya menarik sekali. Bahkan mereka masih mengobrol hingga masuk ke ruangan dokter Hanny.
Asisten dokter Hanny mulai memeriksa Alisha, dari mulai tekanan darah, tinggi badan, berat badan dan sebagainya. Setelah selesai, menyuruh Alisha untuk berbaring di tempat tidur.
"Maaf ya Buk, saya harus membuka pakaian Ibu di bagian perut, untuk di periksa oleh Bu dokter," Alisha mengangguk, membiarkan suster itu membuka dress nya sampai di bagian atas perut, sedangkan bagian kaki di selimuti dengan selimut rumah sakit. Setelah itu mengoleskan gel ke perut Alisha.
Seketika Alisha dan Adnan menoleh ke arah layar tersebut, tanpa terasa kristal bening meluncur tanpa permisi dari pelupuk mata Alisha. Calon ibu itu terharu melihat janinnya untuk pertama kali, ia seakan tidak percaya jika di dalam perutnya sedang tumbuh buah cintanya dengan sang suami. Alisha menggenggam erat tangan Adnan, dan Adnan pun membalas genggaman tangan Alisha. Ia juga tidak jauh berbeda dengan sang istri, merasa tidak percaya jika sebentar lagi akan menjadi Papa seutuhnya dari anak yang ada di dalam perut istrinya.
"Dari hasil USG tadi, bayinya sehat, perkembangannya juga bagus. Usianya saat ini sudah sembilan Minggu, berart sudah dua bulan ya," terang dokter Hanny.
Adnan dan Alisha terkejut mendengar penuturan dokter Hanny yang ternyata bayinya sudah dua bulan, tapi kenapa Alisha tidak merasakan apa pun, hanya beberapa hari ini saja dia merasakannya.
Sepertinya dokter Hanny paham jika sepasang suami istri di hadapannya ini terkejut mendengar penuturannya, "Apa kalian baru mengetahui kalau Alisha hamil?" tanyanya
"Iya Tan," jawab Alisha.
__ADS_1
Dokter Hanny tersenyum, lalu mengangguk, "Biasa terjadi emang, mungkin sebenarnya ada tanda-tandanya, tapi kalian berdua belum merasakan dan baru merasakan akhir-akhir ini, tidak masalah yang penting bayinya sehat, ibunya juga sehat," Dokter Hanny memperhatikan Alisha yang tampak segar bugar.
"Cuma anehnya kenapa saya yang sering mual dan muntah ya Dok? Kalau liat istri saya makan rasanya saya yang mual sendiri, tapi dia yang hamil baik-baik aja," Adnan memaparkan apa yang ia rasakan saat ini.
Dokter Hanny kembali tersenyum, "Itu namanya Sindrom Couvade atau sering disebut kehamilan simpatik, dimana sang suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan sang istri, pemicunya biasanya karena stress dan rasa empati suami kepada sang istri yang sedang mengandung," jelas dokter Hanny.
"Apa tidak berbahaya Dok?" tanya Adnan lagi, jujur ia takut jika itu berbahaya, tapi jika tidak ia akan merasa bersyukur. Tidak masalah jika dia yang harus mengalami muntah-muntah tiap hari asalkan sang istri dan janinnya baik-baik saja.
"Tidak masalah, itu sudah banyak terjadi, jadi tidak usah khawatir," jawaban dari dokter Hanny membuat sepasang suami istri itu bernafas lega.
"Tante jadi teringat saat Icha hamil untuk pertama kalinya, Papa kamu sering curhat sama Tante, kalau Mama kamu itu permintaannya aneh-aneh, dan Al kalang kabut kalau istrinya merajuk karena dia tidak bisa memenuhi permintaan istrinya. Padahal mereka dulu masih sama-sama sekolah, lucu memang, tapi sayangnya bayi pertama mereka lebih memilih ke surga sebelum melihat dunia," dokter Hanny menerawang jauh, saat masih menangani kehamilan Icha.
Alisha terkejut karena ia baru tahu hal tersebut, Mamanya tak pernah bercerita tentang kehamilan pertamanya itu. "Emang Mama kenapa Tan? Aku baru tahu cerita itu, aku kira Mama punya anak pertama Aku dan Bang Aufa,"
"Oh jadi Mama kamu tidak pernah cerita ya, baguslah. Itu masa lalu, yang penting kalian jaga bayi yang ada di dalam perut Alisha, jangan berbuat yang aneh-aneh, ingat ada bayi dalam perut kamu, jangan balapan motor lagi," ternyata dokter Hanny mengetahui kelakuan Alisha.
Alisha hanya menyengir, tentu saja ia malu ternyata Tantenya itu mengetahui kelakuan nakalnya.
"Tenang aja Dok, sudah ada pawangnya, sekarang tidak berani balapan lagi," celetuk Adnan.
"Bagus, jaga Alisha dan bayinya ya,"
Setelah mengobrol cukup lama di ruang dokter Hanny, akhirnya mereka pun pulang dengan Alisha yang masih kepikiran akan cerita dokter Hanny tentang kehamilan Mamanya yang keguguran itu, ia akan bertanya pada Mama jika mereka bertemu nanti.
__ADS_1