
Zoya baru terbangun dari tidurnya saat jarum jam sudah menunjukan hampir pukul sepuluh pagi. Zoya sama sekali tidak terlihat panik memikirkan toko nya jika dia terlambat datang, sebab sudah ada beberapa pegawai yang bekerja dengannya dan tentunya ada Uci yang akan membuka toko tanpa harus menunggunya.
Zoya bersyukur dengan apa yang dimilikinya sekarang, Zoya bisa menghidupi dirinya sendiri, mempekerjaakan beberapa pegawai dan juga tak lagi menerima pemberian dari keluarga Sandjaja setelah Zoya mempunyai pemasukan sendiri.
Namun, dibalik itu semua Zoya sadar jika semua yang berhasil diraihnya tak lepas dari bantuan keluarga Sandjaja dan tentunya dari Tuhan yang kuasa.
Dari luar sana, wangi masakan tercium oleh Zoya. Zoya tersenyum dibuatnya dan bergegas turun dari tempat tidur, membersihkan diri sebelum akhirnya keluar dari kamar.
"Selamat pagi, Bi." Dengan senyum ceria di wajahnya, Zoya menyapa wanita yang sudah menemaninya sejak orang tuanya meninggal itu.
"Pagi menjelang siang, cantiknya bibi," balas wanita berusia empat puluh tahun, bernama Desi itu.
Desi adalah seorang janda yang telah kehilangan anak dan suaminya dalam kecelakaan. Sama-sama kehilangan orang yang dicintai membuat hubungan Zoya dan Desi sangat dekat, kasih sayang yang tulus ada di diri mereka untuk satu sama lain.
"Kamu tidak ke toko?" tanya Desi sembari menata hasil masakannya di atas meja makan.
"Sebentar lagi, Bi. Wah....." Mata Zoya berbinar melihat salah satu menu kesukaannya ada di atas meja, yaitu gulai jengkol daun singkong.
"Makanlah, kamu belum makan sejak semalam," ucap Desi selalu memanjakan Zoya, gadis cantik yang tubuh dengan begitu baik bersamanya.
Satu jam berlalu, saat ini Zoya sudah tiba di depan tokonya, Galeri Zoya. Motor kesayangannya sudah parkir dengan cantiknya di depan toko, Zoya melangkah masuk ke dalam tempat mencari rejekinya itu.
“Selamat siang, Kak Zoya” Beberapa pegawai menyapanya saat itu.
“Terima kasih, selamat siang,” balasnya pada empat orang karyawannya, tidak termasuk Uci–sahabat Zoya.
“Kenapa terlambat, Zo?" tanya Uci menghampiri Zoya.
"Kesiangan," jawab Zoya terkekeh.
__ADS_1
"Zo, kapan barang terbaru masuk?" tanya Uci mengikuti Zoya ke ruangan Zoya.
"Mungkin lusa, kenapa?"
"Banyak sekali dm yang masuk bertanya barang baru," jawab Uci yang bertugas dalam mengelola keuangan dan pesanan dari sosmed.
"Lusa masuk. Oh ya, Ci. Jangan lupa adakan discount untuk sisa barang yang sekiranya susah keluar, jual harga modal yang penting keluar, daripada nggak laku," ucap Zoya yang diangguki mengerti oleh Uci.
Uci keluar dari ruangan Zoya setelah selesai dengan urusannya di sana. Meninggalkan Zoya yang kembali mengingat tentang apa yang terjadi padanya saat bertemu dengan Liam. Zoya sungguh tidak ingin berurusan lagi dengan pria kasar seperti Liam. Dia tidak ingin menghancurkan hidupnya dengan menikahi pria lumpuh dengan sifat yang sangat buruk seperti itu. Zoya tidak ingin menghancurkan hidupnya dengan menikahi Liam.
Zoya menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menghapus kenangan Liam dari ingatannya. Dia kembali fokus pada laporan yang ada di depannya.
Entah lelucon macam apa ini. Mengapa takdir seolah-olah begitu kejam padanya? Setelah kehilangan kedua orang tuanya, kini ia diminta untuk melakukan sesuatu hal yang belum tentu bisa membuatnya tersenyum. Tidak bisakah Tuhan memberinya kebahagiaan yang utuh? Ah, tidak. Maksudnya menurunkan jodoh yang setidaknya bisa mengukir senyum di wajahnya.
"Sudahlah, lupakan semua itu, Zoya. Tante Wulan pasti bisa mengerti," gumamnya.
***
Zoya keluar dari restoran sembari membawa beberapa kotak makanan di tangannya. Langkah Zoya terhenti saat suara seseorang memanggilnya.
"Mas Damar," ucapnya tersenyum menatap Damar yang juga tersenyum menatapnya.
"Senang kembali bertemu," ucap Damar.
"Sudah mau pulang?" sambungnya bertanya yang diangguki oleh Zoya.
"Ayo aku bantu!" tawar Damar.
"Terima kasih, aku bisa sendiri, Mas." Zoya menolak secara halus.
__ADS_1
“Tidak masalah, aku senang melakukannya.” Damar merebut barang bawaan Zoya.
"Mas...," cicit Zoya.
"Aku ingat. Tenang saja, mana kunci motormu! Aku akan mengantarmu," ucap Damar mengerti apa yang Zoya pikirkan.
“Tapi tetap saja, kamu tidak harus melakukan ini. Itu jelas akan sangat merepotkanmu," tolak Zoya yang tidak ingin Damar mengantarnya dengan motor lalu bagaimana cara Damar pulang sedangkan mobil Damar terparkir di depan restoran.
“Kenapa? Aku menganggap kamu temanku, teman terbaikku. Apa aku tidak boleh membantu temanku sendiri? Atau kamu masih menganggapku orang asing?” tanya Damar yang berhasil membuat Zoya serba salah.
“Aku ....”
“Tolong jangan menganggapku orang asing, Zoya. Itu hanya akan menciptakan batas antara aku dengan dirimu. Aku ingin lebih dekat denganmu. Jadi aku mohon, izinkan aku mendekatimu sekarang. Setidaknya jika kamu belum siap, maka izinkan aku menjadi temanmu. Apakah itu terlalu berlebihan untukmu, Zo?” tanya Damar yang benar-benar berharap Zoya bisa memberinya kesempatan untuk jauh lebih dekat dengannya.
“Baiklah, kita berteman sekarang. Terima kasih karena mau membantuku.” Zoya rasa tidak ada salahnya memberikan Damar kesempatan. Lagi pula dia sudah cukup dewasa untuk menjalin hubungan dekat dengan seorang pria.
Memikirkan itu, Zoya lagi-lagi kembali teringat tentang Liam dan tawaran yang di berikan Wulan padanya. Entah kenapa, meskipun Zoya sudah berusaha melupakan semuanya, dia justru selalu teringat lagi dengan pertemuan kurang menyenangkannya dengan Liam juga apa yang Wulan katakan sebelum dia pergi.
Zoya segera menghela nafas dan kembali menggelengkan kepalanya. Tidak seharusnya dia memikirkan semua itu lagi sekarang. Bukankah dia sudah memilih untuk menolak semua tawaran yang di berikan Wulan padanya. Lalu untuk apa dia memikirkan semuanya lagi.
Tingkah aneh Zoya tentu terlihat oleh Damar yang sejak tadi menatapnya. Damar tentu bertanya-tanya apa yang sedang Zoya pikirkan sekarang.
“Kenapa, Zoya? Apa ada masalah?” tanya Damar yang ingin tahu apa yang di pikirkan Zoya sekarang.
“Tidak ada, semuanya baik-baik saja. Ayo!" jawab Zoya sembari memberikan kunci motornya.
“Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu saat ini?” Damar masih merasa sangat penasaran, dan kembali bertanya.
“Aku baik-baik saja, Mas. Tidak ada masalah apa-apa. Sekarang ayo kembali ke toko! Sebelum mereka membeli makanan sendiri dan membuat ini sia-sia," ucap Zoya mengakhiri pembicaraan itu.
__ADS_1