
Dalam sebuah ruangan, terlihat seorang pria yang terus memberontak dan mengamuk di atas tempat tidur. Semua perawat yang ada di sana, sengaja mengikat tangan dan kaki pria tersebut, agar dia tidak bisa pergi dan menyakiti dirinya sendiri. Lelaki itu adalah Liam, dia sangat marah ketika mengetahui tangan dan kakinya terikat. Karena dia merasa, kondisinya itu dianggap seperti orang gila yang sering mengamuk.
“Lepaskan aku!” teriak William marah pada beberapa perawat yang ada di ruangannya.
“Tuan Liam, tolong tenang dulu, kami melakukan semua ini untuk kebaikan, Tuan. Anda belum boleh terlalu banyak bergerak, karena kondisi tubuh Anda sangat lemah. Kami juga harus memasang infus di tangan Anda. Tolong kerja samanya, Tuan,” ucap salah satu perawatan perempuan yang ada di sana. Tampak jelas tubuhnya sudah gemetar, karena Liam terlihat sangat menyeramkan sekarang.
“Aku tidak peduli, lepaskan aku, sialan. Aku ingin pergi, biarkan aku pergi. Kalian tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!” bentak Liam lagi. dia sangat membenci aroma rumah sakit. Karena di tempat ini semua harapannya telah hilang saat dokter mengatakan dia lumpuh dan keadaannya sangat buruk sehingga sulit baginya untuk sembuh.
Leila yang mendengar keributan di dalam ruangan Liam, segera masuk ke dalam untuk melihatnya. Dia dapat melihat keadaan Liam yang sangat menyedihkan, dapat terlihat jelas, darah yang mengalir dari bekas infus yang terpasang di tangannya. Itu berarti Liam berusaha secara paksa melepaskan selang infus yang tertancap di tangannya.
Wajar bila para perawat mengikatnya sekarang, agar dia tidak bisa menyakiti dirinya sendiri lagi. Melihat semua ini membuat Leila merasa sangat sedih. Dia tidak menyangka kalau Liam sampai harus dirawat seperti ini. Meskipun berada di rumah, Liam tetap tidak baik-baik saja. Tetapi kali ini, dia terlihat jauh lebih parah dari sebelumnya.
“Tuan Liam, tenangkan diri Anda. Biarkan para petugas medis di sini membantu Anda. Karena tubuh Anda masih sangat lemah. Tolong jangan memaksakan diri Anda seperti ini. Karena sikap Anda ini tidak akan membuat Anda cepat meninggalkan tempat ini. Jadi saya mohon tenanglah,” pinta Leila padanya. Dia tidak tahu apakah cara ini akan berhasil atau tidak. Karena biasanya hanya ini yang bisa menenangkan amukan putra majikannya tersebut.
__ADS_1
“Omong kosong apa yang kamu katakan, Leila? Mereka jelas menyiksa diriku sekarang. Apa mereka pikir aku adalah orang gila, sehingga mereka harus mengikatku seperti ini. Suru mereka untuk melepaskanku, Leila. Aku ingin pergi dari sini. Aku benci tempat ini. Cepat suruh mereka untuk melepaskan aku, Leila!” titah Liam pada Leila. Wanita yang sejak kecil juga merawatnya. Kepala pelayan yang menempati posisi istimewa di hatinya. Sebab Leila lebih banyak waktu bersamanya daripada orang tuanya sendiri.
“Maafkan saya, Tuan. Tetapi Anda belum bisa meninggalkan rumah sakit sekarang. Sebab tubuh Anda masih begitu lemah untuk bisa kembali pulang. Anda harus berada di sini, lagi pada dokter bisa merawat Anda dengan baik. Jika Anda ingin cepat kembali ke rumah, maka Anda harus mengikuti segala instruksi yang mereka berikan. Tolong jangan menyiksa diri Anda seperti ini lagi, Tuan.” Leila bahkan tidak tahan melihat kondisi Liam sekarang.
Air mata Leila menetes, melihat pria yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, terbaring begitu rapuh di atas tempat tidur. Tubuhnya terlihat sangat kurus, dengan matanya yang terlihat begitu cekung. Kulitnya juga sangat pucat. Tatapan matanya tajam tetapi kosong. Seakan-akan tidak ada lagi nyawa di dalam tubuh tersebut. Pria gagah dan tampan yang dulu dia kenal, sekarang telah menghilang.
Liam bahkan tidak lagi terlihat tenang seperti dulu. Sekarang dia sangat temperamental dan sering mengamuk. Membuat siapa saja enggan berada dekatnya. Hal inilah yang membuat Leila semakin bersedih. Karena dia telah kehilangan tuan muda kesayangannya selama beberapa bulan terakhir ini. Putra yang seharusnya sudah menjalani kehidupan baru dan bahagia bersama wanita yang dicintainya. Tetapi takdir begitu kejam merebut semuanya dari Liam. Hingga Liam menganggap tidak ada lagi yang tersisa di hidupnya.
“Aku tidak mau berada di sini, Leila. Tolong bawa aku pulang, aku akan melakukan apa saja, asalkan aku bisa meninggalkan tempat terkutuk ini. Aku mohon padamu, Leila.” Liam terlihat begitu lelah dengan raut wajah putus asa. Membuat Leila semakin sakit karenanya.
“Iya, Leila. Aku akan melakukan apa saja, Tapi tolong bawa aku keluar dari sini! Aku benar-benar tidak mau berada di sini. Aku benci tempat ini. Tolong bantu aku, Leila. Suruh mereka pergi dan biarkan aku kembali ke rumah!” pinta Liam sekali lagi. Dia berharap Leila mau mengabulkan keinginannya. Karena dia benar-benar ingin pergi dari sini. Dia yakin, Leila pasti lebih mudah dibujuk daripada ibunya. Karena dia sangat menyayangi Liam.
“Baiklah, saya akan bertanya kepada dokter sekarang, apakah Anda sudah diperbolehkan pulang atau belum. Anda tenanglah dulu, jangan seperti ini lagi. Jangan menyakiti diri Anda lagi, karena kalau tidak, saya juga tidak bisa membantu Anda keluar dari sini. Saya mohon Tuan bisa memikirkan semua ini dengan baik!” Leila memberikan saran kepada Liam, agar mereka bisa cepat meninggalkan rumah sakit ini. Karena Leila juga tidak suka berada di tempat seperti ini.
__ADS_1
“Iya Leila, aku akan melakukannya, sekarang cepatlah temui dokter, katakan padanya kalau aku ingin pulang. Aku tidak bisa melewati perawatan seperti ini. Karena mereka hanya ingin menyiksaku, mereka membuatku merasa seperti aku adalah orang gila. Aku tidak tahan berada di sini, Leila.” Liam mengeluhkan semua yang dia rasakan kepada Leila. Karena dia tahu, Leila menganggapnya seperti putranya sendiri. Jadi Leila pasti menginginkan yang terbaik untuknya. Walaupun saat ini Liam memanfaatkannya, tetapi dia tidak akan mencelakai Leila, jika Leila bisa membawanya keluar, maka Liam akan bersikap tenang.
Tanpa Liam sadari, bahwa ketika dia sedang berbicara dengan Leila, saat itu ada seorang perawat yang mendekat dan menyuntikkan obat penenang di lengannya. Karena Liam yang tidak fokus, dia bahkan tidak menyadari hal tersebut. Hingga akhirnya Leila benar-benar keluar, dan Liam perlahan-lahan mulai kembali tidur. Setelah itu barulah para perawat bisa kembali memasangkan selang infus di tangannya.
Sesuai janjinya, Leila segera menemui dokter yang merawat Liam. Karena dia ingin bertanya, apakah memungkinkan bagi Liam untuk kembali dirawat di rumah. Karena selama berada di rumah sakit, Liam juga tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan.
“Selamat malam, Dokter.” Leila segera duduk di hadapan dokter tersebut.
“Selamat malam, Nyonya Leila. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Tuan Liam?” Dokter tersebut tidak mendapatkan laporan kalau Liam mengalami masalah. Tetapi kenapa Leila datang menemuinya?
“Dokter, saya ingin bertanya, apakah Tuan Liam bisa kembali ke rumah malam ini? Dan melakukan perawatan di rumah saja? Karena selama berada di sini, Tuan Liam selalu merasa tidak tenang dan sering kali mengamuk, saya takut hal itu membuat mentalnya semakin buruk.” Leila mulai mengatakan semua keinginan Liam ke hadapan sang dokter.
“Asalkan dia mau bekerja sama untuk makan dengan teratur, dan juga minum obat dengan baik, dan Anda bisa memastikan bahwa dia tidak akan menyakiti dirinya sendiri lagi, maka saya bisa memberikan izin bagi Tuan Liam untuk kembali dirawat jalan di rumah. Tapi berdasarkan prosedur rumah sakit, hanya Nyonya Wulan atau pun tuan Javier yang bisa menandatangani surat tersebut. Jadi kita harus menunggunya, baru saya bisa memberikan surat itu kepada Anda.” Dokter tahu bahwa kondisi Liam hanya memerlukan perawatan yang tepat. Karena dia selama ini sedang menyiksa dirinya dengan tidak makan dan minum. Sehingga kondisinya begitu buruk, dan harus datang ke rumah sakit.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan menyampaikan itu pada Nyonya Wulan. Terima kasih, Dokter," ucap Leila sebelum akhirnya keluar dari sana.