Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 46


__ADS_3

Dua Minggu berlalu. Dengan bantuan Zoya, kini William mulai rutin melakukan terapi. Hampir setiap hari Zoya akan membawa William ke ruang terapi dan membantu William berjalan dengan tumpuan dua paralel bar. Zoya dengan setia mendampingi William tanpa berpikir menginginkan imbalan sedikit pun.


Seperti hari ini. Setelah selesai sarapan bersama, Zoya mendorong kursi roda William menuju ke ruang terapi. Setiap pagi Zoya mengajak William melakukan terapi karena dia berpikir kalau di pagi hari otot-otot William belum terlalu kaku dan kelelahan, berbeda jika mereka melakukannya di sore hari setelah William bekerja.


“Kamu coba berdiri pelan-pelan, ya, Mas,” ucap Zoya.


Gadis itu memegang tubuh William dari depan, untuk membantu menjaga keseimbangan tubuh William. William menurunkan kakinya satu per satu dari kursi roda, lalu berdiri. Usai berdiri, dia menumpukan kedua tangannya pada paralel bar yang terletak di dua sisinya. Setelah William bisa berdiri sendiri, Zoya sedikit demi sedikit mulai melepaskan tangannya.


“Zoya, kamu menyingkir. Hari ini kamu memantau saja dari depan sana. Aku akan berjalan sendiri,” ucap William.


“Apakah kamu yakin sudah bisa, Mas?” tanya Zoya, dia merasa khawatir karena belum yakin William bisa berjalan sendiri tanpa dia pegangi. Dia takut jika William sewaktu-waktu terjatuh seperti hari pertama mereka melakukan terapi.


“Aku yakin, Zoya. Aku sudah melakukan terapi dua Minggu. Seharusnya aku sudah mulai melakukannya sendiri supaya tidak selalu bergantung pada dirimu yang akan siap siaga menahan tubuhku,” ucap William, meyakinkan Zoya.


“Tapi, kamu hati-hati, ya, Mas?” tanya Zoya, memastikan sekali lagi.


William mengangguk. “Iya, aku pasti hati-hati,” jawab William.


Setelah mendengar jawaban William, gadis itu melangkah mundur. Paralel bar itu berukuran hampir empat meter. Zoya berdiri di ujung sambil berharap-harap cemas. Dia khawatir dengan William tapi dia juga senang karena William semakin bersemangat untuk melakukan terapi. Pria itu terlihat seolah dia sangat ingin sembuh secepatnya.


“Ayo, Mas. Semangat!!” seru Zoya, menyemangati William.


Perhatian dan sikap Zoya yang sangat suportif kepadanya membuat William perlahan merasa nyaman berada di dekat Zoya. Apalagi selama dua Minggu ini Zoya benar-benar membuat William bisa melihat ketulusan hatinya. Zoya tak pernah sekali pun berbuat kasar padanya atau merasa kesal saat membantu. Zoya bahkan selalu bersikap baik dan tulus membantu William melakukan terapi dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya.

__ADS_1


Setelah hampir satu jam melakukan terapi, Zoya mengantar William ke ruang kerjanya. Kini waktunya Zoya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah supaya hari ini dia bisa beristirahat lebih cepat.


Di dalam ruang kerjanya, William termenung. Dia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Zoya di hidupy. Apalagi sifat Zoya yang ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang selama ini William pikirkan juga membuat William tanpa sadar tak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Tapi, setiap kali dia mengingat ucapan Zoya waktu itu saat Zoya mengatakan kalau dia tahu tempatnya dan tidak akan merebut posisi siapa pun, entah mengapa William menjadi tidak tenang.


“Apa yang kau lakukan padaku, Zoya?” tanya William sambil memejamkan matanya.


*****


Zoya mengusap keringatnya. Gadis itu baru saja selesai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Sambil menunggu sore hari, ia memutuskan untuk menghubungi orang tua William untuk menyampaikan perkembangan terapi William.


“Halo, Mama,” sapa Zoya.


“Halo, Zoya. Bagaimana kabar kamu, Nak? Apakah Liam masih berbuat kasar dengan kamu?” tanya Wulan, khawatir mengingat apa yang terjadi saat mereka bertemu dua minggu yang lalu.


“Bagaimana, Zoya? Apakah ada perkembangan?” tanya Wulan.


Zoya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya meskipun dia tahu Wulan tidak bisa melihat hal tersebut.


“Mas Liam sekarang sangat bersemangat untuk terapi. Sekarang dia bahkan sudah mau mencoba melangkah sendiri tanpa aku bantu, Ma,” jelas Zoya.


“Benarkah?” Di seberang sana Wulan tampak berbinar-binar. Wanita paruh baya tersebut sangat senang mendengar kabar dari Zoya tentang perkembangan terapi William. “Aku sangat senang mendengarnya,” sambungnya.


Usai mendengar kabar dari Zoya, malam harinya Wulan menyampaikan hal tersebut pada suaminya. Kebetulan sekali besok adalah hari libur jadi dia ingin mengajak Ryan mengunjungi rumah William dan Zoya.

__ADS_1


“Papa mau mengunjungi Zoya dan Liam, ‘kan, besok? Aku ingin melihat apakah yang dikatakan Zoya benar atau tidak,” ucap Wulan antuasias.


Ryan mengangguk. “Iya, Ma. Lagi pula, sudah lama sekali kita tidak mengunjungi mereka. Papa juga tidak sabar melihat William berjalan,” jawab sang suami.


Keesokan harinya, Ryan dan Wulan mengunjungi rumah William dan Zoya. Zoya menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka. Mereka bertiga lantas mendampingi William melakukan terapi.


Melihat William bersemangat untuk lekas sembuh membuat Wulan senang. Dia tidak sabar melihat William bisa berjalan kembali. Tapi, jika membayangkan hal itu, dia jadi teringat ucapan Zoya beberapa waktu yang lalu kalau Zoya akan pergi setelah William sembuh.


Wulan melirik Zoya. Gadis itu tampak sangat bersemangat membantu William melakukan terapi. Apakah itu semua karena Zoya ingin buru-buru bercerai dari William? Perasaan Wulan jadi tak tenang dibuatnya 


“Zoya, Mama ingin berbicara dengan kamu,” ucap Wulan.


Zoya mengangguk kemudian ikut Wulan keluar dari ruang terapi, meninggalkan William dengan Ryan di sana. Wulan mengajak Zoya mengobrol sambil duduk di kursi tinggi dapur supaya William tidak dapat mendengar perbincangan mereka.


“Zoya, aku ingin bertanya tentang apa yang kamu katakan dua Minggu yang lalu. Apakah kamu masih berpikir akan meninggalkan Liam setelah dia sembuh?” tanya Wulan.


Memang setelah mengetahui bagaimana perlakuan yang Zoya terima dari William membuat Wulan menyesal telah menjodohkan mereka berdua. Tapi jauh di dalam lubuk hati Wulan, dia tetap ingin Zoya menjadi menantunya. Dia sangat menyayangi Zoya dan mengenal bagaimana sifat Zoya sampai Wulan berpikir kalau Zoya adalah menantu yang sempurna.


Zoya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Wulan. “Ma, perasaan kami tidak bisa bersatu. Aku hanya ingin membantu Mas Liam sampai dia sembuh sebagai rasa berterima kasih kepada Mama dan Papa,” ucap Zoya. Dia berterus terang, tak ada yang ingin dia tutupi.


“Zoya, perasaan bisa tumbuh seiring berjalannya waktu,” ucap Wulan.


Zoya mengedikkan bahunya. “Mungkin, Ma. Tapi, untuk saat ini aku hanya ingin membantu kesembuhan Mas Liam. Kalau pun suatu saat nanti Tuhan ingin kami bersama, pasti Tuhan akan menyatukan kami. Tapi kalau tidak, kita bisa berbuat apa? Aku pun belum memiliki perasaan apa-apa untuk Mas Liam,” balas Zoya sambil tersenyum.

__ADS_1


Wulan memahami apa yang dibicarakan oleh Zoya. Namanya cinta tidak akan bisa dipaksakan. Untuk itu pulalah, Wulan tidak akan memaksa.


__ADS_2