
“Bodoh! Kenapa aku bisa memeluk Liam!” gerutu Zoya di dalam kamar mandi, merutuki kebodohannya sendiri. “Untung saja Liam masih tidur. Kalau dia sudah bangun bisa-bisa dia mengamuk karena aku seenaknya memeluk dia seperti itu,” sambungnya seraya memukul dahinya pelan.
Wajah gadis itu memerah karena rasa malu. Dia menutup mukanya dengan kedua tangan, malu tatkala bayangan tentang apa yang tadi dia lakukan kembali memenuhi pikirannya. Rasanya Zoya ingin menenggelamkan diri di Segitiga Bermuda supaya tidak perlu bertemu dengan William lagi. Dia benar-benar malu dengan apa yang tadi dia lakukan meskipun dia paham seratus persen kalau dia tadi melakukannya di alam bawah sadarnya.
“Oke, Zoya, tenangkan dirimu. Liam tidak tahu tentang hal ini. Jadi, sebaiknya kau bersikap biasa saja supaya Liam tidak curiga. Bersikaplah seolah tidak ada yang terjadi tadi,” ucap Zoya kepada dirinya sendiri seraya menarik napas dalam-dalam.
Setelah selesai menenangkan diri, Zoya berjalan menuju ke arah shower dan membersihkan tubuhnya. Gadis itu perlu mandi untuk menenangkan kepalanya supaya tidak menegang memikirkan insiden pagi ini.
Usai mandi, Zoya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono dan handuk yang melilit rambutnya. Gadis itu tersentak melihat William yang sudah bangun dan kini tengah duduk sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
“Kamu sudah bangun, Mas?” tanya Zoya, masih belum mengedipkan matanya.
William menyipitkan matanya. “Kamu kenapa terkejut seperti itu? Seperti melihat hantu saja,” cibir William. Meskipun wajahnya tampak datar, sebetulnya William sedang menahan tawanya sebab dia tahu kalau Zoya pasti bersikap seperti itu karena Zoya malu dengan insiden pagi ini di mana Zoya terbangun dengan posisi memeluk tubuh William.
“A-ah, tidak. Aku hanya kaget saja karena aku pikir ini masih subuh tapi ternyata kamu sudah bangun. Sepertinya aku kesiangan,” ucap Zoya, lalu pergi menuju ke walk-in-closet.
Saat hendak mengganti pakaiannya, dia teringat sesuatu yang harus dia bicarakan kepada William tentang sebuah undangan pesta yang harus dia hadiri malam ini. Zoya pun lantas keluar dari walk-in-closet dan menemui William kembali.
“Mas, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucap Zoya, memulai percakapan.
William melirik ke arah Zoya. “Ada apa?” tanyanya singkat.
__ADS_1
“Aku ingin izin pergi malam ini untuk menghadiri pesta salah satu pelanggan di galeriku,” ucap Zoya sambil menggigit bibir bawahnya.
“Siapa?” tanya William sambil menaikkan sebelah alisnya. Seingat William tidak ada petugas pos yang mengantarkan undangan ke rumahnya. Lalu, di mana Zoya mendapatkan undangan pesta? Atau ... apakah mungkin gadis itu berbohong supaya bisa pergi dengan Damar? Lagi-lagi kecurigaan William membuat pria itu kesal dengan Zoya.
“Beberapa hari lalu aku menerima undangan online dari salah satu pelanggan galeriku. Kebetulan alamat pesta diadakan tidak terlalu jauh dari sini jadi aku bisa berjalan kaki ke sana,” jawab Zoya.
William heran dengan Zoya. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi dengan gadis itu sampai dia merasa sangat ketakutan untuk berkendara atau pun pergi menempuh jarak yang cukup jauh. Bahkan saat pertama kali dia membawa Zoya ke rumah ini, Zoya juga tampak gelisah dan gemetar. Awalnya William pikir kalau Zoya hanya berakting saja, tapi lama kelamaan, dia jadi bertanya-tanya tentang apa yang membuat Zoya takut berkendara.
“Jangan harap aku akan menemani kamu pergi,” ucap William dengan sinis. Pria itu menyipitkan matanya. Dia sangat percaya diri kalau Zoya akan mengajaknya ke pesta. Kalau dugaannya benar, dia akan membuat Zoya memohon padanya supaya William bersedia datang dengan Zoya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
“Aku hanya berpamitan, Mas. Aku tidak berharap kamu akan ikut,” jawab Zoya santai.
“Oh, jadi karena aku lumpuh kamu tidak ingin aku ikut denganmu? Aku tidak menyangka kalau kamu ternyata malu memiliki suami lumpuh seperti aku. Bukankah kamu berkata akan mendampingiku sampai aku sembuh?” tanya William, menatap tajam ke arah Zoya.
“Mas, aku tidak bermaksud seperti itu. Kamu jangan salah paham. Aku hanya—”
“Hanya apa, Zoya? Hanya tidak ingin orang lain tahu kalau suamimu adalah pria cacat?” tanya William, memotong ucapan Zoya yang hendak menjelaskan tentang maksud ucapannya.
“Mas, kami salah paham,” ucap Zoya. “Aku pasti ingin mengajak kamu. Tapi, aku tidak tahu kalau kamu ingin ikut. Lagi pula kamu juga tadi bilang kalau kamu tidak mau ikut, bukan?” Zoya balik bertanya, menyudutkan William.
__ADS_1
Tapi, bukan William namanya kalau dia tidak bisa membalik ucapan Zoya. Pria itu punya seribu cara untuk bisa membuat Zoya bungkam di hadapannya.
“Jujur saja, Zoya. Aku tahu kalau kamu pasti malu pergi bersamaku. Mana ada wanita yang tidak malu kalau memiliki suami cacat?” tanya William, kemudian mendengus keras.
“Terserah apa katamu, Mas. Aku tidak ingin berdebat,” ucap Zoya. Gadis itu menghela napas lelah. Dia tidak ingin berdebat dengan William apalagi ini masih pagi.
William memutar bola matanya, semakin yakin kalau Zoya memang malu memiliki suami lumpuh seperti dirinya. Hal tersebut membuat William semakin ingin cepat sembuh supaya bisa menjalani kehidupan suami yang normal dan tidak membuat malu sang istri.
“Apakah kamu mau mandi, Mas?” tanya Zoya, menawarkan William untuk mandi.
“Iya, badanku gerah,” jawab William.
Zoya menganggukkan kepala. Gadis itu lantas membantu William naik ke atas kursi roda. Dia tidak mau membiarkan William jatuh seperti semalam dan dia yang kena Omelan William karena sudah menjadi istri yang tidak perhatian kepada suami. Semprotan William tadi malam rupanya membuat gadis itu semakin cakap dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
Zoya membawa William ke kamar mandi. Saat dia melucuti pakaian William, lagi-lagi dia melihat senjata William bereaksi. Gadis itu jadi bertanya-tanya apakah setiap pria mengalami hal yang sama atau hanya William saja?
Tapi, mengingat bahwa Zoya selalu menyentuh senjata William setiap kali memandikan pria itu membuat Zoya berpikir kalau mungkin itu reaksi biologis yang dilakukan oleh tubuh William terhadap sentuhan yang dia terima.
“Mas, apakah kamu tertarik padaku? Kenapa bagian tubuhmu selalu menegang setiap kali aku menyentuhnya?” tanya Zoya dengan lugu sambil menatap senjata William.
‘Dia pura-pura bodoh atau bagaimana, sih?’ tanya William dalam hati. William merasa malu sebab Zoya menyadari tentang hal tersebut.
__ADS_1
“Aku ini pria normal dan setiap pria normal pasti akan mengalami hal yang sama jika juniornya disentuh. Apalagi jika yang menyentuhnya wanita,” jawab William ketus.
Pipi Zoya memerah, dia malu karena sudah menanyakan hal semacam itu.