Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 38


__ADS_3

Gadis itu merebahkan tubuhnya di kasur. Setelah setengah hari melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, dan bersih-bersih, akhirnya dia bisa beristirahat di kamarnya. Ia menatap langit-langit kasur sambil mengatur deru napasnya yang memburu akibat kelelahan beraktivitas. Zoya mungkin sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, rumah William berukuran hampir lima kali lipat lebih besar dari rumahnya. Jadi wajar saja kalau Zoya merasa kelelahan.


“Hm, aku harus merawat Liam. Tapi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Liam saja tidak mau mengobrol denganku,” ucap Zoya kebingungan karena tidak tahu bagaimana caranya untuk merawat William.


“Ah, biarkan saja. Nanti kalau dia butuh bantuan dia pasti memanggilku,” ucap Zoya lagi.


Saat ini dia sedang memikirkan cara untuk membuat William sembuh secepatnya supaya dia bisa bercerai dengan William dan hidup seperti sedia kala. Kalau dia bisa merawat William sampai sembuh, dia bisa membalas budi. Dengan begitu ia bisa membayar kebaikan yang telah dilakukan oleh Wulan dan Ryan selama ini.


 Kalau dipikir-pikir, hal ini akan terdengar konyol. Di hari pertama pernikahannya, Zoya sudah menanti-nanti hari perceraian antara dirinya dan William. Dia sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba karena hari itu akan menjadi hari paling membahagiakan dalam hidup Zoya karena dia akan terbebas dari William.


Untuk menghabiskan waktu luang, Zoya memutuskan untuk menelepon Desi. Baru sehari tidak bertemu dengan Desi, Zoya sudah sangat merindukan wanita yang telah merawatnya sejak kecil. Bagi Zoya, Desi adalah pahlawan di hidupnya. 


“Halo, Bibi Desi,” sapa Zoya.


“Halo, Zoya. Bagaimana malam pertamamu?” goda Desi sebab dia pikir tadi malam Zoya dan William melakukan sesuatu yang sebagaimana mestinya dilakukan oleh pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan.


Zoya tersenyum kecut. Bagaimana mau malam pertama kalau William saja masih bersikap sangat dingin kepadanya?


“Tadi malam kami sangat kelelahan jadi kami menundanya, Bibi,” kilah Zoya. Sekali-kali berbohong tidak apalah. Asalkan demi kebaikan dan tidak menimbulkan kecurigaan dari orang lain tentang rumah tangga yang sedang dia jalani.


Tawa renyah Desi terdengar merdu. “Zoya, kalian tidak melakukan malam pertama benar-benar karena kelelahan atau karena kalian masih belum bisa menerima pernikahan itu?” tanya Desi seolah tahu tentang apa yang terjadi pada Zoya dan William.


“Ah, bukan, Bibi. Aku dan Liam sedang belajar menerima takdir,” jawab Zoya sambil tersenyum tipis meskipun Desi tak bisa melihatnya.

__ADS_1


“Baguslah kalau memang begitu. Itu artinya kalian berdua sudah cukup dewasa untuk menyikapi masalah yang terjadi,” balas Desi.


“Bagaimana kabar Bibi? Apakah Bibi kesepian karena tidak ada aku di rumah?” tanya Zoya, mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Cara tersebut rupanya berhasil karena tepat satu detik setelahnya, Desi mulai membicarakan tentang bagaimana sepinya rumah tanpa kehadiran Zoya dan bagaimana dia menangis semalaman karena memikirkan Zoya yang belum siap menikah dengan William.


Beberapa jam kemudian, William baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ternyata bekerja di rumah tidak sesulit yang ia bayangkan karena dia bisa melakukan komunikasi dengan sekretarisnya untuk membicarakan tentang proyek-proyek yang akan mereka kerjakan.


Salah kalau orang-orang berpikir pria lumpuh seperti William tidak bisa melanjutkan hidupnya seperti sedia kala apalagi memimpin sebuah perusahaan. Bagi William, setiap kemauan pasti akan mendapatkan sebuah jalan.


Setelah mematikan komputernya, William mencium bau tubuhnya yang asam. Seharian ini dia menahan diri untuk tidak pergi ke toilet dan mandi. Dia bahkan juga menahan diri supaya tidak buang air. Biasanya, di rumah ada pelayan yang melayani setiap kebutuhannya. Namun, karena di rumah ini tidak ada pelayan, William tidak bisa melakukan apa-apa.


William agak menyesal karena tidak membawa salah satu pelayan yang biasa melayani keperluannya. Namun, dia saat itu berpikir kalau Zoya yang harus melakukan semua pekerjaan itu. Tapi sekarang William malah tidak bisa melakukan apa-apa karena dia gengsi untuk meminta tolong kepada Zoya.


Dia memijat pelipisnya, bingung harus berbuat apa. Di satu sisi dia merasa gengsi kalau harus meminta tolong Zoya. Tapi, di sisi lain dia tidak tahan ingin pergi ke toilet. Apalagi, tubuhnya saat ini terasa sangat lengket dan bau. Pria itu sudah merasa sangat tidak nyaman saat tubuhnya bersentuhan dengan satu sama lain.


“Argh! Menyebalkan sekali!” gerutu William.


Meskipun gengsi, William pada akhirnya mendorong kursi rodanya keluar dari ruang kerja. Pria itu celingukan karena dia tidak tahu di mana kamar Zoya. Dengan instingnya yang selalu berpikir bahwa Zoya hanya ingin memanfaatkan kebaikan orang tuanya, William mendorong kursi rodanya menuju ke kamar terbesar di lantai satu.


William mengerutkan dahinya mendapati kamar yang kosong. Tapi dia tidak menyerah, dia pun mencari Zoya ke kamar lainnya yang ukurannya tidak jauh berbeda dengan kamar tersebut akan tetapi hasilnya nihil.


“Di mana kamar gadis itu? Apa mungkin dia memilih tinggal di kamar pembantu?” tanyanya karena satu-satunya kamar di lantai satu yang tersisa hanyalah kamar pembantu yang terletak di dekat dapur.

__ADS_1


William merasa heran kenapa Zoya memilih untuk tidur di kamar pembantu tapi dia berpikir kalau mungkin Zoya takut kesiangan untuk menyiapkan sarapan untuknya.


“Zoya!!!” teriak William dengan suara menggelegar begitu ia sampai di dapur.


Zoya yang terkejut mendengar teriakan itu bergegas keluar dari kamarnya. Benar dugaan William, Zoya keluar dari salah satu kamar pembantu. Ingin sekali William bertanya kenapa Zoya tidur di sana tapi dia enggan karena tidak mau Zoya berpikir kalau dia peduli pada gadis itu.


“Kamu dari mana saja?” bentak William, matanya menyipit tajam.


“Aku dari tadi di kamar,” jawab Zoya singkat.


Jawaban singkat Zoya ternyata malah membuat William semakin kesal padanya. Pria itu menatap Zoya dengan tatapan tajam sembari mengepalkan tangannya. 


“Kamu ini benar-benar istri tidak becus! Apakah kamu lupa kalau tugas seorang istri adalah melayani suaminya? Tapi kenapa kamu malah enak-enakan tidur sementara suamimu bekerja?” tanya William membabi-buta.


Zoya ingin sekali membantah dan berkata kalau seharian ini dia juga melakukan pekerjaan rumah yang melelahkan. Tapi, ia kemudian berpikir lagi kalau hal itu pasti akan semakin membuat William marah.


Zoya yang tak ingin berdebat lantas berkata, “Ada apa, Mas?”


William terdiam sejenak.


“Aku ingin membersihkan diri,” ucapnya setelah beberapa detik terdiam.


Zoya yang mendengar itu ingin sekali menertawakan William. Pria dingin nan arogan itu membutuhkan bantuan Zoya namun gengsi untuk mengatakannya. Zoya pun tertawa dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu kemudian mendorong kursi roda William menuju ke lift dan naik ke lantai tiga menuju kamar William.

__ADS_1


__ADS_2