Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 42


__ADS_3

Di tengah-tengah kebingungan yang melanda hati Zoya, William keluar dari kamar mandi sehabis mencuci muka. William bingung kenapa Zoya tampak diam mematung, tapi dia memilih untuk tidak mengacuhkan gadis itu. Dia mendorong kursi rodanya menuju ke ranjang.


“Zoya, bantu aku naik ke atas ranjang,” ucap William.


“Baik,” jawab Zoya. Zoya mengangguk kemudian bergegas membantu William naik ke atas ranjang.


Sebenarnya William bisa naik ke atas ranjang sendiri. Meskipun dengan kesulitan dan usaha keras, biasanya dia bisa naik ke atas ranjang dengan tumpuan kedua tangannya. Tapi, karena di sini ada Zoya, tentunya William tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat Zoya melakukan pekerjaan-pekerjaan untuknya. William sudah memiliki tekad untuk membuat Zoya merasa tertekan di sisinya, jadi William tidak akan tanggung-tanggung dalam melakukannya.


Setelah membantu William naik ke atas tempat tidur, Zoya terdiam seraya menggigit bibir bawahnya. Dia ragu apakah dia harus tidur di samping William atau tidak.


‘Aku tahu Liam tidak mungkin berbuat macam-macam kepadaku karena dia lumpuh. Tapi, aku tidak nyaman tidur dengan pria yang tidak terlalu aku kenal,' ucap Zoya dalam hati.


“Kenapa kamu diam saja?” tanya William, mengerutkan dahinya. Dia bingung kenapa Zoya banyak melamun.


“Eh ... T-tidak,” ucap Zoya sambil menggaruk tengkuknya.


Sebuah ide tiba-tiba melintas di kepala gadis itu. Zoya tersenyum tipis, lalu mengambil salah satu bantal dan mengambil selimut dari lemari. Dia kemudian meletakkan dua benda itu di sofa. Sofa di kamar William cukup besar. Zoya pasti tidak akan jatuh kalau dia tidur di Sofa.


“Kamu sedang apa?” tanya William yang sedari tadi memerhatikan Zoya dengan bingung.


“Aku tidur di sini saja. Sudah kubilang kalau tubuhku tidak bisa diam saat tidur, aku takut menendangmu,” jelas Zoya, berbohong. Jangankan menendang, Zoya kalau sudah tidur saja meringkuk seperti bayi.

__ADS_1


“Terserah kau saja,” ucap William sambil memutar bola matanya.


William tidak meminta Zoya tidur di sampingnya, dia tidak menawarkan ranjangnya sama sekali sebab dia pikir kalau Zoya hanya sedang sandiwara saja. Zoya pasti pura-pura lugu supaya William percaya padanya. Tapi William bukanlah Wulan atau Ryan yang mudah diperdaya oleh kepolosan Zoya. William tidak akan mudah tertipu akal muslihat Zoya begitu saja. Dia tidak akan percaya dengan apa yang dilakukan atau diucapkan oleh Zoya.


William pun memejamkan matanya tanpa memedulikan Zoya.


Sementara Zoya tidak bisa tidur. Dia terus saja melirik William yang tidur di ranjang. Tidur di kamar yang sama dengan seorang pria adalah sesuatu yang terbilang asing baginya. Tak pernah terpikirkan oleh Zoya kalau dia akan tidur di kamar yang sama dengan pria yang tidak mencintainya. Tapi apa daya? Zoya tidak punya pilihan untuk berpindah kamar karena William pasti akan marah.


‘Baiklah, aku harus tenang. Aku melakukan ini untuk kebaikan bersama. Kalau aku bisa membantu William sampai sembuh, maka aku bisa segera berpisah dari William,’ ucap Zoya dalam hati.


Gadis itu berupaya keras supaya bisa memejamkan matanya. Pikiran negatif yang masuk ke dalam pikirannya membuat Zoya kesulitan untuk tidur. Maka dari itu, dia memilih untuk memikirkan sisi positif dari hal ini. Ia pun akhirnya terlelap setelah hampir setengah jam tak bisa tidur.


“Lebih baik aku mandi supaya pegal-pegal di tubuhku menghilang,” gumam Zoya kemudian memberesi selimut dan bantalnya. Setelah itu dia bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara itu, William terbangun dari tidurnya saat dia mendengar suara gemercik air. Pria itu menatap ke sekeliling dan tidak melihat Zoya di kamar. Itu artinya Zoya sedang mandi.


“Sial!” umpat William sebab senjatanya lagi-lagi memberontak hanya karena William membayangkan Zoya sedang mandi.


“Kenapa pula aku membayangkan Zoya sedang mandi? Tubuhnya pasti juga tidak menggairahkan,” gerutunya merutuki kebodohannya sendiri.


Meskipun William berkata dia tidak akan bernafsu terhadap Zoya, tubuhnya selalu saja mengkhianati pikirannya. Tubuhnya seolah tidak setuju dengan jalan pikirannya. William mati-matian berusaha menghilangkan hasrat yang menggelora di tubuhnya. Tapi meskipun berulang kali mencoba, dia tetap saja gagal. Bayangan tubuh telanjang Zoya yang saat ini tengah diguyur air shower membuat William tidak bisa berhenti memikirkannya.

__ADS_1


“Argh! Dasar bodoh!” umpat William. Dia mengusap wajahnya dengan frustrasi, merasa kesal dengan tubuhnya yang selalu saja merespons jika dia memikirkan tentang Zoya.


Tak berselang lama kemudian, suara gemercik air berhenti, itu tandanya Zoya sudah selesai mandi. Dengan santainya, Zoya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kimono dan handuk yang melilit di rambutnya. Gadis itu terkejut mendapati William sudah bangun padahal ini masih pagi buta. Dia pikir William masih tidur jadi dia tidak membawa pakaian ganti ke toilet.


“K-kamu mau mandi, Mas?” tanya Zoya tergagap. Dia gugup untuk menawarkan bantuan kepada William sebab biasanya William yang akan meminta Zoya untuk membantunya.


William menatap Zoya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mata menyipit, membuat Zoya merasa tidak nyaman karena dipandangi seintens itu. Zoya berpikir apakah ada yang salah dengannya, tapi kemudian menepis pikiran itu karena memang tidak ada yang salah.


“Iya, aku mau mandi,” jawab William sambil mengalihkan pandangannya dari Zoya.


Zoya mengangguk. Dia dengan sabar membantu William kembali ke kursi roda. Setelah itu dia mendorong kursi roda William masuk ke kamar mandi. Seperti biasanya, Zoya akan mendudukkan William di kursi yang tersedia di bawah shower, lalu melucuti pakaian William.


Pipi Zoya langsung merah padam tatkala dia melihat senjata William langsung mencuat saat dia melepaskan celana William. Dia meneguk salivanya. Meskipun Zoya belum pernah berinteraksi secara seksual dengan seorang pria, dia tahu apa artinya kalau senjata seorang pria seperti itu.


William melirik Zoya. Dengan posisi Zoya berjongkok di bawah karena sedang membantunya melepaskan celana, William bisa melihat belahan dada Zoya dari atas kimono yang dikenakan gadis itu.


‘Sial! Apakah dia sengaja ingin menggodaku?’ tanya William dalam hati. Dia kesal karena Zoya tidak berganti pakaian lebih dulu. Tapi, dia lebih kesal dengan tubuhnya yang tidak tahu diri dan selalu merespons setiap kali dia dan Zoya berada di kamar mandi. Entah gairah macam apa yang dia rasakan saat ini. Yang William tahu, tubuhnya sepertinya tidak normal.


‘Apakah setiap laki-laki seperti ini kalau sedang dekat dengan perempuan? Atau hanya William saja yang seperti ini?’ tanya Zoya dalam hati.


Zoya bertanya karena dia memang sangat lugu, berbanding terbalik dengan William yang sedang menahan hasratnya yang menggebu-gebu.

__ADS_1


__ADS_2