Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 20


__ADS_3

Mendengar apa yang Zoya katakan, tiba-tiba Wulan menangis di depannya, dengan tangisan yang terdengar sangat pilu. Membuat Zoya begitu terkejut karenanya. Dia mulai berpikir apakah ada kata-katanya yang salah kepada Wulan, sehingga wanita yang sangat dihormatinya dan disayanginya seperti ibu sendiri ini menangis dengan begitu menyedihkan.


Sedangkan Wulan sendiri tahu bahwa Zoya begitu lemah dengan air mata. Bukan maksudnya untuk memanfaatkan semua ini. Tetapi hanya juga ingin melampiaskan rasa sedih yang sudah ditahan selama beberapa bulan ini. Di mana dia harus melihat putranya yang dulu begitu percaya diri kini tampak sangat terpuruk dan tidak memiliki semangat hidup. Sehingga hatinya bisa sedikit lega. Walaupun dia memanfaatkan momen ketika berada di depan Zoya.


“Tante, kenapa Tante menangis? Apakah ada ucapanku yang salah, sehingga membuat hati, Tante terluka? Jika aku tanpa sengaja melukai perasaan, Tante, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya kepada, Tante.” Zoya sangat takut jika ucapan yang baru saja dia katakan tadi justru melukai hati Wulan. Karena dia merasa sangat tidak tega, jika melihat Wulan bersedih seperti ini. Melihat Wulan yang seperti ini, membuat perasaan bersalah Zoya semakin besar. Sebab dia telah menyakiti hati seorang ibu karena perbuatannya. Tentu hal itu seharusnya tidak Zoya lakukan. Dia merasa tindakannya salah besar kali ini.


Wulan mendengar nada cemas dari Zoya bukannya menghentikan tangisan yang dia lakukan, dia justru sengaja membuat tangisannya semakin kencang. Sehingga bisa membuat Zoya merasa semakin bersalah kepadanya. Sehingga bisa menarik perhatian dan simpati Zoya jauh lebih besar dari sebelumnya. Meski terkesan memaksakan, tetapi Wulan yakin kalau ini akan berhasil. Hanya perlu sedikit sandiwara lagi untuk menggoyahkan hati Zoya.

__ADS_1


“Tante, aku mohon jangan seperti ini. Jika aku menyakiti, Tante, aku sungguh minta maaf. Tetapi tolong Tante tenang dulu. Jangan seperti ini. Jelaskan semuanya kepadaku, agar aku bisa mengerti apa yang, Tante rasakan saat ini. Tapi jangan bersedih seperti ini. Karena itu akan membuatku merasa sangat sedih juga.” Zoya ksmbali berusaha membujuk Wulan agar menghentikan tangisannya, dan menjelaskan semuanya kepada Zoya. Sebab Zoya juga sangat bingung melihat reaksi Wulan berlebihan seperti ini.


“Zoya, Tante bersedih bukan karena ucapanmu, bukan juga karena penolakan darimu, tetapi Tante bersedih karena teringat akan kondisi Liam saat ini. Dia dibawa ke rumah sakit, karena kondisinya begitu buruk. Dia sama sekali tidak ingin makan dan terus menyiksa dirinya sendiri. Hingga akhirnya dia mengalami nutrisi yang begitu buruk. Berat badannya turun sangat drastis. Dokter bilang jika dia terus seperti itu, maka dia tidak akan bisa bertahan lagi, apa yang harus Tante lakukan sekarang, Zoya? Tante benar-benar bingung, bagaimana caranya menyelamatkan William sekarang. William bahkan berulang kali mencoba untuk bunuh diri.” Wulan menceritakan semuanya sembari terus meneteskan air mata kesedihan. Air mata seorang ibu yang takut kehilangan anaknya.


Zoya yang mendengar itu tentu merasa sangat terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau hanya dalam waktu hampir satu bulan ini, kondisi Liam sudah berubah begitu drastis. Zoya yang mendengarnya juga turut prihatin pada keadaan Liamsekarang. Tetapi dia juga tidak tahu harus melakukan apa untuk menolongnya.


“Tante tenanglah dulu. Aku yakin dokter pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk Liam. Tante tidak akan kehilangannya. Sekarang, Tante harus selalu mendukungnya, mungkin dengan begitu maka Liam akan kembali mendapatkan semangat hidupnya. Karena dia hanya tidak ingin makan, bukan berarti dia benar-benar ingin mati. Jadi, Tante jangan berpikiran terlalu buruk seperti ini.” Zoya mencoba memberi saran kepada Wulan, bahwa anaknya pasti akan baik-baik saja, ketika dia mengikuti segala anjuran yang disarankan oleh dokter. Sebab Zoya sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi selama hampir satu bulan ini.

__ADS_1


Secara perlahan, Wulan mulai mengatakan kepada Zoya mengenai kondisi Liam sekarang. Dengan harapan Zoya bisa berubah pikiran, dan mau menikah dengan Liam agar bisa merawatnya dengan baik.


“Apakah benar kondisinya separah itu, Tante? Bukankah ketika aku bertemu dengannya satu bulan yang lalu, dia masih terlihat baik-baik saja? Kenapa kondisinya bisa semakin buruk seperti ini?” tanya Zoya penasaran. Sebab terakhir kali dia melihat Liam, kondisi pria itu terlihat baik-baik saja, dia hanya tidak bisa berjalan dan bersedih. Tetapi selebihnya, dia sungguh terlihat sangat baik.


“Semua perubahan besar ini terjadi, ketika Tante membawakan beberapa psikiater untuk menemuinya. Tante hanya ingin mereka membantu Liam untuk keluar dari keterpurukan yang dialaminya. Siapa sangka, kalau Liam justru menganggap kehadiran mereka menunjukkan bahwa dia dianggap sebagai orang gila. Sehingga akhirnya dia lebih sering mengamuk dan depresinya semakin parah. Sejak saat itu dia selalu menolak untuk makan dan minum. Dokter mengatakan tingkat stres Liam menjadi semakin tinggi, karena dirinya yang sudah tidak percaya diri, semakin kehilangan kepercayaan dirinya dengan kehadiran psikiater di sekitarnya. Padahal Tante hanya melakukan saran yang diberikan oleh dokter. Tante sama sekali tidak menyangka kalau semuanya akan berubah semakin buruk seperti ini. Itu sebabnya tanpa merasa kalau Liam membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan keluhannya. Orang yang bisa menemaninya dalam keadaan yang begitu terpuruk seperti sekarang ini. Dan orang itu adalah kamu, Zoya. Tidak akan ada orang yang bisa mengerti dan memahami Liam lebih baik daripada kamu, itu sebabnya Tante meminta kamu menikah dengannya.” Sedikit demi sedikit, Wulan mulai mempengaruhi pikiran Zoya agar bisa menerima keadaan Liam. Sebab ini adalah keyakinan yang begitu besar, kalau hanya Zoya yang bisa menolong Liam sekarang. Ini adalah insting seorang ibu. Yang siapa pun tidak akan bisa mengerti pola pikirnya.


“Tante, aku rasa, Tante berpikir terlalu berlebihan, bagaimana bisa kehadiranku bisa menolong Liam, sedangkan para dokter dan psikiater saja tidak bisa membantunya? Apalagi aku yang sama sekali tidak mengerti ilmu kedokteran seperti ini. Aku hanyalah gadis biasa, aku sama sekali tidak mengerti psikologi manusia. Bagaimana bisa aku menolong Liam, aku juga tidak bisa mendampinginya, karena sikapnya benar-benar membuat aku merasa takut. Lalu dari mana, Tante bisa menyimpulkan semuanya?” tanyanya pada Wulan. Sebab dia merasa apa yang terjadi pada Liam saat ini, tidak mungkin akan berubah lebih baik ketika ada dia di sisi Liam. Mungkin Wulan perlu disadarkan dari pemikirannya yang terlalu berlebihan itu.

__ADS_1


“Karena Liam membutuhkan seseorang yang bisa merawatnya, kamu tahu, Tante sudah menyewa beberapa orang perawat pria untuk mengurus Liam. Tetapi mereka tidak ada yang betah untuk menjaganya. Karena Liam selalu mengamuk dan memukul mereka. sedangkan seorang perawat wanita, Liam akan menolaknya sebelum perawat itu bisa menyentuhnya. Karena itu Tante berpikir bahwa dia membutuhkan seorang istri, untuk membantunya merawat dirinya sendiri. Selain itu dia butuh orang yang bisa mendengarkannya. Dan Tante yakin orang itu adalah dirimu. Tante mohon pikirkan lagi semua yang Tante katakan ini. Tante sungguh takut kehilangan Liam untuk selamanya.


Tante mohon agar kamu mau mempertimbangkan semua yang Tante katakan ini, sebab Tante tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi? Sebab saat ini hanya kamu orang yang bisa tentu percaya untuk menjaga putra Tante.” Wulan menggenggam kedua tangan Zoya. Berharap hal itu bisa membuat Zoya merasa tersentuh.


__ADS_2