
Hubungan Zoya dan William sudah kembali harmonis pagi ini. Zoya sudah kembali membuatkan sarapan untuk mereka berdua.
Sekarang tidak ada lagi alasan untuk Zoya mempertahankan kemarahannya pada William. Bukankah setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara memperbaiki diri. Itu juga yang saat ini dilakukan oleh Zoya. Dengan memberikan William kesempatan kedua, berarti Zoya sudah membuka peluang untuk William agar bisa berubah.
“Masakanmu selalu memiliki aroma yang sangat harum, membuat aku yang menciumnya merasa sangat lapar sekarang. Apakah kau masih membutuhkan waktu yang lama untuk selesai dengan pekerjaanmu ini, Sayang?” tanya William sembari memeluk Zoya dari belakang. William juga mulai mencium pundak Zoya yang sedikit terbuka. Sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan jika dilakukan di pagi hari.
“Aku akan selesai sebentar lagi. Kau bisa duduk dan menungguku di meja makan. Kenapa kau harus menggangguku seperti ini? Apakah kau sudah puas memeluk dan menciumku? Jika kau sudah puas, maka bisakah kau melepaskan aku sekarang?” tanya Zoya yang merasa sedikit risi, karena pekerjaannya diganggu oleh William terlebih saat kejadian kemarin belum sepenuhnya bisa hati Zoya terima.
“Tetapi aku lebih suka menunggumu seperti ini, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, Zoya? Apakah kau tega mengusirku, padahal aku hanya ingin memelukmu pagi ini.” William tidak akan melepaskan Zoya, sebelum William merasa puas memeluk tubuh Zoya. William juga menyadari jika sikap Zoya tidak selembut sebelumnya, Zoya bahkan tak lagi memanggilnya dengan lembut, hanya nama tanpa embel-embel 'mas' seperti sebelumnya.
Zoya yang sudah selesai memasak, segera mematikan api kompor yang digunakannya. Setelahnya Zoya berlahan berbalik agar bisa menghadap ke arah William.
“Aku tidak akan tega mendorongmu dan melarangmu untuk memelukku. Sekarang aku sudah selesai dengan aktivitas memasakku, sekarang aku bisa membiarkan suamiku yang tampan memeluk sepuasnya. Asalkan kau memiliki waktu yang banyak untuk dihabiskan pagi ini. Karena yang aku tahu, semalam kau jelas mengeluh mengenai pekerjaanmu yang tidak ada habisnya.”
Itulah kalimat yang ingin sekali William dengar. Sebab dulu Zoya sama sekali tidak pernah keberatan dengan tingkah manja William padanya. Sebab William sudah biasa melakukan hal seperti ini pada Zoya. Ketika mereka bertengkar, Zoya sangat merindukan momen William yang bermanja setiap pagi dengannya. Namun, semua itu hanya angan William, sebab meskipun sudah memaafkan William, sikap Zoya tidak sehangat dulu.
"Ayo sarapan!" ucap Zoya berusaha menjauhkan William darinya.
__ADS_1
“Aku memiliki waktu 5 menit untuk memelukmu. Jadi biarkan aku merasakan kehangatan pelukanmu pagi ini, agar aku bisa bersemangat ketika bekerja. Apakah kau bisa mengabulkan permohonan kecilku ini, istriku?” tanya William pada Zoya yang masih dalam pelukannya, William menatap Zoya yang juga tengah menatapnya. William ingin mencium Zoya, tetapi Zoya dengan cepat menghindar.
"Sayang, kenapa?" tanya William tak terima.
"Aku hanya sedang tidak ingin," jawab Zoya berbohong.
"Sedikit saja." Setelah mengatakan hal itu, William segera mencium bibir Zoya yang tampak memerah dan basah. Membuat William tidak tahan untuk menikmati bibir Zota yang selalu terasa manis untuknya. Tidak lupa William juga semakin mempererat pelukannya di tubuh Zoya. Seolah takut jika Zoya akan meninggalkannya.
“Waktu lima menitnya sudah habis. Sekarang aku akan menghidangkan sarapan untuk kita berdua. Karena aku tidak mau membuang waktumu lebih lama lagi. Sekarang duduklah dengan patuh di meja makan, aku akan segera kembali dan menyiapkan semuanya untukmu.” Zoya mendorong William, bergegas mengambil salah satu piring saji untuk menempatkan makanan yang sudah dibuat olehnya. Semua itu tidak luput dari perhatian William.
“Aku akan membantumu, agar kita bisa secepatnya menikmati sarapan bersama. Dengan bantuanku tentu kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu lebih cepat dari biasanya.”
Zoya sama sekali tidak menolak bantuan dari William, karena semua itu adalah bentuk perhatian William untuknya. Istri mana yang tidak senang jika diperhatikan oleh suaminya. Begitu juga Zoya, tetapi itu dulu, sebelum William menyakitinya.
“Terima kasih, William. Karena kau sudah mau membantuku. Sehingga pekerjaanku selesai dengan lebih cepat. Sekarang ayo kita nikmati sarapan ini bersama-sama, sebelum semua makanan ini menjadi dingin, dan terasa kurang lezat,” ajak Zoya.
Mereka menikmati sarapan mereka dalam diam. Setelah selesai menyantap sarapan, Zoya segera membantu William merapikan pakaiannya, sebelum William pergi bekerja. William juga tidak lupa untuk mengecup kening Zoya sebelum meninggalkan apartemen. Kebiasaan yang sudah sangat lama dilakukan oleh William sejak menikah dengan Zoya.
__ADS_1
***
Renata yang menyadari jika rencana yang dibuatnya gagal, tidak membuang waktunya sama sekali. Renata segera bergegas untuk menemui William. Karena ini adalah rencana kedua yang dipersiapkan oleh ibunya. Renata tidak bisa terus menunggu pesan dari William, karena Williamadalah seorang pria yang memiliki banyak pekerjaan. William juga merupakan pria yang sangat mencintai pekerjaannya, tidak akan ada yang bisa mengganggu konsentrasi William, setelah William mulai bekerja.
Itu sebabnya Renaga berniat untuk menemui William di perusahaannya. Hanya dengan cara seperti itu, barulah William akan ingat padanya. Lagi pula Renata bisa menggunakan banyak cara untuk mendapatkan William kembali. Asalkan William masih memiliki perasaan yang dalam untuknya, maka Renata masih memiliki banyak kesempatan untuk merebut William kembali. Karena sejak awal, William adalah miliknya, dan selamanya akan terus begitu.
Sayangnya usaha Renata kali ini tidak berjalan dengan mulus. Sebab pihak keamanan dan resepsionis sengaja mempersulit Renata untuk bertemu dengan William. Sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Rian. Jika Renata tidak boleh sampai berhasil menemui William. Jika mereka tidak mampu menahan Renata, maka pekerjaan mereka menjadi taruhannya. Siapa yang ingin kehilangan pekerjaan bagus di perusahaan besar itu? Sehingga semua karyawan segera mematuhi perintah Rian.
“Maaf, Nona. Apa yang sedang Anda lakukan di sini? Bukankah Anda bukan salah satu karyawan di perusahaan ini?” tanya salah satu petugas keamanan pada Renata.
“Aku datang untuk menemui William. Kau tentu tahu siapa aku, jadi jangan mencoba untuk menghalangi jalanku untuk bertemu dengan William,” ucap Renata yang merasa kurang senang karena dihalangi untuk menemui William.
“Maafkan saya, Nona. Tetapi aturan baru perusahaan sudah menegaskan bahwa kami tidak bisa membiarkan orang asing masuk ke perusahaan tanpa ada keperluan. Jika Anda memang ingin masuk ke dalam, maka tolong tunjukkan kartu pengenal Anda!” jawab petugas itu dengan tenang. Seakan apa yang dikatakannya adalah sesuatu yang umum terjadi.
“Apa kau sudah bosan bekerja di perusahaan ini? Sehingga kau berani menghalangi jalanku untuk bertemu dengan William? Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini sekarang? Sangat berbeda dengan perlakuanmu beberapa hari yang lalu. Apa istri William yang memerintahkan untuk melakukan semua ini padaku?” tanya Renata yang tidak bisa lagi menahan amarahnya, dan orang yang Renata tahu paling mungkin melakukan semua ini hanyalah istri William. Itu sebabnya, Renata membawa nama Zoya ke dalam masalah ini.
“Maaf, Nona Renata, tidak ada yang memerintahkan saya untuk melakukan semua ini. Apa yang saya katakan adalah sebuah kebenaran, bahwa tidak ada orang yang dipersilakan untuk masuk kecuali orang tersebut memiliki kepentingan dalam perusahaan. Jadi tolong jangan mempersulit pekerjaan saya, dan silakan kembali jika Anda tidak memiliki hal lain untuk dikatakan.” Petugas itu juga tidak ingin bersabar lebih lama dengan Renata, itu sebabnya petugas itu meminta Renata untuk pergi secepatnya.
__ADS_1
“Aku akan memastikan jika kau akan kehilangan pekerjaanmu ini. Karena kau berani mengabaikanku begitu saja.” Ancam Renata yang terlihat sangat serius dengan perkataannya.