Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 57


__ADS_3

Waktu kian bergulir begitu cepat. Tidak terasa kini William dan Zoya telah menjalani bahtera rumah tangga selama beberapa bulan lamanya. Hubungan Zoya dan William sekarang kian membaik. Semenjak hari di mana William menjatuhkan diri dari kursi roda, Zoya sudah semakin ramah kepadanya. Gadis itu seolah sudah lupa tentang permasalahan mereka sebelumnya di mana William tidak mengizinkannya untuk berkomunikasi dengan Damar.


Zoya semakin menunjukkan bahwa dia adalah istri yang baik untuk William. Begitu pula dengan William yang sudah memperlakukan Zoya layaknya istrinya, bukan pembantunya. Pria itu sudah mulai bisa menerima pernikahan mereka dan menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Tidak ada lagi rasa benci kepada Zoya yang awalnya dia pikir akan menjadi beban di dalam hidupnya dan perusak kebahagiaannya.


Tak hanya bersikap baik kepada satu sama lain, William dan Zoya sekarang bahkan sering menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol dan bercanda. Mereka berdua seakan benar-benar menjalani sebuah kehidupan rumah tangga yang normal tanpa adanya paksaan.


Kini, William sudah bisa berdiri dan menggerakkan kakinya meski masih ditopang oleh tongkat. Setidaknya kini dia tidak perlu bergantung pada kursi roda lagi meskipun belum sepenuhnya sembuh. Zoya benar-benar membantu William dengan baik dan hal tersebut tanpa sadar membuat William bergantung pada gadis itu. Seperti halnya pagi ini ....


Dengan bantuan tongkat William berjalan menuju ke walk-in-closet dan mengambil satu setel pakaian yang akan dia kenakan hari ini. Sebab hampir setiap hari menghabiskan waktu di rumah, William memilih untuk mengambil pakaian santai seperti celana berbahan kain dan kaus polo. Setelah mengambil pakaiannya, dia kembali ke kamar dan meletakkan pakaiannya di atas ranjang.


“Zoya, tolong bantu aku memakai pakaian,” ucap William.


Zoya yang kebetulan baru saja keluar dari kamar mandi mengangguk lalu membantu William untuk memakai pakaiannya. Berbeda dengan William yang selalu terangsang setiap kali disentuh oleh Zoya, gadis itu justru tampak santai memakaikan pakaian William.


“Mas, sehabis ini aku izin ke pasar. Kamu mau makan apa siang ini?” tanya Zoya.


William mengedikkan bahunya. “Apa saja aku tidak masalah,” jawabnya santai. “Oh, iya. Hari ini Mama dan Papa datang. Katanya Mama ingin memasak bersama kamu.”


“Benarkah?” tanya Zoya dengan mata berbinar-binar.


William mengangguk. “Iya. Katanya Mama ingin seperti Mama mertua lain yang akur dengan menantunya,” jawab William.


Zoya tergelak mendengarnya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan ibu mertuanya.


“Jadi, lebih baik aku beli daging, ayam, atau ikan?” tanya Zoya.

__ADS_1


“Ayam atau daging saja. Aku sedang tidak ingin makan seafood,” balas William.


Zoya mengangguk. “Baiklah kalau begitu,” ujarnya.


Usai berganti pakaian, Zoya dan William pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama. Seperti biasa William akan pergi ke ruang kerjanya setelah selesai sarapan sementara Zoya pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan.


*****


Tepat pukul sepuluh lebih lima orang tua William datang untuk berkunjung. Wulan dan Ryan memang rutin mengunjungi Zoya dan William paling tidak satu bulan sekali di hari Minggu. Biasanya mereka akan menemani William terapi untuk melihat perkembangan terapi anak mereka.


“Selamat datang, Papa, Mama,” sapa Zoya begitu membuka pintu rumah William.


Ryan dan Wulan hendak menyapa balik Zoya namun mengurungkan niat mereka saat melihat seorang pria yang berdiri di samping Zoya dengan bantuan tongkat. Mereka terkejut melihat William akhirnya bisa berdiri karena terakhir kali mereka berkunjung William masih menggunakan kursi roda.


“Liam, kamu sudah bisa berdiri?” tanya Wulan. Wanita itu tersenyum penuh haru lalu memeluk William. Untung saja Zoya memegangi tangan William sehingga William tidak terjatuh karena mendapat pelukan secara tiba-tiba dari Mamanya.


Wulan terkekeh kemudian melepaskan pelukannya. “Mama terlalu bahagia, Liam. Mama tidak menyangka kalau kamu akhirnya bisa berdiri lagi,” balas Wulan penuh haru.


Wulan menoleh ke arah Zoya, lalu memeluk gadis itu dengan erat. Zoya menatap William dengan bingung sementara William hanya tersenyum tipis sambil mengedikkan bahunya.


“Zoya, terima kasih karena kamu sudah mendampingi Liam,” ucap Wulan.


“Mama, semua ini tidak ada hubungannya denganku. Liam bisa berdiri seperti sekarang karena Liam memiliki semangat yang besar untuk bisa sembuh,” jawab Zoya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sementara Ryan menepuk-nepuk bahu William dengan bangga. “Papa bangga akhirnya kamu bisa berdiri lagi, Liam,” ucapnya yang dibalas William dengan senyuman saja.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita masuk dan mengobrol di dalam? Tidak enak kalau dilihat tetangga,” seloroh William.


Wulan melepaskan pelukannya pada Zoya, kemudian menoleh dengan cepat ke arah William. “Tetangga apa yang kamu maksudkan? Rumahmu saja ditutup oleh pagar tinggi dan jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain di sini cukup jauh,” gerutu Wulan.


Mendengar itu, Zoya, William, dan Ryan tertawa.  Mereka lantas pergi menuju ke ruang keluarga. Wulan dan Ryan tampak sangat senang melihat putra mereka akhirnya bisa berdiri kembali setelah berbulan-bulan hanya duduk di kursi roda. Mereka semakin bersyukur karena mereka menikahkan Zoya dengan William sebab mereka yakin Zoya adalah gadis yang telah membuat William memiliki semangat untuk kembali melanjutkan kehidupannya.


Sementara William dan Ryan mengobrol di ruang keluarga, Wulan dan Zoya sibuk berkutat dengan peralatan dapur. Mereka berdua dengan kompak memasak makan siang untuk mereka berempat. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah Wulan melihat hubungan William dan Zoya yang kian membaik.


“Zoya, apakah Liam masih sering memperlakukan kamu dengan kasar?” tanya Wulan.


Zoya menggeleng. “Tidak, Ma. Mas Liam sekarang sudah berubah dan dia bersikap sangat baik kepadaku,” jawab gadis itu.


“Mama ikut senang mendengarnya,” ucap Wulan.


“Ngomong-ngomong, mau kita masak apa ayam kampung ini?” tanya Zoya. Gadis itu tidak terbiasa memasak ayam kampung karena pemasakannya yang agak sulit.


“Kita akan membuat gulai ayam kampung kesukaan Liam. Suamimu itu pasti akan makan dengan lahap kalau dibuatkan makanan itu,” ucap Wulan.


“Ah, jadi ini makanan kesukaan Mas Liam?” tanya Zoya.


“Memangnya Liam tidak pernah memberitahu kamu?” tanya Wulan.


Zoya menggeleng. “Mas Liam jarang sekali request makanan, Ma. Dia selalu makan apa saja yang aku masak untuk kami,” jawab Zoya.


Setelah makan siang siap, mereka semua berkumpul di ruang makan untuk menyantap makan siang bersama. Wulan dan Ryan memuji Zoya karena sudah membantu kesembuhan William. William pun juga menimpali dengan pujian terhadap Zoya hingga membuat orang tuanya berpikir kalau William sudah memiliki perasaan untuk Zoya.

__ADS_1


“Mama senang melihat pasangan yang harmonis seperti kalian berdua,” celetuk Wulan tiba-tiba, membuat William tersedak saat mendengarnya.


__ADS_2