
Satu hari sebelumnya.
"Sayang, apakah kamu bisa menyuruh seseorang mengawasi William? Firasatku buruk," ucap Wulan pada suaminya setelah William pergi.
Wulan merasa kalau kepergian William yang tanpa memberitahu Zoya akan membawa perubahan pada pernikahan anaknya. Wanita paruh baya itu hanya ingin keduanya akur dan saling mempercayai, tidak hanya Zoya yang melakukan kedua hal itu, tapi juga William yang kadang-kadang masih bimbang dengan perasaannya sendiri.
Sebagai Ibu, Wulan cukup memahami putranya yang lebih banyak memendam perasaannya sendiri setelah mengalami kecelakaan dan kehilangan sosok Renata dari hidup pria itu. Maka meski William tidak mengatakan masalahnya secara langsung, Wulan bisa mengetahui perasaan anaknya hanya dengan memperhatikan perilakunya.
Rian mengangguk dan segera mengabulkan permintaan istrinya. Pria paruh baya itu menghubungi seorang bawahannya yang setia lalu menepuk tangan Wulan dengan lembut.
"Bawahanku sedang menyusul William. Dia akan memberi laporannya pada kita nanti."
Wulan mengangguk, menggenggam tangan Rian di antara kedua tangannya dengan erat.
Pasangan suami istri itu tidak berbicara selama menunggu jawaban dari anak buah Rian. Rumah mereka semakin tampak sepi karena itu, apalagi karena Zoya sedang berada di galeri untuk kembali mengecek pekerjaan karyawannya selama dia tinggal bersama William.
"Ya, bagaimana?"
Rian meninggalkan Wulan sementara menerima telepon dari seseorang yang sudah ditunggu-tunggu. Wulan menatap suaminya dan hanya bisa mendengar deheman pria paruh baya itu dan helaan nafasnya. Tidak lama kemudian, Rian kembali ke sofa untuk duduk bersamanya.
"Apa katanya?" tanya Wulan sambil kembali meraih tangan Rian.
Rian menggeleng, tampak murung dengan kabar yang harus diberitahukannya pada Heni. "Wulan bekerja di kantor untuk menyelesaikan masalah seperti perkataannya, tapi ... Renata kemudian datang," ucapnya pelan.
"Renata datang ke kantor?"
Wulan mengulang perkataan Rian karena tidak percaya. Bagaimana mungkin wanita itu memiliki keberanian untuk mengunjungi William setelah bersembunyi selama dua tahun, tanpa menemani putranya yang berada dalam keadaan depresi dan lumpuh karenanya, serta setelah pergi menerima uang darinya? Setelah sembuh, dia langsung datang begitu saja.
__ADS_1
"Apa memang benar Renata yang datang ke kantor William?" tanya Wulan lagi.
Sebelum mengetahui sifat asli Renata, Wulan cukup menyukai Renata yang dianggap memiliki sifat baik hati dan hangat pada semua orang. William pun tampak bahagia bersamanya. Sebagian dari Wulan masih berpegang pada masa lalu itu, tapi segera pupus begitu Rian meraih ponselnya kembali.
Rian menunjukkan foto yang dikirimkan bawahannya sebagai bukti. Keduanya segera mengenali bagian depan gedung apartemen William dan terlihat jelas sosok yang selama ini menghilang telah hadir kembali, wanita itu adalah Renata yang terlihat ragu untuk menemui putra mereka. "Dia benar-benar Renata."
Wulan syok melihat foto itu dengan baik-baik. Suhu tubuh wanita itu dengan cepat meningkat dan lemas di sofa, tidak punya tenaga untuk menghadapi kenyataan yang baru saja dilihatnya. Ketakutannya mengenai Zoya yang akan dicampakkan William, kemudian kembalinya Renata ke sisi putranya segera menghantui pikiran Wulan.
"Wulan, Sayang ... ini hanya foto dan sebagian laporan dari bawahanku, kita belum mengetahui seluruh kenyataannya," hibur Rian sambil meraih tangan Wulan dengan lembut.
Wulan menggeleng. Hanya dengan mendengar kalau Renata masih hidup dan kembali datang dalam kehidupan William jelas membuat Wulan cemas, karena ada kemungkinan besar jika William masih memiliki perasaan yang dalam pada mantan tunangannya itu. Dan membayangkan mereka akan bertemu, Wulan benar-benar takut, dan berakibat buruk pada kondisinya.
Rian tersadar dari lamunannya yang menjawab pertanyaan Zoya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Wulan. Zoya yang tak mendapat jawaban dari Rian, mengulang pertanyaannya.
"Kenapa Mama bisa seperti ini?" tanya Zoya lagi.
Keduanya sedang menatap Wulan yang sedang berbaring dengan napas terengah, tidak menyadari kehadiran Rian dan Zoya yang sedang mengkhawatirkan keadaannya. Sebelum wanita itu pergi ke galeri, Wulan masih kelihatan sehat meski agak lesu. Santapan saat mereka sarapan pun masih dihabiskan, sehingga seharusnya kondisi Ibu mertuanya tidak menjadi seperti ini secara tiba-tiba.
Zoya menerima tepukan pelan di lengannya sebelum Rian melangkah pergi. Wanita itu kemudian melangkah mendekati tempat tidur Wulan dan menyentuh dahinya dengan lembut, tidak ingin membangunkan Ibu mertuanya secara tiba-tiba.
Sayangnya, Wulan langsung terbangun begitu tangan Zoya terangkat dari dahinya.
"Zoya?" tanya Wulan lirih.
Zoya menggenggam tangan Wulan yang masih rata di tempat tidurnya, mengusapnya pelan untuk memberi efek menenangkan. "Iya, Ibu. Aku di sini."
Wulan berkedip pelan dan menatap Zoya cukup lama. Wanita itu membiarkannya karena mungkin saja Wulam masih belum sadar sepenuhnya dari tidurnya, tapi perkataan Ibu mertuanya itu tiba-tiba membuatnya merasa tersentuh.
__ADS_1
"Mungkin Mama sudah terlalu sering mengatakan ini padamu Zoya, tapi ... semuanya benar, aku sangat senang karena kamu berada di sisi William selama dia tidak baik-baik saja hingga sampai saat ini. Bahkan kamu tidak keberatan untuk tinggal bersama kami sekarang, bukannya berduaan dengan William atau di dekat galeri milikmu."
Zoya menggeleng. "Mama tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan sebagai istri dan menantu, sekaligus keinginanku sendiri sebagai anggota keluarga baru kalian."
Wulan membalas genggaman Zoya dengan erat, tidak menyangka kalau menantu yang berada di depannya ini begitu dewasa dalam masalah yang sedang dihadapinya. Usia tua sepertinya mempengaruhi Wulan dalam memproses kejadian William dan Renata dan membuat dirinya menjadi lebih emosional dari biasanya.
"Sebenarnya, apa yang membuat Mama menjadi seperti ini? Tolong ceritakan padaku supaya aku bisa mengerti."
Zoya berkata seperti itu karena melihat Wulan sangat sedih dan dalam keadaan demam, air matanya pun tetap bertahan di pelupuk mata wanita itu yang sudah berkerut, sehingga menyebabkan efek berkaca-kaca yang menahan kesedihannya.
Wulan menggeleng. "Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa sedikit pusing."
Mendengar perkataan Wulan, Zoya menyimpulkan kalau Ibu mertuanya sedang berbohong, tapi dia tidak mengatakan apa-apa mengenai hal itu dan mulai melakukan perawatan pada demam yang sedang diderita wanita paruh baya itu.
Zoya menemani dan merawat Wulan sangat baik, sebelum berjalan keluar agar Wulan bisa beristirahat. Di sana, Rian sudah menunggunya.
"Pulanglah ke rumah kalian, Zoya."
"Memang ada apa, Pa? Bagaimana dengan Mama?" tanya Zoya yang kaget dengan permintaan Rian yang tiba-tiba.
"Aku tidak bisa mengatakan apapun padamu, tapi ini mengenai William."
"William?"
Rian memutuskan kalau Zoya dan William harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Meski Wulan tidak tega dengan rasa sakit yang mungkin dirasakan Zoya, tapi hal ini memang perlu dilakukan oleh pasangan suami istri itu agar tidak semakin parah di masa depan.
"Katakan padaku! Ada apa dengan mas William, Pa?" tanya Zoya.
__ADS_1