
“Kita akan ke mana hari ini, Pak?” tanya sopir pribadi William begitu pria itu masuk ke dalam mobil. Tadi pagi-pagi sekali William meneleponnya dan berkata kalau dia ingin diantar. Jadi, sopirnya datang ke rumah William. Benar sekali, William dan Zoya hanya tinggal berdua saja di rumah. Sopir hanya sesekali datang kalau William meneleponnya.
“Sudah jalan saja, nanti aku akan memberitahumu kita akan pergi ke mana,” ucap William.
Sopir pribadi William bingung akan pergi ke mana jadi dia hanya berbelok ke kiri dan berjalan mengikuti jalanan. Dari rumah William, jalan tersebut akan membawa mereka ke pusat kota. Ia mengemudikan mobilnya perlahan sambil menunggu aba-aba dari William untuk berbelok atau semacamnya. Tapi, William tidak mengatakan apa-apa sejak mobil itu dikemudikan. Pria itu hanya diam sambil duduk memandangi jalanan dari kaca jendela mobilnya.
“Pak, kita sudah berjalan cukup jauh, apakah Anda belum memutuskan kita akan pergi ke mana?” tanya sopir tersebut.
William menoleh dengan cepat, menatap sopirnya dengan tatapan tidak suka karena sopirnya hari ini banyak bertanya. Padahal pertanyaan sopir pribadi William biasa saja. Namun bagi William cukup mengganggu.
“Maaf, Pak, ke mana kita—”
“Kita berhenti di depan taman itu saja,” ucap William cepat, memotong ucapan sopir pribadinya saat dia tidak sengaja melihat sebuah taman di dekat mereka.
Dengan patuh sopir William menghentikan mobilnya di tempat parkir taman. Ketika sopirnya hendak turun dan membukakan pintu untuk William, pria itu melarangnya dan berkata jika dia ingin tinggal di dalam mobil saja.
Satu jam pun berlalu, William masih duduk di dalam mobil tanpa ada niatan sedikit pun untuk keluar dari mobil. Pria itu enggan keluar dari mobil karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Ah tidak, bukan karena sopirnya tidak mau membantunya turun dari mobil, tapi karena William merasa tidak nyaman bertemu dengan banyak orang dengan kondisinya yang sekarang ini.
William bisa saja kembali pulang karena dari tadi dia juga tidak melakukan apa-apa. Tapi, pria itu gengsi kalau ketahuan berbohong oleh Zoya. Maka dari itu dia tetap di sana ditemani sopir hingga tanpa sadar mereka sudah di sana selama dua jam.
__ADS_1
“Maaf, Pak, sebenarnya ke mana kita akan pergi? Sudah dua jam kita hanya duduk di dalam mobil di sini. Apakah Anda tidak ingin pergi ke tempat lain?” tanya sopir pribadi William sambil mengerutkan dahinya.
Tak mendapatkan jawaban dari William, sopir pribadi William melirik kaca spion dan mendapati William tengah melamun sambil memandang ke arah jendela mobil.
William memandang ke luar sana. Tanpa sengaja dia melihat sepasang kekasih yang tengah bermesraan sambil bercanda di taman. Mereka tampak sangat manis dan pria itu terlihat sangat mencintai kekasihnya. Melihat hal tersebut tiba-tiba saja William membayangkan jika pasangan itu adalah dirinya dan Zoya. Pasti akan menyenangkan kalau mereka bisa terlihat akur dan romantis seperti itu.
“Pak!” panggil sopir pribadi William untuk ke sekian kalinya sebab William dari tadi tidak mendengarnya.
William tersentak lalu menoleh. “Ada apa?” tanyanya kesal.
“Apakah Anda tidak ingin pergi ke tempat lain?” tanyanya.
Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghapus bayangan tentang itu. Namun berkali-kali dia mencoba untuk melupakannya, dia tidak bisa. Dia lagi-lagi mengingat hal tersebut dan itu membuatnya cukup frustrasi.
‘Apa yang sedang aku pikirkan saat ini? Kenapa tiba-tiba saja aku membayangkan pasangan itu adalah aku dan Zoya?’ tanyanya dalam hati.
Sementara itu di saat yang sama Zoya sedang beres-beres rumah. Gadis itu menyapu lantai sambil bersenandung kecil. Tidak adanya William di rumah membuat gadis itu dapat melakukan apa pun yang dia mau dengan santai. Oh bukan, bukan. Maksud Zoya bukan karena William sangat otoriter. Tapi, kalau ada William gadis itu memang merasa sangat sungkan untuk melakukan aktivitasnya.
Perang dingin yang terjadi antara dirinya dan William tak benar-benar membuat Zoya bahagia. Justru, Zoya malah merasa tidak nyaman karena harus bersinggungan setiap hari dengan orang yang membuatnya naik pitam malam itu. Kalau Zoya boleh memilih dia pasti akan memilih untuk tidak bertemu dengan William selama beberapa saat untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Tapi apa daya? Zoya tidak punya pilihan lain selain bertahan di rumah ini.
__ADS_1
“Ke mana perginya William? Kenapa dia pergi lama sekali?” tanya Zoya sambil mengerutkan keningnya. Sesekali dia memeriksa jendela untuk memastikan apakah William sudah pulang atau belum.
Zoya tidak terbiasa dengan fakta bahwa William pergi dari rumah tanpa pengawasan darinya. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat William pergi ke luar tanpa dirinya. Apalagi dengan kondisi William yang seperti ini. Zoya tentu sangat khawatir dengan William.
Meskipun saat ini Zoya tengah kesal dengan William karena William melarangnya berkomunikasi dengan Damar, bukan berarti Zoya akan seratus persen tidak memedulikan William. Bagaimanapun juga William adalah suami Zoya, tulang punggung dalam rumah tangganya. Mereka sudah hidup bersama selama beberapa bulan, jadi wajar saja kalau Zoya merasa cemas terhadap pria itu.
“Argh! Kenapa aku harus memikirkan William, sih? Seharusnya aku senang dia pergi jadi aku bisa bebas melakukan apa saja selama beberapa waktu ke depan,” ucap Zoya pada dirinya sendiri.
Gadis itu mencoba menghilangkan pikiran tentang William dari kepalanya. Namun semakin dia mencoba, semakin besar kekhawatirannya. Saat ini, Zoya malah semakin khawatir dengan bagaimana keadaan William di luar sana. Dia sama sekali tidak mendapatkan kabar dari William mengenai keberadaannya saat ini.
“Apakah aku harus menghubungi sopir Liam?” tanya Zoya. Gadis itu merogoh kantong celananya, mengambil ponsel, lalu memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya lagi. “Ah, tidak perlu. Nanti yang ada Liam akan semakin besar kepala dan berpikir kalau aku mengkhawatirkan dirinya.”
Sambil mengerjakan pekerjaan rumah, pikiran Zoya berkelana ke sana ke mari. Dia merasa tidak tenang sebab William tak kunjung datang.
“Apakah mungkin Liam pergi ke kanto? Tapi, seingatku tadi dia tidak memakai pakaian formal,” gumam Zoya sambil mengusap-usap dagunya.
Zoya mengusap wajahnya gusar. Dia menepuk-nepuk pipinya sendiri. “Fokus, Zoya. Kau harus fokus dengan pekerjaan rumah dan tidak perlu memikirkan Liam. Yang terpenting saat Liam pulang nanti semua pekerjaan rumah sudah selesai jadi dia tidak akan mengomel,” ucap Zoya pada dirinya sendiri.
Gadis itu menghela napas panjang, lalu melanjutkan pekerjaannya dengan pikiran yang terus-menerus memikirkan tentang keadaan William saat ini.
__ADS_1