Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 64


__ADS_3

“Bibi, aku akan mengajak Mas Liam ke pantai,” ucap Zoya kepada Desi yang tengah bersantai sambil memberi makan ikan di akuarium.


Desi menoleh ke arah Zoya dan William yang sudah tampak siap untuk pergi. “Apakah kalian sudah membawa bekal?” tanya Desi. 


“Tidak perlu, Bibi. Nanti kamu bisa membelinya saja di sana,” jawab Zoya. “Apakah Bibi mau ikut?”


“Ah, tidak. Kalian bersenang-senanglah. Pasangan yang baru saja menikah harus lebih banyak menghabiskan waktu berduaan supaya bisa semakin harmonis,” ucap Desi sambil tersenyum lebar. Wanita paruh baya itu sudah tidak sabar untuk memberitahukan mengenai hal ini kepada Wulan dan Ryan. Mereka pasti akan merasa senang kalau mendengar kabar tentang bagaimana mesranya Zoya dan William hari ini.


“Bibi!” tegur Zoya sambil tersenyum malu-malu.


William terkekeh. “Kalau begitu kita pergi dulu, Bibi,” pamitnya.


“Hati-hati di jalan,” pesan Desi.


Zoya dan William mengangguk kemudian melangkahkan kaki mereka keluar dari rumah. Di luar, sopir sudah menunggu mereka. Dari rumah Zoya menuju ke pantai sebenarnya tidak perlu menempuh jarak yang terlalu jauh. Biasanya Zoya juga selalu berjalan kaki kalau sedang ingin pergi ke pantai. Namun mengingat kondisi William yang masih memerlukan bantuan tongkat untuk berjalan, Zoya akhirnya memilih untuk mengajak William pergi menaiki mobil saja.


Selama perjalanan, seperti biasa Zoya tampak gelisah. Padahal William sudah menyuruh sopirnya untuk mengemudikan mobil mereka pelan saja, tapi Zoya masih merasa ketakutan.


“Zoya, tenanglah. Ada aku di sini, aku akan melindungimu,” ucap William seraya meremas tangan Zoya, berusaha menguatkan gadis itu.


Zoya menoleh ke arah William. “Aku takut, Mas,” ucapnya.


“Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Selama kita tidak mengebut maka semuanya akan baik-baik saja,” ucap William seraya tersenyum lebar, berusaha menenangkan hati Zoya. “Sekarang kamu tarik napas kamu dalam-dalam dan pikirkan hal-hal positif,” titah William.

__ADS_1


Zoya melakukan sesuai dengan arahan William. Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya dari mulut seraya memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya. Tangannya memegang tangan William dengan erat, seolah takut hal buruk akan datang jika dia melepaskan tangan William.


Kurang dari sepuluh menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di pantai. Mengingat kondisi William yang harus dibantu tongkat untuk berjalan, mustahil kalau mereka berjalan menyusuri tepi pantai. Zoya pun memutuskan untuk membuka kap mobil belakang William, kemudian menatanya dan menggelar alas bersih untuk mereka duduk.


“Apakah kamu haus, Mas?” tanya Zoya.


William mengedikkan bahunya. “Lumayan,” jawabnya setelah berhasil naik ke alas belakang mobil.


“Aku akan membeli minuman dulu untuk kita. Kamu tunggu di sini dulu, ya?” ujar Zoya.


Setelah mendapat anggukan kepala dari William, Zoya melangkahkan kakinya menuju ke tempat penjual yang tidak terlalu jauh dari lokasi pantai. Di sana ada berbagai macam makanan yang dijual mulai dari aneka olahan hewan laut, sampai kue dan jus. Zoya mendatangi salah satu penjual kelapa muda dan membelinya. Tak hanya kelapa muda, ia juga membeli beberapa camilan untuk dimakan bersama William.


“Kamu membeli banyak sekali, Zoya,” ucap William, buru-buru membantu Zoya untuk meletakkan kelapa muda dan camilan di mobil.


“Aku membeli camilan supaya kita tidak kelaparan,” seloroh Zoya kemudian duduk di samping William.


“Pantai di sini indah sekali, ‘kan, Mas? Dulu hampir setiap hari aku pergi ke sini untuk menjernihkan pikiran,” ucap Zoya, mencoba mengenalkan lingkungan tempat tinggalnya kepada William.


William terkekeh kecil mendengar penuturan Zoya. “Aku tahu, Zoya. Aku sering pergi ke kota ini untuk meninjau proyek,” balas William.


“Benarkah?” tanya Zoya dengan mata berbinar-binar.


“Iya. Lihatlah resort itu.” William menunjuk ke arah tempat penginapan yang tidak terlalu jauh dari pantai. “Resort itu adalah salah satu hasil proyekku bersama klien,” jelasnya.

__ADS_1


Zoya terkesiap. Dia ingin heran tapi mengingat bagaimana suksesnya William, dia langsung mempercayai pria itu. Lagi pula, jarak dari pusat kota ke tempat tinggal Zoya hanya tiga jam saja. Jarak yang tidak begitu jauh dan bisa ditempuh dengan mengendarai kendaraan pribadi.


“Kenapa kita tidak pernah bertemu sebelumnya?” tanya Zoya.


“Memangnya kalau kita pernah bertemu sebelumnya kamu akan jatuh cinta lebih cepat denganku?” William balik bertanya.


Zoya tersedak minumannya ketika mendengar pertanyaan William. “Kamu jangan terlalu percaya diri begitu, Mas!” ucapnya sebal yang dibalas dengan tawa renyah William.


“Permisi, Kak. Ini jagung bakar pesanan kakak,” ucap seorang anak kecil yang membantu orang tuanya berjualan di pantai.


“Ah, terima kasih,” ucap Zoya seraya menerima jagung bakar tersebut. Zoya pun membagi jagung bakar tersebut untuk dia, William, dan Pak Sopir yang memilih untuk menunggu mereka di dermaga yang tak jauh dari mobil seraya mengobrol dengan orang yang sedang memancing.


Saat sedang asyik mengobrol dan menikmati suasana pantai, dari kejauhan seorang pria melihat Zoya dan William. Pria itu lantas memutuskan untuk menghampiri mereka berdua untuk menyapa gadis yang sudah lama tidak dia lihat.


“Hai, Zoya,” sapanya.


Zoya dan William menoleh ketika mendengar sapaan tersebut. Senyum William hilang seketika saat dia melihat siapa yang telah menyapa Zoya. Pria itu adalah Damar. Damar sang pemilik tempat gym tengah jogging menyusuri pantai ketika dia tak sengaja melihat Zoya. Entah disengaja atau tidak, pria itu menyapa Zoya.


“Hai, perkenalkan aku adalah William, suami Zoya,” serobot William tatkala Zoya hendak menyapa balik Damar. William mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Damar. Hatinya memanas setiap kali dia memikirkan tentang bagaimana Zoya dulu mencintai pria itu.


“Oh, ternyata kau orangnya.” Damar tersenyum tipis, seraya membalas uluran tangan William. Mereka pun berjabat tangan sejenak.


Damar yang masih memiliki perasaan untuk Zoya jujur saja belum siap untuk bertemu dengan pria yang sudah merebut Zoya darinya. Hatinya terasa sakit setiap kali dia mengingat kalau dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk bersama dengan gadis itu. Kalau boleh jujur, Damar ingin sekali menculik Zoya dan membawanya pergi ke tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun. Asalkan Zoya bersamanya, menjadi miliknya. Tapi, Damar tahu kalau dia tidak boleh bersikap egois.

__ADS_1


Dengan berat hati pria itu mencoba untuk bersikap biasa saja di depan Zoya dan William. Dia harus menunjukkan kepada mereka kalau dia bisa bahagia meskipun tidak memiliki Zoya.


Sementara William yang tak suka dengan kedatangan Damar menunjuk sikap posesifnya. Pria itu bahkan menarik Zoya untuk mendekat ke arahnya dan merangkul Zoya dengan erat, membuat Damar dan Zoya menatapnya dengan tatapan bingung.


__ADS_2