Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 72


__ADS_3

William yang dibakar api cemburu, memilih pulang dengan kemarahan yang membara. Adegan yang dia lihat tadi di tempat Zoya masih terus terngiang-ngiang di pelupuk mata Liam. Bagaimana istrinya tertawa dengan ceria dan terlihat sangat cantik. Juga bagaimana tatapan dari Pria muda itu, terus menerus tertuju kepada istrinya, Zoya. 


Tatapan mata dari pria itu, terlihat jelas penuh pemujaan terhadap Zoya. Membuat hati William panas saat melihatnya. Ingin sekali rasanya William menarik pria itu dan memberinya beberapa pukulan untuk peringatan agar dia tidak lagi menatap istri orang dengan sembarangan.


Namun hal itu tidak dia lakukan karena William masih memiliki harga diri dan ego yang tinggi. William memilih untuk pergi meninggalkan Zoya di sana. Dia yang awalnya ingin menjemput sang istri, akhirnya pulang ke rumah sendirian tanpa wanita itu.


Sesampainya di rumah, William turun dari mobil dan menutup pintu dengan kasar, sehingga suaranya terdengar cukup keras untuk menarik perhatian dari wanita yang mengasuh dirinya dulu, saat masih anak-anak, Leila.


"Tuan William, apa yang terjadi?" tanya Leila penasaran melihat raut wajah Liam yang tidak wajar.


William mengabaikan Leila pada awalnya. Memilih masuk ke dalam rumah dan membanting dirinya sendiri ke atas sofa empuk di ruang tengah. Memejamkan kedua matanya, pria itu berusaha untuk mengenyahkan gambaran dari Zoya dan pria itu yang sedang bersama-sama.


"Sialan! Brengsek!" umpat William kesal di ruang tengah.


Tak lama kemudian, Pria itu membuka matanya dan beranjak duduk di sofa.  Dengan wajah yang ditutupi kedua telapak tangannya yang besar, William berusaha untuk meredam emosinya yang terus saja memuncak setiap kali kilasan bayangan itu berkelebat di depan matanya.


Ketika sudut matanya menangkap bayangan Leila yang tengah melintas, William segera memanggil wanita baya itu. "Leila, ke sini dulu," panggil William melambaikan tangannya pada wanita itu.


 


Leila yang mengerti, segera menghampiri William. "Ya, Tuan William?" 


 


"Leila, apa kamu tahu tentang seorang pria muda yang dekat dengan Zoya?" tanya William dengan lugas.


 


"Pria muda?" Leila memiringkan kepalanya untuk berpikir sejenak.


 "Ada banyak pria yang mencoba mendekati Nona Zoya, apa maksud Anda pria muda tampan pemilik gym?" tanya Leila.


"Ya, dia" tegas William dengan wajah datar.


 


Segera Leila mengingat wajah seseorang, tetapi dia melirik wajah Liam dengan ragu-ragu. 


 


"Apa? Apa kamu tidak tahu tentang dia?" desak William tanpa kentara.

__ADS_1


 


"Ya … aku tahu tentang dia. Sedikit," ujar Leila menatap William penuh pertimbangan.


 


William tetap diam, menunggu Leila mengatakan semua yang wanita itu tahu tentang pria muda itu.


 


Sementara Leila yang tidak tahu jika Liam sedang bertengkar dengan sang istri, Zoya, justru tengah memiliki pemikiran sehubungan tentang perasaan William pada istrinya tersebut. Karena itu Leila menceritakan tentang polisi muda itu yang tidak lain adalah Damar dan juga bagaimana Damar sudah lama menyukai Zoya.


"Pria muda itu bernama Damar dan dia terkenal sangat baik dan ramah pada siapa saja. Tetapi terutama kepada Nona Zoya, karena mereka sudah lama saling kenal. Jadi tidak aneh jika keduanya terlihat sangat dekat, karena memang kenyataannya mereka berdua berteman." 


Leila mulai menceritakan kisah Damar kepada William. Mencoba melihat perubahan ekspresi pada diri pria itu. Tetapi Leila gagal melihat kemarahan yang ada di dalam hati William. Menarik napas dalam, wanita itu kemudian melanjutkan ceritanya yang belum selesai.


 


"Dan pada awalnya, banyak orang mengira jika mereka berdua akan menikah dan hidup bersama, karena bukan lagi menjadi rahasia jika Damar sangat menyukai Nona Zoya. Dia selalu menjaganya sejak dulu hingga sekarang. Jadi wajar, jika banyak orang mengharapkan pernikahan di antara mereka berdua," lanjut Leila menutup cerita tentang Damar pada William.


 


Sementara itu, semakin lama William mendengarkan kisah itu, semakin panas hati William dan semakin besar rasa cemburu William pada laki-laki itu. Mengabaikan Leila, dia pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas.


Di lantai atas, tepatnya di kamar tidur Willia., pria itu baru saja masuk dan berdiri di depan jendela kaca. Dengan kedua tangannya yang mengepal, masuk ke dalam saku celananya. Sangat jelas raut emosi di wajah pria itu.


Tepat pada saat itu, ponsel milik William berdering. Pria itu segera meraih ponselnya dengan malas. Namun saat melihat nama yang tertera di layar ponsel adalah milik asisten pribadinya yang di perusahaan, William segera menerima panggilan tersebut.


"Halo."


Segera setelah telepon itu terhubung, terdengar suara dari asisten pribadinya di ujung lain telepon. Dari nada suaranya, pria itu terdengar panik dan gelisah. Meskipun asisten pribadinya berhasil mengucapkan semuanya dengan tenang, tetapi telinga Liam lebih tajam dan jeli dari siapapun.


"Jadi, Tuan Liam… bisakah kamu kembali sekarang? Aku benar-benar tidak bisa melakukan semua ini sendiri di sini. Masalahnya terlalu rumit untuk aku tangani sendirian," ujar asisten pribadi William di ujung telepon yang lain.


William terdiam. Dia tidak segera menjawab pertanyaan dari asistennya itu. Ada keraguan di dalam hati pria itu saat memutuskan untuk pergi atau tidak. Di satu sisi, itu adalah masalah perusahaan yang menyangkut nasib banyak orang, jadi William harus segera menyelesaikan semuanya segera. Disisi lain, dia tidak bisa meninggalkan istrinya di sini sendirian karena William sudah berjanji pada wanita itu untuk pergi bersamanya.


Akan tetapi sebuah ingatan tentang apa yang terjadi hari ini di galeri Zoya, berkelebat di pelupuk mata William. Membuat hati William yang masih panas, semakin bertambah panas karena kecemburuan yang semakin besar membakar hati William di dalam. Hal ini membuat pria itu memutuskan untuk pulang tanpa memperdulikan sang istri.


Dengan keputusan yang mantap, pria itu segera menjawab telepon yang sejak tadi masih terhubungkan itu. "Aku akan pergi sekarang juga!" tandas William pada akhirnya.


Menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari pihak lain, William segera bersiap untuk pulang sekarang. Ketika dia sudah siap dengan koper perjalanan kecil di tangannya, pria itu melangkah turun ke lantai bawah.

__ADS_1


Di lantai bawah, dia melihat sang ayah yang terlihat sengaja menunggu William di sana. William semakin dekat melangkah ke tempat ayahnya berdiri, pria baya itu mengerutkan dahi saat tatapannya jatuh pada koper perjalanan kecil yang diseret oleh William di tangan kirinya.


"Pa," panggil William pada pria baya itu.


 


Rian mendongak, menatap ke arah wajah William untuk sesaat sebelum berbalik badan. "Ikut sebentar," kata Rian sembari melangkah menuju ke ruang kerja pribadi di rumah itu.


Melihat ayahnya yang berjalan pergi, William menghela nafas panjang. Kemudian terpaksa mengikuti sang ayah, berjalan di belakang Rian.


"Pa, apa yang–"


Memotong perkataan William. Pria itu berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu berwarna hitam elegan.


"Masuk!" perintah Rian membuka pintu besar itu dengan tegas.


 


William terdiam untuk sesaat, tetapi akhirnya dia masih mengikuti sang ayah untuk melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Itu adalah ruangan yang luas, dimana ada banyak buku yang tertata rapi diatas rak besar yang berdiri di kedua sisi dinding yang saling berseberangan. Sementara di sisi yang lain, ada sebuah meja kayu besar yang kokoh dengan satu unit komputer serta peralatan menulis di atasnya. Juga sebuah kursi empuk yang terbalut kulit asli yang terlihat serasi berada di ruangan itu.


William melihat Rian melangkah ke arah kursi itu dan kemudian duduk di sana. Sementara dirinya memilih duduk di sofa yang ada di sisi sebelah kanan dari meja kerja sang ayah.


 


"Jadi, Papa … ada apa kau membawaku ke sini? Aku harus pulang," kata William sembari melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Melihat ini, Rian segera mengatakan tujuannya membawa pria ke ruangan itu.


"Kamu mau pergi kemana? Kenapa membawa koper segala? Dan apa maksudmu dengan pulang?" Rentetan pertanyaan itu meluncur dari sosok Rian yang terkenal dengan ketenangannya sejak dulu.


Tentu saja William sedikit terkejut. Tetapi dia segera menenangkan dirinya sendiri dengan cepat. Hingga tidak ada yang bisa melihat fluktuasi emosinya untuk sesaat tadi.


"Kembali ke perusahaan pusat. Ada masalah di sana," jawab William singkat.


"William, kamu tidak perlu pergi sendiri. Papa akan cari seseorang untuk menggantikanmu menangani masalah di sana," usul Rian, terlebih mengingat semua rencana yang telah mereka siapkan akan berantakan jika William pergi.


"Tidak Pa, terima kasih. Tapi aku harus pergi sendiri sekarang." William menolak tawaran dari sang ayah.


"Tapi jika kamu pergi sendiri, bagaimana dengan istrimu, Zoya?" ujar Rian bertanya pada William.


 

__ADS_1


Namun William tidak mengatakan apapun. Sampai akhirnya dia pergi, dia tidak berpamitan pada Zoya. Dia sengaja melakukan ini agar Zoya tahu jika dirinya marah terhadap wanita itu.


"William!" panggil Rian tak ditanggapi oleh William.


__ADS_2