
Gadis itu dengan sigap menuangkan air mineral ke gelas lalu memberikan gelas tersebut kepada sang suami yang tengah tersedak makanannya. Kalau boleh jujur, tidak hanya William yang terkejut dengan ucapan Wulan, tapi Zoya juga terkejut. Untungnya Zoya tidak sedang mengunyah makanannya sehingga Zoya tidak mengalami hal yang terjadi kepada William.
Setelah menegak minumannya dan menetralkan tenggorokannya, William menoleh pada sang ibu dengan tatapan kesal. Ucapan Wulan yang suka meluncur dari bibirnya seenak hati terkadang memang cukup membuat William jengkel. Bagaimana bisa Wulan berpikir kalau Zoya dan William adalah pasangan yang harmonis kalau wanita itu saja baru kali ini melihat William bersikap baik kepada Zoya. Sungguh-sungguh tidak rasional.
“Kamu makannya pelan-pelan, Mas,” ucap Zoya, menasihati William.
William menoleh ke arahnya kemudian mengangguk. “Iya, Zoya,” jawabnya sambil tersenyum.
Wulan dan Ryan saling berpandangan. Baru kali ini mereka melihat William bersikap begitu lembut kepada Zoya. Selama ini William selalu saja uring-uringan kalau harus berinteraksi dengan Zoya. Jangankan berinteraksi, kalau Wulan dan Ryan membicarakan Zoya saja William dulu selalu marah dan emosi. Sekarang keadaan seolah berubah seratus delapan puluh derajat. Wulan dan Ryan semakin yakin kalau William sudah mulai menyukai gadis pilihan mereka, Zoya.
“Hari ini kamu akan melakukan terapi jam berapa, Liam?” tanya Ryan.
“Hari ini aku tidak ada jadwal terapi, Pa. Karena sekarang aku sudah bisa menggerakkan kakiku meskipun masih memakai tongkat, jadwal terapiku sekarang sudah tidak setiap hari, tapi dua hari sekali. Dokter bilang kalau aku sering bergerak dan berjalan-jalan itu sama saja dengan melakukan terapi,” jelas William.
“Bagus itu. Itu artinya kamu memiliki semakin banyak waktu untuk berduaan dengan istrimu,” sahut Ryan, membuat pipi William dan Zoya memerah karena rasa malu.
Wulan terkekeh. “Sudah, Pa, jangan menggoda pengantin baru. Setelah makan siang kita sebaiknya pulang dan berikan waktu untuk mereka berduaan hari ini,” ucapnya.
“Kenapa buru-buru sekali, Ma?” tanya Zoya seraya menelengkan kepalanya.
“Ah, kami tidak buru-buru. Kami hanya tidak ingin mengganggu waktu berdua kalian,” jelas Wulan.
Zoya tersenyum tipis. Dia tidak tahu dari mana datangnya pemikiran itu padahal jelas sekali kalau Zoya jarang memiliki kesibukan selain mengurus pekerjaan rumah dan mendampingi William.
“Aku dan Mas Liam ti—”
__ADS_1
“Sudahlah, Zoya. Biarkan saja kalau Mama dan Papa memang ingin pulang. Jangan memaksa mereka untuk berlama-lama di sini kalau mereka tidak mau,” timpal William sambil memegang tangan Zoya yang berada di atas meja.
Zoya mengernyitkan dahi. Kenapa sekarang dia jadi berpikir kalau William secara halus mengusir orang tuanya?
Benar saja, usai makan siang, Ryan dan Wulan berpamitan. Mereka berdua pulang dengan hati riang gembira sebab mereka yakin kalau William mulai memiliki perasaan untuk Zoya. Tak lupa Wulan juga menceritakan hal tersebut kepada Leila. Leila yang sejak awal merasa bersalah karena sudah memberikan ide gila kepada William kini dapat bernapas lega karena William sudah bisa memperlakukan Zoya dengan baik sebagai seorang suami. Sungguh, Leila akan merasa sangat bersalah kalau William tak kunjung bersikap baik kepada Zoya dan terus-menerus menyiksa Zoya secara halus.
Di sisi lain, setelah orang tua William pergi, Zoya mendapatkan sebuah telepon dari Desi. Sebab sudah lama tidak bertemu dengan Desi, Zoya dengan antusias menjawab panggilan tersebut.
“Halo, Bibi Desi,” sapa Zoya. “Bagaimana kabar Bibi?” tanya gadis itu.
“Kabar Bibi baik, Zoya. Bagaimana denganmu dan William? Apakah hubungan kalian sudah kian membaik sekarang?” tanya Desi. Sebagai orang yang paham kalau William dan Zoya awalnya tidak menginginkan pernikahan itu, Desi ingin tahu apakah Zoya dan William sekarang bahagia atau tidak.
“Kabarku sangat baik, Bibi. Aku dan Mas Liam sekarang sudah mulai bisa menerima kenyataan untuk menjalani pernikahan ini meskipun kami masih dalam tahap adaptasi,” jawab Zoya apa adanya.
“Liam bersikap baik kepada kamu, ‘kan, Zoya? Maksud Bibi ... Liam tidak menyakiti kamu, bukan?” tanya Desi khawatir.
“Tidak, Bibi. Kami baik-baik saja,” jawab Zoya.
Zoya dan Desi mengobrol cukup lama sambil bercanda, membuat William yang ternyata mengamati Zoya dari kejauhan penasaran dengan siapa Zoya berbicara di telepon.
“Bibi, aku tutup dulu panggilannya. Nanti kita mengobrol lagi,” ucap Zoya saat menyadari bahwa William memerhatikan dirinya.
Setelah mematikan sambungan telepon, Zoya menghampiri William sebab dia berpikir kalau William mungkin membutuhkan bantuannya untuk melakukan sesuatu.
“Sejak kapan kamu berada di sini, Mas? Apakah kamu membutuhkan bantuan untuk melakukan sesuatu?” tanya Zoya.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa.” William menggeleng. “Dengan siapa kamu bertelepon tadi?”
“Ah, aku tadi bertelepon dengan Bibi Desi,” jawab Zoya. “Oh iya, Mas. Aku ingin izin untuk menemui Bibi Desi. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Bibi Desi. Aku jadi merindukan Bibi dan galeriku. Kata Uci galeriku sedang ramai dan aku ingin memeriksanya.”
William mengerutkan keningnya tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia baru tahu kalau ternyata Zoya memiliki sebuah galeri. William ingin sekali rasanya berkunjung ke galeri Zoya. Namun, dia gengsi untuk mengatakannya.
“Rencananya aku akan menginap di rumah Bibi Desi tiga hari,” ujar Zoya dengan lugu.
Mendengar hal tersebut, William tiba-tiba menatap Zoya dengan tatapan sewot. “Tidak boleh,” jawabnya ketus.
“Kenapa tidak boleh, Mas? Aku hanya ingin bertemu Bibi karena aku merindukannya,” protes Zoya. Dia merasa sedih karena tidak diizinkan pergi menginap di rumah lamanya.
“Kamu bisa pergi ke sana sebentar. Tidak perlu menginap apalagi selama itu,” jawab William dengan nada ketus. Pria itu menyipitkan matanya, lagi-lagi dia merasa curiga kalau Zoya akan diam-diam menemui Damar. Entah mengapa William merasa sangat disaingi oleh Damar padahal mereka bertemu saja belum pernah.
“Tapi, Mas ....”
“Tidak ada tapi-tapi. Kamu pasti ingin berselingkuh dan menemui pria itu, ‘kan?” tuding William.
Mendengar tuduhan William, Zoya kesal. Mereka pun berdebat. William sibuk menuduh Zoya berselingkuh sementara Zoya sibuk membela dirinya karena dia memang tidak memiliki niat sedikit pun untuk bermain api di belakang William.
“Sikap kamu benar-benar seperti suami sungguhan,” cibir Zoya seraya berkacak pinggang.
“Bukankah pernikahan kita memang sungguhan?” balas William, marah.
“Apakah kamu sudah mulai mencintaiku, Mas?” desak Zoya, membuat William menutup bibirnya rapat-rapat. “Lebih baik kamu menyibukkan diri dengan mencari Renata daripada mengurusi aku,” sambungnya.
__ADS_1
“Aku sudah lama tidak memikirkan tentang Renata atau pun mencari tahu tentang Renata,” jawab William, menciptakan keheningan di detik selanjutnya.