Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 59


__ADS_3

Setelah satu kalimat itu keluar dari bibir William, antara Zoya dan William tidak ada yang membuka suara sama sekali. Dua sejoli itu justru sibuk dengan pikirannya masing-masing, terutama Zoya yang bingung setengah mati dengan maksud dari ucapan spontan William. Sementara William merutuki kebodohannya karena tidak bisa mengontrol lidahnya. Tapi apa mau dikata? Nasi sudah menjadi bubur. Apa yang telah terucap dari bibir William tidak bisa ditarik lagi.


Zoya menatap William dengan tatapan penuh tanda tanya. Gadis itu tidak menyembunyikan rasa penasarannya sama sekali. Dia justru dengan terang-terangan menunjukkannya. Ingin sekali dia bertanya apa maksud William tapi dia takut pertanyaannya justru akan menyinggung perasaan William. Mereka sudah tinggal bersama selama beberapa bulan, jadi otomatis Zoya tahu bagaimana karakter William. Pria itu paling tidak suka kalau disuruh mengulangi apa yang telah dia katakan.


‘Apa maksud Liam sebenarnya? Apakah benar dia sudah lama tidak memikirkan Renata?’ tanya Zoya dalam hati.


William berjalan menuju ke sofa, lalu mengambil tempat untuk duduk. Meskipun dia sudah bisa berdiri, tetap saja kakinya terasa sakit dan pegal kalau dia terlalu lama berdiri. Dia butuh duduk untuk menetralkan pegal di kakinya.


Zoya mengekori William, kemudian duduk di samping William. Gadis itu masih bertanya-tanya apakah yang dikatakan William tentang Renata tadi benar atau tidak. Tapi tetap saja, bukan Zoya namanya kalau dia tidak memiliki rasa ragu.


‘Apakah benar Liam sudah tidak memikirkan Renata? Bukankah selama ini William selalu mencari-cari keberadaan Renata?’ tanya Zoya lagi.


Zoya menarik napas dalam-dalam. Rasa penasaran yang menggerogoti pikirannya tak akan berhenti dan terobati jika dia tidak bertanya langsung kepada William. Gadis itu pun akhirnya meyakinkan diri untuk bertanya. Namun sebelum Zoya sempat membuka mulutnya untuk bertanya, William sudah mendahuluinya terlebih dulu.


“Aku menganggap pernikahan kita adalah sebuah pernikahan yang serius, Zoya. Aku bukanlah tipe pria yang berpikir kalau pernikahan adalah sebuah candaan,” ucap William sambil menatap lurus pada manik mata Zoya.


Ucapan William kali ini bisa dibilang kontradiksi dengan apa yang dia lakukan di awal pernikahan mereka. Di awal pernikahan, William tak segan-segan untuk menyakiti Zoya dan menjadikan gadis cantik itu sebagai pelayan pribadinya. Tidak berhenti di sana saja, William bahkan tidak pernah menganggap Zoya sebagai istrinya dan selalu berpikir bahwa pernikahan mereka adalah sebuah petaka baginya yang masih sangat mengharapkan kehadiran Renata.

__ADS_1


Entah apa yang membuat William mengubah jalan pikirannya. Tapi, besar kemungkinan perasaan yang dimiliki William terhadap Renata perlahan luntur setelah dia menghabiskan banyak waktu bersama dengan istrinya yaitu Zoya.


“Bukankah kamu sejak awal tidak menginginkan pernikahan ini, Mas?” tanya Zoya sambil mengerutkan alisnya, membentuk sebuah garis melengkung.


“Aku sama seperti kamu, Zoya. Di awal pernikahan kita tidak mengenal satu sama lain. Coba kamu pikir-pikir lagi, di saat kita menikah kita saja baru bertemu dua kali. Pertama saat melakukan fitting baju pengantin, dan yang kedua adalah di hari pernikahan kita. Apakah kamu langsung menerimaku sebagai suamimu?” William balik bertanya.


Zoya termenung mendengar hal tersebut. Apa yang diucapkan oleh William benar. Zoya pun di awal pernikahan mereka belum bisa menerima kenyataan. Mungkin kalau Zoya masih bisa mengontrol diri dan tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Tapi kalau William? Dia tidak bisa seperti Zoya.


“Kamu benar, Mas. Semuanya memang sangat terburu-buru,” jawab Zoya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Pernikahan yang terjadi karena sebuah perjodohan tidak semuanya berjalan dengan mulus. Begitu pula dengan pernikahan Zoya dan William. Tapi, setidaknya mereka kini sudah mulai belajar untuk menerima satu sama lain. Mungkin benar kata orang kalau cinta akan datang karena terbiasa. Seperti halnya hati Zoya dan William yang mulai bisa menerima satu sama lain meskipun mereka belum mau mengakuinya secara terang-terangan.


William mengangguk. “Sudah lama aku tidak memikirkan tentang dia, Zoya. Mungkin kami memang tidak berjodoh,” ucap William getir.


William sendiri tidak tahu ke mana perginya perasaannya terhadap Renata. Yang dia tahu, perlahan dia mulai berhenti memikirkan tentang gadis yang sudah bertahun-tahun mengisi relung hatinya.


‘Apakah aku bisa mempercayai ucapan Liam?’ tanya Zoya dalam hati. Meskipun William tampak sangat yakin dengan ucapannya, Zoya masih saja dibuat bimbang oleh keraguan. Gadis itu ingat betul ucapan William yang berkata jika Zoya tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Renata di hati William. Apakah mungkin William membangun komitmen dengan Zoya tanpa adanya rasa cinta?

__ADS_1


“Zoya, aku tidak akan berselingkuh apalagi mencari wanita lain setelah aku menikah. Mungkin aku tidak pandai untuk menunjukkannya dengan sikapku atau kata-kata karena beginilah aku. Tapi, aku janji aku tidak akan menduakan kamu,” ujar William dengan tulus sambil diiringi oleh senyuman manis.


“Mas, aku ....” Zoya bingung harus menanggapi ucapan William dengan kalimat seperti apa. Dia terkejut mendengar pengakuan William yang rasanya sangat mustahil bisa dia dengar. Selama ini Zoya berpikir kalau William sangat membencinya. Bagaimana mungkin Zoya bisa begitu saja percaya kepada pria yang di awal pernikahan mereka saja justru memajang foto dirinya dengan gadis lain?


“Stt ... Aku belum selesai bicara.” William meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Zoya, membuat Zoya mengatupkan bibirnya, kemudian melanjutkan kalimatnya. “Kita mungkin menikah karena sebuah perjodohan. Tapi, bukan berarti aku akan berselingkuh dari dirimu. Aku tidak akan mencari wanita lain, Zoya.”


Zoya ternganga mendengar penuturan William. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh William. Gadis tersebut terlalu terkejut sampai tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


‘Apakah mungkin Liam mulai menyukaiku?’ tanya Zoya dalam hati.


Zoya dibuat semakin bingung. Bagaimana tidak? Ucapan William barusan tanpa sadar mengisyaratkan kalau pria itu mulai menyimpan perasaan kepada Zoya. Memangnya ada orang di dunia ini yang berjanji tak akan mencari wanita lain kalau dia tidak menyukai pasangannya yang sekarang? Berinteraksi intens tanpa rasa suka saja sulit, apalagi kalau harus berkomitmen dengan seseorang yang tidak disukai. Rasanya mustahil kalau William rela melakukan hal tersebut tanpa memiliki perasaan apa pun kepada Zoya.


“Apakah kamu mencintaiku, Mas?” tanya Zoya.


William terkesiap. Pria itu menatap Zoya bingung. “Apa? Kenapa kamu berpikir seperti itu?” William balik bertanya.


“Semua kalimat yang kamu ucapkan seolah-olah kamu menyukaiku. Jadi, apakah tebakanku benar kalau kamu mulai mencintaiku, Mas?” desak Zoya sekali lagi.

__ADS_1


William terdiam sejenak lalu berkata, “Kalau aku mencintai kamu ... Bagaimana dengan kamu, Zoya? Apakah kamu juga merasakan hal yang sama?”


__ADS_2