Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 41


__ADS_3

Usai membantu William mandi, Zoya mendorong kursi roda William menuju ke lift. William berkata akan melanjutkan pekerjaan sembari menunggu Zoya masak makan malam untuk mereka berdua. Zoya pun dengan sigap mengantar William ke ruang kerjanya setelah itu barulah dia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.


Zoya mengambil buku resep yang tadi diberikan oleh William, lalu membaca-baca resep yang ada di sana. Kebanyakan resep masakan di buku-buku itu adalah masakan western jadi Zoya berpikir kalau William menyukai masakan western. Dia membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan dari pantry. Dia berencana untuk membuat pasta dan steak daging karena kebetulan bahan-bahannya mudah didapatkan dan tersedia di rumah itu.


Setelah selesai menyiapkan bahan-bahan makanan, Zoya mulai memasak. Tak butuh waktu lama bagi Zoya untuk menyelesaikan masakannya karena dua masakan itu bisa dibilang cukup simpel dan tidak memerlukan waktu memasak yang lama. Usai memasak, Zoya memanggil William untuk makan bersama.


William terperangah tak percaya mendapati Zoya menghidangkan makanan yang cukup mewah. Apalagi, gadis itu juga pandai menyajikannya di meja sehingga makan malam mereka tampak seperti sajian makanan di restoran bintang lima.


‘Ah aku tidak boleh terlalu terpesona. Bisa jadi rasanya tidak enak dan dagingnya alot. Zoya pasti tidak paham tentang jenis-jenis daging yang enak dibuat steak,’ ucap William dalam hati, meremehkan Zoya.


“Selamat makan, Mas,” ucap Zoya.


“Hmmm,” jawab William.


William menyuap makanannya ke dalam mulut. Dia terkejut karena makanan yang dibuat Zoya sangat lezat dan dagingnya tidak keras sama sekali. William jadi curiga apakah mungkin Zoya membeli makanan di restoran lagi.


“Apakah kamu yang memasak ini? Atau kamu membelinya lagi?” tanya William.


“Aku memasaknya sendiri. Bahan-bahannya sudah ada di kulkas dan pantry, jadi aku langsung membuatnya,” jawab Zoya. “Apakah enak, Mas?” tanyanya antusias. Zoya menatap William dengan mata berbinar, berharap William menyukai masakannya kali ini.


“Biasa saja,” jawab William meskipun dalam hati dia ingin berkata kalau masakan Zoya sangat lezat. Gengsi kalau William harus mengakui itu semua.

__ADS_1


Usai makan malam, Zoya memberesi piring-piring kotor dan memasukkannya ke dishwasher. Saat sedang sibuk mengelap meja makan, tiba-tiba saja William mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan.


“Mulai sekarang kamu tidur di kamarku,” ucap William.


Zoya menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian menoleh ke arah William dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Mas, aku tidak salah dengar?” tanyanya tidak percaya dengan ucapan William.


William berdecap. “Tidak. Beresi barang-barangmu dan pindahkan ke kamarku. Mulai sekarang kita akan tidur di kamar yang sama,” ucap William.


“Aku tidak mau,” ucap Zoya.


Memang tidur satu kamar dengan suami adalah hal yang biasa dilakukan oleh seorang wanita yang sudah menikah. Akan tetapi, Zoya tidak bisa membayangkan tidur berdua di ranjang yang sama dengan William. Hubungan mereka tidak begitu dekat untuk mereka berdua tidur di kamar yang sama, terlebih lagi di ranjang yang sama. Zoya tidak mungkin mengiyakan tawaran William begitu saja.


“Aku ... Aku ... Aku tidak terbiasa. Tidurku juga mengorok. Nanti kamu terganggu,” kilah Zoya, bingung harus mencari alasan seperti apa. Tidak mungkin dia berkata dia tidak mau tidur dengan William karena takut dengan William. “Selain itu aku juga tidak bisa diam kalau tidur. Kakiku suka menendang ke sana dan ke mari,” sambungnya supaya lebih meyakinkan lagi.


“Katakan saja kalau kau takut aku berbuat macam-macam padamu,” cibir William seolah bisa membaca pikiran Zoya.


Zoya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia meringis karena tertangkap basah berbohong. “Maaf,” ucapnya.


“Kamu adalah istriku, Zoya. Kamu harus selalu ada di sisiku. Sebagai istri yang baik kamu tidak seharusnya melawan perintah suami,” ucap William tandas. “Lagi pula aku lumpuh, Zoya. Aku tidak akan bisa melakukan hal yang tidak-tidak kepadamu.”

__ADS_1


“T-tapi ....”


“Tidak ada tapi-tapi. Pokoknya aku mau kau langsung membereskan barang-barangmu dan memindahkannya ke kamarku. Aku tidak menerima penolakan,” ucap William lalu memutar kursi rodanya dan pergi ke kamarnya.


Sepeninggal William, Zoya menggigit jari. Dia gugup karena harus tidur di kamar yang sama dengan William. Tapi, di satu sisi dia juga berpikir kalau mungkin jika mereka tidur di kamar yang sama, Zoya akan semakin mudah membantu William melakukan sesuatu. Jadi, William tidak perlu meneriaki Zoya setiap kali dia membutuhkan bantuan Zoya.


Zoya menghela napas pasrah, lalu pergi ke kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya. Sepertinya kehidupannya tidak akan bisa tenang setelah ini.


Dua insan itu tidak menyadari kalau masing-masing dari mereka memiliki rencananya sendiri-sendiri. Zoya berencana mendekatkan diri kepada William supaya bisa membantu William sembuh dan dapat segera bercerai dengan William, dan William yang mendekatkan diri kepada Zoya karena dia memiliki rencana untuk semakin menindas Zoya dengan alasan status pernikahan mereka supaya Zoya bisa segera bosan dan kedoknya dapat terbuka.


Usai mengemasi barang-barangnya, Zoya menyeret kopernya menuju ke lift yang akan mengantarkannya menuju ke kamar William yang terletak di lantai tiga. Sesampainya di kamar William, Zoya memberesi dan menata barang-barangnya di walk-in-closet.


Kebetulan sekali di kamar William terdapat dua sisi walk-in-closet. Satu sisi telah digunakan oleh William. Jadi, Zoya menyimpan barang-barangnya di sisi yang lain. Barang-barang yang dibawa Zoya tidak terlalu banyak jadi walk-in-closet itu tidak penuh, masih menyisakan sedokit ruang.


Setelah selesai memberesi barang-barangnya, Zoya menatap ke seluruh penjuru kamar. Jantungnya berdebar kencang karena dia gugup. Dia tidak tahu apakah dia bisa tidur satu kamar dengan William atau tidak.


Zoya sadar jika statusnya saat ini adalah istri William dan sebagai istri, normalnya memang Zoya harus tidur satu kamar dengan suaminya. Hampir tidak ada pasangan suami istri baru menikah yang tidur terpisah dengan satu sama lain, kecuali Zoya dan William tentu saja.


‘Apakah aku benar-benar harus tidur di kamar Liam?’ tanya Zoya dalam hati.


Zoya menatap ranjang yang terletak tepat di tengah-tengah kamar dengan ragu. Ranjang itu berukuran besar. Mungkin dia kali lebih besar dari ranjang yang ia tempati di kamar lantai dasar. Kemungkinan tubuh mereka akan bersentuhan pun sangat kecil.

__ADS_1


Tapi tetap saja Zoya merasa gugup membayangkan kalau dia harus berbagi kamar dengan sang suami. Bukan apa-apa, sebab selama ini Zoya tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun selain Damar. Dengan Damar pun Zoya tidak pernah melakukan hal di luar batas kecuali pergi makan atau berkencan saja. Zoya benar-benar tidak bisa membayangkan kalau dia harus tidur satu ranjang dengan seorang pria meskipun pria itu adalah suaminya sekali pun.


__ADS_2