
Entah kenapa hari ini Zoya merasa begitu tidak tenang, bayangan tentang Liam selalu mengusiknya, dia memang berniat untuk tidak memikirkan Liam dan Wulan sama sekali. Tetapi dia juga tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja. Sejak kecil, Zoya memang selalu mudah peduli pada orang lain, itu sebabnya, sangat sulit baginya mengabaikan Liam dan Wulan. Apalagi Zoya sudah menganggap Wulan sebagai pengganti ibu baginya.
Karena Wulan dan suaminya sudah begitu baik menjaganya setelah kedua orang tua Zoya tiada. Sehingga wajar jika Zoya menganggap keduanya sebagai orang tua kedua di hidupnya. Meski lokasi tinggal mereka yang lumayan jauh, Wulan dan suaminya tetap rutin menjenguk Zoya, tetapi tidak dalam beberapa bulan terakhir setelah William putra kandung mereka mengalami kecelakaan.
Wulan adalah orang yang berperan langsung dalam hidupnya. Karena Wulan adalah orang yang membantunya banyak hal setelah kepergian orang tuanya. Itu juga yang membuatnya begitu merasa bersalah saat mengabaikan Wulan. Apalagi dia sengaja mengganti nomor ponselnya hanya agar Wulan tidak terus menghubunginya.
Ternyata kegelisahan yang Zoya alami ini, terlihat jelas di wajahnya. Sehingga salah satu pegawai sekaligus temannya menanyakan apa yang Zoya rasakan saat ini.
“Ada apa? Kenapa kamu terlihat cemas?” tanya Uci yang melihat gelagat aneh Zoya hari ini.
“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pusing. Aku akan beristirahat sekarang. Kalian lanjutkan saja pekerjaannya.” Zoya segera menuju ruangannya yang ada di sana.
Ketika sudah berada di ruangannya, Zoya hanya termenung. Entah kenapa dia merasakan cemas. Tetapi dia tidak tahu apa yang membuatnya merasa begitu gelisah sekarang. Dia mencoba untuk mengalihkan pikirannya dengan membaca buku, agar dia bisa sedikit membunuh waktunya. Tetapi sayangnya hal itu tidak berhasil membuatnya tenang.
Hingga akhirnya lamunan Zoya buyar karena panggilan di ponselnya. Zoya melihat nama Damar di sana. Zoya berpikir, apakah dia harus mengangkat panggilan itu atau tidak, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengangkatnya.
“Halo, Mas,” ucapnya setelah mengangkat panggilan telepon dari Damar.
“Zoya, apa kamu baik-baik saja? Aku dengar dari karyawanmu, kalau kamu merasa tidak sehat sekarang,” ucap Damar yang terdengar sangat khawatir.
“Aku baik-baik saja. Tidak perlu mencemaskan aku.” Zoya senang karena Damar mencemaskannya, tetapi Zoya juga merasa tidak enak pada Damar.
“Bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya Damar yang masih terdengar begitu cemas.
“Mas, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit pusing. Itu saja. Tidak ada hal yang serius. Aku hanya butuh sedikit istirahat sekarang.” Zoya merasa semakin tidak enak pada Damar sekarang. Karena Zoya memang hanya butuh waktu sendirian saat ini.
__ADS_1
“Apa kamu yakin?” Damar merasa kalau Zoya mencoba menutupi sesuatu darinya.
“Iya, Mas. Tidak pernah seyakin ini.” Zoya kembali mempertegas kalau dia baik-baik saja.
“Zoya, apa ada hal yang mengganggumu? Kamu bisa menceritakan semuanya padaku.” Entah kenapa, Damar merasa kalau Zoya tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
“Tidak ada yang aku sembunyikan darimu, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah dan butuh istirahat, Mas," jawab Zoya yang tidak ingin melibatkan Damar dalam masalah ini. Karena Damar dan dirinya tidak memiliki hubungan apa-apa selain pertemanan.
“Zoya, aku percaya padamu. Baiklah, selamat beristirahat. Semoga kamu lekas sembuh. Sampai jumpa Zoya,” ucap Damar karena dia tahu, kalau Zoya masih memberikan jarak di antara mereka berdua.
“Sampai jumpa, Mas.” Zoyasegera menutup panggilan telepon di antara mereka berdua. Setelahnya dia kembali memikirkan Liam dan permintaan Wulan..
Zoya merenung cukup lama, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan melihat tren kecantikan yang baru. Karena mengikuti tren dalam semua hal jelas sangat beguuna untuk selalu membuat toko nya tidak ketinggalan jaman.
Setidaknya, hal ini bisa mengalihkan perhatian Zoya dari semua masalah yang mengganggu pikirannya saat ini. Karena Zoya sangat menyukai dunia fashion. Sehingga dia akan melupakan banyak hal ketika sedang mempelajari apa yang dia senangi selama ini. Inilah salah satunya hal yang bisa membuat Zoya merasa bahagia.
***
Dia ingin ada orang lain yang bisa merawat anaknya dengan tulus, dan Wulan selalu berpikir bahwa hanya Zoya yang memenuhi kriteria ini. Sebenarnya Wulan telah lama menginginkan Zoya menjadi menantunya, tetapi Liam memiliki pilihan lain, dan karena Wulan dan suaminya tidak pernah memaksakan kehendak mereka pada Liam sekali pun mereka tidak menyukai pilihan putra mereka, tapi setelah mengetahui jika Renata bukan wanita yang tulus pada Liam, karena itu Wulan mencari cara untuk mengusir Renata menjauh dari hidup putranya.
Sekarang Wulan semakin ingin mewujudkan keinginannya menjadikan Zoya sebagai menantunya. Dia hanya harus membujuk gadis yang sudah sangat lama dia sukai serta sayangi itu untuk menjadi pendamping Liam.
***
Ketika sore hari, Damar kembali menghubungi Zoya untuk mengajaknya pergi menikmati suasana di kota mereka mumpung hari begitu cerah dan bersahabat. Zoya yang memang sedang merasa memiliki banyak masalah, akhirnya memutuskan untuk ikut bersamanya. Sepertinya melihat pemandangan akan cukup baik untuk menghilangkan rasa tidak nyaman yang sejak tadi dia rasakan.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Damar berhenti di sebuah tempat wisata. Zoya yang melihatnya seketika berbinar senang. Dia tidak menyangka kalau akan melihat pemandangan secantik ini di depan matanya.
“Bagaimana? Apa kamu suka?” tanya Damar ketika melihat Zoya yang begitu ceria dan tampak takjub dengan pemandangan yang tersaji di hadapan mereka.
“Sangat suka. Terima kasih, Mas.” Zoya mengatakan kekagumannya dengan antusias.
“Aku turut senang jika kamu suka, Zoya.” Karena baginya melihat kebahagiaan Zoya, adalah yang terpenting.
Zoya menghirup udara sekitar yang masih terasa begitu segar. Serta pemandangan taman bunga yang begitu menenangkan hati. Hal itu membuatnya rileks seketika. Segala beban pikiran yang tadi sempat mengganggunya hilang begitu saja. Sepertinya dia memang berpikir terlalu banyak.
Damar yang melihat Zoya yang memejamkan mata sembari menghirup udara segar, hanya bisa terpana pada kecantikan alami yang Zoya miliki. Damar menyukai segala kesederhanaan Zoya selama ini. Karena Zoya selalu jujur dengan apa yang ada pada dirinya.
“Mas, aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadamu, tapi aku sangat berterima kasih, karena kamu sudah membawaku ke tempat yang begitu indah. Hari ini aku sedang memikirkan banyak hal, tetapi aku tidak bisa mengatakannya pada siapa pun. Termasuk dirimu, bukan karena aku tidak percaya padamu, tetapi, aku hanya merasa bahwa ini begitu pribadi bagiku. Aku harap kamu bisa mengerti, Mas.” Zoya mengatakan apa yang terjadi padanya setelah menenangkan diri beberapa saat, setelah menikmati pemandangan.
“Aku mengerti, aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan semuanya, Zoya. Asal kamu merasa nyaman dan mau memberikan senyumanmu padaku, itu sudah cukup bagiku. Jik kamu merasa masalahmu begitu berat, cobalah untuk menenangkan pikiranmu sejenak, agar kamu bisa mencari solusi dengan kepala dingin, Zoya.” Walaupun merasa sedikit kecewa, tetapi Damar sadar, bahwa setiap orang memiliki privasi yang tidak bisa dia bagi bersama orang lain.
“Terima kasih, karena sudah mengerti aku, Damar. Kamu memang teman yang baik. Aku beruntung mengenalmu dan bisa menghabiskan waktu bersamamu.” Zoya mengatakan semuanya tanpa beban. Karena saat ini, dia memang belum bisa menganggap Damar lebih dari itu.
“Iya, aku mengerti, meskipun aku mengharapkan hubungan kita lebih dari itu, tapi aku tahu, kalau kita belum cukup lama saling dekat. Aku akan menunggumu, Zoya.” Damar mengatakan semuanya dengan nada penuh kekecewaan.
“Maafkan aku, Mas. Tetapi kamu adalah teman priaku satu-satunya. Kamu adalah pria yang paling dekat denganku selama ini. Aku bukanlah orang yang mudah untuk membuka hati, Mas. Tetapi aku memberimu kesempatan untuk dekat denganku. Yang aku perlukan hanyalah waktu untuk mengubah perasaan di hatiku untukmu. Aku hanya tidak ingin kamu mengharapkan lebih dariku, karena aku tidak tahu, apakah yang akan terjadi di masa depan, Damar. Aku harap kamu memahamiku.” Zoya tidak bisa membiarkan Damar berharap terlalu banyak padanya. Karena dia takut, dia tidak akan mampu memberikan apa yang Damar mau darinya.
“Aku mengerti, Zoya. Aku akan menunggu waktu membawa hatimu padaku. Sebaiknya sekarang kita kembali, karena sebentar lagi malam akan tiba. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit karena terlalu lelah dan terkena angin malam,” ajak Damar padanya. Karena memang waktu mereka telah habis untuk menikmati pemandangan yang ada.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Zoya sampai ke toko-nya. Senyum di wajah Zoya menghilang setelah tiba di sana. Zoya tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan orang yang dia hindari satu bulan belakangan.
__ADS_1
“Tante Wulan!” ucapnya dengan rasa terkejut yang begitu nyata.