Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 55


__ADS_3

Bruk!


“Aduh! Sakit sekali!”


Mendengar suara benturan yang cukup keras dan disusul oleh suara keluhan William yang terdengar pilu, Zoya membalik tubuhnya sebab penasaran dengan apa yang terjadi pada William.


‘Di mana Liam? Ada suaranya tapi, kok, tidak ada orangnya?’ tanya Zoya dalam hati. Gadis itu mengerutkan kening seraya mengedarkan pandangannya.


Saat matanya menangkap kursi roda William tapi tidak ada William di atasnya, Zoya membulatkan matanya. Gadis itu berguling ke sisi ranjang William, lalu melongok ke bawah dan mendapati William tengah duduk di lantai sambil meringis kesakitan.


‘Astaga, apakah Liam jatuh?’ tanyanya dalam hati.


“Mas, apa yang kamu lakukan di bawah situ?” tanya Zoya dengan polos.


Mendengar pertanyaan Zoya yang terdengar menyebalkan, William dengan cepat menoleh ke arah Zoya. Dia menatap Zoya sebal karena Zoya tidak peka dengan apa yang terjadi dengan dirinya. ‘Apa maksud dari pertanyaan Zoya barusan? Apakah dia tidak melihat kalau aku terjatuh?’ tanya William dalam hati dengan amarah yang menggebu-gebu.


“Aku sedang cosplay menjadi suster ngesot,” ucap William, sarkasme. Pria itu menyipitkan matanya. Mendapati Zoya yang tak kunjung turun membantunya, William dengan kesal melanjutkan perkataannya, “Tentu saja aku jatuh, Zoya. Memangnya apa lagi yang menurutmu terjadi?”


“Ups!” pekik Zoya. Gadis itu buru-buru turun dari tempat tidur, berniat untuk membantu William.


Gadis itu dengan telaten membantu William naik ke atas ranjang. Awalnya agak sulit sebab ranjang kamar mereka cukup tinggi. Namun, setelah berusaha dengan keras akhirnya Zoya bisa mengangkat tubuh William dan mendaratkan pantat William ke atas ranjang. Zoya lantas mengangkat kaki William dan meletakkannya ke atas ranjang juga. Setelah selesai dengan hal tersebut, dia meminta William untuk berbaring.


“Berbaringlah, Mas. Apakah ada yang sakit?” tanya Zoya khawatir.

__ADS_1


“Badanku rasanya remuk,” jawab William.


Zoya menarik selimut untuk menutupi tubuh William. Tiba-tiba saja jantung William berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia berdebar-debar dengan tatapan yang tanpa sadar tak pernah lepas dari wajah Zoya yang sangat cantik. Meski tanpa balutan make up tebal atau pun busana yang menarik, menurut William Zoya tetaplah gadis yang cantik.


Hah, ke mana saja William selama ini sampai dia baru bisa menyadari hal ini sekarang padahal mereka sudah berbulan-bulan menjalani sebuah bahtera rumah tangga?


“Kamu kenapa tidak meminta bantuanku, sih, Mas? Kalau kamu meminta bantuanku, kan, aku bisa membantumu dan kamu tidak akan jatuh seperti ini,” ucap Zoya.


Zoya menolehkan kepalanya ke arah William. Mendapati William tengah memandangnya dengan intens membuat Zoya tanpa sadar merona. Pipi gadis itu tiba-tiba memanas seiring semburat merah muncul di pipinya.


“Mas,” tegur Zoya sebab sepertinya William melamun sambil melihat ke arahnya.


Tersadar dari lamunannya William sontak bertanya, “Kenapa?”


Mendengar ucapan Zoya, William melirik gadis itu tajam. “Kamu saja yang tidak peka sebagai istri. Sudah tahu kalau suamimu ini adalah seorang pria lumpuh dan kesakitan, tapi kamu terus saja mengabaikan aku. Apakah aku harus mengatakan aku butuh bantuan setiap kali aku ingin melakukan sesuatu? Kenapa kamu tidak memiliki inisiatif untuk membantuku?” tanya William, mencerca Zoya dengan pertanyaan-pertanyaan yang cukup menyudutkan.


Zoya menggaruk tengkuknya. “Maaf, Mas. Tapi lain kali kalau kamu butuh bantuan, sebaiknya kamu katakan saja tidak perlu gengsi,” balas Zoya.


William melirik Zoya dengan tatapan kesal. “Lain kali bantulah suamimu tanpa aku harus terang-terangan mengatakannya,” ucap William.


Zoya mengangguk. Gadis itu merasa bingung dengan ucapan William, tapi juga merasa aneh di hatinya saat mendengar kata suami dan istri keluar dari bibir pria yang baru saja dia bantu naik ke atas kasur.


Usai membantu William naik ke atas kasur, Zoya juga naik ke atas kasur dengan posisi tubuh membelakangi William. Gadis itu pun terlelap dengan posisi seperti itu sementara William terus saja meliriknya. William terus saja menatap punggung Zoya seolah hal tersebut sangat menyenangkan untuknya.

__ADS_1


Keesokan paginya, William yang terbangun lebih awal dari Zoya membelalakkan matanya saat melihat gadis itu memeluknya. Entah bagaimana caranya, namun saat ini tubuh Zoya telah mendekap tubuh William dengan sangat erat. 


‘Sejak kapan Zoya tidur sambil memelukku?’ tanya William dalam hati. Dia tersenyum kecil menyadari bahwa Zoya masih belum mau melepaskannya dari pelukan gadis itu. Diam-diam William menikmati hangat dari pelukan Zoya yang membuatnya candu.


William memerhatikan Zoya. Gadis itu tidur dengan napas teratur dan dengkuran halus. Benar-benar tampak nyaman dan tenang seolah-olah dia senang memeluk William.


Kalau saja William bisa menggerakkan tubuhnya dengan normal, pria itu pasti sudah membalas pelukan Zoya dan mereka bisa menghangatkan tubuh satu sama lain dengan hangat pelukan masing-masing di antara mereka. Sayangnya tubuh William sebagian besar lumpuh dan tidak bisa digerakkan sehingga dia tidak bisa membalas pelukan Zoya.


‘Argh, andai saja aku tidak lumpuh aku pasti bisa memeluk Zoya,' gumamnya dalam hati. Detik berikutnya dia menyadari apa yang baru saja dia katakan sehingga dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. ‘Apa yang barusan aku pikirkan? Kenapa aku jadi ingin sembuh karena supaya bisa memeluk Zoya?’


Pria itu terus memerhatikan wajah Zoya, mempelajari tiap lekukan wajah Zoya mulai dari bentuk mata, hidung, pipi, sampai bibir. Bibir mungil Zoya, entah kenapa dia ingin selalu mencicip bibir Zoya yang terlihat menggemaskan itu.


William, pria itu, sempat berpikir untuk mencium bibir mungil Zoya sebab dia tahu kalau dia yang akan menjadi ciuman pertama Zoya kalau dia benar-benar melakukan hal itu mengingat Zoya tidak pernah berpacaran sebelumnya. Bahkan hubungan Zoya dan Damar hanyalah sebatas dekat saja.


William menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya. ‘Aku memikirkan apa, sih? Kenapa aku terus-terusan membayangkan hal yang tidak-tidak?’ tanya William dalam hati.


Menyadari ada pergerakan di kelopak mata Zoya, William buru-buru memejamkan matanya kembali. Dia tidak mau kalau dia tertangkap basah sedang memandangi Zoya. Mau ditaruh mana harga diri William kalau sampai hal semacam itu terjadi padanya?


Sementara Zoya tersentak saat menyadari apa yang terjadi saat ini. Dia membelalakkan matanya tatkala menyadari kalau dia sedang tidur sambil memeluk William.


‘Bagaimana bisa aku tidur sambil memeluk Liam?’ tanya Zoya dalam hati. Pipi gadis itu lagi-lagi merona. Dia segera melepaskan pelukannya dan beranjak turun dari ranjang. Tak mau terlalu berlama-lama dalam posisi kikuk, Zoya lantas berlari menuju ke kamar mandi untuk menyembunyikan rasa malunya.


Sementara William kembali membuka matanya, melirik Zoya yang tengah berlari terbirit-birit menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2