Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 11


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak kedatangan Zoya di kediaman keluarga Sandjaja.. Sejak itu pula Wulan belum sempat lagi untuk menghubungi Zoya, karena Liam lebih sering mengamuk dari sebelumnya. Oleh sebab itu, perhatian Wulan lebih terfokus kepada Liam. Mengingat kondisi putranya yang masih belum stabil. Itu sebabnya Liam harus mendapatkan penanganan khusus dari beberapa tim medis yang Wulan sewa khusus untuk putranya.


Sedangkan Zoya yang selama seminggu ini tidak mendapatkan telepon dari Wulan, merasa sangat bersyukur. Sebab dia pikir Wulan telah menyerah untuk segala rencana yang dia buat untuk Liam. Yaitu menikahkan dirinya dan William. Sesuatu tawaran yang sangat mengejutkan dan terasa di luar akal. Sebagai wanita normal, Zoya juga enggan menikahi pria lumpuh dengan temperamental buruk seperti Liam. Seandainya pria itu hanya lumpuh, tetapi memiliki perilaku yang baik, mungkin Zoya bisa mempertimbangkannya.


Tetapi dengan perilakunya yang bahkan membuat Zoya merasa sangat takut, tidak mungkin bagi Zoya untuk menerima pria seperti itu. Zoya masih cukup waras untuk mempertahankan kebahagiaannya. Dia tidak mungkin mau menghancurkan hidupnya demi merawat Liam selamanya.


"Maafkan aku, Tante. Mungkin sikapku yang menghindar seperti ini akan membuat tante tersinggung," gumay Zoya yang juga merasa bersalah atas sikapnya.


Selama seminggu ini juga Zoya lebih sering bertemu dan makan siang bersama Damar. Kedekatan antara dirinya dan Damar juga menjadi salah satu bahan pembicaraan di antara para pegawai yang bekerja padanya. Karena mereka baru kali ini melihat Zoya menghabiskan waktu bersama seorang pria, apalagi pria itu cukup terkenal di daerah mereka. Sehingga sangat wajar bila mereka sering menjadi perbincangan orang-orang yang ada di sana.


Seperti siang ini, Zoya dan Damar sudah berada di restoran yang sering mereka kunjungi bersama.


“Makanan apa yang ingin kamu pesan, Zoya?” tanya Damar sembari menyerahkan buku menu pada Zoya, agar gadis itu bisa memilih makanan dan minumannya terlebih dahulu.


“Apa Mas Damar mau memesankan untukku?” Zoya justru meminta Damar untuk memilihkan makan siang untuknya.


“Tentu saja, serahkan semuanya kepadaku.” Damar segera memanggil seorang pelayan yang lewat di depan mereka, agar bisa memesan hidangan yang ingin mereka santap siang ini.


Damar begitu yakin berkata seperti itu sebab Damar sangat tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Zoya, wanita yang sudah cukup lama dia kagumi itu.


Setelah memesan beberapa makanan dan juga minuman, Damar kembali memfokuskan perhatiannya kepada Zoya.


“Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Zoya?” tanya Damar membuka percakapan di antara mereka berdua.


"Alhamdulillah... semua berjalan lancar, dan pelanggan semakin banyak," jawab Zoya jujur dengan wajah bahagia.

__ADS_1


"Itu bagus, aku ikut senang mendengarnya," ucap Damar.


"Bagaimana dengan bisnis, Mas Damar?" tanya Zoya balik.


"Ya, sama. Semua berjalan lancar. Oh ya, di tempatku sekarang ada kelas Aerobik dan Zumba, kamu tidak ingin mencoba?" tanya Damar sembari memberitahu Zoya.


"Benarkah?" tanya Zoya antusias, sebab Zoya senang sekali mengikuti senam Aerobic atau pun Zumba.


"Tentu saja, datanglah!" ucap Damar berharap Zoya akan datang sehingga mereka lebih sering bertemu.


Damar adalah pemilik dari beberapa tempat gym yang ada di kota mereka, bukan hanya di kota mereka, Damar juga mengembangkan bisnisnya dengan membuka tempat gym di beberapa kota lainnya, tak hanya itu, Damar juga memiliki beberapa toko yang menjual berbagai kebutuhan olahraga. Sangat wajar jika tak sedikit orang mengenal Damar, terlebih dikalangan orang-orang yang suka berolahraga.


***


Teriakan dan suara benda pecah kembali terdengar menghiasi kamar Liam. Hal itu kembali membuat kegaduhan dan rasa panik dari orang-orang yang merawat Liam. Wulan yang mendapatkan kabar itu juga segera pergi menghampiri Liam yang ada di kamarnya.


“Liam! Berhenti menyakiti dirimu sendiri.” Wulan segera memeluk anaknya, dengan harapan hal itu mampu membuat Liam sedikit lebih tenang.


“Lepaskan aku, Ma. Seharusnya aku mati saja dalam kecelakaan itu, untuk apa aku hidup jika harus kehilangan semuanya,” Liam memberontak dalam pelukan Wulan Membuat Wulan merasa begitu terluka saat mendengarnya, karena putranya telah kehilangan semangat hidup sekarang.


“Tidak, Liam, jangan berkata seperti itu. Setiap kehidupan itu berharga. Kamu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang kamu miliki sekarang. Mama mohon! Jangan pernah berkata seperti itu lagi!” ucapnya mencoba memberikan semangat pada Liam.


“Tidak, hidupku sudah tidak berharga lagi, Ma. Semuanya sudah hilang sekarang. Tidak ada lagi yang kumiliki yang bisa menjadi alasan untuk aku tetap hidup. Lepaskan aku, Ma!” teriak Liam pada Wulan.


"Dokter! Cepat!" titah Wulan berteriak.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, seorang dokter datang dengan membawa obat penenang untuk Liam. Wulan dan berapa orang yang lain segera memegangi Liam dengan kuat. Agar dokter bisa memberikan obat penenang pada Liam.


“Lepaskan aku!” Teriakan Liam semakin lama semakin melemah. Seiring dengan tubuhnya yang juga mulai kehilangan kesadaran. Hingga akhirnya dia tertidur akibat obat yang diberikan padanya.


“Pindahkan Liam kembali ke atas ranjangnya! Untuk para pelayan, segera bersihkan kekacauan yang sudah terjadi. Jangan sampai ada pecahan kaca yang tersisa!” perintah Wulan pada semua orang yang ada di sana.


Wulan segera menyelimuti tubuh putranya yang kini tidak sadarkan diri. Dengan para dokter yang mencoba mengobati luka yang ada di kening Liam, karena dia sempat membenturkan kepalanya ke meja yang ada di sana.


“Nyonya, keadaan Tuan Liam semakin memprihatinkan, kondisi mentalnya semakin tidak stabil. Jika seperti ini terus, tidak menutup kemungkinan kalau Tuan Liam bisa saja melakukan tindakan yang semakin membahayakan dirinya sendiri.” Dokter mulai menjelaskan kondisi Liam pada Wulan.


“Lalu, apa yang harus saya lakukan, Dokter?” Wulan benar-benar sudah bingung sekarang.


“Saran saya, bawa Tuan Liam pada seorang psikolog, karena mental Tuan Liam harus diselamatkan terlebih dahulu. Atau dia akan mengalami hal yang lebih buruk setiap harinya. Mungkin Anda bisa melakukan perawatan itu secara rutin ke rumah sakit. Atau Anda juga bisa memanggil salah seorang psikolog untuk menemui Tuan Liam di rumah ini.”


“Baiklah, Dokter, saya akan melakukan semua saran yang Anda berikan. Walaupun sebelumnya Liam sempat menolak kehadiran seorang psikolog untuknya, tetapi kali ini saya akan berusaha mendatangkannya lagi.”


“Baiklah, saya akan menitipkan beberapa obat penenang di sini. Ketika Tuan Liam sudah tidak terkendali, Anda bisa meminta perawat untuk menyuntikkan obat tersebut kepada Tuan Liam. Namun, saya harap penggunaan obat tersebut, jangan sampai lebih dari dua kali. Karena efeknya akan sangat buruk pada kesehatan putra Anda.” Dokter itu segera memberikan beberapa botol obat penenang beserta dosisnya. Dia juga meresepkan beberapa jenis obat yang bisa dikonsumsi untuk Liam.


“Terima kasih atas bantuan Anda, Dokter.” Wulan segera mengantarkan dokter tersebut sampai ke depan pintu. Setelahnya dia kembali masuk untuk memeriksa keadaan Liam.


Wulan melihat kamar yang sudah kembali terlihat bersih. Juga beberapa furnitur yang tidak lagi berada di tempatnya, karena Liam sudah menghancurkannya.


“Jika semua pekerjaan kalian sudah selesai, kalian bisa keluar untuk beristirahat. Aku akan menjaga putraku sekarang.” Wulan mulai duduk di sisi ranjang yang Liam tiduri.


Wulan mulai memperhatikan wajah putranya, Liam kini terlihat begitu pucat, dengan pipi yang semakin tirus. Hal itu menandakan kalau Liam telah kehilangan banyak bobot tubuhnya. Karena dia selalu menolak untuk makan. Dia juga tidak ingin keluar sama sekali. Hal itu semakin memperburuk keadaannya sekarang.

__ADS_1


Wulan benar-benar bingung harus bagaimana lagi, hingga akhrinya dia kembali teringat pada Zoya. Wulan merasa bahwa kehadiran Zoya memang sangat dibutuhkan saat ini. Sebab jika Zoya menjadi pendamping Liam, Zoya bisa menemani Liam setiap saat, dan Wulan tidak perlu merasa khawatir melepaskan Liam pada Zoya. Wulan mulai mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Zoya dengan harapan Zoya tak lagi mengabaikannya.


"Tolong angkat, Zoya!" gumamnya.


__ADS_2