
Pukul sembilan tepat Ryan, William, dan Wulan datang ke rumah Zoya. Mereka tak datang sendiri, di mobil yang terpisah beberapa orang yang akan menyiapkan dekorasi pernikahan datang bersama mereka. Ryan meminta orang-orang tersebut bekerja sesuai dengan arahan Desi selaku orang yang ia tunjuk untuk mendampingi para pekerja.
“Zoya, apakah kamu sudah siap?” tanya Wulan, memanggil Zoya yang masih belum keluar dari kamar.
Di dalam kamar, Zoya menarik napasnya dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang karena hari ini dia akan bertemu dengan William kedua kalinya untuk melakukan fitting baju pengantin. Gadis berparas ayu itu memeriksa penampilannya sekali lagi, lalu keluar dari kamarnya.
Bisa, Zo. Kamu harus bisa. Jangan terlihat lemah. Ingat! Kamu adalah Zoya. Wanita yang kuat. Buktikan itu. Batin Zoya.
“Sudah, Tante. Maaf, kalau aku bikin Tante menungguku terlalu lama,” ucap Zoya sambil tersenyum canggung menatap Wulan.
William yang melihat hal tersebut mendengus. Pria itu memutar bola matanya sebab ia pikir Zoya hanya sedang mencari muka di depan orang tuanya. Menurutnya Zoya tak lebih dari gadis manipulatif yang ingin memanfaatkan kebaikan orang tuanya.
Kenapa papa dan mama begitu mudah tertipu oleh wanita ini? Lihat saja, aku akan membuka kedok busukmu. Batin William.
“Tidak apa-apa. Kami juga baru datang, kok. Ayo, kita berangkat sekarang ke butik,” ucap Wulan seraya mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Zoya.
Zoya tersenyum tipis ke arah Ryan dan William, tapi William mengalihkan pandangannya, enggan menatap Zoya. ‘Bagaimana aku bisa menjalani pernikahan dengan pria yang bahkan tidak mau menatapku? Benar-benar takdir yang buruk,’ ucap Zoya dalam hati.
Zoya menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah sedihnya. Ia tidak mau kesedihannya membuat Ryan dan Wulan kecewa. Ia harus tetap terlihat tegar di depan semua orang, karena itulah yang selama ini berusaha Zoya perlihatkan.
__ADS_1
Perjalanan dari rumah Zoya ke butik tidak memakan waktu terlalu lama. Mereka sampai di sana setelah menempuh perjalanan tiga puluh lima menit. Ya, tiga puluh lima menit paling menegangkan di hidup Zoya karena dia harus duduk bersebelahan dengan William di dalam mobil. Keduanya duduk dengan kaku di kursi penumpang. Tidak ada yang berbicara atau sekadar saling menatap. Ryan dan Wulan berpikir kalau mereka masih malu-malu kucing, padahal mereka memang tidak tertarik untuk mengobrol dengan satu sama lain.
Sesampainya di butik, Wulan meminta Zoya memilih gaun pernikahannya. Awalnya Zoya mengusulkan untuk menyewa saja tapi Wulan dan Ryan bersikeras supaya Zoya membeli gaun pernikahannya. Mereka mau Zoya menyimpan gaun pernikahannya untuk dikenang di masa depan.
Zoya mencoba beberapa gaun pengantin. Tubuhnya yang kurus membuatnya mudah mendapatkan gaun yang ukurannya pas. Tapi, permasalahannya ada di model gaunnya. Wulan tak mau gaun yang dipakai Zoya nanti terlalu terbuka atau terlalu ribet saat dipakai. Benar-benar harus gaun yang membuat Zoya nyaman memakainya.
“Liam, apakah menurutmu Zoya cocok memakai gaun itu?” tanya Wulan, mengajak William berbasa-basi, sebab sedari tadi pria itu hanya diam.
“Hmm,” jawab William singkat yang benar-benar enggan menagnggapi semua hal yang berurusan tentang Zoya.
Wulan memutar bola matanya. “Maaf, ya, Zoya. William memang seperti itu. Wataknya memang cuek tapi sebenarnya hatinya baik,” ucap Wulan, merasa bersalah.
Meski hanya duduk di kursi roda, aura menakutkan William dapat membuat Zoya merasa takut. Zoya bahkan tak berani menanyakan pendapat William tentang pakaian yang akan ia pilih. Meskipun demikian, Zoya mencoba untuk tidak terlihat lemah dan mengabaikan hal tersebut.
Setelah berjam-jam di butik, akhirnya Zoya mendapatkan gaun pengantinnya. William tentu saja juga mendapatkan setelan formalnya. Ia meminta Ryan memilihkan untuknya karena ia merasa kalau ia tidak ingin terlalu pusing memikirkan pernikahan mereka.
Mereka pun kembali ke rumah Zoya. Saat ini rumah Zoya sudah dipenuhi oleh dekorasi yang didominasi warna putih. Pernikahan mereka akan diadakan di rumah Zoya dan hanya mengundang kerabat terdekat dan perangkat desa saja. Tidak ada acara resepsi mewah sesuai dengan permintaan Zoya.
Desi menghidangkan minuman di meja ruang tamu. Ryan ingin memantau dekorasi pernikahan Zoya dan Ryan terlebih dahulu meskipun William sudah tampak bosan. Dari tadi, tidak ada komunikasi antara William dan Zoya. Keadaan sangat canggung di antara mereka berdua.
__ADS_1
“Zoya, kami pulang dulu. Sekarang sudah sore, kami harus bersiap-siap untuk acara pernikahan kalian besok,” ucap Ryan.
“Iya, Om,” jawab Zoya singkat sambil menganggukkan kepalanya.
“Liam, kamu tidak mau berpamitan kepada calon istri kamu?” tanya Wulan, mendorong William untuk mengajak Zoya berbicara. Ia merasa gemas dengan sikap cuek William.
“Aku pulang dulu,” ucap William singkat, terpaksa.
Zoya mengangguk. “Iya,” jawabnya canggung.
Setelah William, Wulan, dan Ryan pulang, Zoya pergi ke kamarnya dan menangis. Dekorasi sudah terpasang di rumahnya. Kini, ia tidak bisa menghindar dari takdir yang membuat dia dan William menikah. Bayangan tentang mimpinya menikah dengan pria yang sangat mencintainya sirna. Kini impian itu hanyalah tinggal mimpi.
Desi mencoba menenangkan hati Zoya, memeluk Zoya agar gadis itu bisa menumpahkan segala isi hatinya.
“Zoya, kamu harus bersabar. Takdir yang mempertemukan kamu dan William. Mungkin rencana Tuhan lebih indah dari yang kamu bayangkan,” ucap Desi.
Zoya menggeleng-gelengkan kepalanya. Apakah benar rencana Tuhan lebih baik? Atau justru Tuhan sedang mempermainkan takdir kehidupan Zoya?
‘Bagaimana bisa aku menikah dengan pria yang tidak mencintaiku sama sekali?’ jerit Zoya dalam hati, meratapi nasib buruknya.
__ADS_1