
Dua minggu tanpa terasa sudah berlalu. Setelah pertengkaran Zoya dan William malam itu, sikap Zoya cenderung lebih dingin daripada biasanya. Meskipun masih melakukan pekerjaannya sebagai seorang istri dan melayani William dengan baik, dia tidak banyak bicara dan cenderung jarang mengajak William mengobrol. Dia tampak lebih dingin dan menjaga jarak dari William.
Setelah pertengkaran mereka, saat sedang terapi William sempat terjatuh sehingga sekarang tim terapi dari rumah sakit ditugaskan untuk datang ke rumah William setiap harinya untuk mendampingi William melakukan terapi supaya kejadian yang sama tidak terulang kembali. Zoya bersyukur karena itu artinya dia tidak perlu terus-menerus berada di dekat William.
Pagi ini, seperti biasa Zoya memasak sarapan untuk William dan melayani pria itu. Meskipun belum begitu akur dengan William, Zoya menyadari kalau dia sudah berjanji akan membantu William sampai pria itu sembuh dan dia juga sudah bersumpah kepada dirinya sendiri kalau dia tidak akan memedulikan ucapan William yang menyakiti perasaannya.
Satu-satunya hal yang membuat Zoya marah dan kecewa kepada William adalah sikap egois pria itu. William meminta Zoya menghargai perasaan William, tapi tidak pernah sekali pun William menghargai perasaan Zoya. Apakah fakta bahwa Zoya memiliki seseorang di hatinya sangat menyakiti William atau justru membuat harga diri William terluka sebab dia pikir hanya dia pria yang bisa membuat wanita jatuh hati. Entahlah, Zoya sendiri juga tidak tahu.
Yang jelas saat ini Zoya masih belum mau banyak berkomunikasi dengan William karena hatinya masih merasa kecewa dengan sikap tidak adil William.
Sarapan hari ini sama seperti sarapan dua minggu belakangan, tidak ada percakapan antara dua sejoli itu. Zoya sibuk untuk mengabaikan William. Sementara William sibuk uring-uringan dalam hati karena tidak bisa menemukan topik pembicaraan.
“Jam berapa aku akan terapi hari ini?” tanya William pura-pura tidak tahu untuk mencari topik pembicaraan.
Zoya menoleh. Dia menatap William heran kemudian berkata, “Bukankah setiap harinya kamu terapi di jam yang sama? Tim terapi selalu datang tepat waktu. Bagaimana kamu bisa lupa padahal sudah melakukannya sejak lama?” tanya Zoya.
Mendengar itu, William jadi salah tingkah. Dia menggaruk tengkuknya sambil memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Zoya. Hingga satu ide hinggap di kepalanya.
“Aku hanya ingin memastikan saja karena aku ada urusan di luar dan harus pergi setelah ini,” ucap William asal.
“Apakah kamu yakin akan pergi?” tanya Zoya. Bukan, bukan maksud Zoya menghina keadaan fisik William atau apa. Tapi, selama ini William memang tidak pernah pergi ke luar selain untuk melakukan kontrol dengan dokter. Untuk bekerja sama dia melakukannya di rumah. Jangankan bekerja, mengunjungi rumah orang tuanya saja William enggan.
__ADS_1
“Iya, aku yakin.” William mengelap bibirnya dengan serbet makan. “Aku akan segera bersiap dan pergi,” ucapnya.
Pria itu mendorong kursi rodanya meninggalkan ruang makan. Dia pikir Zoya akan menghentikan niatnya sebab tidak tega membiarkan William pergi sendiri. Tapi nyatanya Zoya hanya diam mematung di ruang makan tanpa ada niat untuk mengejar William sama sekali.
‘Sial, bagaimana caranya supaya sikap Zoya bisa kembali seperti semula? Apakah aku harus mengizinkan dia berpacaran dengan Damar baru dia akan mau bersikap baik denganku?’ tanya William dalam hati. Memikirkan hal itu saja sudah membuat William kesal, apalagi jika dia harus melakukannya.
Sementara itu, Zoya mengintip dari jendela ruang makan dan melihat William pergi diantar sopir. Dia kini akhirnya bisa mengumpat dengan bebas sebab tidak ada William yang bisa sewaktu-waktu mendengarnya.
“Dasar pria menyebalkan! Egois! Tidak berperasaan! Apakah dia pikir aku adalah sebuah barang yang tidak memiliki perasaan?” gerutu Zoya sambil mengentak-entakkan kakinya.
Dia mengambil piring-piring kotor dari meja makan lalu membawanya ke dapur dan memasukkannya ke dalam dishwasher. Sambil menunggu cuciannya bersih, Zoya mengumpat dan mengomel. Dia menumpahkan segala kekesalan yang sudah dia tahan-tahan selama dua minggu belakangan ini.
“Dasar pria dingin menyebalkan! Hanya memikirkan perasaannya sendiri! Aku jadi yakin kalau dia cemburu. Apakah dia pikir di dunia ini pria tampan hanya dia? Atau apakah dia pikir aku hanya akan pasrah setiap waktu?” Zoya berkacak pinggang. “Ha! Kita lihat saja nanti, Mas. Kamu akan lihat kalau Zoya bukanlah wanita yang mudah pasrah. Enak saja kamu ingin aku menghargai kamu tapi kamu tidak mau menghargai aku.”
Di sela-sela omelannya, tiba-tiba ponsel Zoya berdering. Segera Zoya mengangkat panggilan tersebut karena Uci yang meneleponnya. Zoya sudah tidak sabar untuk bercerita kepada Uci mengenai apa yang terjadi dengan dia dan William.
“Halo, Uci. Ke mana saja kamu selama ini? Aku sudah berkali-kali meneleponku tapi tidak pernah kamu angkat,” gerutu Zoya.
Uci terkekeh. “Maaf, Zoya. Akhir-akhir ini galeri sangat ramai pengunjung dan setelah pulang dari galeri aku harus membantu kakakku mendekorasi venue festival di beberapa tempat. Kamu tahu sendiri, ‘kan, kalau kakakku bekerja sebagai event organizer? Jadi, aku benar-benar belum ada waktu untuk menghubungimu kembali,” jawab Uci penuh rasa penyesalan.
Zoya menghela napasnya. “Iya, aku paham,” balasnya singkat.
__ADS_1
“Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku, Zoya? Sepertinya sangat penting sekali,” ucap Uci sambil tertawa kecil.
“Aku butuh teman untuk bercerita mengenai kelakuan Liam yang sangat menyebalkan,” ucap Zoya, menekankan kata ‘menyebalkan’.
Uci sudah bisa menduganya jika Zoya akan membicarakan tentang William. Maklum saja, Zoya tinggal di rumah itu hanya berdua saja dengan William sehingga dia tidak memiliki teman untuk bercerita dan berbagi keluh kesah.
“Apa yang dia lakukan kali ini?” tanya Uci penasaran. Cerita Zoya tentang William selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Uci. Yah, setidaknya Uci bisa mengambil pelajaran untuk tidak mendekati pria berhati dingin di luar sana supaya tidak bernasib sama seperti sahabatnya. Meskipun dia tahu tidak semua pria dingin memiliki watak yang sama seperti William, tapi berjaga-jaga itu perlu, bukan?
“Dia memintaku untuk tidak berkomunikasi dengan Damar,” jawab Zoya.
Jawaban Zoya menimbulkan kebingungan. Uci tidak mengerti dari mana William tahu tentang Damar dan kenapa dia menyuruh Zoya berhenti berkomunikasi dengan Damar.
“Tunggu, tunggu ... Sejak kapan William tahu tentang Damar?” tanya Uci.
Zoya menghela napasnya. “Dua minggu yang lalu dia bertanya apakah aku pernah dekat dengan laki-laki jadi aku berkata kalau aku pernah dekat dengan Damar. Kebetulan juga malam itu Damar meneleponku dan Liam tiba-tiba saja marah besar dan memintaku untuk tidak berkomunikasi dengan Damar lagi,” jelas Zoya.
“Apakah mungkin Liam mulai menyukaimu?” tanya Uci.
Zoya mendelik. “Kamu tidak usah mengada-ada! Mana mungkin dia menyukaiku. Kamu tahu sendiri jika dia sangat mencintai mantan kekasihnya,” balas Zoya.
“Bisa saja perasaannya sekarang sudah berubah,” ucap Uci santai.
__ADS_1
Zoya terdiam, memikirkan ucapan Uci. ‘Apakah mungkin?’ tanyanya dalam hati.