
Melihat foto-foto Renata disingkirkan oleh orang tuanya, amarah William memuncak. Dia ingin protes dan melarang orang tuanya mengambil foto-foto Renata, tapi dia sangat mengenal orang tuanya. Mereka pasti akan tetap melakukannya apalagi dengan kondisi William yang lumpuh pasti William tidak bisa menghentikan apa yang dilakukan oleh orang tuanya.
Kesal dengan orang tuanya, William mendorong kursi rodanya kembali ke lift, lalu pergi ke kamarnya tanpa menghiraukan panggilan dari orang tuanya.
“Semua ini gara-gara Zoya!” umpat William. Matanya menyipit tajam. Dia meremas tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Dia bersumpah dalam hati kalau dia akan semakin membuat Zoya menderita karena Zoya telah menyebabkan pertengkaran William dengan ibunya.
Sementara itu, Wulan merasa sangat bersalah pada Zoya. Dia tidak sanggup membayangkan bagaimana menderitanya Zoya satu bulan belakangan ini. Seharusnya Wulan lebih peka dan tidak mengizinkan William membawa Zoya tinggal berpisah dari Wulan dan Ryan. Kalau tahu akan berakhir seperti ini, Wulan rasanya ingin memutar balik waktu supaya bisa kembali memikirkan tentang keputusan Wulan dan Ryan hari itu.
“Zoya, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak menyangka William bisa sejahat ini padamu,” ucap Wulan. Air mata turun dari pipinya. Dia merasa sangat malu dan bersalah pada Zoya.
“Ma, ayo kita duduk dulu di sofa,” ucap Zoya, menuntun Wulan untuk duduk di sofa.
Ryan yang sudah selesai mengambil foto-foto Renata menyuruh Leila membawa foto-foto Renata ke gudang. Setelahnya, dia bergabung dengan Zoya dan Wulan di ruang tamu.
“Zoya, kami benar-benar menyesal telah menjodohkan William dengan kamu. Apa yang dilakukan William padamu benar-benar tidak pantas dan keterlaluan,” ucap Wulan. Wanita itu meraih tangan Zoya, lalu meremasnya.
“Zoya, maukah kamu memaafkan kesalahan kami?” tanyanya.
Zoya mengusap air mata Wulan. Sambil tersenyum lembut, dia berkata, “Ma, Pa, aku memaafkan kalian. Sudahlah, tidak ada yang perlu disesali. Semuanya sudah terjadi.”
__ADS_1
“Liam benar-benar kurang ajar, Pa. Aku tidak tahu dia bisa berbuat seperti itu,” keluh Wulan.
Dari kecil, Wulan selalu mengajarkan William untuk menghargai semua orang, terutama wanita. William juga tidak pernah sekali pun berbuat jahat kepada perempuan dari dia kecil karena Wulan selalu berkata kalau William menyakiti perempuan, maka itu sama artinya dengan William menyakiti Wulan.
Tapi, semenjak mengenal Renata ... William seolah lupa dengan semua yang pernah diajarkan Wulan semenjak dia kecil. Pria itu jadi sering membantah dan membangkang. Bahkan, William bisa berbuat jahat kepada istrinya hanya karena Zoya menggantikan posisi Renata.
Wulan tak habis pikir ke mana pikiran William pergi. Hanya karena wanita yang tak tulus mencintainya, dia bisa berbuat semacam ini. Tak hanya menyakiti Zoya, William juga telah mempermalukan Wulan dan Ryan.
“Mungkin Liam masih membutuhkan waktu untuk melupakan mantan kekasihnya. Aku bisa mengerti karena melupakan seseorang yang dicintai tidak akan mudah,” ucap Zoya seraya tersenyum tipis.
Zoya bisa mengatakan hal tersebut sebab dia juga mengalami hal yang sama. Satu bulan pernikahannya dengan William tidak semerta-merta membuatnya melupakan Damar. Munafik kalau Zoya berkata jika dia tidak lagi mencintai Damar karena hatinya masih saja menyerukan nama Damar tanpa jeda. Perasaan yang Zoya miliki terhadap Damar begitu besar hingga tidak ada yang bisa membuatnya mudah berpaling dari sosok Damar.
Yang membedakan Zoya dan William hanya satu, ego. Zoya bisa menekan egonya dan belajar ikhlas menerima takdir. Sementara William? Dia tidak bisa menahan egonya sama sekali. Pria itu tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap pernikahan mereka.
Kalau saja mereka belum menikah, Zoya pasti akan dengan senang hati berpisah dari William. Tapi, kini status mereka sudah suami dan istri. Zoya pun juga sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan membalas kebaikan Wulan dan Ryan dengan cara membantu William sampai sembuh.
Zoya bergantian menatap Wulan dan Ryan. Dia menarik napas dalam-dalam lalu tersenyum dengan tulus. Senyuman Zoya bagaikan pelita penyejuk sendu.
“Ma, Pa, aku akan membantu William sampai sembuh baru aku akan pergi karena aku tahu hanya dengan cara ini aku bisa membalas kebaikan kalian selama ini,” ucap Zoya.
__ADS_1
Wulan dan Ryan tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka saling pandang, lalu berulang kali mengatakan permintaan maaf dan rasa terima kasih.
“Zoya, maafkan kami dan terima kasih kamu mau membantu kesembuhan putra kami,” ucap Ryan, mewakili sang istri.
Zoya mengangguk. “Tidak masalah, Pa. Ngomong-ngomong, ayo kita ke ruangan yang sudah aku bersihkan untuk tempat terapi William,” ajak Zoya, mengalihkan perbincangan.
Wulan, Zoya, Ryan, dan Leila pergi ke ruangan tersebut. Ruangan itu adalah sebuah ruangan kosong yang memiliki kaca besar menghadap ke pekarangan belakang rumah. Zoya dan William sepakat memilih ruangan itu supaya William bisa melihat taman belakang rumah.
Setelah selesai menyiapkan peralatan terapi dan memasangnya, Wulan, Leila, dan Ryan pamit pulang. Zoya mengantar mereka sampai ke pintu kemudian pergi ke kamarnya. Zoya tahu William akan marah padanya, tapi dia harus menemui William. Dia akan mencoba menanggapi William dengan tenang.
William yang melihat kedatangan Zoya langsung menyembur Zoya dengan cacian. Dia menatap Zoya tajam, merasa sangat membenci Zoya yang sudah memecah belah keluarganya.
“Untuk apa kau ke sini? Apakah kau masih belum puas dengan apa yang terjadi tadi?” maki William. “Dasar perempuan licik!”
Zoya menghela napas lelah. Dia berusaha tenang meskipun ucapan William cukup menyakiti hatinya. Tapi tidak, Zoya tidak boleh lemah. Dia harus menjadi wanita tegar dalam menghadapi William.
“Liam, aku benar-benar tidak tahu kalau orang tuamu akan datang ke sini. Kalau aku tahu, aku pasti sudah menyembunyikan foto-foto mantan kekasihmu,” ucap Zoya, membela dirinya.
William mengibaskan tangannya di udara. “Halah! Tidak usah banyak alasan! Aku tahu kalau kau pasti sebenarnya senang melakukan itu semua. Kamu pasti memang berniat ingin menyingkirkan Renata, ‘kan?” tanya William. Pria itu memicingkan matanya. “Asal kau tahu, Zoya. Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Renata di hidupku. Selamanya hanya Renata yang akan aku cintai.”
__ADS_1
Zoya tersenyum tipis. Dia tidak terkejut sama sekali dengan ucapan William. Cerita tentang William yang mencintai Renata bukanlah hal baru untuk Zoya.
“William, aku tahu kamu mencintai Renata. Aku di sini tidak untuk menggantikan posisi Renata. Aku tahu posisiku, aku tidak akan mengambil tempat siapa pun,” ucap Zoya, membuat William terdiam dan tertegun di tempatnya.