Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 69


__ADS_3

“Halo, Zoya?” sapa seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu mertuanya, Wulan.


“Halo, Ma. Ada apa, Ma? Tumben sekali Mama menelepon pagi-pagi begini,” balas Zoya.


“Apakah ada Liam di sana?” tanya Wulan.


“Tidak ada. Mas Liam sedang mandi. Apakah Mama ingin mengobrol dengan Mas Liam? Aku akan menyampaikannya nanti kalau Mas Liam sudah selesai mandi,” sahut Zoya.


“Tidak perlu, Zoya. Justru Mama ingin berbicara dengan kamu dan jangan sampai William tahu,” ungkap Wulan.


Zoya mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud ucapan Wulan. “Memangnya ada apa, Ma?” tanyanya kebingungan.


“Dua hari lagi adalah hari ulang tahun Liam. Apakah kamu tidak berniat untuk memberinya kejutan?” tanya Wulan.


Zoya membelalakkan matanya. Dia sama sekali tidak tahu kalau dua hari lagi adalah hari ulang tahun William. Dia dan William memang tidak pernah membahas kapan saja hari ulang tahun mereka. Perbincangan seperti itu memang tidak pernah mereka lakukan.


“Nanti aku akan memikirkannya, Ma. Terima kasih karena sudah mengingatkan aku,” ucap Zoya. Saat menyadari kalau William hendak membuka pintu kamar mandi, Zoya kembali berkata, “Ma, aku tutup dulu teleponnya. Nanti kita akan mengobrol lagi setelah Mas Liam berangkat bekerja.”


Bersamaan dengan Zoya meletakkan ponselnya, William keluar dari kamar mandi. Pria itu mengerutkan keningnya ketika melihat Zoya tampak gugup saat meletakkan ponsel seakan gadis itu takut ketahuan olehnya.


“Siapa yang menelepon kamu, Zoya?” tanya William. Pria itu menyipitkan matanya. Dia ingin bertanya apakah yang menelepon Zoya adalah Damar tapi pria itu sadar kalau pertanyaan seperti itu hanya akan membuat masalah di kehidupan rumah tangga mereka berdua. Jadi, William memilih untuk mengurungkan niatnya.


“Ah, itu tadi Mama. Dia bertanya kapan kita akan mengunjungi rumah Mama dan Papa,” jawab Zoya, berbohong.


“Oh, begitu. Kenapa Mama tidak ke sini saja? Biasanya, ‘kan, selalu begitu,” balas William cuek.


“Mungkin Mama ingin kita berkunjung ke rumahnya bukan sekadar ingin bertemu, Mas,” sahut Zoya. Gadis itu menghampiri William, lantas membantu William memakai dasinya. “Kalau kamu mau, lusa nanti kita ke rumah Mama dan Papa.”

__ADS_1


“Lusa itu hari apa?” tanya William yang sepertinya juga tidak ingat kalau lusa adalah hari ulang tahunnya.


“Lusa hari Sabtu, Mas. Sekalian kita menginap di sana. Nanti kita pulang hari Minggu. Bagaimana?” tanya Zoya.


William mengusap-usap dagunya sejenak untuk berpikir. “Hm, boleh. Sepertinya lusa aku juga tidak lembur. Nanti kita berangkat ke sana bersama, aku akan menjemputmu setelah pulang kerja,” balas William.


Mereka pun melanjutkan kegiatan dengan sarapan pagi sebelum William berangkat bekerja. Setelah William berangkat bekerja, Zoya kembali menelepon ibu mertuanya untuk mengutarakan rencananya.


“Ma, besok lusa aku dan Mas Liam akan menginap di rumah Mama. Rencananya aku akan membuat kejutan di sana. Aku akan memesan kue ulang tahun untuk Mas Liam dan untuk makan malam ... Bagaimana kalau Mama yang mengurusnya?” tanya Zoya.


“Baik, Zoya. Mama akan meminta bantuan Leila dan Desi untuk memasak. Kita akan memberikan pesta kejutan untuk Liam di halaman belakang rumah saja supaya saat kalian datang Liam tidak curiga,” ucap Wulan.


Kebetulan sekali di rumah Wulan tidak hanya ada satu halaman belakang. Tapi ada dua. Satu halaman belakang terletak di tanah yang setara dengan rumah, dan satu taman lagi agak menjorok ke bawah dan mereka perlu mengaksesnya dengan tangga. Jadi, acara kejutan itu akan berjalan mulus sebab William tidak akan tahu kalau ada yang tengah menyiapkan pesta kejutan untuknya.


“Terima kasih, Mama. Untuk dekorasinya aku akan menghubungi Mama lagi nanti,” ucap Zoya.


“Liam, bisakah kamu ikut Papa sebentar? Ada pekerjaan yang harus kita bicarakan,” ucap Ryan, mengajak William pergi ke ruang kerjanya supaya William tidak mencurigai persiapan kejutan ulang tahunnya.


“Baik, Pa,” jawab William. William dan Ryan pun pergi ke ruang kerja Ryan untuk membicarakan tentang pekerjaan.


“Apakah kamu sudah membeli kue ulang tahunnya, Zoya?” tanya Wulan berbisik setelah William dan Ryan pergi.


“Aku sudah memesannya tapi belum aku ambil, Ma. Mungkin sebentar lagi aku akan ke sana untuk mengambilnya,” jawab Zoya.


Wulan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku kira kamu dan William akan datang nanti sore,” ucap Wulan seraya menghembuskan napas lelah.


“Aku dan Mas Liam memang rencananya akan ke mari nanti. Tapi, Mas Liam tiba-tiba bilang kalau dia pulang lebih awal supaya Mama dan aku bisa lebih puas mengobrol,” balas Zoya.

__ADS_1


Wulan terkekeh geli. “Ya sudah. Mama akan mengurusi dekor dan kamu urus kue ulang tahunnya. Desi dan Leila juga saat ini sedang memasak,” ucap Wulan.


“Baik, Ma. Aku akan berpamitan untuk pergi kepada Mas Liam,” ucap Zoya.


Wulan mengangguk setuju.


Zoya pun menghampiri ruang kerja Ryan.


“Zoya, kemarilah. Ada apa?” tanya William dengan ramah.


“Mas, aku akan pergi ke galeriku dulu sebentar. Ada barang yang harus aku ambil kata Uci,” ucap Zoya.


William mengangguk. “Baiklah, tapi aku tidak bisa mengantar kamu karena aku harus membantu Papa dengan proyek baru kami. Apakah tidak apa-apa?” tanya William.


Zoya mengangguk. “Tidak apa-apa, Mas. Aku akan meminta sopir untuk mengantarku,” ucap Zoya sambil tersenyum lebar. “Kalau begitu aku berangkat dulu, Mas, Pa,” ucap Zoya.


Setelah mendapatkan anggukan kepala dari William dan Ryan, Zoya pergi dari sana. Gadis itu meminta sopir mengantarnya menuju ke tempat di mana dia memesan kue. Tentu saja dia tidak pergi untuk ke galeri karena itu hanya alasan saja.


Di sisi lain, Renata yang sudah kehabisan uang mulai panik dan bingung memikirkan sebuah cara untuk bisa kembali dengan William.


“Sekarang ini Liam sudah menikah. Apakah mungkin dia masih mau menerimaku?” tanya Renata pada dirinya sendiri.


Dia melihat bagaimana mesranya William dan Zoya dari video yang beredar di media saat dua sejoli itu menghadiri perjamuan pesta dengan para kolega bisnis William. Hal tersebut sedikit membuat Renata rendah diri.


“Ah, bukankah William biasanya juga lebih percaya kepadaku dari pada orang tuanya? Kepada orang tuanya saja dia berani membantah, apalagi kepada istrinya. Dia pasti akan bisa menerima kehadiranku,” ucap Renata sambil tersenyum miring.


Gadis itu pun mengingat kalau hari ini adalah hari ulang tahun William. Ia berniat untuk menyiapkan kejutan ulang tahun untuk William hari ini.

__ADS_1


__ADS_2