Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 27


__ADS_3

Leila mengajak Wulan menjauh dari pintu kamar William. Mereka tidak boleh membicarakan tentang rencana Leila di dekat kamar William. Kalau William mendengar semuanya, rencana mereka untuk menikahkan William dan Zoya bisa gagal. Mereka pun berjalan menuju ke ruang keluarga. Di sana, Leila pun mengatakan apa yang tadi dia bicarakan dengan William.


"Apa yang tadi kau bicarakan dengan William? Kenapa wajahmu tampak berseri-seri?" tanya Wulan penasaran.


"Aku tadi berakting seolah aku membenci Zoya dan mendukung Tuan William, Nyonya. Anda tentu tahu kalau hanya dengan cara itu Tuan William mau menerima pernikahan ini," jawab Leila sambil tersenyum lebar. "Aku berkata pada Tuan William kalau dia bisa meminta Zoya melayaninya dan perlahan kedok 'sok baik' Zoya akan terbuka," sambung Leila.


Wulan terdiam sejenak. Yang dia khawatirkan saat ini bukanlah William. Justru ia khawatir dengan Zoya. Ia takut karena ide dari Leila yang awalnya bertujuan untuk membuat William mau menikahi Zoya justru menjadi bumerang untuk mereka. Ia khawatir kalau William malah memperlakukan Zoya tidak baik karena hal tersebut.


"Apakah menurutmu hal ini tidak mengkhawatirkan untuk Zoya? Leila, rencana kamu bisa membuat Liam memperlakukan Zoya seenaknya. Jangan sampai Zoya menderita karena hal ini," keluh Wulan, mengungkapkan kekesalannya.


Leila paham dengan kekhawatiran Wulan. Ia juga sempat berpikir akan hal itu. Tapi, menurut Leila kebaikan dan ketulusan hati Zoya justru akan berdampak baik pada hubungan Zoya Dan William.


"Anda jangan khawatir, Nyonya. Zoya pasti bisa meluluhkan hati Tuan William," ujar Leila penuh percaya diri.


Dari raut wajahnya Wulan masih tampak ragu. Sebagai orang tua, ia mengenal watak William. William bukanlah pria yang bisa luluh dalam waktu satu atau dua hari. Apalagi setelah kecelakaan yang menimpanya, William menjadi pria yang lebih dingin dan temperamental dari pada sebelumnya.


"Aku khawatir kalau Liam benar-benar menyakiti Zoya. Apalagi gadis sebaik Zoya pasti akan pasrah saja kalau disakiti oleh Liam. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Liam," ucap Wulan.


Wulan menggigit ujung kukunya, risau. Melihat Wulan yang masih tampak ragu, Leila berusaha untuk meyakinkannya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menyuarakan pendapatnya.


"Nyonya, Tuan Liam tidak seburuk itu. Nyatanya dia bisa mencintai mantan kekasihnya, bukan? Itu artinya, Zoya masih memiliki kesempatan untuk bisa meluluhkan hati Tuan Liam. Percayalah pada keajaiban waktu, Nyonya. Cinta itu akan datang karena terbiasa. Kalau mereka sering bersama dan berinteraksi dengan satu sama lain, aku yakin sekali kalau Tuan Liam akan membuka hatinya untuk Zoya," jelas Leila.

__ADS_1


"Apakah kamu yakin, Leila?" tanya Wulan.


Leila mengangguk. "Kita berdoa saja untuk kebaikan mereka berdua. Tidak mungkin juga mereka akan bermusuhan terus-menerus kalau mereka tinggal di satu atap yang sama," jawabnya, berusaha meyakinkan Wulan kalau rencananya tidak akan menyakiti siapa-siapa, terutama Zoya.


Awalnya Wulan ragu dengan rencana Leila, ia masih merasa khawatir dengan Zoya. Tapi, ia mencoba untuk percaya dengan Leila. Apalagi, Leila tampak sangat meyakinkan saat mengatakan kalau Zoya pasti bisa meluluhkan hati William yang membeku.


*****


Malam harinya, Ryan yang jarang pulang karena sering rapat di luar kota akhirnya pulang. Pria paruh baya itu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Berjam-jam bergumul di tengah kemacetan membuat tubuhnya pegal semua. Ia sudah tidak sabar untuk mandi dan menyegarkan tubuhnya kembali.


"Kamu sudah pulang, Mas? Bagaimana rapatnya? Apakah berjalan lancar?" tanya Wulan, menyambut kedatangan Ryan. Wulan mengambil alih tas kerja Ryan, lalu melepaskan jas yang dikenakan Ryan.


Ryan mengangguk. "Iya, rapatnya lancar. Tapi tubuhku rasanya remuk karena tadi menyetir sendiri dari luar kota," keluh Ryan.


Mereka berdua berjalan menuju ke kamar mereka yang terletak di lantai dua. Saat hendak masuk ke kamar mandi, Ryan ingat dengan rencana mereka untuk menikahkan William dan Zoya.


"Apakah Liam sudah mau menerima pernikahannya dengan Zoya?" tanya Ryan pada sang istri.


Wulan menghela napas lelah. "Aku sudah membujuk Liam beberapa hari ini. Leila bahkan ikut membantuku untuk membujuk Liam tapi Liam belum memberikan keputusan sampai sekarang," keluh Wulan. "Liam bahkan sempat mengamuk karena diminta menikahi Zoya."


"Anak itu benar-benar keterlaluan. Apakah dia tidak tahu kalau akan sangat sulit mencari wanita yang akan menerimanya apa adanya? Apalagi dengan kondisinya yang sekarang. Saat masih sehat saja banyak wanita yang hanya mengincar harta, apalagi saat dia sakit seperti ini," omel Ryan.

__ADS_1


"Yang sabar, Mas. Mungkin dia masih memikirkan mantan pacarnya itu. Tidak mudah untuk seseorang bisa move on," ujar Suka, mencoba sabar meski ia juga sebenarnya lelah dengan sikap keras kepala William.


Ryan menghembuskan napas panjang. "Aku mandi dulu. Kita bicarakan nanti saja," ucap Ryan lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah Ryan selesai mandi, mereka berkumpul di ruang makan. Ryan dan Wulan saling tatap saat melihat William di dorong Leila menuju ke ruang makan. Tak lupa Leila juga menyiapkan makanan untuk William. Setelahnya, Leila pergi dari ruang makan untuk memberikan privasi pada majikannya.


Ryan dan Wulan kebingungan melihat William, tapi di satu sisi mereka juga senang karena akhirnya William mau makan malam bersama tidak seperti biasanya di mana William akan memilih untuk mengurung diri di kamar dan mengamuk setiap kali diajak makan malam bersama.


“Kenapa kalian diam saja? Apakah kalian tidak suka melihatku makan malam bersama kalian?” tanya William.


Wulan dan Ryan cepat-cepat menggeleng. Mereka tidak akan menyia-nyiakan momen berharga ini dengan membuat William kesal.


“Kami hanya terkejut karena akhirnya kau mau makan malam bersama. Kami sangat senang,” jawab Ryan, mewakili suara hati sang istri.


Mereka pun melanjutkan acara makan malam. Tidak ada obrolan serius yang terjadi malam itu selain Ryan membicarakan tentang pekerjaannya beberapa waktu belakangan. Ryan dan Wulan bahkan belum menyinggung masalah perjodohan William dan Zoya karena takut membuat suasana hati William kembali kacau. Mereka akan menunggu sampai William sendiri yang berbicara mengenai hal tersebut untuk saat ini.


“Mama, Papa, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian,” ucap William setelah menghabiskan makanannya.


Wulan dan Ryan menoleh, menatap putra mereka dengan tatapan bertanya.


“Ada apa, Liam? Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Wulan.

__ADS_1


William menarik napas dalam-dalam. Setelah memikirkan tentang ucapan Leila tadi pagi, William akhirnya bisa membuat keputusan. Sepertinya jalan ini memang yang terbaik untuk dirinya ke depannya.


“Aku setuju untuk menikahi Zoya,” ucap William tiba-tiba, membuat Ryan dan Wulan terkejut mendengarnya. Mereka tidak menyangka kalau kalimat itu akan keluar dari bibir William Sadjaja.


__ADS_2