
Rasa sakit berkecamuk di benak Zoya. Mata gadis itu memanas tatkala ia menatap foto mesra antara William dengan seorang wanita cantik yang ia yakini adalah Renata. Meskipun Zoya tidak mencintai William atau sekadar memiliki perasaan untuk William, tetap saja hatinya terasa sakit saat melihat foto tersebut.
Hati siapa yang tidak akan terluka kalau ia harus melihat foto kemesraan suaminya dengan wanita lain terpampang di depan matanya, lebih tepatnya menyambut kedatangannya di rumah yang seharusnya menjadi surga baginya. Sebagai seorang istri, Zoya pasti merasa terluka melihat hal tersebut. Apalagi tadi William sempat bersikap manis kepadanya meskipun kurang dari sepuluh menit.
Tangan Zoya terlepas dari dorongan kursi roda. Tubuhnya seketika lemas saat menyadari rumah ini akan menjadi tempat yang paling menyakitkan untuknya. Menikah dengan William saja sudah menyakitkan untuk Zoya, apalagi jika dia harus melihat foto kemesraan William dengan Renata sepanjang waktu karena rupanya William juga memajang beberapa foto lainnya dengan ukuran sedang di sudut-sudut rumah.
‘Ya Tuhan, apakah aku benar-benar harus tinggal di rumah ini?’ tanya Zoya dalam hati.
Zoya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri supaya tidak terbawa emosi. Air mata sudah membendung si pelupuk matanya, tapi Zoya mencoba sebisa mungkin agar dia tidak menangis di hadapan William. Zoya mencoba bersikap tenang karena Zoya bukanlah seorang gadis yang bisa ditindas begitu saja. Dia mencoba berpikir positif bahwa William masih memajang foto Renata karena William masih mencintai Renata, bukan karena William sengaja ingin menyakiti Zoya.
‘Sepertinya gadis itu memang sangat spesial untuk Liam,' ujar Zoya dalam hati sembari tersenyum kecut.
Meskipun Zoya sudah mencoba untuk berpikir positif, tetap saja pikiran buruk hinggap di kepalanya. Ia yakin seribu persen kalau selanjutnya kehidupannya tidak akan baik-baik saja karena sejak awal pernikahan William sudah memperlihatkan hal tersebut.
“Apakah tidak ada orang lain yang tinggal di rumah ini, Mas?” tanya Zoya. Setidaknya kalau ada pelayan di rumah ini, Zoya tidak akan merasa kesepian. Itulah yang ada di pikiran Zoya saat ini. Tak masalah jika Zoya harus berteman dengan pelayan, yang penting dia tidak akan kesepian di rumah sebesar ini.
“Tidak ada,” jawab William, membuat harapan Zoya untuk memiliki teman pupus seketika. “Sopir hanya akan datang kalau aku meneleponnya. Jadi, kita akan tinggal berdua saja di rumah ini,” sambung William.
Kalau pasangan pengantin lain akan merasa senang kalau mereka hanya hidup berdua saja dengan satu sama lain untuk menjaga privasi mereka, hal tersebut tak dirasakan Zoya sama sekali. Ia justru merasa sedih karena mengetahui kalau dia akan tinggal bersama William seorang.
“T-tapi, Mas. Aku ....”
__ADS_1
“Jangan harap akan ada pelayan di rumah ini karena melakukan pekerjaan rumah dan melayani suami adalah tugas dari seorang istri,” ucap William tegas, penuh penekanan, lalu mendorong kursi rodanya menuju ke kamarnya yang berada di lantai tiga.
Ah tidak, tidak. William tidak bisa menaiki tangga. Tapi, dulu saat pembangunan rumah itu Renata memang meminta supaya rumah ini dibangun sebuah lift. Untungnya William menuruti permintaan Renata jadi sekarang dia bisa pergi ke kamarnya tanpa perlu pusing-pusing.
Zoya tercenung di tempatnya. Ia bingung harus berbuat apa karena rumah William sangatlah megah dan besar. William bahkan tidak memberitahu Zoya di mana letak kamar Zoya.
Di dalam lift, William tersenyum miring karena dia pikir dia akan bisa mulai menyiksa Zoya sekarang. Ia bahkan pergi meninggalkan Zoya tanpa mengatakan apa pun lagi.
Padahal, Zoya yang tak mudah ditindas tak terlalu memusingkan apa yang dilakukan oleh William karena menurut Zoya tindakan William sangat wajar mengingat William tidak mencintainya sama sekali. William mungkin masih dalam tahap enggan untuk berinteraksi dengan Zoya.
Zoya menarik kopernya masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu. Gadis itu menyeret kopernya ke kanan dan ke kiri untuk mencari sebuah kamar di lantai dasar yang bisa ia tempati. Zoya tidak peduli dengan tingkah laku William yang meninggalkannya. Zoya adalah gadis mandiri, dia bisa menemukan kamarnya sendiri.
“Ah, akhirnya aku bisa beristirahat setelah seharian penuh beraktivitas. Badanku rasanya pegal semua,” ujar Zoya sambil duduk di tepi ranjang.
Gadis itu dengan sigap mengeluarkan isi kopernya dan memindahkan barang-barangnya ke lemari. Tak lupa dia juga mengambil bingkai foto dan meletakkannya di nakas. Kamar ini akan menjadi kamarnya mulai sekarang jadi dia harus merasa nyaman di sini.
Zoya juga meletakkan pernak-pernik lainnya seperti hiasan dinding dan aksesorisnya di meja yang mulai sekarang akan menjadi meja riasnya. Malam itu juga Zoya membuat kamar itu senyaman mungkin supaya dia tidak merindukan kamarnya yang ada di rumah.
Setelah selesai dengan acara beres-beres, Zoya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi, dia berganti pakaian dan duduk di tengah-tengah kasurnya.
“Bagaimana kabar Bibi Desi? Apakah dia merasa sedih karena sekarang dia akan tinggal sendirian di rumah?” tanya Zoya.
__ADS_1
Zoya pun menelepon Desi. Tak perlu menunggu lama akhirnya Desi mengangkat panggilannya.
“Halo, Bibi?” sapa Zoya.
“Zoya, apakah kamu baik-baik saja? Bibi khawatir dan tidak bisa tidur dari tadi,” ujar Desi.
Zoya terkekeh geli. “Aku baik-baik saja, Bibi,” jawab Zoya.
“Apakah Liam memperlakukanmu dengan baik?” tanya Desi. Ia khawatir William akan memperlakukan Zoya dengan buruk meskipun tadi dia mendapat kabar dari Wulan kalau William dan Zoya tampak baik-baik saja dan berinteraksi dengan akrab.
“Iya, Bibi. Bibi tidak usah khawatir,” jawab Zoya, berbohong. Zoya tidak mungkin membicarakan tentang apa yang dilakukan oleh William pada Desi. Apalagi mereka baru saja menikah beberapa jam yang lalu. Zoya berpikir kalau apa yang dilakukan oleh William semata-mata hanya karena William belum bisa menerima pernikahan mereka.
“Zoya, kalau Liam memperlakukanmu tidak baik kamu bisa bercerita pada Bibi. Bibi akan selalu menjadi pendengar setia untukmu,” ujar Desi.
Zoya tersenyum tipis. Dia merasa terharu karena masih ada orang yang perhatian dengannya dan menyayanginya. Ia senang karena perhatian Desi tidak pernah luntur kepadanya meskipun Zoya terkadang cukup merepotkan.
“Bibi, aku tutup dulu teleponnya. Kita mengobrol besok lagi,” ucap Zoya.
“Bibi paham. Pengantin baru memang harus menghabiskan malam pertama bersama,” ujar Desi lalu menutup sambungan teleponnya.
‘Andai saja apa yang dikatakan oleh Bibi benar-benar terjadi,' gumam Zoya dalam hati.
__ADS_1