
Tidak terasa beberapa hari sudah berlalu, selama itu juga William selalu berusaha untuk membujuk Zoya agar memaafkannya. William sama sekali tidak menyangka kalau perbuatannya akan membuat Zoya sangat marah padanya. Zoya bahkan memilih pisah kamar darinya. William sudah bisa merasakan betapa hidupnya berantakan hanya karena Zoya mengabaikannya. Ini baru beberapa hari, tetapi William sudah sekacau ini, bagaimana jika ini berlangsung lebih lama lagi? William pasti sudah gila karena merasa depresi.
Itu sebabnya, William sudah bertekad dalam dirinya, kalau William akan berusaha lebih keras lagi untuk membujuk Zoya. William sungguh tidak tahan diabaikan seperti ini oleh Zoya. William bahkan sudah berjanji di dalam hatinya jika tidak akan membuat Zoya marah kepadanya lagi, karena William tidak ingin merasakan siksaan yang lebih besar daripada ini.
“Zoya, sampai kapan kau akan mengabaikan aku seperti ini? Bukankah aku sudah minta maaf padamu? Aku tahu jika perbuatanku waktu itu sangat keterlaluan, tetapi aku melakukan semua itu karena aku tidak ingin kehilanganmu. Bahkan ketika aku memikirkan jika aku suatu hari nanti akan kehilanganmu, membuat emosiku memuncak. Aku sungguh tidak bermaksud untuk menyakitimu saat itu, tapi aku juga tidak tahu bagaimana cara meredam emosiku. Aku mohon, maafkan aku kali ini saja.” William kembali berusaha membujuk Zoya. Berharap usahanya kali ini akan membuahkan hasil.
“Apa kau yakin, jika aku memaafkanmu kali ini, maka kau tidak akan mengulangi kesalahan yang sama? Aku takut jika aku memberimu kesempatan, kau akan menyia-nyiakannya begitu saja. Kalau seperti itu, apa gunanya aku memaafkanmu?” tanya Zoya pada William. Zoya merasa harga dirinya begitu terluka, sehingga Zoya membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisinya seperti semula.
“Tidak, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang kau berikan padaku, tapi aku mohon agar kau mau mempertimbangkan permohonan maafku padamu. Zoya, kau yang paling tahu jika aku tidak akan pernah tahan mendapat perlakuan seperti ini darimu. Aku sudah sangat merindukanmu, aku juga merindukan rasa masakanmu yang lezat. Jadi, tolong beri aku kesempatan sekali lagi, agar aku bisa membuktikan semua ucapanku ini.” William saat ini sedang menggenggam tangan Zoya, karena meminta maaf dengan sentuhan fisik secara langsung, akan mempermudah jalannya mendapatkan maaf dari Zoya.
Zoya terlihat sedang berpikir sangat keras kali ini, karena Zoya perlu mempertimbangkan semuanya, Zoya tidak bisa mengambil keputusan terburu-buru seperti ini. Tetapi juga tidak tega melihat William yang terus memohon kepadanya selama beberapa hari terakhir. Zoya bisa melihat jelas rasa bersalah di mata William. Namun entah kenapa, Zoya tetap merasa tidak nyaman dengan semua ini. Seolah akan ada hal besar yang terjadi pada hubungan mereka.
__ADS_1
Zoya sudah mencoba mencari tahu apa yang terjadi belakangan ini, tetapi Zoya tidak mendapatkan hasil yang diinginkannya. Seolah semua ini memang hanya sekadar salah paham yang terjadi di antara mereka. Meskipun Zoya telah merasa bahwa masalah ini tidak sesederhana kelihatannya, sayangnya, Zoya tidak menemukan petunjuk untuk setiap perubahan yang terjadi pada diri Willi selama beberapa hari terakhir. Sehingga membuat Zoya semakin dilema dalam mengambil keputusan.
“William, kau pasti tahu kalau aku adalah orang yang sangat sensitif. Aku tidak bisa mendapatkan kekerasan dan aku bukanlah wanita yang patuh, jika kau menyakitiku, maka aku pasti akan berusaha melawanmu semampuku. Aku tidak bisa bersikap seperti wanita lain yang bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa dalam hidup mereka. Aku ingin menikmati kehidupanku dengan bahagia, jika aku merasa tidak nyaman dan terus merasa sakit, maka aku tidak akan pernah berpikir untuk bertahan. Sebab aku selalu berpikir jika kehidupan yang singkat ini, harus aku isi dengan sesuatu yang berharga bagi hidupku. Ini adalah sebuah prinsip yang aku pegang sejak dulu. Jika kau memang menginginkan aku berada di sisimu, maka kau juga harus menghormati prinsip yang aku miliki. Amarah dan kekerasan tidak akan membuat sebuah masalah selesai, hal itu justru akan menambah masalah baru. Sama seperti yang kau lakukan padaku, amarahmu membuatku merasa terhina, itu ada kesalahan besar yang sangat sulit aku maafkan, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, William?” tanya Zoya yang saat ini juga merasa tidak berdaya dalam mengambil keputusan terbaik bagi mereka.
“Yang harus kau lakukan sekarang adalah mempercayai aku seperti sebelumnya. Aku tidak akan membuatmu menyesal telah mengambil keputusan ini. Aku juga sadar jika tidak seharusnya aku melampiaskan amarahku dengan cara seperti itu, tetapi aku juga tidak tahu bagaimana cara untuk mengeluarkan amarah di hatiku, hingga akhirnya aku menyakitimu dengan sedemikian rupa. Tetapi sungguh, aku tidak bermaksud untuk melakukan semua itu padamu, Zoya. Jadi tolong berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.”
“Apa kau yakin jika itu adalah keputusan terbaik bagi kita berdua, William? Karena aku tidak pernah memberikan kesempatan orang lain hingga tiga kali. Kau sudah membuat kesalahan padaku sekali, jika aku memberikan kesempatan, maka itu artinya aku telah memberikan kesempatan kedua, kalau kau mengulangi kesalahanmu lagi, maka tidak akan pernah ada kesempatan ketiga. Jadi kau juga harus memikirkan semua ini baik-baik. Perasaanku padamu, tidak akan mempengaruhi keputusanku. Jadi, apa kau sanggup menanggung risiko yang mungkin kau dapatkan, ketika kau mengulangi kesalahan lagi, William?” tanya Zoya bersungguh-sungguh. Karena semua ini menyangkut kelangsungan rumah tangga mereka. Zoya juga teringat akan ucapan teman pengacaranya yang mengatakan untuk memberikan Willi kesempatan jika William berniat berubah.
Zoya bukanlah seorang wanita yang akan menangis dan terus meratapi kegagalan dalam hidupnya, jika memang William bisa menghargai perasaannya dengan baik, Zoya juga akan tetap bertahan bersamanya, tetapi jika pada akhirnya, William tidak bisa memberikan keputusan yang tegas dalam hubungan mereka, maka Zoya akan memilih untuk mundur, sebab Zoya tidak berniat menjalani suatu hubungan yang hanya bisa membuatnya meneteskan air mata.
Kondisi Zoya yang hidup sebatang kara, juga mempersulit William, sebab Zoya tidak bisa diancam dengan menggunakan orang-orang yang disayanginya. Karena itu tidak memiliki orang tua atau kerabat yang bisa dijadikan sandera. Jadi, ancaman juga tidak akan bisa membuat Zoya tetap bertahan bersama William. Oleh karena itu, William harus memikirkan semua ini dengan baik, terutama sikapnya terhadap Zoya. Hingga akhirnya, William memutuskan untuk mengambil kesempatan yang Zoya berikan, dengan menanggung segala konsekuensi yang harus William hadapi jika William melakukan kesalahan yang tidak bisa Zoya maafkan.
__ADS_1
“Zoya, aku sudah mengambil keputusan, aku menginginkan kesempatan kedua darimu, aku akan memanfaatkan kesempatan yang kau berikan dengan baik, aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaanmu padaku, tetapi aku mohon, jangan mengabaikanku seperti ini. Aku tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi, jika kau terus mengabaikanku. Karena kamu adalah seseorang yang berharga dalam hidupku. Aku akan menanggung semua risiko yang mungkin terjadi, jika aku membuat kesalahan yang tidak bisa kau maafkan. Jadi, bisakah kita memulai hubungan kita lagi, Zoya?” tanya William penuh harap.
Zoya bisa melihat kesungguhan di mata William. Membuat Zoya luluh pada permohonan William, lagi pula William sudah berjanji kalau William tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Sehingga Zoya tidak memiliki alasan untuk meragukan kesungguhan William. Demi masa depan pernikahan mereka yang lebih baik, Zoya akan memberikan kesempatan kedua pada William, agar William bisa memperbaiki kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi.
“Baiklah, aku akan memberikanmu kesempatan kedua, berjanjilah padaku jika kau tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan. Karena jika kau mengulangi kesalahan yang tidak bisa aku maafkan, maka aku akan meninggalkanmu, William. Aku tidak main-main dengan ucapanku kali ini. Kau tentu tahu bagaimana sifatku, setelah kita menjalani kehidupan rumah tangga hampir dua tahun lamanya. Jika memang kau memiliki masalah dan tidak menyukai sikapku, kau bisa menegurku dengan cara yang baik. Aku pasti akan mendengarkanmu jika kau bersikap lembut padaku. Maafkan aku karena sudah membuatmu marah dan cemburu. Aku juga tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Jadi, mari kita mulai hubungan kita kembali,” jawab Zoya.
“Terima kasih, Zoya, karena kau bersedia memberikan aku kesempatan kedua. Aku berjanji padamu, kalau aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Jadi aku mohon kepadamu agar tidak membuat aku cemburu lagi. Karena aku mencintaimu, Zoya,” ungkap William yang bisa memahami perasaannya pada Zoya, meskipun perasaan cinta William masih terbagi untuk Renata tetapi William tahu jika Zoya juga sangat berharga baginya.
Memaafkan bukan bearti melupakan. Aku akan melihat bagaimana kau membuktikan ucapanmu padaku. Namun, jika kau berani mengulangi kesalahanmu, hari itu juga kau akan kehilangan aku. Batin Zoya yang berusaha tenang, meskipun hatinya berat untuk memaafkan William.
__ADS_1