
William menyibukkan diri dalam pekerjaannya. Tidak ada yang bisa mengganggunya dalam kondisi yang begitu berkonsentrasi dalam menyelesaikan masalah, kecuali pikiran mengenai Zoya yang hanya ingin pulang ke kampung halaman karena ingin bertemu Damar.
"Sial."
William mengumpat diantara nafasnya lalu memanggil asistennya. Begitu asistennya tiba, pria itu segera memberinya perintah.
"Tolong bawakan aku semua dokumen mengenai masalah ini, secepatnya. Aku akan memeriksanya lagi untuk memastikan tidak ada kesalahan," titah William dingin.
Asistennya tampak ragu-ragu. "Tapi, Pak ...."
"Ada apa?"
"Saya rasa Anda tidak perlu memeriksa ulang karena akan menghabiskan lebih banyak waktu, bagaimana kalau saya meminta divisi audit untuk meringkasnya?" usul asistennya.
William mengetuk jarinya di meja. "Berapa lama mereka akan menyelesaikan semuanya?"
"Kemungkinan sore ini, Pak. Ada beberapa pekerjaan lain yang harus mereka selesaikan hari ini."
William menggeleng. "Terlalu lama, bawakan saja semua dokumennya ke sini. Kalau terlalu sulit untukmu, minta bantuan orang lain."
Asistennya langsung menuruti perintah William begitu usulannya ditolak. Dia tidak tahu kalau alasan dibalik pemeriksaan ulang dokumen-dokumen terkait itu hanya supaya William bisa mengalihkan pikirannya mengenai Zoya.
Dengan banyak bekerja, maka akan semakin sedikit kesempatan bagi William untuk tenggelam dalam kecemburuannya. Melihat Zoya yang bisa mengobrol dan tertawa lepas dengan pria lain membuat hatinya terasa panas, terutama karena pria itu adalah Damar.
William bisa menebak kalau Damar tidak akan menyerah mengenai perasaannya terhadap Zoya setelah sekian lama, karena dia juga mengalami hal yang sama jika berkaitan dengan Renata. Dia bisa mengerti, tapi tetap saja, William tidak menyukai soal kegigihan orang lain yang berkaitan erat dengan seseorang yang berhubungan langsung dengannya.
Bagaimanapun, Zoya sudah menjadi bagian dari keluarganya meski William tidak ingin mengakui hal itu.
"Apa dia tidak puas hanya memiliki satu pria di hidupnya? Hah!"
William memikirkan betapa cocoknya Zoya dan Damar yang sama-sama memiliki sifat lembut dan baik hati. Mendengar cerita Leila, bayangan mengenai kedua sosok itu bersama semakin jelas di pikirannya, seperti setetes tinta hitam yang menyebar di cat putih.
Pikiran William mau tidak mau tetap berpusat di sana, lalu mulai bercabang ke arah hal-hal lain yang tidak jauh dari kebersamaan Zoya dengan Damar.
William mengepalkan tangannya dengan erat. Seandainya Renata ada di sini ....
William tidak menyelesaikan kata hatinya mengenai Renata. Sudah hampir dua tahu wanita itu menghilang, jadi kemungkinan pertemuan dengan Renata pada saat ini adalah hal yang mustahil.
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar, memutus lamunan William dengan cepat, begitu juga dengan suara lain yang menyusul.
"Permisi, Pak. Saya dan teman saya dari divisi audit datang untuk mengantarkan dokumen yang Anda minta."
William mempersilahkan mereka masuk. "Buka saja pintunya."
"Baik."
William berdiri dari tempat duduknya begitu melihat dua karyawan memasuki kantornya dengan membawa masing-masing satu dus yang dibiarkan terbuka. Sekali melihat, pria itu sadar jika isi di dalamnya lebih banyak dari yang diduga sebelumnya, bahkan melebihi kapasitas pekerjaan William karena menumpuk hingga keluar dari dus.
Asistennya sendiri tampak kepayahan karena ikut membawa dus berukuran besar yang sama, tapi hanya berisi setengahnya.
William tidak menunjukkan ekspresi apapun dan mendekat ke arah barisan dus yang baru saja diletakkan di meja. Berpikir bagaimana caranya agar dia bisa memulai pekerjaan yang berasal dari inisiatifnya sendiri berjalan dengan efektif untuk hari ini, tapi tanpa mengabaikan tugas hariannya.
"Ini sudah semua?" tanya William sambil mengecek lembaran kertas di dalamnya.
"Sudah, Pak."
William mengangguk, tapi tidak menatap ketiga orang yang masih menunggu di kantornya itu. Dia sudah fokus dengan tumpukan dokumen yang akan segera diperiksa ulang dan melihat kelengkapannya meski hanya sekilas, memutuskan untuk mulai memeriksa sesuai dengan urutan tanggal yang tertera di dalam dokumen meski harus menyortirnya lagi.
"Kerja bagus. Kalian bisa kembali bekerja sekarang."
***
"Kamu cantik sekali, Sayang," ucap seorang pria pada putri satu-satunya.
Wanita itu tersenyum, senang akan pujian yang diberikan ayahnya secara tiba-tiba. "Terima kasih. Apakah aku sudah pantas untuk datang ke kantor William? Sudah lama sekali aku tidak ke sana."
"Tentu saja. Tidak mungkin kamu terlihat tidak pantas dalam pakaianmu sendiri. Kamu adalah putri ayah, Renata."
Ibu tiri Renata mengangguk, mendukung perkataan Pendy. "Apa yang dikatakan ayahmu benar. Kamu tidak perlu bertanya lagi mengenai hal seperti itu."
Senyum Renata masih bertahan selama beberapa saat, kemudian mulai luntur. Raut wajahnya yang terpantul di cermin menyatakan secara jelas perasaan ragu di dalam dirinya sejak kemarin.
"Apa tidak apa-apa jika aku langsung datang ke kantor William?"
Ibu tiri Renata langsung menyambar pertanyaan itu. "Tentu saja tidak apa-apa. Kamu kan datang ke sana karena ingin mengambil kembali hakmu sebagai tunangan William."
__ADS_1
"Itu benar. William pasti akan senang melihatmu kembali."
Keduanya tidak henti memberi berbagai alasan yang bisa membuat Renata tidak ragu dalam keputusannya untuk mendekati William lagi. Bagaimanapun, hal itu sangat penting bagi keduanya, terutama karena Renata itu sendiri yang mengatakan kalau dia membutuhkan William untuk kelangsungan hidupnya.
"Keputusan tetap berada di tanganmu, Sayang. Tidak perlu terburu-buru."
Renata terdiam cukup lama begitu mendengar perkataan Ibu tirnya–Dila. Dila dan Pendi pun mengangguk sehingga wanita itu bisa memikirkannya dengan tenang. Setelah beberapa lama, dia akhirnya menetapkan pilihannya.
"Aku akan tetap pergi menemui William, ini hari ulang tahunnya. Aku akan memberikan kejutan untuknya."
Keluarganya tampak senang, begitu juga dengan Renata. Wanita itu sudah memutuskan untuk segera menemui William dan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan kembali hati pria itu kembali, hanya untuknya tanpa kehadiran wanita lain dalam kehidupan mereka.
Atas hasutan keluarganya dan keingainanya juga Renata mengambil keputusan yang terbilang terlalu berani itu karena ingin membebaskan pria yang masih sangat dibutuhkannya itu dari ikatan pernikahan paksa. Dia percaya kalau di sudut hati pria itu, William pasti masih mencintainya, sama seperti yang dirasakan wanita itu hingga sekarang.
"Tunggu aku, William. Aku akan segera datang menemuimu," ujar Renata.
Setelah menyalakan mobil dan memasang koordinat menuju kantor William, Renata mengingat masa kebersamaannya dengan pria itu sebelum mereka terpisah akibat kecelakaan. Masa-masa yang indah seperti baru terjadi kemarin, tapi juga sulit tergapai tanpa kehadiran William di sisinya.
Renata dan William selalu menyediakan waktu bersama di sela-sela kesibukan. Baik itu dengan datang ke rumah masing-masing, memasak lalu menikmati acara televisi dan saling berbagi kehangatan dengan satu sama lain, maupun kencan di luar dan ke berbagai tempat yang ingin mereka kunjungi, mencoba berbagai fasilitas dan makanan yang tersedia.
Renata penasaran apakah William masih mengingat masa-masa bahagia mereka karena wanita itu masih mengingatnya dengan baik. Dia akan sedih jika William melupakannya, tapi wanita itu juga tidak akan mudah menyerah untuk membuat ulang ingatan yang ada sehingga menjadi kenangan yang baru.
Renata tersenyum begitu tiba di depan gedung kantor William dan melangkah masuk ke dalam. Beberapa karyawan yang mengenali Renata terlihat menatap wanita itu cukup lama, seakan tidak percaya dengan keajaiban di depan mata mereka masing-masing.
"Aku ... tidak salah lihat kan?" tanya seseorang mengusap mata beberapa kali.
Teman di sebelah karyawan itu menggeleng, tampak terpukau dengan kehadiran Renata yang berjalan melewati mereka. "Aku juga melihatnya, mantan tunangan Pak William ... Renata."
Reaksi para karyawan lain yang melihat kedatangan Renata tidak jauh berbeda dengan kedua orang itu. Sebagian besar karyawan tengah gempar oleh kehadiran sosok yang sudah lama tidak terlihat oleh mereka, tapi dikenal oleh semua orang begitu hadir di antara mereka.
Tidak ada yang berani melarang Renata berada di sana meski pun tahu jika William sudah menikah, sebab semua orang sangat mengingat bagaimana dulu William sangat mencintai Renata.
"Aku masuk ya," ucap Renata pada asisten William yang hanya bisa mengangguk.
Renata terlihat tersenyum manis sebelum masuk ke dalam ruangan William tanpa mengetuk lebih dulu. Hal itu membuat William kesal.
"Apa—"
__ADS_1
William membeku di tengah-tengah semburan kekesalannya. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah Renata, yang tampak seperti kenangan manis dan tidak tergantikan, yang tiba-tiba muncul di ruang kerjanya.